Take critics with love
Dalam artikel sebelumnya, saya mengusung tema seputar memberikan kritik. Kritik yang dikemas dengan baik, plus disajikan dengan bumbu yang tepat akan terasa gurih di telinga penerimanya. Sebaliknya, kritik yang diberikan sembarangan – asal tembak, akan terasa menyakitkan, malah terasa menyayat harga diri.
Tapi, sadarkah Anda, ada juga orang-orang yang ketika dikritik dengan pedas, malah tetap bisa tersenyum. Bukan cuma itu, orang-orang itu dengan jitunya bisa mengolah kritikan tajam menjadi “pembelajaran’. Dari situ, mereka bisa beradaptasi dengan lincah dan mengembangkan kinerjanya berdasarkan kritik tajam tersebut. Merekalah yang saya sebut sebagai “TOP Critics Receiver”- penerima kritik yang TOP.
Kontras bedanya dengan “Poor Critics Receiver”, yakni orang-orang yang anti-kritik pedas. Tipe orang ini maunya cuma mendengar kritikan yang manis dan santun. Begitu menangkap kritikan tajam, kompor emosinya langsung menyala. Dan ujung-ujungnya protes keras tidak terima, atau bahkan menyiapkan pisau mental untuk balas dendam. Read more
Awas TEH & KOPI
April 27, 2009 by Max Sandy
Filed under Brainclips
Es teh adalah buronan yang paling sering saya buru kalau sedang makan atau ketika badan kesiram hawa panas. Rasa teh yang sepat-sepat dan wanginya yang harum selalu sukses bikin saya geregetan. Jadinya, hampir setiap hari minuman warna oranye kecoklatan ini jadi menu wajib di rumah. Semuanya berawal ketika saya masih kuliah di Jogja jaman baheula. Kala itu, saya selalu ngiler melihat kawan karib saya kalau dia sedang nyeruput es teh manis pahit. Begitu nikmatnya.
Tapi begitu saya ditawari kopi, lidah saya biasanya agak protes. Maklum, lambung saya cukup peka kalau kemasukkan kopi. Jadinya, dalam kamus saya, teh masih ada dalam urutan pertama paling digemari. Read more
KNOWING the END
April 25, 2009 by Max Sandy
Filed under movie splash
Masa depan tidak pernah habis-habisnya dijadikan adonan ide film-film Hollywood. Mungkin karena masa depan sama misterius dan menariknya bak wanita cantik yang wajahnya ditutup kerudung tipis, sehingga bikin orang selalu penasaran. Maka muncullah ribuan film yang mengusung ide masa depan, dari berbagai sudut pandang dengan beragam plot. Dari mulai film berbudget murah sampai yang anggarannya menembus angka 9 digit dalam kurs dollar. Termasuk juga film yang pada bulan April ini merebak di bioskop-bioskop Indonesia, KNOWING. Read more
Give critics with love

Apapun profesi kita, dimanapun kita berada, dan berapapun usia kita, tentu kita tidak bisa hidup dalam atmosfer yang “kedap kritik”. Baik langsung atau tidak langsung, pasti kita pernah disenggol kritik. Mulai dari belaian kritik kecil, misalkan komentar orang soal warna kaos kaki yang kurang cocok – sampai kritik yang rada menggigit, bahkan mencakar kedamaian kita, contohnya saat orang mengatakan betapa tidak becusnya kita merampungkan pekerjaan. Malah kitapun sesekali (atau bisa jadi sering) adalah orang yang justru menerbangkan kritik kepada orang lain. Singkat kalimat, kritik adalah menu hidup yang pasti ada berseliweran dalam keseharian kita.
Konon. Kata “kritik” berasal dari bahasa Yunani “Krites” atau “Kritikos” yang artinya adalah orang yang mampu melihat dan menyampaikan penilaian. Lebih jauh lagi “kritik” lekat maknanya dengan pernyataan “tidak setuju” terhadap sesuatu. Itulah asal muasal kenapa kritik menjadi sesuatu yang sebisa mungkin kita “hindari”, karena kritik identik dengan pernyataan “belum berdamai”. Read more
A sentence that changes our world
April 24, 2009 by Max Sandy
Filed under everyday life
Dari deretan nama resto fast food yang biasa mangkal di mal-mal, ada satu gerai pizza yang gampang terlintas di benak perut saya saat putar-putar di dalam mal. Karena lumayan sering mampir di situ, jadinya saya cukup akrab dengan “drill” protokol para pramusajinya. Anda yang biasa hilir mudik ke resto pizza yang sudah kesohor itupun tentu sudah terbiasa dengan tradisi mereka saat memberi salam, mencatat menu, mempersilakan kita menunggu, dan seterusnya. Skenario kalimat yang diucapkan waiter/waitressnya kelihatan sekali distandarisasi. Pemandangannya jadi mirip dengan Pramugari pesawat sewaktu menjelaskan kelengkapan “safety” sebelum take off. Saking skenarionya terus diulang-ulang, maka saya lama-lama jadi lumayan imun, dan menganggap kalimat-kalimat yang mereka ucapkan adalah hal “wajar dan sepantasnya”. Read more
Suka mabuk di jalan? Bisa jadi Anda RIGHT BRAINER
April 11, 2009 by Max Sandy
Filed under Brainclips
Saya adalah orang yang paling susah membaca di dalam mobil yang sedang jalan. Begitu juga kalau mengoperasikan laptop. Kepala langsung terasa berputar-putar, malah terkadang sampai muncul rasa mual. Padahal, rekan saya bisa dengan asiknya mengutak-atik laptop dalam mobil berjalan tanpa ada reaksi apapun yang ganjil. Diapun bisa begitu betahnya membolak-balik koran atau majalah.
Seandainya Anda punya problem yang sama, jangan khawatir, karena itu bukan tanda kelainan atau penyakit fisik yang harus kita obati. Penelitian intensif seputar aktivitas otak yang dilakukan Ned Herrmann menyimpulkan hal menarik soal fenomena ini. Ketika kita berada dalam kendaraan yang sedang berjalan, dan mata kita bisa melihat pergerakan pemandangan di luar, maka sensor mata dan keseimbangan di bagian dalam telinga kita saling mengirimkan signal ke otak untuk diproses. Bagaimana kedua signal ini diproses dalam otaklah yang menentukan apakah kita tergolong “pemabuk jalan” atau bukan. Read more
f4

STRESS, siapa takut?
Gonjang-ganjing drama resesi saham global tengah melanda dunia.
Taring tajam kisis finansial kolosal ini pelan-pelan sudah menancap juga di sendi-sendi perekonomian bangsa kita. Ceceran darahnya mulai mengucur di belantara korporasi besar di negara kita, dan lambat laun merembes juga ke skala yang lebih kecil. Berita-berita dan gossip-gossip penutupan pabrik-pabrik dan industri kelas besar sampai menengah di kota-kota besar, termasuk Jakarta dan sekitarnya, sudah membuat gerah banyak kalangan. Terutama rakyat kecil.
Saya dan Anda barangkali termasuk dalam skala “rakyat kecil” itu, yang terkena imbasnya. Meloncatnya harga-harga bahan baku dalam dollar memaksa para pelaku bisnis mengecangkan celana demi menjaga kelangsungan asap dapur perusahaan. Barang produksipun jadi harus “dimodifikasi” sedikit supaya harganya tidak perlu dinaikkan drastis. Misalnya saja dengan mengurangi proporsi bahan baku atau berat bersihnya secara tidak kentara. Di sisi lain, nilai komersil mata uang rupiah jadi mengkerut sedikit, membuat kemampuan belanja harian kita berkurang. Dan yang paling tragis adalah berkembang biaknya pengangguran dadakan akibat aksi pemecatan dan pengurangan pegawai dimana-mana. Read more
Pesta PEMILU, pesta KEMASAN
April 10, 2009 by Max Sandy
Filed under everyday life
Masih hangat dalam ingatan kita saat sebagian dari kita ada yang harus rela antri di hari libur. Bukan ngantri bensin, elpiji atau sembako. Melainkan antri pemilu, bareng-bareng dengan orang-orang lainnya yang kebetulan sadar akan hak dan kesempatan mereka ikut menentukan navigasi politik di negara kita tercinta ini.
Saya tidak mau ketinggalan juga. Maka dengan semangat ‘45, hari kamis itu saya berjalan kaki dengan sendal karet empuk tercinta menuju tempat kerumunan TPS di kompleks rumah. Dan akhirnya, leburlah saya bersama ibu-ibu dan bapak-bapak yang lain menyerahkan surat pendaftaran ke petugas di situ. Berikutnya sambil menunggu giliran, sayapun ikut-ikutan nonton mengamati contoh lembaran-lembaran surat suara dan petunjuk pengisiannya di papan besar dekat situ. Read more
DVD keping kedua, sebuah inspirasi
April 10, 2009 by Max Sandy
Filed under movie splash
Buat Anda yang keranjingan nonton DVD, pasti akan berbagi kebahagiaan tinggal di negara kita. Di sini, kita gampang sekali mendapatkan DVD film dengan bandrol murah dimana saja. Sementara di negara asalnya saja, sekeping DVD original harganya bisa bikin kantong kita mual-mual. Di Indonesia, dompet kita masih tersenyum-senyum saat kita memborong DVD film kesayangan kita. Sampai banyak yang bilang, di negara maju slogannya “copyright”, tapi di Indonesia slogannya “right to copy”. Read more

