DVD keping kedua, sebuah inspirasi
April 10, 2009 by Max Sandy
Filed under movie splash
Buat Anda yang keranjingan nonton DVD, pasti akan berbagi kebahagiaan tinggal di negara kita. Di sini, kita gampang sekali mendapatkan DVD film dengan bandrol murah dimana saja. Sementara di negara asalnya saja, sekeping DVD original harganya bisa bikin kantong kita mual-mual. Di Indonesia, dompet kita masih tersenyum-senyum saat kita memborong DVD film kesayangan kita. Sampai banyak yang bilang, di negara maju slogannya “copyright”, tapi di Indonesia slogannya “right to copy”.
Karena itu, bisnis rental video di kota-kota Indonesia mulai surut pelanggan. Jelas saja, karena harga sewa DVD/VCD sudah menyamai harga jual bajakannya. Wajar saja orang-orang lebih memilih kerubutan di kios DVD dibanding harus bolak-balik ke rental.
Walaupun begitu, saya adalah salah satu orang yang masih setia bergentayangan di rental video. Dan kebetulan, di kawasan perumahan tempat tinggal Saya, ada toko rental DVD/VCD original yang masih aman bertengger. Saat senggang, selalu saya sempatkan setor muka di sana. Tempatnya pun cukup “cozy” walaupun tidak luas. Sambil pilih-pilih, ada sofa empuk yang bisa diduduki dan seabrek majalah resensi film yang bisa dibaca. Maklum, sebagai trainer dan pembicara, nonton film termasuk menu wajib untuk melengkapi materi.
Mengapa saya masih betah repot-repot datang ke persewaan?
Salah satu alasannya adalah “Keping kedua”. Apakah itu?
Untuk film-film box office tertentu, produsen kadang merilis DVD spesial dua keping. Yang satu berisi filmnya, sedangkan keping kedua biasa berisi extra feature. Kebanyakan orang mengira keping kedua “tidak berguna”, jadinya sering disepelekan. Makanya, boleh dibilang “impossible” menemukan DVD dua keping di kios-kios bajakan. Hanya toko-toko audiovideo mentereng saja yang biasa memajang DVD special edition ini. Harganyapun “maknyus” melebihi harga DVD original yang biasanya.
Apa yang menarik dari DVD keping kedua?
Hampir semua penikmat film sejati sepakat, jawabannya adalah “the making of”, yakni kisah dokumenter proses pembuatan film di balik layar. Dari mulai konsep, casting, proses shooting, editing, spesial efek, hingga tata musiknya.
Mungkin, awam tidak banyak yang “melek” bahwa sesungguhnya untuk membuat film berdurasi 90 menit, persiapan dan prosesnya bisa bertahun-tahun. Apalagi kalo filmnya tergolong berbudget tinggi atau penuh dengan spesial efek kelas A. Satu contoh keping dvd kedua yang saya barusan tonton adalah film sukses besar “Transformer” besutan sutradara ngetop Michael Bay. Di keping kedua edisi spesialnya, kita bisa menyaksikan betapa melelahkannya “Bay Team” merangkak pelan dari mulai membuat konsep hingga penggarapan filmnya yang berkisah soal perseteruan robot-robot alien di bumi itu.
Hanya untuk menciptakan sekuen adegan 1 menit kejar-kejaran robot di jalan tol, crew film harus bersinergi. Dari mulai diskusi perencanaan strategis menggunakan story board, persiapan set lengkap dengan mobil-mobil serta stuntmen, casting pemain dan figuran, pengadaan kostum, koreografi adegan, tim khusus explosive, sampai ke hal-hal kecil soal catering, perijinan, transportasi dan sebagainya. Hasil akhirnya : adegan 1 menit yang mencekam dimana sebuah robot mengamuk di jalan raya membelah dua sebuah bis dan menghancurkan mobil-mobil di kanan kirinya – membuat semua penonton di bioskop tercengang dalam hati, “Gilaaa, canggih banget!”
Dan lebih gilanya lagi, tidak ada satupun crew film yang akan protes, “aduhhh kerja berminggu-minggu jadinya kok cuma adegan semenit??” Malah sebaliknya, semenit adegan film yang berhasil direalisasikan membuat kelegaan, kebanggan, dan membakar motivasi mereka semua.
Coba Anda bayangkan, satu menit adegan saja butuh keringat segitu banyak. Apalagi untuk keseluruhan film. Dan ingat, keringat bukan cuma satu-satunya yang dikorbankan oleh mereka. Kelelahan mental, stress, perdebatan di sana sini, kulit terbakar sinar matahari, mata bengkak kekurangan tidur, dan sederet reskio-resiko lainnya.
Sadarkah kita, apa yang digambarkan dalam “the making of” sebetulnya adalah sebuah mentalitas mulia yang jarang kita miliki? Inilah spirit yang yang saya sebut “the paying price attitude”, kesediaan kita untuk membayar ongkos sukses kita.
Bersediakah Anda sebagai guru, membayar sukses mengajar 1 jam dengan jerih payah berminggu-minggu menyiapkan materi mengajar yang fun, merancang permainan atau roleplay yang akan membuat murid Anda betah di kelas sambil belajar?
Bersediakah Anda sebagai pemimpin di unit sales Anda, membayar kebanggan 30 menit naik podium menerima anugerah “The best sales team” dengan mengerahkan segala innersource Anda bertahun-tahun mengembangkan tim yang solid dan berprestasi?
Maukah Anda sebagai orangtua, membayar kebahagiaan 5 detik mendengar komentar anak Anda “Papa Mama yang terbaik!” dengan puluhan tahun mengorbankan waktu, jiwa dan raga Anda memperhatikan dan membesarkan mereka dengan hati?
Kalau boleh Saya kembali bicara soal DVD keping kedua, di balik sukses film “Transformer” – Michael Bay dan timnya sungguh sadar bahwa untuk merealisasikan sesuatu yang luar biasa, butuh effort yang tidak biasa-biasa juga.
Atau ….
Anda termasuk dalam jajaran orang-orang dengan usaha minimalis, “ahhh, ga usah hebat-hebat. Yang biasa-biasa aja hasilnya juga oke kok.”
Atau lebih parah lagi, Anda tergolong dalam kaum yang mau enak sukses tapi tidak bersedia membayar ongkosnya dan berharap semua jatuh dari langit?
Temukan spirit keping kedua dalam diri Anda.


This article is very very INSPIRATIVE! Pak Sandy sangat ahli menjelaskan sesuatu yang esensial dan mendalam dengan cara yang sangat mudah dan ringan. sungguh-sungguh mencerahkan hati!