STRESS, siapa takut?
Gonjang-ganjing drama resesi saham global tengah melanda dunia.
Taring tajam kisis finansial kolosal ini pelan-pelan sudah menancap juga di sendi-sendi perekonomian bangsa kita. Ceceran darahnya mulai mengucur di belantara korporasi besar di negara kita, dan lambat laun merembes juga ke skala yang lebih kecil. Berita-berita dan gossip-gossip penutupan pabrik-pabrik dan industri kelas besar sampai menengah di kota-kota besar, termasuk Jakarta dan sekitarnya, sudah membuat gerah banyak kalangan. Terutama rakyat kecil.
Saya dan Anda barangkali termasuk dalam skala “rakyat kecil” itu, yang terkena imbasnya. Meloncatnya harga-harga bahan baku dalam dollar memaksa para pelaku bisnis mengecangkan celana demi menjaga kelangsungan asap dapur perusahaan. Barang produksipun jadi harus “dimodifikasi” sedikit supaya harganya tidak perlu dinaikkan drastis. Misalnya saja dengan mengurangi proporsi bahan baku atau berat bersihnya secara tidak kentara. Di sisi lain, nilai komersil mata uang rupiah jadi mengkerut sedikit, membuat kemampuan belanja harian kita berkurang. Dan yang paling tragis adalah berkembang biaknya pengangguran dadakan akibat aksi pemecatan dan pengurangan pegawai dimana-mana.
Dalam kondisi begini, hal umum yang paling mungkin terjadi adalah .. STRESS. Stress karena tidak lagi bisa jajan atau jalan-jalan seperti biasa. Stress karena diomelin istri yang kekurangan duit belanja. Stress karena tidak bisa membiayai anak sesuai rencana. Stress karena harus bersaing lebih sengit. Stress karena tuntutan yang semakin tinggi dalam pekerjaan.
Itulah mengapa, sejak nenek moyang kita, “stress” dianggap momok yang menakutkan dan harus dihindari. Kedudukan “stress” boleh jadi sama mengerikannya dengan “kolor ijo” atau “genderowo” di mata masyarakat kita. Dengan satu kata, orang sepakat “Jauhi Stress”.
Apa benar stress harus diberantas?
Mungkin banyak dari kita belum sadar, bahwa ternyata Tuhan menciptakan kita lengkap dengan software stress management systemnya. Software yang dimaksud adalah sistem fisiologi kita saat menghadapi situasi yang memicu ketidakseimbangan internal kita. Istilah ilmiahnya, stress adalah kondisi dimana kondisi homeostatis kita terganggu. Penyebabnya bisa 1001 macam, dan semua orang bisa dipastikan pernah mengalami stress baik levelnya ringan maupun berat.
Secara fisiologi, saat otak kita menerima signal gangguan, maka dengan segera sistem tubuh kita berada dalam kondisi “red alert”. Analoginya sama seperti stasiun pemadam kebakaran yang menerima telpon “kebakaran” lalu kemudian segera menyalakan alarm yang membangunkan semua crew petugas pemadam. Pada saat ini, otak mengirimkan perintah untuk mengeluarkan hormon cortisol yang memicu adrenalin. Akibatnya, pengolahan glukosa tubuh menjadi lebih cepat untuk menghasilkan energi tambahan yang diperlukan tubuh untuk memberikan reaksi. Dan bukan cuma itu, degup jantung dan pernafasan kitapun semakin efesien untuk membantu mempertajam indera kita. Makanya, di saat-saat kritis, tubuh kita mendadak seperti “gatot kaca” yang punya otot kawat balung besi dan siap bertempur. Atau bisa juga kondisi tubuh yang prima ini kita gunakan untuk berlari lebih cepat dari biasanya. Coba saja lihat seorang anak perempuan yang tiba-tiba bisa berlari cepat hanya karena gara-gara ada anjing rabies yang mengejar. Oleh karena itu tidaklah salah bila para ilmuwan menyebutkan hormon stress sebagai hormon “Flight or Fight”, alias bisa digunakan untuk bertempur lebih hebat atau kabur lebih gesit.
Dengan kenyataan ini, terbukti bahwa kondisi stress justru bermanfaat supaya tubuh dan pikiran kita bisa “berolahraga” untuk mencapai kondisi peak performance kita. Level stress yang dosisnya tepat malah membuat kita bisa menemukan potensi-potensi diri kita yang sebelumnya bahkan kita tidak pernah tahu. Sudah sejak lama, penelitian di bidang psikologi dan organisasi mencapai kesimpulan bahwa dampak stress terhadap performance kita bisa digambarkan dalam kurva normal. Dengan tingkat stress yang optimum, kinerja kita akan meningkat. Tapi di sisi lain, stress yang terlampau berkepanjangan dan berat justru akan menurunkan kualitas kinerja kita. Secara fisiologis memang terbukti, bahwa semburan hormon cortisol yang berlebihan akan mempengaruhi sistem imun tubuh sehingga kita jadi lebih rentan terkena penyakit.
Coba bayangkan, seorang sopir yang terbiasa menyetir mobil Roll Royce suatu ketika tiba-tiba dipindah tugas, dan terpaksa harus mengendarai mobil truk gandeng yang super berat. Tangan dan kakinya mulai pegal-pegal saat awal-awal menyupiri truk itu. Namun lama-lama, otot-ototnya makin terlatih dan bertambah mahir menggoyang setir truk yang sangat bongsor. Lalu, begitu dia dipindah tugas lagi mengendarai mobil pickup, si supir ini tersenyum-senyum dan bilang, “Mobil truk gede saja Saya sudah biasa, apalagi mobil pickup yang lebih kecil ini!” Sementara itu rekan kerjanya yang dari dulu terlalu nyaman bertugas membawa mobil Roll Royce, cuma bisa uring-uringan begitu mendapatkan tugas membawa mobil pickup. Dia mengeluh, “Yahh, berat sekali rasanya harus membawa mobil pickup. Setirnya berat, koplingnya manual, joknya keras, ditambah per rodanya juga atos!”
Perumpamaan supir-supir tadi jelas menggambarkan kehidupan kita. Ada yang pernah menjalani stress, ada juga yang nyaman-nyaman saja hidupnya tidak pernah kena tekanan. Begitu roda kehidupan berguncang, mungkin mereka yang otot stressnya terlatih akan menganggapnya sebagai tantangan biasa. Tapi yang tidak terlatih akan menganggapnya sebagai musibah.
Kesimpulannya, mari kita berpikir ulang lagi soal bahaya “stress” dalam kehidupan kita. Boleh jadi stress dalam batasan tertentu harus kita ciptakan sendiri, supaya otot-otot juang kita terus berkembang. Dan seandainya kondisi stress menimpa kita, jangan lagi bikin bulu kuduk kita berdiri dan membuat kita lemah lunglai. Jadikan stress dan beban hidup kita sebagai peluang kita untuk merangkai sukses hidup yang lebih baik. Entah itu deadline yang mepet, kondisi finansial yang berantakan, krisis hubungan personal atau target sales yang tinggi, semuanya bukan lagi untuk ditakuti.
Semoga Anda tidak bertambah stress membaca artikel ini.


Comments