Give critics with love

Apapun profesi kita, dimanapun kita berada, dan berapapun usia kita, tentu kita tidak bisa hidup dalam atmosfer yang “kedap kritik”. Baik langsung atau tidak langsung, pasti kita pernah disenggol kritik. Mulai dari belaian kritik kecil, misalkan komentar orang soal warna kaos kaki yang kurang cocok – sampai kritik yang rada menggigit, bahkan mencakar kedamaian kita, contohnya saat orang mengatakan betapa tidak becusnya kita merampungkan pekerjaan. Malah kitapun sesekali (atau bisa jadi sering) adalah orang yang justru menerbangkan kritik kepada orang lain. Singkat kalimat, kritik adalah menu hidup yang pasti ada berseliweran dalam keseharian kita.
Konon. Kata “kritik” berasal dari bahasa Yunani “Krites” atau “Kritikos” yang artinya adalah orang yang mampu melihat dan menyampaikan penilaian. Lebih jauh lagi “kritik” lekat maknanya dengan pernyataan “tidak setuju” terhadap sesuatu. Itulah asal muasal kenapa kritik menjadi sesuatu yang sebisa mungkin kita “hindari”, karena kritik identik dengan pernyataan “belum berdamai”.
Saya boleh jadi setuju-setuju saja ketika mendengar orang berkomentar, “I love critic” atau “Kritikan itu sehat”. Tapi sesungguhnya, banyak juga orang yang jujur berkata, “Saya sakit hati mendengar kritik dari dia”. Kalau begitu, sebetulnya kritikan itu vitamin atau virus?
Jawabannya adalah “depends on”, tergantung bagaimana kritikan itu disajikan. Gampangnya, saat kritikan dinilai manis dari segi 6W 1H-nya (Who, When, Why, Where, Whom, What, dan How) maka kritikan menjadi sedap dan enak dikunyah, atau istilahnya “kritikan yang konstruktif”.
Tapi bila kritikan disampaikan dengan tidak bijak, malah bisa terasa menikam dan meluluhlantakan kebahagiaan kita. Coba saja bedakan antara atasan yang bilang, “Kamu ada baiknya membuat ulang kembali proposal ini, karena detail anggarannya masih belum lengkap”, dengan atasan yang mengatakan, “Kamu kayaknya gak ngerti bikin proposal. Ini sama sekali tidak bisa diterima manajemen”.
Sungguh, ilmu mengkritik di mata saya adalah ilmu tingkat tinggi yang tidak sembarang orang bisa kuasai. Bahkan mereka yang punya jabatan ataupun titel mewah dibelakang nama mereka belum tentu bisa menguasai ilmu ajaib yang satu ini. Pasalnya, untuk menjadi master mengkrtitik, yang dibutuhkan adalah modal kebijaksanaan dan kematangan berpikir, yang notabene tergolong barang langka di dunia ini. Anehnya, bisa terjadi malah mereka-mereka yang tidak makan “sekolah” yang justru piawai merangkai kritikan yang sedap, enak didengar, sekaligus membangun. Jadi, seakan-akan, makin kita merasa diri kita lebih tua, lebih pengalaman, atau lebih pintar, justru lidah kita lebih rentan keseleo menyampaikan kritik yang alot dan pahit, bukannya membuat orang membangun diri, tapi malah membangun dendam kesumat.
Kalau begitu, marilah kita sejenak mempertimbangkan resep SEDAP saat mulai menggoyang lidah mengkritik orang lain :
- Sampaikan kritik dengan lapisan pujian. Seorang ahli komunikasi bahkan mengatakan rumusan 1 kritik ditambah 2 pujian akan membuat orang menyimak opini kita dengan lega hati. Saya sering mengistilahkannya sebagai Critic Sandwich : 1 daging kritikan + 2 lapis roti pujian. “Ibu lihat kamu sangat telaten mengerjakan laporan ini. Tapi sebisa mungkin kecepatannya ditambah ya supaya bisa dikumpulkan tepat waktu. Ibu yakin koq, buktinya laporan yang lain kamu bisa buat setor lebih cepat dari yang staff lainnya.”
- Enyahkan kalimat-kalimat negatif yang mengarah kepada orangnya. Saat kita mulai melabel karakter orang, itu akan menghalangi orang mendengarkan kita dengan respek. “Kamu ini memang kurang disiplin. Masak telat terus kirim laporan”. Cobalah lebih fokus dengan fakta kejadiannya, “Laporan bulan Januari masih belum saya terima dari kamu. Yang Desember tahun lalu datangnya meleset seminggu. Saya khawatir keterlambatan ini terjadi lagi di bulan berikutnya”.
- Diksi yang spesifik. Artinya gunakan kata yang artinya spesifik dan jelas, bukannya istilah-istilah yang maknanya ambigu atau meluas. “Bapak merasakan AURA NEGATIF dari kamu saat kamu menyampaikan alasan-alasan keterlambatan laporan ini”. Lebih baik pilihlah kata yang lebih membumi di telinga, “Alasan yang kamu sampaikan belum bisa saya terima, karena staff yang lain juga menggunakan jenis komputer yang sama tapi tidak pernah terlambat koq”.
- Arahkan pada solusi. Atau paling tidak kita bisa memberikan pemahaman apa yang sebaiknya terjadi. “Nah, yang terpenting, lain kali kamu bisa serahkan laporan ini selambat-lambatnya tanggal 2 setiap awal bulan. Itu yang saya harapkan”.
- Pergunakan bahasa tubuh dan kontak mata yang baik, sehingga orang yang kita kritik tidak merasa diintimidasi atau merasa harga dirinya “dikuliti”.
Tentu saja, resep ini bukanlah satu-satunya resep di dunia yang ada dalam hal memberikan kritik. Masih banyak point-point bijak lainnya yang bisa kita dapatkan dari banyak sumber perihal kritik mengkritik ini. Dan tentu jangan terlewat juga, menjadi orang yang menerima kritikpun butuh kebijaksanaan dan ilmu mental yang tidak kalah tingginya. Dalam artikel yang lain, saya akan mensharingkan topik ini juga.
Ingat saja prinsip utamanya, “Critics is all about making this world a better place. Be the one who engages them wisely”.
Semoga artikel ini juga bisa mengkritik Anda dengan sedap.


Comments