Take critics with love

April 29, 2009 by Max Sandy  
Filed under mind shop

Dalam artikel sebelumnya, saya mengusung tema seputar memberikan kritik. Kritik yang dikemas dengan baik, plus disajikan dengan bumbu yang tepat akan terasa gurih di telinga penerimanya. Sebaliknya, kritik yang diberikan sembarangan – asal tembak, akan terasa menyakitkan, malah terasa menyayat harga diri.

Tapi, sadarkah Anda, ada juga orang-orang yang ketika dikritik dengan pedas, malah tetap bisa tersenyum. Bukan cuma itu, orang-orang itu dengan jitunya bisa mengolah kritikan tajam menjadi “pembelajaran’. Dari situ, mereka bisa beradaptasi dengan lincah dan mengembangkan kinerjanya berdasarkan kritik tajam tersebut. Merekalah yang saya sebut sebagai “TOP Critics Receiver”- penerima kritik yang TOP.

Kontras bedanya dengan “Poor Critics Receiver”, yakni orang-orang yang anti-kritik pedas. Tipe orang ini maunya cuma mendengar kritikan yang manis dan santun. Begitu menangkap kritikan tajam, kompor emosinya langsung menyala. Dan ujung-ujungnya protes keras tidak terima, atau bahkan menyiapkan pisau mental untuk balas dendam.

Coba bayangkan, seandainya Anda adalah seorang penyanyi yang lagi girang-girangnya unjuk gigi di panggung American Idol. Anda begitu yakin sudah menyanyi sepenuh hati, dan penontonpun gegap gempita bersorak-sorak menikmati alunan suara Anda. Tapi begitu juri memberikan opini, tahu-tahu SIMON menjotos Anda dengan kritikan yang super spicy alias tidak tanggung-tanggung pedasnya. Apa reaksi Anda??

Boleh jadi Anda tetap nyengir dan say “thank you”, kemudian mencari-cari kebenaran di balik kata-kata tajam kritikannya. Atau kebalikannya, mungkin Anda dalam hati cemberut dan mencanangkan tekad “I hate SIMON forever!”.

Contoh sederhana ini cukup tepat menggambarkan perbedaan cara kita menanggapi kritikan pedas. Saya tidak menyalahkan salah satunya atau membenarkan yang lain. Perkaranya adalah soal memilih sikap kita, menentukan siapa diri kita sebenarnya di tengah hujaman kritik yang menyengat.

Nah, yang pasti, kritikan pedas jelas tidak membuat diri kita nyaman. Harga diri kita seakan di garuk-garuk, dan mudah sekali memicu badmood. Baik “TOP receiver” maupun “POOR receiver” sama-sama bisa merasakan penurunan suhu mood ini di kala telinga atau mata menangkap kritikan sengit. Justru tantangan sesungguhnya adalah : setelah menerima kritikan ini, apa yang dilakukan?

Saya mengusulkan tips TOP agar kita bisa belajar menjadi “TOP critics receiver” :

Teliti makna di balik kata-katanya

Kritik pedas pastilah berisi kata-kata yang pilihannya tidak santun. Namun, ingatlah bahwa isi kritikan sebetulnya bukanlah pada pilihan katanya, tapi pada inti “PESAN”nya. Seringkali di balik peluru panas kritikan, ada pesan yang memang objektif. Tidak semua orang pandai merangkai kata, bukan? Kebanyakan orang-orang seperti ini tidak sadar pada pilihan kata-katanya sendiri. Oleh sebab itu, janganlah kita fokus dengan kata-katanya, apalagi sampai menimbun dendam kesumat. Di balik kalimat tidak sedap, ” Kamu bedebah yang tidak becus merawat badan”, mungkin pesannya, “mandi jangan cuma seminggu sekali”.

Olah pesan kritiknya

Setelah kita menangkap pesannya, tinggal kita bertanya pada diri sendiri : “Benarkah itu?” Kali ini dibutuhkan daya introspeksi yang kuat agar mata hati bisa terbuka dengan segala kemungkinan. Bisa jadi pesan kritikan itu benar. Atau bisa juga tidak benar. Dalam keadaan tidak yakin, sah-sah saja kita minta pendapat orang ketiga tentang kebenaran kritik tersebut. Mungkin saja pada akhirnya, Anda dan orang lain itu menyimpulkan, “kritikannya tidak benar”. Walau begitu, kita tetap harus selidiki lebih jauh kenapa kritikan itu bisa muncul. Apakah ada salah persepsi? Apa yang bisa kita lakukan untuk meminimalkan salah paham ini? Singkat kata, isi kritikan – entah benar atau tidak, tetap harus ditindaklanjuti dengan arif agar di kemudian hari kinerja kita semakin membaik. Seandainya sesudah pergumulan mental ini Anda setuju dengan pesan krikannya, maka tugas berikutnya tentu saja melakukan revisi sebisa mungkin tergantung dari energi dan kapasitas Anda.

Pantau hasilnya

Setelah kita memoles kinerja berdasarkan kritikan yang kita terima, jangan lupa untuk selalu memantau hasilnya. Apakah kritikan yang sama masih terulang kembali? Ataukah ada kritikan baru yang berkembang? Dan mulailah Anda kembali dengan langkah TOP yang baru. Seringkali terjadi, kinerja kita harus melewati rangkaian TOP berulang-ulang, sampai raport kita bisa mendekati angka sempurna. Dalam kasus tertentu malah rangkaian TOP-nya tidak pernah berhenti. Itulah makna sejati dari pengembangan diri tiada henti, bukan?

Langkah TOP di atas hanyalah penggalan tips sederhana yang bisa kita lakukan. Masih ada segudang tips bijak lainnya yang bisa kita terapkan seputar dunia kritik-mengkritik ini. Yang terpenting adalah, jangan sampai kita menjadi orang yang alergi terhadap kritikan, karena saya selalu mengatakan, “One among all possible reasons why people criticize us, is … love”. Artinya, sejelek-jeleknya orang mengkritik kita, mungkin ada alasan cinta dan perhatian di baliknya. Nah, lain kali orang tua kita, anak kita, atasan kita, pasangan kita, atau bawahan kita memberikan kritik pada kita, …. tersenyumlah. 

Berapa kritikan hari ini Anda dapat?

Comments

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!