Membasmi PROCRASTINATION
Kalau Anda masih asing dengan istilah procrastination, mungkin lebih akrab dengan arti awamnya “kebiasaan suka menunda”. Menunda boleh dibilang virus mental yang umum menyerang siapapun, dimanapun dan kapanpun. Gejalanya sederhana : mengerjakan kelak apa yang mestinya bisa dikerjakan sekarang. Entah itu PR sekolah, tugas kuliah, laporan akhir tahun, atau apa saja. Dan kalau Anda merasa pernah terjebur dalam aksi menunda-nunda ini, jangan khawatir, karena Anda berbagi cerita yang sama dengan banyak orang di dunia ini.
Kalau cuma menunda hal-hal kecil bisa jadi dampaknya tidak akan kentara, tapi jika itu melibatkan sebuah aksi yang menentukan masa depan kita, baru berbahaya. Bayangkan seorang bapak yang menunda-nunda untuk mulai berolahraga dengan alasan ”badan saya masih OKE koq” dan mengulur tahun demi tahun tidak berolahraga. Dan akhirnya ketika jantungnya mulai bermasalah, barulah ia menyesali hobbynya yang suka menunda. Atau seorang leader yang menunda-nunda mengupgrade sistem perusahaannya, hingga akhirnya harus elus-elus dada ketika perusahaan lain mencaplok market sharenya. Ironis sekali kalau malapetaka akhirnya harus menimpa kita, padahal sesungguhnya bisa dicegah hanya dengan melakukan sesuatu ”tepat pada waktunya”. Read more
Chase your dream like wall-e
April 3, 2009 by Max Sandy
Filed under movie splash
Kira-kira sebulan yang lalu, di sebuah mal di bilangan Jakarta Barat saya memergoki replika “action figure” Wall-e di etalase satu toko mainan anak-anak. Tanpa pikir panjang langsung saya beli, dan “bimsalabim” hingga sekarang si wall-e menempati takhtanya di atas meja kerja saya di rumah.
Sekilas tampak childish bukan? Tapi di mata saya, replika wall-e akan menjadi anchor yang luar biasa, mengingatkan saya terus untuk tetap “fight for the future”. Why? Read more
Belajar dari penjual elpiji dan nasi pecel
April 3, 2009 by Max Sandy
Filed under everyday life
Belum lama lewat, krisis elpiji mengganggu sanubari Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak rumah tangga di Indonesia. Harga yang memuai banyak ditambah stok yang terbatas, membuat tabung-tabung elpiji bak selebritis yang dicari-cari orang.
Saya termasuk di antara mereka.
Dan gara-gara langganan penjual elpiji saya sering kosong stok, maka dimulailah perburuan saya mencari penjual yang baru. Yang penting kompor di rumah tidak kehausan lagi. Dan kebetulan pada waktu itu, tidak jauh dari rumah saya, sebuah ruko baru dibuka. Ukurannya kecil saja, menjual aneka kebutuhan kelontong. Tapi yang bikin saya jatuh hati adalah tabung-tabung warna biru yang dipajang di depannya. Kontan saya datangi sang pemilik, pria biasa-biasa saja keturunan tionghoa bermuka ramah. Read more
f3

f2

f1


