The Power of WORDS
Kalau Anda termasuk orang yang rajin membaca tulisan para motivator, atau syukur-syukur pernah langsung menghadiri training maupun seminar yang digelar oleh para penjaja motivasi ini, maka pasti Anda sudah terbiasa dengan teriakan-teriakan “Ayo katakan kamu BISA! Yes I CAN!”, serta kalimat-kalimat positif lainnya. Apapun kalimatnya, beragam cara digunakan mereka demi membuat Anda bisa dan terbiasa mengucapkan kalimat-kalimat pembakar nyali ini untuk menambah gairah hidup. Tidak terkecuali saya, yang hobby juga meyakinkan orang-orang untuk tidak malu-malu membasahi lidah mereka dengan kalimat-kalimat yang positif.
Bagi sementara orang, pertanyaan yang sering mencuat adalah “Apa bisa kehidupan berubah hanya dengan kata-kata?!”
Jawabannya adalah “Kata-kata memang tidak menentukan sukses Anda, tapi kata-kata sungguh mampu MEMPENGARUHI pencapaian sukses kita”. Gampangnya, kata-kata memiliki kekuatan unik yang bisa mengarahkan alam bawah sadar. Cara kerjanya mirip seperti mantra yang ketika diucapkan atau diperdengarkan akan mempengaruhi cuaca alam bawah sadar kita. Kata-kata yang positif membentuk cuaca positif, dan kebalikannya, kata-kata negatif memciptakan iklim yang negatif juga. Hal ini sudah lama diakui oleh banyak ahli psikolinguistik (cabang ilmu yang mengkaitkan psikologi dengan ilmu bahasa), yang dalam prosesnya kemudian berkembang menjadi cabang ilmu kondang NLP (Neuro Linguistic Program).
Satu contoh eksperimen menarik pernah dilakukan oleh seorang Psikolog berotak encer dari Yale University Amerika, Profesor John Bargh. Dalam eksperimennya, beberapa relawan diundang untuk diberikan tugas menyusun kalimat dari kata-kata yang diacak (scrambled sentence test). Para relawan dibagi menjadi dua kelompok secara random, dimana satu kelompok sengaja diberikan kata-kata yang bernuansa negatif seperti : marah, agresi, mengganggu, marah, kesal dan sebagainya. Sementara kelompok satunya lagi diberikan rangkaian kata yang nuansanya positif semisal : sabar, sopan, menghargai, respek, apresiasi, dan lain-lain. Setelah selesai mengerjakan beberapa item soal, masing-masing kelompok diminta untuk mencari panitia untuk mendapatkan item-item soal lainnya. Ketika ketemu panitianya, semua relawan itu sengaja dipersulit, entah dengan tidak diacuhkan, dipontang-panting, bahkan ada panitia yang sibuk sendiri ngobrol dengan orang lain (padahal semua panitia cuma berakting, diluar sepengetahuan peserta eksperimen).
Ternyata, peserta yang sebelumnya mendapatkan soal dengan kalimat-kalimat negatif jadi cenderung lebih emosional, cepat kesal dan marah kepada panitia. Sedangkan kelompok lainnya bisa lebih bersabar dan menahan diri, karena sebelumnya mereka berkutat dengan kalimat-kalimat yang banyak muatan kata-kata positifnya.
Di lain kesempatan, eksperimen ini dilakukan dengan variasi yang berbeda kepada dua kelompok relawan yang lain. Kelompok pertama diberikan soal-soal kalimat yang penuh kata-kata seperti : segar, awet muda, ceria, kekanakan, panjang umur, dan sebagainya. Kelompok yang lain mengerjakan soal-soal merangkai kalimat yang sarat dengan kata-kata : tua, keriput, tutup usia, lemah, sakit-sakitan, dan lain-lain. Kali ini, setelah semuanya selesai mengerjakan, mereka diminta berjalan menuju ruangan lain melewati koridor yang panjang. Uniknya, orang-orang yang tadinya menjawab soal-soal bermuatan kata positif berjalan dengan langkah mantap dan ceria. Bagaimana dengan relawan-relawan yang mendapatkan soal-soal dengan kata-kata negatif? Mereka melewati lorong dengan langkah gontai, terseok-seok, dan lemas.
John Bargh dan rekan-rekannya menyebut percobaan ini dengan nama Priming Experiment, membuktikan betapa powerfulnya pengaruh kata-kata terhadap kinerja alam bawah sadar, yang pada gilirannya berdampak juga pada perilaku kita.
Sekarang, bayangkan saja orang yang melewati hari-harinya dengan tanki pikiran penuh dengan kata-kata negarif, entah diucapkan, didengar atau bahkan cuma sekedar dibaca. Hidupnyapun bakal dikaluti awan mendung terus, karena perilakunya terus-menerus memproyeksikan kata-kata negatif yang terhisap alam bawah sadarnya, “hidupku kacau” “istriku tidak mencintaiku” “hutangku tidak akan pernah lunas”. Tidaklah mengejutkan kalau orang ini lantas hanya berfokus kepada nasib buruknya terus dan melewatkan banyak hal yang mestinya bisa disyukuri. Saya senang menyebut fenomena ini sebagai “Junk words create junk life”.
Lain halnya dengan orang-orang yang rongga mentalnya penuh dengan kata-kata positif. Bahkan di titik-titik kegetiran hidupnya yang paling pahitpun, orang-orang macam ini bisa tetap mengais-ngais kata-kata positif dari sela-sela air matanya.
“Bright words brighten life”
Belum lama berselang, seorang wanita yang saya kenal baik, sebut saja namanya ANA, mencurahkan kejadian tragis yang menimpanya. Setelah hampir 6 tahun membina hubungan dengan pasangannya, tiba-tiba saja Ana mendapatkan maklumat putus begitu saja tanpa alasan yang jelas. Langitpun terasa runtuh dihadapannya, meremas semua kantung persediaan air matanya. Untuk beberapa waktu, ia menjalani hari-harinya seperti seorang penjelajah gua tanpa peta dan senter. Gelap pekat seakan tak ada lagi harapan. Siapapun akan memahami kalau kesedihannya itu betul-betul berlapis-lapis dan tidak tertahankan. Kasarnya, opsi “minum baygon” adalah hal wajar yang akan dipilih segelintir orang-orang yang berada dalam posisinya itu. Sayapun sempat dag dig dug, mengkhawatirkan dampak peristiwa ini kepada jejaring kehidupannya, baik secara fisik maupun mental.
Tapi kemudian, pada satu titik, kecemasan saya menguap. Ini terjadi begitu saya mulai menangkap percikan kata-kata positif dari Ana, “Saya akan bisa melewatinya Pak. Saya kuat”.
Lebih menakjubkan lagi, di tengah-tengah kenyataan pahit yang menjerat kesadarannya, Ana bahkan menopang dirinya sendiri dengan goresan-goresan puisi yang ia ciptakan sendiri. Salah satu guratan hatinya tertuang dalam kalimat-kalimat ini :
Ricuh bergemuruh..
Sakit menyengat..
Mulut terkatup menahan luap..
Berontak jerit tertahan.. Terkunci di langit2 rongga mulutku..
Dan nafasku tersumbat..
Bergetar sekujur tubuh seiring air mata yang mendera..
Otakku penuh dengan perih menjejal..
Syaraf syaraf bersitegang dengan dahsyatnya..
Emosi yg tak dinyana..
Mematikan ragaku dan menghidupkan jiwa yang sekarat..
Jiwa yang sempat tersungkur hancur..
Terhanyut oleh suasana kematian yg mencekam..
Habiskan hirup sesakku!!..
Matikan lolongan penuh sayat!!..
Dan tibalah jiwaku pada perhentian abstrak..
Bagai debu tak terlihat..
Bagai jiwa tak terjangkau..
Kudaki puncak knikmatan dr sakit, perih, dan getir penuh makna..
Kuraih lelah tenaga yg tersisa..
Dan kusisakan sadarku..
Dalam hening dan kesunyian..
Dalam kepalan tangan dan ringkukan badanku..
Kukecap damai luar biasa..
Aku lega..
Di antara luka teriring bahagia..
Lalu tak kusadari air mataku mereda..
Jiwa ini..
Menyentuh surga..
Jika Anda peka dengan isi puisi ini, maka Anda akan menangkap bahwa Ana sangat sadar dengan realitas yang menggulungnya, dan sama sekali tidak menyangkal perasaan sakitnya itu. Namun di saat yang sama, Ana bisa menarik serpihan terang dari tumpukan penderitaannya dan mulai membangun kata-kata positif bagi dirinya sendiri.
Lambat laun, Ana benar-benar mendapatkan kekuatannya kembali dan mulai menata kembali hidupnya. Dan saya yakin seratus persen, dengan talentanya merangkai kata-kata bijak seperti itu, Ana akan menjadi wanita luar biasa yang bukan saja akan mencerahkan hidupnya sendiri tapi juga semua orang yang ada disekelilingnya. What an amazing woman!
Dan, kabar gembiranya, talenta ini juga dimiliki Anda dan saya sendiri, yakni kemauan dan kesanggupan kita untuk fokus dengan kata-kata positif sepanjang alur hidup kita. Maka tipsnya sederhana saja :
Ucapkan kata-kata positif, dengarkan kata-kata positif, bacalah kata-kata positif, tulislah kata-kata positif, renungkanlah kata-kata positif.
Bukan berarti saya menyarankan Anda menolak mentah-mentah semua kata-kata negatif yang menerpa hidup kita, karena pada dasarnya mustahil kita bisa terhindar dari bombardir kata-kata negatif yang tiap hari kita terima. Yang terpenting, seberapapun banyaknya kata-kata negatif berseliweran setiap hari di mata dan telinga kita, jangan sampai kata-kata negatif ini melelehkan semangat hidup kita.
Berapa banyak kata positif keluar dari mulut Anda hari ini?


Comments