Claws Up Like Wolverine
May 5, 2009 by Max Sandy
Filed under movie splash
Bulan Mei ini, pemuja film-film superhero kembali merubungi bioskop-bioskop tanah air demi melihat kembali aksi Logan-Wolverine dalam film X-Men, The Origins of Wolverine. Ini adalah film prekuel dari 3 seri X-Men sebelumnya yang sama-sama menembus angka Box Office dunia.
Film ini menyoroti perjalanan Logan, sang mutan yang memiliki kemampuan regenerasi sel luar biasa sehingga bisa sembuh dari luka apapun dalam sekejap mata, serta bisa mengeluarkan 3 cakar super tajam di masing-masing tangannya, keluar dari antara buku-buku jarinya. Gara-gara kemampuan ini, maka Logan bisa berumur panjang karena proses penuaan selnya berjalan sangat lambat sekali. Ternyata di keluarganya, ia juga memiliki saudara yang memiliki anomali mutasi yang mirip, yakni kekuatan regenerasi sel dan cakar tajam, bedanya – cakar saudaranya itu berupa kuku-kuku jari yang bisa bertambah panjang dan runcing setajam baja.
Dikisahkan, Logan dan saudaranya, Viktor, sama-sama berkelana melewati abad demi abad mengabdikan diri sebagai serdadu perang dan terlibat dalam sejarah panjang perang Amerika, mulai dari Perang Saudara (Civil War), PD 1, PD 2, sampai Perang Vietnam. Kemudian, suatu saat mereka direkrut oleh Jenderal Stryker untuk bergabung dalam tim yang terdiri dari mutan-mutan juga. Lantas, Logan dan Viktorpun jadi berkutat dengan misi-misi yang diberikan Jendral Stryker.
Masalahnya mulai mencuat, saat Logan mulai sadar bahwa Jendral Stryker mulai beringas dan tidak mempedulikan etika kemanusiaan saat menyelesaikan misi-misinya. Saking tidak tahannya, Loganpun mengundurkan diri dan mengasingkan diri menjadi pekerja pemotong kayu dan tinggal di pedalaman bersama kekasihnya. Ceritanya kemudian semakin memanas, karena gerombolan Stryker dan Viktor menjalankan rencana licik untuk memancing Logan menjalani eksperimen yang membuat tulang-tulangnya dilapisi logam maha keras, adamantium, sehingga ia menjadi lebih tangguh. Bukan cuma itu, ternyata Jendral Stryker memiliki niat lebih buruk menciptakan satu mutan yang nantinya akan diperalat untuk menumpas semua mutan-mutan lain di dunia. Akhirnya, tentu bisa ditebak, Logan berhasil mematahkan rencana jahat sang Jendral walaupun ia harus membayar ongkosnya, menjadi amnesia. Jalinan kisah inilah yang mendasari balada perjalanan Wolverine menumpas kejahatan bersama X-men pimpinan Prof. Xavier, sambil ia juga berusaha mencari jati diri yang hilang dari ingatannya.
Sekilas, film ini tidak lebih sebagai film “popcorn” yang sarat adegan spektakuler dan menghibur. Selesai menonton film inipun, saya bertanya-tanya kepada diri sendiri, “what is the lesson?” Butuh waktu beberapa saat hingga saya menemukan jawabannya :
It’s about our talent and courage
Kalau wolverine punya cakar, Andapun punya! Masing-masing dari kita memiliki cakarnya sendiri-sendiri, berujud bakat-bakat kita, kelebihan-kelebihan yang menjadikan kita unik. Bentuknya bisa beragam sekali, mulai dari bakat menulis, memasak, berhitung, merangkai bunga, atau apa saja. Pokoknya, segala aktivitas yang memicu rasa antusias dan membuat kita “lupa waktu” menunjukkan potensi bakat kita. Dan ketika potensi diri kita dikerahkan demi kebaikan orang lain, maka sebutannya boleh jadi bukan lagi “talenta”, melainkan “Kontribusi Spesial”, atau kalau saya istilahkan lebih keren bunyinya adalah “Altruistic Talent”.
Mungkin hobi merangkai bunga kelihatan sepele di mata orang. Tapi begitu seorang gadis cilik merangkai bunga buat sahabatnya yang sedang sakit, maka rangkaian bunga itu sudah jadi “Altruistic Talent” ketika sahabatnya itu jadi tersenyum haru dan lebih bersemangat untuk sembuh lebih cepat. Yah, sesederhana apapun bakat Anda, selalu bisa diramu menjadi kontribusi spesial buat kepentingan bersama. Justru, bakat yang kelihatannya gemerlap belum tentu bisa menjadi kontribusi, kalau bakat itu cuma dipendam demi kepentingan pribadi. Taruh kata Anda punya bakat menjadi penjual yang handal dan mampu memberikan sugesti yang membuat calon customer bertekuk lutut. Tapi begitu rekan Anda datang minta tips-tips marketing, Anda cuma menjawab dengan ketus, “yah, kamu harus belajar sendiri dari pengalaman”. Jelaslah contoh ini menggambarkan bakat pribadi yang sifatnya cuma “from me-for me talent”.
Atau lebih parah lagi, bakat Anda bisa juga malah dipakai buat merusak dan menyengsarakan orang lain. Contohnya beberapa waktu lalu, tersiar berita perampokan mesin ATM di daerah Bekasi. Disinyalir aksi ini dilakukan oleh oknum yang punya bakat komputer sehingga bisa mengakali sistem ATM itu, mengeluarkan uangnya tanpa merusak sama sekali casing ataupun mesin yang ada di dalamnya. Kalau begini ceritanya, maka bakat ini namanya sudah menjadi “Destructive Talent”.
Use our claws like wolverine
Wolverine memilih menggunakan cakarnya dengan bijak, dan bersedia membayar ongkosnya. Ia berani memutuskan menghadapi bahaya di depan mata, karena ia percaya dan yakin akan nilai perjuangannya.
Apakah Anda bersedia melakukan hal yang sama dengan bakat Anda? Maukah Anda tampil dengan resiko dicemooh, dianggap penjilat, disebut cari muka, atau dilabel orang sok idealis? Karena seringkali pada saat kita menampilkan bakat kita untuk orang lain, selalu saja ada mata dan telinga yang “tidak senang” dengan apa yang kita lakukan. Kontan, kita akan dianggap sebagai ancaman yang akan menghalangi agenda pribadi orang-orang ini.
Sungguh perjuangan yang tidak mudah, berat dan kadang menyakitkan. Inilah nilai kepahlawanan yang sejati.
Ketika Alfred Nobel sadar penemuan dinamitnya malah banyak digunakan untuk membunuh orang lebih cepat dan lebih banyak, betapa menyesalnya dia. Penemuannya memang mendatangkan kekayaan bertumpuk-tumpuk, namun tekanan batin dan depresi menaunginya selama bertahun-tahun. Demi menebus rasa bersalahnya itu, Alfred Nobel memutuskan untuk memulai sebuah gerakan perdamaian massive di dunia dengan ide “Nobel Prize”nya. Walaupun Anugerah Nobel pertama baru digelar setelah Alfred Nobel meninggal, masyarakat pelan-pelan mulai mengubah pandangannya terhadap Alfred Nobel. Kini, Nobel disebut-sebut sebagai kendaraan pembawa perdamaian dunia.
Bersyukurlah kita, karena tidak harus melewati kegetiran yang sama seperti Alfred Nobel. Paling tidak, mari kita memiliki spirit yang sama – semangat untuk memilih sisi terbaik dalam diri kita dan memberikan yang terbaik juga buat orang lain. Tidak perlu menjadi seorang maestro atau expert sebelum Anda memutuskan melakukan sesuatu demi kebahagiaan orang lain. Yang dibutuhkan adalah cakar pribadi Anda – sekecil apapun itu.
Temukan cakar wolverine dalam diri Anda.


LUAR BIASA Pak Sandy!
Sangat produktif sekali dalam menulis dan semua tulisannya sangat INSPIRATIF sekali!
Sudah saatnya diterbitkan jadi buku nih!