Wanna be Happier? Take a Deep Breath

May 6, 2009 by Max Sandy  
Filed under Brainclips

Gelombang rutinitas harian yang kita jalani seringkali memaksa kita untuk fokus dengan hal-hal “besar” yang ada di depan mata. Tanpa sadar, kita kemudian jadi menyepelekan hal-hal kecil yang justru nilainya sangat penting. Contoh paling sederhana adalah : Nafas Anda.

Ritme kehidupan yang menuntut kita bergerak lebih gesit dan lincah membuat program bawah sadar pernafasan kita menjadi lebih cepat dan dangkal, atau seringkali disebut dengan “shallow breath”, yakni kebiasaan bernafas pendek-pendek dan tidak mendalam. Coba perhatikan dan hitung saja, berapa kali sehari Anda menarik nafas panjang dan dalam? Kemungkinan besar Anda berbagi jawaban yang sama dengan jutaan orang sibuk lainnya : SANGAT JARANG.

Orang banyak berpikir, “Ah, yang penting kan saya menarik oksigen masuk dan mengeluarkan karbon dioksida”. Pernyataan ini memang tidak keliru, tapi kalau Anda memahami benar-benar proses pernafasan dan dampaknya pada fisik dan mental kita, mungkin Anda akan sedikit merevisi keyakinan Anda.

Bernafas bukan cuma perkara menghisap oksigen dan menghembuskan karbondioksida

Semakin Anda sibuk beraktivitas, tubuh Anda sebetulnya membutuhkan oksigen tiga kali lipat dari biasanya. Jika gaya bernafas Anda selalu konstan pendek-pendek, artinya asupan oksigen yang diterima kurang sehingga tubuh kita mengalami apa yang disebut Oxygen Starvation (lapar okseigen). Akibatnya bisa berderet-deret :

  1. Volume paru-paru Anda makin lama jadi makin ciut dan tidak lagi elastis karena tidak terbiasa menampung udara yang banyak.
  2. Muatan oksigen yang diterima darah sedikit, sehingga jantung harus bekerja lebih keras mengalirkan darah lebih banyak melewati paru-paru supaya bisa bongkar muat oksigen lebih banyak.
  3. Tampungan karbon dioksida tidak bisa dikeluarkan maksimal dari tubuh, gara-gara hembusan nafas Anda yang pendek. Akhirnya jadi menumpuk dalam tubuh dan mengganggu keseimbangan.
  4. Oksigen yang diterima oleh organ-organ tubuh penting termasuk otak jadi sedikit.  Hasilnya, metabolisme energi tidak berjalan maksimal – membuat kita gampang capek, pusing, dan tidak bisa konsentrasi. Emosipun jadi lebih labil.
  5. Sel-sel otot kekurangan oksigen juga, berujung pada keluhan-keluhan otot seperti sakit pundak, sakit pinggang, sampai rhematik.
  6. Proses detoksifikasi (pengeluaran racun) dan pembakaran lemak juga terganggu karena darah tidak memuat cukup bahan baku oksigen yang mendukung proses metabolisme.

Anda bisa bayangkan, hanya karena kebiasaan bernafas kita yang kelihatannya sepele, seluruh dinamika kehidupan kita bisa berantakan, mulai dari produktifitas yang rendah, kondisi emosional yang terganggu, serta kesehatan fisik yang memburuk. Ujung-ujungnya, keseimbangan finansial kita juga jadi terkena imbasnya gara-gara kita jadi harus banyak mengeluarkan biaya menanggulangi segala dampak buruk menipisnya stamina fisik dan mental yang kita alami.

Oleh karena itu, jangan anggap remeh gaya bernafas Anda. Mulailah dengan sadar mengubah pola pernafasan Anda menjadi lebih dalam dan panjang (Deep Breath). Usahakan selalu menarik nafas melewati hidung, agar oksigen yang mendarat di paru-paru telah tersaring secara alamiah dan suhunya lebih hangat. Saat menghembuskan nafas, disarankan tetap lewat hidung, namun kalaupun Anda lebih terbiasa lewat mulutpun tidak menjadi masalah. Bahkan  beberapa ahli relaksasi menyarankan kita bernafas dengan cara nose-in, mouth-out (masuk hidung – keluar mulut) saat kita ingin merasakan rileks dengan cepat.

Kalau umumnya orang bernafas kurang lebih 23 ribu perhari dengan muatan oksigen rata-rata 20 kubik/inci (1 menit = kurang lebih 15 kali tarikan nafas), maka dengan ritme nafas yang panjang Anda akan bisa menghemat jumlah tarikan nafas per-menit sekaligus menambah muatan oksigen dalam sekali tarikan nafas. Seluruh dampak negatif pernafasan dangkal menjadi berbalik positif, tubuh menjadi lebih produktif dan sehat, pikiran bertambah tajam, dan tentu saja usia semakin panjang.

Jadi, kalau Anda ingin awet muda dan bahagia selalu, mulailah dengan nafas Anda!

Comments

Comments

3 Responses to “Wanna be Happier? Take a Deep Breath”
  1. Paulus says:

    Antusias hangat Pak Sandy,
    setuju sekali dan sudah melakukannya, apalagi bila dalam titik2 kritis..ngantuk, jelang malam, tarik napas panjang..pejamkan mata…dan habis itu ‘ngulet’ dengan rasa lepas dan tulus…wuihhh uenaknya…coba deh pak..nikmat banget…
    makasih ya pak…

  2. David Kurniawan says:

    Wah bener juga yach Koh..

  3. WSetyo says:

    saya baru “ngeh” malahan, tks infonya broo …

    btw, great website u have …
    mau ikutan nambahin org yg ngomong “ayoo update donk …”
    :)

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!