Star Trek – Star Team
June 18, 2009 by Max Sandy
Filed under movie splash
Saya tergolong generasi yang masih sempat mencicipi serial televisi star trek original di masa imut-imut dulu. Rasanya kala itu menyaksikan pesawat enterprise dan segenap gagdet yang dipakai Kapten Kirk dan Spock, betul-betul memberikan sensasi yang luar biasa. Walaupun saat itu saya dan keluarga menikmati star trek hanya lewat televisi hitam putih, tetapi tetap saja “WOW” di mata saya yang masih bocah ingusan.
Ternyata, bocah ingusan dalam diri saya tetap saja masih ingusan. Terbukti ketika berjejal-jejal antri tiket nonton Star Trek 2009, rasanya benar-benar tidak sabar melihat lagi tim sakti James T. Kirk, Spock, McCoy, Chekov, Uhura, dan Sulu beraksi kembali. Saya yakin perasaan yang sama juga dialami seantero Trekian di seluruh dunia.
JJ. Abrams berhasil menggodok film Star Trek ini dengan apik, mengambil plot cerita dari mulai James T. Kirk dan Spock tumbuh di planet mereka masing-masing, dan kemudian bertemu pertama kali di Starfleet Academy hingga akhirnya mereka resmi diangkat menjadi Kapten dan Perwira Utama pesawat Enterprise C-1701 yang legendaris itu. Ceritanya juga lengkap dengan rincian bagaimana asal muasal masing-masing crew inti Enterprise bertemu. Semuanya diramu dalam cerita yang melibatkan tokoh antagonis Kapten NERO dari bangsa ROMULAN yang kisahnya punya dendam kesumat membara terhadap Spock dan segenap anggota konfederasi galaxy karena dianggap sebagai biang keladi hancurnya planet kelahirannya, ROMULUS.
Yah, cerita Star Trek tidak lebih tidak dan kurang adalah kisah fiksi yang memamerkan segala kecanggihan pesawat dan perang antariksa yang mencengangkan mata penontonnya. Tapi logika harus dienyahkan dulu jauh-jauh kalau ingin menikmati film ini, terutama dari sisi keilmiahannya. Ide teknologi pesawat angkasa luar yang memiliki kecepatan warp speed, kemampuan menteleportasi manusia ke tempat lain, dan senjata phaser laser canggih adalah segelintir ide utopia yang disuguhkan startrek untuk menghibur kita. Konon bahkan secara ilmiah, kontruksi pesawat Enterprise yang unik pernah dicemooh orang-orang NASA dan dianggap sebagai pesawat khayalan yang paling buruk dalam sejarah perfilman hollywood. Ada-ada saja.
Tapi di balik itu semua, film Star Trek dengan telak mengajarkan kita apa sesungguhnya yang disebut sebagai TIM yang sejati.
Star Team
Tengok saja bagaimana awalnya Kirk dan Spock seringkali rusuh beradu argumen, bahkan sampai adu jotos segala. Alasannya sederhana : Kirk dan Spock adalah dua entitas yang berbeda. Spock mengedepankan logika dan pertimbangan. Kirk mengutamakan intuisi dan spontanitas. Alhasil Spock selalu mengambil keputusan dengan resiko seminim mungkin. Kebalikannya, Kirk mengambil keputusan dengan resiko tinggi.
Tapi pada akhirnya, ketika masa kritis dilewati, mereka sadar bahwa sesungguhnya mereka membutuhkan satu sama lain. Dan begitulah filosofi Star Trek dibangun dari generasi ke generasi berikutnya. Pesan moralnya sederhana : perbedaan adalah bahan mentah yang dibutuhkan untuk membangun tim yang solid. Yang saya maksudkan di sini adalah perbedaan perspektif dalam melihat sesuatu, perbedaan gaya berpikir, perbedaan bakat dan spesialisasi. Saya menyebutnya dengan “One Vision, Many approach”.

Celakanya, yang sering terjadi justru kita mencari rekanan yang serupa dengan diri kita sendiri, seolah kita alergi dengan perbedaan. Ketika ada orang berbeda pendapat dan melihat sesuatu dengan sudut yang lain, dengan gampang kita membandrolnya sebagai “menyimpang”, “aneh”, “tidak lazim”, “konyol”, bahkan mungkin dicap “pemberontak” atau “pengkhianat”.
Padahal sesungguhnya, setiap perbedaan adalah gerbang untuk melihat dunia dari sisi yang selama ini kita lewatkan. Stephen Covey, maestro motivator dunia saja mengatakan “Rayakanlah perbedaan sebagai benih menuju sinergi”. Artinya, alih-alih mengusir perbedaan, justru kita hendaknya bisa merangkul perbedaan yang akan membuat keputusan kita lebih tajam.
Jangankan di dalam tim, otak kita saja diciptakan terbagi dua bagian besar yang masing-masing tugasnya berbeda bukan? Belahan kiri bertugas untuk menangani logika, dan belahan yang kanan bertugas mengurusi intuisi. Sepertinya Tuhanpun berpesan kepada kita untuk menghayati perbedaan gaya berpikir dalam tim kita dalam konteks keharmonisan. Orang-orang timur mengenal filosofi ini sebagai fenomena Yin & Yang.
Betapa kayanya sebuah tim jika berisikan orang-orang yang memiliki gaya dan bakat yang berbeda-beda, karena dari tim semacam itulah keputusan bisa dimasak lebih matang. Persoalannya, tim yang seperti ini cenderung jadi lebih dinamis, dimana gesekan-gesekan pendapat lebih mungkin terjadi. Letupan-letupan jadinya tidak bisa dihindari. Namun, di tangan seorang leader yang kharismatik dan mumpuni, hal-hal begini bisa diolah dengan bagus.
Enterprise adalah simbol sebuah tim yang mensahkan “gesekan-gesekan” sebagai bagian dari proses pertumbuhan yang menyehatkan. Di balik kisah mitologi modern ini, kita ditampar untuk keluar dari ketakutan kronis kita akan perbedaan. Kita ditantang untuk berani melestarikan perbedaan sebagai bumbu wajib di dalam dinamika tim, entah itu tim dalam konteks keluarga, pekerjaan dan masyarakat.
Makanya, lain kali jika kita memergoki diri sendiri ataupun anggota tim kita saling silih pendapat, segera kita harus bersyukur! Katakan,“Terima kasih, karena engkau beda pendapat, saya bisa punya kesempatan menggali masalah ini lebih luas lagi!”
Nah, sayapun bersyukur jika Anda berbeda pendapat dalam soal ini.


seperti biasa, artikel dari Pak Sandy memang sangat inspiratif dan gaya menulisnya pun semakin hari semakin membuat saya kagum… sungguh layak dijadikan role model!