“NO CHOICE?!” IS IT?!
Bayangkan kejadian mengenaskan ini ….
Anda terdampar di gurun pasir sahara sendirian. Udara panas dengan ganas menggerogoti tenggorokan Anda. Tidak setetespun bekal air anda punya, dan sejauh mata menerawang tidak ada apa-apa kecuali hamparan kuning padang pasir tak berujung. Langkah anda mulai gontai – dan akhirnya anda tersungkur – cuma bisa berjalan menyeret badang saking haus dan tak bertenaga. Di puncak penderitaan Anda, tiba-tiba Anda menemukan satu kaleng berisi bensin setengah liter.
Apa yang bakal anda lakukan?
Sebelum menjawab pertanyaan ajaib di atas, mari kita ngintip kasus yang satu ini : Seorang dokter tiba-tiba kedatangan pasien aneh. Mukanya lusuh. Bajunya menebar aroma keringat menyengat. Nafasnya bikin mabok juga. Dan si pasien ini menyeringai kesakitan sambil memegang perutnya, “Dokter tolong saya. Saya terdampar di gurun, dan saking hausnya saya minum bensin yang saya temui di tengah padang pasir!” Si Dokter kaget dan balik bertanya, “Lha kok kamu minum bensinnya??”.
Dengan lemas orang itu menjawab, “Saya tidak punya pilihan lain Dok! Di situ cuma ada bensin!”
Nah, jika ditilik lebih dalam, pernyataan orang aneh ini agak sedikit “keliru” bukan? Pernyataan dia yang mengatakan “TIDAK ADA PILIHAN LAIN” tidaklah akurat, karena sebetulnya bisa saja dia memilih tidak minum bensin itu bukan?
Kalau saja orang ini mau memverbalkan situasinya lebih transparan, dia mungkin bilang begini, “Pilihan saya dua-duanya buruk. Kalau tidak minum bensin itu saya akan mati kehausan. Tapi kalau saya pilih minum bensin itu, saya bisa mati juga akhirnya. Tapi dari dua pilihan itu, saya memutuskan MINUM BENSINnya”.
Singkat kata, orang ini sebetulnya punya pilihan. Hanya kebetulan saat itu pilihannya semua buruk dan fatal. Dan dia memilih salah satunya yang menurut dia paling logis.
Coba pasang radar Anda lebih peka. Berapa kali Anda menangkap deretan omongan-omongan model begini :
“Saya tidak punya pilihan lain! Saya terpaksa menikah dengannya!”
“Saya tidak punya pilihan selain menerima pekerjaan itu!”
“Saya tidak punya pilihan selain memecat dia!”
“Saya tidak ada alternatif lain. Saya terpaksa memukul anak saya!”
Kasusnya bisa berbeda. Situasinya bisa beragam cerita. Tapi intinya adalah, apakah benar pilihannya hanya ada satu?
Dalam banyak kejadian, kita seringkali dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tidak enak. Dan dalam kedipan mata, otak kita memilih salah satunya, dengan kalkulasi maha rumit dalam kepala kita. Namun, konyolnya – setelah kita memilih, lantas kita berkata, “Saya tidak punya pilihan lain selain ……”
Sejak masa belia, kita melakukan imitasi dengan banyak cara untuk menemukan gaya pribadi dan gaya komunikasi kita, termasuk gaya pertahanan diri kita secara verbal. Budaya untuk berkata, “saya tidak punya pilihan …” adalah modus yang paling populer untuk membuat tindakan kita disahkan oleh orang lain. Kalimat ini seringkali ampuh untuk membuat orang iba dan bersimpati dengan kita, “Aduh, betapa malangnya kamu. Memang kelihatannya tidak ada pilihan lain selain menerima pekerjaan itu. Daripada anak-anakmu kelaparan dan tidak sekolah bukan?”
Break the Habit!
Pelan-pelan tanpa disadari kebiasaan kita untuk bertameng di balik kalimat “Saya tidak punya pilihan selain ……” menggerogoti keyakinan diri kita untuk mengendalikan situasi. Lama-lama kita terbiasa menganggap diri kita sebagai korban dari situasi, dan berharap orang lain mengulurkan tangan membantu, atau minimal bersimpati.
Coba saja bandingkan dengan kalimat yang kesannya lebih melelahkan ini, “Saya punya pilihan untuk mempertahankan atau memecat dia. Jika dipertahankan, saya kuatir ia akan merusak semangat tim ini. Jika dipecat saya memang harus segera mencari penggantinya, tapi paling tidak semangat tim saya tidak akan luntur! Maka saya memilih untuk memecat dia.”
Yah, kalimatnya lebih panjang, sedikit menguras energi untuk bisa merumuskannnya. Tapi dampaknya berkali-kali lipat lebih powerful pada kekuatan internal Anda. Anda memegang kendali!
Sungguh kontras dengan orang yang cuma bersandar pada komentar, “Saya tidak punya pilihan selain memecatnya!”
Dan ini berlaku untuk 1001 macam kegetiran dalam hidup kita. Entah di saat anda harus menampar orang, saat anda harus mencubit anak anda, saat anda harus memutuskan pacar anda, saat harus mengemis-ngemis minta bantuan saudara anda, dan sebagainya. Ingatlah dalam situasi seburuk apapun, sebetulnya anda MEMILIH dari antara pilihan yang sama-sama buruk. Tapi tetap saja anda MEMILIH. Dan beranikan diri Anda untuk mengatakannya keras-keras, “Saya memilih ini. Sungguh berat, namun ini adalah pilihan yang saya anggap baik dari antara alternatif yang ada”.
Inilah salah satu kunci kecerdasan emosional yang sangat langka dimiliki orang-orang. Bahkan mungkin seorang presiden saja belum tentu paham dengan esensi fenomena ini, dan akhirnya seringkali dengan yakinnya berkata di podium, “Bangsa ini tidak punya pilihan selain maju berperang!”
Budaya bangsa manapun tidak keberatan dengan salah kaprah ini, dan karenanya kalimat keliru ini tumbuh subur dan jadi populer di seantero dunia. Makanya tantangannya benar-benar berat untuk bisa menghilangkan kebiasan ini. Dibutuhkan lebih dari sekedar niat dan tekad untuk bisa menguasai jurus ini. Selain tekad dan niat, kemampuan refleksi yang dalam adalah salah satu pendukungnya.
Dan Anda bisa jadi teladan yang pertama di lingkungan Anda.
Saat ada orang yang bersikukuh “Saya tidak punya pilihan selain …..” Katakan saja “Pssst…! Sebetulnya kamu ada pilihan koq, cuma barangkali semuanya tidak enak. Jadi kamu memilih yang tidak enaknya lebih sedikit. Jadi kamu sebetulnya kan MEMILIH ….”
So … jangan sampai Anda bilang, “Saya tidak punya pilihan selain membaca artikel ini” ![]()


Comments