Oleh-Oleh Youth EQ Program
July 11, 2009 by Max Sandy
Filed under everyday life
Tanggal 2 sampai 4 di bulan Juli ini jadi momentum baru bagi Saya dan tim HR Excellency. Buat pertama kalinya dalam sejarah karir cuap-cuap kami, HR Excellency bikin pagelaran workshop Kecerdasan Emosi buat anak-anak muda. Makanya, spirit kitapun jadi “on fire” menggalang segala kekuatan demi suksesnya acara ini. Saya jadi geleng-geleng kepala saking kagumnya melihat bagaimana trainer-trainer muda super talented kami : Mr. Iwan “Josua” Wahyudi & Mr. Adrian Luis – menumpahkan segala jurus-jurus ampuh mereka merangkai modul EQ for Youth ini.
Dan, memang tidak sia-sia.
Acara yang menyedot waktu 3 hari itu alhasil berjalan sukses gegap gempita. Gaungnyapun masih kedengaran hingga sekarang. Banyak orangtua-orangtua yang menyampaikan bertumpuk terimakasih pasca workshop itu. Mereka tidak habis pikir, kenapa bisa anak-anak mereka begitu terkesan dengan acara itu dan bahkan ada yang “ketagihan” minta lagi. Padahal, ada orangtua yang bersaksi kalau anaknya pertama-tama ogah habis-habisan diajak ikut dan lebih memilih nonton konser musik. Tahunya setelah pulang dari pelatihan, si anak lantas teriak-teriak, “Papa, untung nonton konsernya gak jadi. Bersyukur banget bisa ikut pelatihan EQ”. Ada juga orangtua yang memberi komentar, “Anak saya betul-betul bisa merasa dekat dengan para trainernya. Jarang sekali ada pelatihan, dimana para trainernya memperhatikan masing-masing pesertanya secara personal”. Bahkan, dari anak-anak muda para peserta pelatihan ini muncul ide untuk bikin paguyuban bersama di facebook demi menjaga tali silaturahmi.
Singkat kata, pelatihan EQ for Youth ini sungguh luarrr biasa.
Tapi lepas dari segala hingar bingar kesan-kesan positif baik dari para remaja peserta dan orangtua, ada satu hal yang sangat berbekas panas dalam benak saya.
Seeing the face of the Parents through the Youngster’s Eyes
Memang ini bukan kali pertama saya berkesempatan untuk berbagi mengenai berbagai pernak-pernik EQ dengan anak-anak muda usia sekolah. Sudah berkali-kali saya mendapat kehormatan dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi untuk men-sharing-kan tema ini, entah dengan para murid, orangtuanya, ataupun jajaran guru dan dosennya. Tapi dalam workshop EQ for Youth kemarin, saya benar-benar ada di antara mereka siang dan malam. Kesempatan langka ini patut saya syukuri, karena bisa memperluas kacamata saya dalam melihat pemandangan “kehidupan” langsung dari mata hati anak-anak muda. Dan ternyata, banyak sekali ironi yang mengagetkan saya.
Jauh-jauh hari sebelum kami dan peserta meringkuk 3 hari 2 malam di Rancamaya Bogor, ada banyak orangtua yang sengaja menitipkan anaknya dengan tambahan pesan sponsor.
“Tolong anak saya disadarkan untuk lebih berani bergaul, Pak. Dia minder sekali!”
“Kalau bisa anak saya diinspirasi untuk lebih berprestasi, Pak.”
“Pak, bantu anak saya untuk bisa menentukan pilihannya kelak.”
Tentu saja, pesan-pesan itu adalah amanah yang kami anggap keramat dan harus dijunjung tinggi. Karena itu dengan sangat hati-hati kamipun kemudian ngobrol dengan masing-masing peserta di sela-sela sesi workshop. Sayapun sempat menyiduk beberapa peserta, mengajak mereka mojok ngobrol ngalor ngidul.
Hasil ngobrol-ngobrol dengan mereka membuat saya rada tersentak kaget.
Anak-anak yang disinyalir punya masalah, di depan kami curhat habis-habisan perihal ortu mereka. Kisah bagaimana mereka dibesarkan dan bagaimana kualitas hubungan mereka dengan ortunya dibeberkan dengan tulus. Dari anak-anak muda ini, terhampar kisah-kisah pendek yang membuat hati kami miris.
Kadang tanpa sadar, banyak orangtua yang tidak sadar kalau kecemasan mereka akan masa depan anak-anak mereka justru membuat anak-anak tidak bisa menemukan potensi diri mereka sesungguhnya. Kasih sayang orangtua diterjemahkan dalam banyak bentuk larangan, tuntutan, bahkan ancaman.
“Mama pingin kamu bisa bertahan 10 besar ranking sekolah.”
“Lulus SMP, paling tidak kamu harus tembus universitas anu.”
“Nggak boleh main-main fesbuk! Ayo belajar!”
Saya bukannya menentang ortu yang menetapkan THR (Tuntutan, Harapan, Rule). Tokh, THR adalah menu wajib yang harus digalakkan ortu manapun. Justru yang saya pertanyakan adalah sejauh mana THR ini diterapkan. Karena dalam banyak kasus, THR seringkali diberikan dengan menggunakan senjata Fear (ketakutan), Obligation (kewajiban), dan Guilty (rasa bersalah). Hasilnya, banyak remaja yang hidup dengan membayangkan orangtuanya sebagai satpam. Giliran mereka mencari keteduhan dan kasih yang tulus, fesbuk jadi sasaran.
Beda halnya dengan ortu yang menerapkan THR ini dengan bumbu atensi dan cinta. Orangtua macam ini tidak cuma pandai membacakan aturan dan tuntutan, merekapun pandai untuk hadir dan memeluk anak-anak mereka – bukannya tenggelam dalam jam karir dan jabatan mereka sendiri. Orangtua seperti ini tahu benar pentingnya The Golden Period anak-anak mereka, dan memilih berada di sisi anak-anak mereka di saat anak-anaknya di puncak krisis pencarian indentitas diri.
Sayangnya populasi orangtua yang ideal macam itu sudah termasuk dalam daftar spesies yang terancam punah. Yang banyak beredar sekarang adalah orangtua-orangtua era digital yang menganggap telepon, sms, transfer pulsa dan transfer rekening sebagai media asuh anak-anak mereka. Bagaimana mereka sukses dengan karir mereka lantas juga diterapkan habis-habisan di rumah. Anak-anakpun kontan jadi obyek, bukan subyek lagi. Ujung-ujungnya, apapun yang mereka keluhkan soal anak-anak mereka, justru orangtualah yang sebetulnya punya andil dalam porsi tertentu. Pelatihan kecerdasan emosional manapun akan tidak mempan selama mereka masih menjalankan pola asuh yang lama. Jika seorang pemilik kuda mencambuki kudanya tiap hari, lantas mengirim kuda itu kepada seorang pelatih kuda ternama, bisakah sang pelatih membuat kuda itu sayang kepada tuannya?
Saya begitu terenyuh melihat puluhan remaja yang menangis ketika membaca ucapan cinta orangtua mereka dalam pelatihan itu. Tidak ada lagi sosok anak geng atau anak minder malam itu, tidak juga sosok anak gila fesbuk. Saat air mata anak-anak itu menetesi karpet lantai, yang kami lihat adalah wajah remaja-remaja yang putih bersih dan rindu dekapan cinta orangtua mereka. Seandainya saja, orangtua mereka ada disitu malam itu dan menyaksikan sendiri anak-anak mereka tertunduk haru – bisa jadi segalanya akan berbeda.
Sebagai orangtua, kemungkinan sederhananya minimum ada dua : anak Anda menganggap Anda sebagai polisi (kalau tidak mau dibilang Hansip), atau anak Anda menganggap Anda sebagai sahabat baiknya, …. atau bahkan malaikat?
Mumpung anak-anak Anda masih muda, masih kenyal, dan masih bergeliat – belum telat buat Anda untuk mengubah garis sejarah Anda di mata anak Anda. Modalnya tidak banyak, cuma segenggam cinta, selembar ketulusan, dan sebersit niat kuat Anda.
Hmmm … dimana posisi Anda sekarang?


Tetap antusias Pak Sandy, artikel yang membuat saya kesentil juga nih…
terimakasih ya pak
salam hangat,
paulus
Yes… tulisan yang sangat mendalam dan memang 100% benar!
tulisan yg berkesan Kak Sandy ^^
keep up the good work!
tetap semangat menempuh hari..
HaHAha..
makasih buat pengajaran2ny selama d camp =P