Transformer transforms us

July 15, 2009 by Max Sandy  
Filed under movie splash

Lagi-lagi, seantero bioskop dunia di satroni robot-robot bongsor transformer besutan sutradara Michael Bay. Begitu hebohnya film ini, sampai-sampai panjang antrian tiket jadi melar. Tokh, para fans transformer iklas-iklas saja ngantri panjang demi bisa melepaskan dahaga melihat aksi super canggih robot-robot pujaan mereka. Saking bejibunnya orang-orang yang penasaran nonton, cineplex 21 dan XXI sampai harus membuka lebih dari satu studionya untuk memutar film ini di minggu-minggu awal pemutaran perdananya. Itupun masih kurang. Buktinya, saya dua kali gagal mendapatkan tiket nonton Transformers 2, dan harus rela bersabar hingga masa putarnya masuk fase normal di minggu ke tiga.

Akhirnya, masa penantian yang penuh penyiksaan mental itupun selesai. Saya berhasil menggondol tiket nonton transformers 2 di cineplex mal bilangan Jakarta Barat. Selama 2,5 jam mata saya diaduk habis menyedok aksi tawuran autobots dan decepticons. Lumayan pusing juga, karena tempo koreografinya cepat ditambah visual robotnya yang sangat detil membuat mata kita jadi puyeng. But anyway, saya acungi jempol buat para filmmakernya, karena sekali lagi bisa membuktikan bahwa dengan teknologi CGI dan filmography modern, apapun bisa divisualkan dengan “gampang” sekarang.

Plot ceritanya memang dibuat lebih meriah. Selain Otpimus Prime, Megatron, dan beberapa laskar inti robot-robot yang sudah ada di filmnya yang pertama – di sekuelnya ini hadir pula tokoh-tokoh anyar seperti robot dedengkot decepticon The Fallen, lalu Jetfire yang dikisahkan sebagai robot decepticon yang membelot ke kubu autobot, dan seabrek robot-robot lainnya. Kayaknya – nonton film ini, kita tidak diberi kesempatan untuk rileks. Dari awal sampai akhir, urat kepala kita dipaksa berdenyut-denyut mengikuti aksi dahsyat jagoan-jagoan transformer.

So what is the lesson from this movie?

Are you feeling like Sam?

Selain bisikan aksi pamer kekuatan politis dan militer Amerika di balik film ini, saya lebih tergelitik oleh dinamika pribadi Sam Witwicky dalam film ini. Sebagai ABG yang baru masuk kampus dan terlibat tidak sengaja dengan hiruk-pikuk insiden para robot ini, Sam merasa dirinya tidak punya andil dan tanggungjawab. Di awal film, terang-terangan ia menolak terlibat dengan perjuangan optimus prime. “Aku cuma anak biasa”, katanya.

Bukankah banyak SAM-SAM lainnya di sekitar kehidupan kita? Anda bisa jadi salah satunya : merasa tidak punya makna, hidup tanpa aspirasi, dan menganggap hidup cuma mengalir begitu saja?

Hidup hanya sekali. Dan betapa keringnya hidup kita kalau kita yakin bahwa diri kita bukan apa-apa. Memang wajar barangkali, mengingat budaya kita seringkali mengartikan hidup bermakna = sukses karir = kaya raya = beramal besar. Jadinya, banyak sekali orang-orang ketika ditanya apakah hidupnya bermakna – mereka pada bilang “BELUM”.

Padahal kalau kita mau lebih memicingkan mata kita dan melihat detik demi detik hidup kita, pasti Anda bakal menemukan bukti tak terbantahkan betapa hidup anda …….. BERMAKNA.

Saat Anda secara sambil lalu menepuk bahu anak Anda saat mengomentari nilai ulangannya yang jelek dengan berkata, “Ah, jangan kuatir. Papa percaya koq kamu itu anak pintar. Nilai ulangan itu bukan ukuran buat Papa”. Nah seketika tanpa sadar Anda memulai reaksi berantai yang kelak membuat anak Anda tumbuh dewasa dengan keyakinan diri yang sejati. Atau misal Anda tanpa sengaja melemparkan senyum tulus kepada anak buah Anda, bisa jadi gara-gara itu moodnya jadi senang dan bawahan Anda tidak jadi marah-marah sama istrinya. Artinya, senyuman Anda baru saja menyelamatkan perkawinan seseorang. Mungkin juga Anda baru saja memungut kulit pisang di trotoar, dan ternyata itu membuat seseorang di dunia ini tidak jadi kepeleset ke jalan raya dan dilindas mobil. Anda menyelamatkan nyawa seseorang!

Hidup anda lebih bermakna daripada yang Anda kira. Dan Anda harusnya berbangga telah ambil bagian dari misteri kehidupan yang penuh warna ini. Jangan membuang harga kehidupan Anda dengan menganggap diri Anda “bukan apa-apa”. Bangkitlah berdiri dan resapilah setiap kemungkinan makna yang anda teteskan dari keseharian hidup Anda.

Coba lihat saja si SAM dalam film Transformer ini. Begitu dia menyadari makna hidupnya yang menentukan nasib banyak orang, maka dia dengan tegap mengambil segala resiko untuk membuktikan takdirnya itu. Hasilnya, bukan saja dia bisa menyelamatkan umat manusia dari kepunahan – tapi juga berjasa besar untuk mengembalikan hidup Optimus Prime.

Ah tentu saja Anda tidak perlu menyelamatkan dunia untuk membuktikan makna hidup Anda. Sebagaimana seringkali diucapkan oleh Mother Teresa, “Menjadi orang besar jauh lebih mudah ketimbang melakukan hal-hal kecil dengan hati yang besar”.

Masih belum yakin dengan makna hidup Anda?

Comments

Comments

3 Responses to “Transformer transforms us”
  1. Iwan Wahyudi says:

    seperti biasa… Sebuah tulisan yang sangat inspiratif dan luar biasa!

  2. Adrian Luis says:

    Mantapz abies! Co0L!

  3. Adrianus Dicky says:

    luar biasa, bisa menonton untuk have fun dan belajar sekaligus..

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!