Facebook oh fesbuk
July 16, 2009 by Max Sandy
Filed under everyday life
Mungkin ini satu-satunya virus yang akselerasi dan skala penularannya paling heboh di abad ini. Bahkan gelegar penyebaran virus flu burung atau flu babi masih kalah beken dengan kesaktian facebook. Sejak munculnya layanan Google yang fenomenal di belantara dunia maya, maka facebook dinobatkan sebagai tonggak sejarah baru yang mewarnai budaya global ber-internet. Bukan hanya anak-anak abg atau pekerja kantoran yang sudah kesirep budaya fesbuk, bahkan bocah-bocah bau kencur sampai kakek nenek pikun-pun tidak kalah ikut-ikutan jadi fanatik fesbuk.
Tapi, nasib fesbuk tidak terlalu mujur. Ruang-ruang pengadilan sosial-budaya sudah mencatat fesbuk sebagai daftar tersangka utama melorotnya produktifitas dan kesehatan mental masyarakat. Banyak sudah kantor-kantor dan sekolah-sekolah yang menerapkan aturan ketat soal penggunaan fesbuk. Tidak cuma sampai di situ saja – orangtua pun banyak yang jadi paranoid dengan anak-anaknya yang keranjingan fesbuk. Maka jadilah fesbuk terpolarisasi dalam dua kutub kontras : berguna atau sampah??
It’s a digital fire afterall
John Naisbitt, sang futurolog kesohor dunia – jauh-jauh hari dalam bukunya “High Tech High Touch” sudah memperingati kita akan bahaya perkembangan teknologi yang akan memperlebar jarak psikologis satu manusia dengan manusia lainnya. Layar-layar televisi dan komputer akan menggantikan ruang ekspresi manusia, sementara manusia sendiri lambat-laun kehilangan “sentuhan alami”nya dan pelan-pelan berubah ujud bagai robot-robot tak ber-jiwa. Menyeramkan memang melihat ramalan John NaisbittĀ ini. Tapi sangĀ futurolog tersebut juga mengeluarkan ajian ramalan yang menghibur : kelak manusia akan kenyang dan muntah-muntah dengan perkembangan teknologi ultra mutakhir. Pada saat-saat kritis itulah akan mulai bermunculan gerakan-gerakan “Back to nature” yang mengembalikan kecintaan manusia akan sentuhan alami alam semesta.
Lalu dimana posisi fesbuk dalam ramalan John Naisbitt?
Kalau dilihat dari medianya, kesan fesbuk memang masuk kategori teknologi pencabut produktifitas manusia. Membuat orang lupa waktu, membuat orang tidak konsen dengan kerjaan, membuat anak-anak kita betah mengunci diri dalam kamarnya. Masih ingatkah kita dengan budaya YM, MIRC dan friendster yang juga punya efek yang mirip?
Tapi, fesbuk lebih ajaib dibandingkan dengan saudara-saudara tuanya itu. Dengan fesbuk, kita dengan gampang bisa terkoneksi dengan sohib-sohib karib yang hilang jejaknya. Dengan fesbuk, orang jarang ada yang komplain kena tipu saat kopi darat. Fesbuk juga membuka jalur konsultasi, curhat, group milis formal dan informal. Tak bisa dielakkan, fesbuk membuka gerbang baru untuk memulai reaksi berantai perubahan mental yang positif. Beberapa program training pengembangan kepribadian dan notes-notes inspirasional dengan mudah bisa berseliweran di gang-gang fesbuk. Bahkan saya seringkali dimintai konseling lewat fesbuk.
Singkatnya, fesbuk menciptakan ruang sosial baru dimana orang-orang bisa bersentuhan dalam dimensi yang baru yang belum pernah bisa ditawarkan “internet social utility” lainnya. Tidak heran kalau nantinya fesbuk akan berkembang menjadi one “stop social avenue” yang komplit dan terintegrasi, dimana orang-orang dengan mudah bisa juga terhubung dengan layanan-layanan internet lainnya hanya dengan sekali klik.
Wajarlah kalau sampai muncul selentingan, “Ga tau fesbuk?? Apa kata dunia??”
Di mata saya, fesbuk seperti menawarkan wahana baru buat orang-orang yang haus sentuhan personal tapi terjepit oleh keterbatasan waktu dan ruang gerak. Fesbuk bagaikan “International Park” yang bisa dikunjungi orang di sela-sela keringat kesibukannya, demi sekedar mendapatkan oksigen sosial yang bisa mengembalikan semangat dan harapan mereka.
Maka posisi saya netral terhadap fesbuk. Karena saya yakin, fesbuk sendiri netral dengan segala keunikannya. Oleh sebab itu, saya percaya segala tuduhan miring yang menerpa fesbuk tidak lain adalah akibat ulah para fanatik yang kebablasan. Orang-orang ini tidak menganggap fesbuk sekedar hiburan di kala senggang, tapi benar-benar dianggap tempat pelarian sejati. Mereka betah melotot di depan layar digital fesbuk selama berjam-jam demi melupakan segala kepahitan yang mereka alami di dunia nyata. Kalau sudah begini, produktifitas dan tanggungjawab riil mereka memang jadi berantakan.
It’s an amusement park, NOT YOUR HOME
Belum lama lewat, saya sempat senyum-senyum sendiri karena pada saat meng-observe jalannya training di satu perusahaan farmasi ternama, saya sempat fesbuk-fesbukan dengan salah satu “pejabat tinggi” perusahaan itu yang duduk di sebelah saya. Lantas, satu teman online jauh saya memberi komentar lewat fesbuk, “Waduh, sama orang di sebelah aja maen fesbuk-fesbukan.”
Fesbuk terbukti bisa menghibur juga.
Nah, tips saya buat para non-pengguna fesbuk, please jangan melihat fesbuk melulu dari efek sampingnya. Di ujung jari orang-orang yang positif, fesbuk bisa menjelma menjadi perahu emas yang membuka pintu sukses.
Khusus buat para fan fesbuk, saya sekedar wanti-wanti, jangan sampai menganggap fesbuk sebagai rumah yang membutakan Anda dari kewajiban sejati Anda. Jangan sampai Anda lebih betah menatap layar laptop atau blackberry dibandingkan menatap Istri dan anak-anak Anda. Bahaya juga kalau gara-gara fesbuk, kita jadi lupa dengan buku-buku kuliah kita atau agenda urgent di kantor. Ayo kita nikmati fesbuk sebagai taman bermain yang sesekali saja kita kunjungi : sehat dan menghibur.
Selamat berfesbuk ria


LUAR BIASA! Setiap notes Pak Sandy selalu berhasil membuka paradigma baru yang selama ini terlewatkan!
Memang terlihat sekali bedanya kalau seorang Master EQ seperti Pak Sandy memandang Facebook. Pak Sandy berhasil memberikan pencerahan agar kita tidak terlilit Facebook melainkan justru mampu “menunggangi” Facebook untuk tujuan yang konstruktif.