Harry Potter
July 21, 2009 by Max Sandy
Filed under movie splash
Buat kesekian kalinya film Harry Potter merusak ketentraman orang-orang. Jutaan anak-anak seantero dunia tumplek dalam gedung bioskop dan iklas membongkar celengannya demi bisa menyaksikan lagi aksi seru Harry Potter cs. Tapi saya musti bersyukur. Berbeda nasib dengan waktu gagal berkali-kali mendapatkan tiket nonton Transformer, kali ini saya sekali tembak bisa langsung dapat jatah kursi Harry Potter di bioskop mal bilangan jakarta barat. Padahal sempat pesimis juga, mengingat jubelan antriannya panjang dan bisa bikin banyak orang jadi ciut niatnya buat nonton.
Walaupun saya bukan Potter Mania alias tidak pernah sekalipun mengendus-ngendus novelnya, tapi saya lumayan menyukai ide brilian di balik setiap seri filmnya. Hanya saja, saya jadi geregetan karena nafsu saya untuk melihat Voldermot K.O lagi-lagi tidak kesampaian. J.K Rowling memang piawai mencicil rasa penasaran penggemarnya supaya kita terus ketagihan terus-terusan melariskan buku dan sekuel filmnya. Kalau Voldermot lagi-lagi masih dibiarkan berkeliaran menebarkan terornya, so …. what makes this movie interesting?
It’s not POTTER, It’s the TEACHER
Sejak awal film perdananya berjamuran dan aktor-artisnya masih imut-imut, saya sudah kepincut dengan tokoh The Wizard Master, Dumbledore. Janggut putih dan tone suaranya yang minimalis dan berwibawa begitu menebarkan aroma kharisma yang kental di mata saya. Boleh dibilang saya menganggap Dumbledore sebagai suhu angker yang ilmunya paling sakti dibandingkan tokoh-tokoh lainnya dalam film itu. Yang mengherankan, setiap Harry Potter dan kawan-kawannya beraksi, jantung saya otomatis berdegup kencang – khawatir “Something wrong” bakal terjadi. Tapi begitu Dumbledore muncul, hati saya berkata “everything will be fine!”. Seburuk apapun adegannya, selama ada Dumbledore di situ, saya merasa aman dan “terlindungi”. Saking percayanya saya kepada karakter Dumbledore, bahkan ketika sesuatu yang tragis menimpa dirinyapun saya masih sempat bergumam, “Tenang, ini pasti udah direncanakan dia. Gak mungkin Dumbledore mati begitu saja. Lihat saja nanti!”
Tak bisa dibantah lagi, Dumbledore adalah simbol kepemimpinan utopia. Siapapun di muka bumi ini pasti akan mendambakan punya mentor, guru atau atasan seperti dia. Lihat saja seberapa besar kesabaran Dumbledor mendampingi Harry Potter, bahkan berani mendelegasikan hal-hal besar ke pundak Potter. Dumbledorpun tidak gengsian mengajak Harry Potter “keliling-keliling” sambil menyisipkan petuah-petuah bijaknya. Singkat kata, Dumbledore memang boleh dibilang sosok pemimpin idaman.
Persoalannya, apapun posisi kepemimpinan kita, bisakah kita terinspirasi untuk menjadi Dumbledore dalam dunia nyata keseharian kita?
Minimal, dua hal yang bisa menjadikan kita The Real Dumbledore : Expertise dan Wisdom. Kesannya memang sederhana, tapi kenyataannya banyak orang (terlalu banyak bahkan) yang gagal menyeimbangkan keduanya. Yang berkeliaran kebanyakan adalah orang yang terlalu pintar tapi tidak bijak. Atau kebalikannya, bijak sekali, tapi tidak punya skill yang tajam. Cuma segelintir saja orang-orang yang punya reputasi bagus di keduanya. Bersyukurlah Anda jika dalam hidup Anda pernah berpapasan dengan orang-orang ini. Dalam istilah kerennya, orang-orang macam ini disebut seimbang PQ-IQ-EQ-SQ nya. Mereka inilah tipe-tipe pemimpin yang rajin merawat fisiknya, rajin memanaskan otaknya, rajin memoles hatinya, dan rajin menyalakan pelita spritualnya.
Bersyukurlah anak-anak Anda, murid Anda, atau bawahan Anda, jika Anda sedikit saja punya semangat untuk bisa menjadi sosok seperti Dumbledore (tentu saja minus jenggot dan topi wizardnya). Hanya dari seorang pemimpin visioner macam Dumbledore-lah muncul seorang Harry Potter yang cemerlang. Begitupun Anda, bisa menetaskan bawahan-bawahan yang brilian, anak-anak yang bijak atau siswa-siswa yang berprestasi sejati.
Tapi seandainya Anda harus memilih : mana yang harus diprioritaskan sebagai pemimpin? Kepintaran atau karakter? Maka ijinkan saya mengutip apa yang pernah dikatakan seorang Jendral besar Perang Teluk AS, Norman Schawrzkopf : “Kepemimpinan adalah kombinasi antara karakter dengan strategi. Tapi jika Anda harus kehilangan salah satu, maka relakanlah STRATEGI”
Harry Potter, and the Half Blood Prince, bisa jadi bukan tontonan anak-anak belaka – ini adalah film soal Kepemimpinan Sejati. Jadi, tidak ada salahnya Anda ikut berjubel dengan anak-anak di gedung bioskop dan biarkan jiwa Anda terinspirasi oleh Dumbledore!
Let the magic works!


ternyata dari film seri harry potter pun , walaupun bagi kebanyakan orang tak lebih dari kisah fantasi anak2 dan remaja, like always pa sandy masih bisa ‘menangkap’ makna kepribadian yang diwakili oleh salah satu tokoh filmnya. i’ve been thinking you never lose your inner thoughts….you’re really a great mind opener. sayang para pemimpin di negeri kita ga ada yang seperti dumbledore ya pa sandy.