Seberapa biru darah Anda?
July 25, 2009 by Max Sandy
Filed under everyday life
Bertahun-tahun lalu, saya dengan tim HR Excellency diundang ke Jogja untuk menggelar satu acara training untuk publik di sana. Seru dan menarik - ternyata orang Jogja yang kelihatannya kalem dan adem-adem ternyata bisa gegap gempita juga. Tapi yang tidak kalah memorable adalah manakala saya dan tim diajak jalan-jalan buat ngintip kawasan penjual barang-barang gerabah yang terkenal di sana. Kebetulan, kami memang punya niat hunting souvenir ala jogja yang cocok untuk dijadikan cinderamata setiap kali kami melakukan workshop.
Alkisah, waktu kami hilir mudik di sana, tiba-tiba mendadak muncul muka-muka sangar naik sepeda motor : bapak-bapak polisi. Bak tim SWAT Amerika yang sedang menyisir TKP, bapak-bapak polisi ini menertibkan mobil-mobil yang lagi parkir di pinggiran jalan. Rupa-rupanya hari itu bakalan ada rombongan petinggi negara yang bakal lewat daerah itu, sehingga bapak-bapak seragam coklat ini berhamburan dimana-mana demi mengamankan jalan.
Saya sambil nyeruput teh botol ngobrol-ngobrol dengan rekan saya saat itu tahu-tahu didatangi dua orang polisi. Kontan bathin saya bereaksi, “Paling-paling kita disuruh minggirin mobil dengan gaya gertak seperti biasanya.” Maka saya dan teman sayapun santai saja ketika dua polisi itu kemudian menghampiri kami. Tapi, apa yang kemudian terjadi bikin saya shock : Si polisi berdiri tegap di depan kami, memberi hormat ala hormat bendera merah putih, kemudian meluncur kata-kata sopan, “Selamat siang Pak. Mohon maaf bila mengganggu kenyamanan bapak-bapak. Tapi kami mohon bapak bersedia memarkir mobilnya lebih ke pinggir sedikit. Maaf kalau jadi merepotkan.”
Mata saya terbelalak, mulut saya menganga lebar. Bagi saya, ini sungguh peristiwa langka bin ajaib di negara kita. Seorang polisi, yang lumrahnya bergaya arogan dan berkuasa, ternyata bisa bersikap rendah hati dan ekstra karismatik! Instink saya sebagai seorang trainer dan pembicara langsung beraksi. Segera saya ambil kamera pocket saya, mendekati si polisi, “Maaf, Pak. Kalau gak keberatan boleh saya ambil foto Bapak? Maklum Pak, Saya jarang ketemu Polisi yang ramah seperti Bapak. Siapa tahu, fotonya nanti bisa ditunjukkan ke orang-orang.”
“Ah, Bapak bisa aja. Silakan Pak” begitu jawab si Polisi. Maka sayapun bersemangat menjepret dua bapak Polisi ini berpose bersama rekan saya dari Jogja.
Do You Feel Like a Blue Blood?
Seumur karir saya berbicara di depan banyak orang dan kalangan, seringkali saya berpergokan dengan orang-orang dengan jabatan darah biru seperti : Guru, Dosen, Dokter, Direktur, Manager, atau Business Owner. Jabatan-jabatan darah biru ini biasanya semakin pekat warna birunya kalau tingkat pendidikan mereka semakin tinggi, apalagi kalau lulusan jebolan universitas seberang lautan. Lebih seringnya, mereka tampil dengan gaya yang lebih “picky” alias pilih-pilih, suhu wajahnyapun cenderung lebih dingin dan lebih sensitif dengan status sosial. Keramahan mereka terbatas hanya buat orang-orang yang selevel atau mereka anggap “pantas” untuk dihargai. Saat training atau workshop, orang-orang berdarah biru ini lebih tertarik untuk ngobrol-ngobrol dengan trainernya ketimbang dengan fasilitator. Trainer yang merasa darahnya biru juga akhirnya lebih senang ngobrol dengan peserta yang level jabatannya tinggi. Fenomena ini adalah hal yang lumrah di belantara topeng-topeng sosial di masyarakat kita yang serba heterogen ini.
Jadinya, begitu Saya bertemu dengan orang-orang berdarah biru namun rendah hati, otomatis akan menjadi pengalaman indah tak terlupakan. Wajah orang-orang ini pun jadi lebih lekat di hati dan jadi sumber inspirasi – bagaikan menemukan berlian di tengah tumpukan batu bara. Dan sungguh mungkin, pengalaman saya ini juga dirasakan berjuta-juta orang lainnya.
Salah satu pengalaman saya dan tim yang tergolong nikmat dalam kenangan kami adalah ketika kami terlibat dengan satu perusahaan farmasi kesohor di Indonesia dalam rangkaian program workshop leadership. Saat itu, kami berpapasan dengan jajaran direktur dan para division head, salah satunya adalah seorang dokter. Berlawanan dengan warna “darah” mereka yang biru, keramahan dan keterbukaan mereka sungguh exceptional. Bahkan sang dokter – sebut saja namanya Saulus (nama sudah disamarkan) tampil dengan antusiasme luar biasa, kerendahan hati yang tulus, dan keterbukaan pikiran yang memikat. Kontras dengan “dokter-dokter” lain yang pernah saya temui, dokter yang satu ini membuat saya makin percaya bahwa di dunia ini masih mungkin ada “anomali” luar biasa yang bisa jadi sumbu perubahan dan inspirasi positif. Saya ingat betul salah satu potongan obrolan dari sang dokter, “Sebagai dokter, kebahagiaan utama saya adalah saat melihat orang menjadi lebih sehat. Bukan uang.” Hmm … ada berapa sih dokter-dokter di sekitar kita yang dengan iklas dan senang berbagi ilmu, advis dan memberikan resep tanpa imbalan? Sedikit sekali, bukan? Dan Dokter Saulus ini adalah salah satunya. Berapa kira-kira skor kerendahan hati yang pantas kita berikan untuk dokter dahsyat macam ini?
Bukan cuma sang dokter saja, hampir semua jajaran petinggi-petinggi di perusahaan ini menunjukkan gelagat anomali yang sama – termasuk direkturnya, yang bahkan bisa ngobrol-ngobrol asyik dengan tim kami. Dengan laskar HR-nya pun saya begitu menikmati interaksinya, bahkan sampai bisa berbagi hobby yang sama. Sungguh pengalaman tak terlupakan, yang dengan segera membuat hubungan kami begitu lengketnya, bahkan sampai di luar konteks pelatihan dan workshop. (Demi menetralisir kesan mencolok saya untuk memuji perusahaan ini, maka dengan sangat terpaksa saya menekan hasrat saya untuk menyebutkan nama perusahaan ini
)
Seandainya di dunia ini ada lebih banyak orang-orang seperti itu, berdarah biru namun berhati merah jernih, tentunya hidup kita tidak lagi akan segersang biasanya. Dalam perjalanan karir dan passion saya untuk sharing dengan banyak orang, saya temukan banyak juga perusahaan dan institusi lain yang memiliki budaya rendah hati seperti itu. Dan kenyataan itu sangat melegakan hati Saya.
Dan peluang ini juga terbuka bagi Anda yang kebetulan memiliki warna darah yang serupa. Dengan cara yang sama Anda bisa mengejutkan anak buah anda, mahasiswa anda, sampai keluarga Anda juga. Ketika posisi Anda me “lumrah” kan Anda untuk bertingkah arogan, “jaim” dan dingin, maka berbuatlah sebaliknya! Jadilah berbeda dengan cara-cara yang mengagumkan. Dan dunia akan akan tertegun serta mencatat nama Anda dalam list panjang orang-orang berkharisma yang pernah mendiami muka bumi ini.
Sembunyikan topi jabatan Anda dan tundukan kepala Anda lebih rendah hati.


Comments