G.I Joe The Rise of Technology
August 15, 2009 by Max Sandy
Filed under movie splash


Semasa saya masih bau kencur dan hobby nonton film kartun, ada dua film kartun heboh yang dulu benar-benar bikin mata saya berkaca-kaca saking girangnya. Yang pertama adalah film kartun Transformers the movie, yang kedua adalah G.I JOE the movie. Untuk ukuran anak-anak seculun saya waktu itu, kecanggihan dua film kartun itu benar-benar menghipnotis keliaran imajinasi saya.
Ternyata Hollywood paham betul dengan kenangan unforgetable orang-orang akan film-film itu. Dua tahun ini kita sudah dimanjakan dengan gelegar film live action Transformer. Dan kali ini, giliran film G.I Joe yang kemudian jadi epidemi baru di layar-layar bioskop dunia, memancing jutaan orang yang kebelet berat pingin melihat jagoan-jagoan masa kecil mereka beraksi kembali. Dan memang saatnya pas sekali, karena dengan modal teknologi CGI, film-film mustahil seperti G.I Joe jadi gampang untuk difilmkan persis atau bahkan lebih heboh dari film kartunnya. Maka, kontan sayapun segera menyelinap ngantri tiket demi bisa mengintip film ini.
Mindless Fun Movie
Menyaksikan gagahnya tim G.I Joe dibawah komando Jenderal Hawk yang bahu-membahu memberantas aksi teroris gila Cobra benar-benar bikin nafas tersengal-sengal. Sampai-sampai kita bisa melihat bagaimana kota Paris dan menara Eiffel di obrak-abrik demi mencegah aksi teroris Cobra yang berniat mendemontrasikan keganasan senjata roket berbasis nano-technology. Bukan cuma itu saja, demi menumpas habis jaringan teroris Cobra ini, tim G.I Joe sampai harus menyerbu markas besar Cobra yang ada di bawah laut antartika. Filmpun berakhir dengan tertangkapnya gembong otak Cobra yang kemudian ditahan dalam sel canggih fasilitas penjara khusus Amerika. Tapi, berhubung masih ada antek Cobra berkeliaran bebas yang menyamar jadi Presiden Amerika, bisa dipastikan bakalan ada sekuel film G.I Joe nanti.
Yah, salah seorang teman saya sampai mengkategorikan film ini sebagai “Mindless Fun Movie”. Komentar itu wajar sekali berhubung film ini memang hiburannya kental tanpa perlu repot-repot memeras otak kita mencerna ceritanya. Tapi, kalau kita mau sejenak bijak merenungkan saripati film G.I Joe, mungkin anda sama-sama sepakat dengan saya, kalau film ini mengingatkan kita akan sikap kita terhadap TEKNOLOGI.
Same Technology, Different Attitude
Teknologi memang kontroversial dan sarat dengan paradoks. Di satu sisi kita bisa sangat tergantung kepadanya, tapi bisa juga teknologi dibenci dan dijauhi. Begitu teknologi mencapai titik kulminasinya, orang bahkan bisa menghujat teknologi sebagai karya manusia yang mementahkan kuasa Tuhan. Masih ingatkah Anda dengan hebohnya teknologi rekayasa kloning yang mengundang perdebatan?
Jangankan kloning, lha Facebook saja sudah bisa mengundang kontroversi. Banyak yang jatuh cinta, juga banyak yang mencibir kehadiran facebook, bukan? Betapa malangnya nasib teknologi yang sering diombang-ambing opini dan ironi. Padahal, kalau kita renungkan baik-baik, teknologi adalah karya megah manusia yang menegaskan betapa derajat kita berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Teknologi seolah jadi stempel yang mensahkan kedudukan agung kita di alam semesta. Maka sesungguhnya teknologi adalah netral, polos, dan wajib sebagai konsekuensi otak kita yang selalu haus akan jawaban dan makna.
Tapi sikaplah yang membuat teknologi bisa berwarna hitam atau putih. Sama seperti tim G.I Joe dan tim Cobra yang sama-sama punya segudang gadget dan kecanggihan teknologi – terbukti di tangan Cobra semua kecanggihan itu jadi modal penghancur. Teknologi Nano yang mestinya bisa dipakai untuk memerangi sel kanker saja malah dibuat jadi senjata roket mematikan yang bisa melelehkan satu kota, atau dipakai untuk mempreteli dan mencuci otak serdadu-serdadunya. Itulah kenapa, saya jadi suka memberikan statement, “Canggih belum tentu bijak, dan bijak tidak perlu canggih, tapi kalau bisa canggih sekaligus bijak … why not.”
Pengalaman saya sebagai trainer dan pembicara juga menguatkan saya soal itu. Banyak sekali saya menjumpai perusahaan-perusahaan yang tidak didukung teknologi atau pabrik yang canggih, namun bisa menciptakan atmosfer kerja yang menyenangkan dan super produktif. Tapi saya juga pernah memergoki perusahaan-perusahaan yang sistem IT nya modern dan pabriknya penuh dengan mesin-mesin canggih dan mengkilat, tapi suasana kerjanya redup dan penuh siksaan bathin.
Pesan saya, bijaklah dengan teknologi. Jangan dulu sembarangan menuduh atau mengkambinghitamkan teknologi sebagai biang perusak keutuhan rumah tangga atau biang penghancur prestasi anak-anak Anda. Begitu teknologi dipakai dengan dengan arif, malah mungkin Anda bisa tambah lengket dengan pasangan dan anak-anak Anda. Teknologi juga bisa ditunggangi untuk merapatkan kinerja dan komunikasi. Bahkan teknologi bisa memompa keimanan kita. Coba tengok saja seorang ayah yang rajin fesbuk-fesbukan dengan anaknya sehingga mereka jadi tambah kompak, atau atasan yang telaten pencet-pencet Blackberrynya untuk menjawab curhatan bawahannya. Laptop Andapun bisa diisi program lengkap literatur Al-Quran atau Alkitab yang akan bisa selalu menghembuskan hawa spiritual dimanapun Anda bertugas.
Teknologi itu Indah kalau kita melukisnya dengan sikap yang indah juga. Ayolah kita jadi punya semangat yang sama dengan G.I Joe : Technology for Peace.
Menulis artikel inipun butuh teknologi, bukan?


Comments