Goodbye 2009 with happy ending?

December 16, 2009 by Max Sandy  
Filed under mind shop

Bu Siti adalah seorang guru TK di sebuah kota kecil tak jauh dari Ibu Kota. Hidupnya bisa dibilang baik-baik saja, hidup di rumah sederhana dengan suami yang sangat pengertian dan kebetulan juga adalah seorang guru SMEA. Rumahnya yang mungil juga sudah dihiasi tawa anaknya yang semata wayang berumur 7 tahun, namanya Aisah.

Namun belakangan ini, Siti sedikit agak gelisah karena bulan Desember ini sudah hampir tuntas. Teman-temannya, termasuk juga rekan-rekan gurunya selalu meributkan soal resolusi tahun 2010 dan pencapaian-pencapaian di tahun 2009. Ia pernah tidak sengaja mencuri dengar temannya nyeletuk, “Alhamdulilah, tahun ini bisa juga aku beli motor buat berangkat kerja. Jadi ada pencapaian baru di tahun 2009 ini.” Lain lagi dengan tetangganya, yang pernah sambil santai nyeruput teh bercerita, “Tahun lalu saya punya cita-cita buka warung kecil-kecilan. Eh, nyatanya bisa terwujud juga tahun ini. Lumayan jadi ada yang baru di tahun ini”.

Tentu saja Siti jadi agak sedikit salah tingkah mendengar omongan-omongan kayak begitu. Maklumlah, karena ia merasa sepertinya tidak ada hal apapun yang baru dalam hidupnya terwujud di tahun ini. Kreditan motor suaminya aja masih belum lunas. Belum lagi KPR rumahnya yang masih berjalan terus seolah tak berujung. Mau belikan anaknya mainan PS aja gagal selalu gara-gara tabungannya terkuras terus buat urusan dapur.

Syukurnya, hari Senin ini, Siti bisa sedikit mengalihkan pikirannya berhubung hari ini ia punya aktivitas baru dengan murid-muridnya. Siti ingin menyenangkan anak-anak muridnya dengan bermain puzzle beramai-ramai. Maka ia pun dengan muka sumringah membagi-bagikan puzzle ke tiap muridnya, masing-masing sebuah puzzle bergambar kartun terdiri dari 70 potongan puzzle. Maka, permainanpun dimulai.

Sambil anak-anak didiknya asyik sendiri dengan puzzlenya, Ibu Siti berkeliling sambil mengamat-ngamati. Tiba-tiba ia berhenti saat melihat seorang anak yang sedang menempelkan potongan puzzlenya dengan asal-asalan. “Lho kok asal nempel sih, Unang? Gambar kartunnya tapi gak tersusun?” Tanya si Bu Guru. Muridnya mendongak dan senyum-senyum saja, “Gak apa-apa Bu. Yang penting ada yang baru yang aku tempel, biar papannya lama-lama penuh, kan?”

Yah namanya juga anak-anak, bathin Siti. Ia pun membiarkan Unang sibuk sendiri menambah potongan baru di atas papannya walau gambarnya acak-acakan. Perhatiannya kemudian terarah ke pojok kelas, ke seorang anak yang memegang papan puzzle dengan kedua tangannya dan tertawa-tawa. Wah, cepat juga dia bisa menyelesaikan puzzlenya, pikir Siti. Iapun jalan mendekat dan melihat ke papan puzzle si anak, dan tiba-tiba saja Siti terhentak bingung. Di depannya ia melihat si anak memegang papan puzzle yang masih belum selesai, masih sekitar 8-10 potong belum ia rampungkan. Memang sih si anak ini mengerjakannya sudah benar, terbukti dari gambar Mickey Mouse yang sudah terlihat, tinggal bagian kakinya yang belum komplit. Tapi yang bikin Siti bingung adalah raut muka si anak yang kelihatannya bahagia gemah ripah loh jinawi. “Lho, Rini, kamu koq senang banget kelihatannya. Kan puzzlenya belum selesai?”

Rini, dengan rambut ikalnya yang lucu lantas menjawab, “Bu, punya Rini memang cuma ada segini potongannya. Mungkin potongan lainnya gak sengaja masuk ke kotak puzzle teman lainnya. Tapi gak apa-apa koq BU. Rini udah bisa lihat gambar Mickeynya. Wah makin lama dilihat makin bagus ya Bu. Rini jadi tahu potongan yang belum ada itu pasti gambar kakinya Mickey ama mulut anjingnya, si Pluto. Bagus …lucu sekali ya!” Rinipun tenggelam lagi menikmati gambar puzzlenya itu. Ia terlihat bahagia sekali.

Siti shock sejenak. Sepertinya halilintas baru menyambar dirinya. Segala kegalauannya soal resolusi 2010 dan pencapaian 2009 tiba-tiba saja sirna, digantikan dengan perasaan “penuh” dan rasa syukur tak terhingga. Tuhan sepertinya baru saja berbisik dan membangunkan kesadarannya.

Pagi itu tidak akan pernah dilupakan Siti seumur hidupnya.

Mindfulness

Boleh jadi Siti tidak sendirian. Banyak dari kita mungkin berbagi kegalauan yang sama di hari-hari menjelang ganti tahun. Yang tidak bisa menghasilkan hal-hal yang baru di tahun 2009 kepleset jadi minder di hadapan mereka yang banyak pencapaiannya. Kebalikannya, yang sukses meraih targetnya lantas mentertawakan yang tidak berhasil, menyebut orang-orang itu “Tidak setia dengan resolusinya, tidak ada achievementnya”.

Hmmm … Siti menemukan jawabannya. Ia akhirnya sadar bahwa hidup tak ubahnya menyusun puzzle misteri makna keberadaan kita. Di jaman yang serba edan sekarang ini, orang sepertinya kesirep dengan kalimat “Harus sukses. Harus bertambah maju”,  dan membuat orang saling berburu dan berlomba-lomba membuat resolusi  tahun baru dan berusaha mewujudkannya. Mata Siti sekarang sudah terbuka saat melihat Unang yang bangga sudah menambah terus potongan puzzlenya tapi tidak membentuk gambar apapun. Kitapun bisa jadi Unang-Unang itu, yang sibuk bikin resolusi dan mencapainya, bangga dengan hal-hal baru dalam hidup kita, tapi sama sekali tidak memancarkan makna apapun dalam hidupnya. Hidup kita jadinya seolah cuma menuruti kemauan orang lain, sekedar menyesakkan hidup kita dengan hal-hal baru yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan panggilan hidup kita. Akhirnya kita jadi lelah dan capek sendiri, membuat diri kita makin rentan dengan stress.

Siti terinspirasi oleh Rini, yang walau puzzlenya tidak bertambah, tapi bisa begitu bersyukur dan menikmati “keutuhan” gambar puzzlenya. Siti teringat dengan mendiang ayahnya yang pernah berkata, “Hidup itu seperti jalan naik gunung, nak. Jangan menunggu puas sampai ke puncak, tapi nikmatilah perjalanannya. Berhentilah pusing dengan urusan sampai atau tidaknya engkau ke puncak gunung, dan bukalah mata kamu ke keAgungan pemandangan di sekitarmu. Itulah indahnya hidup, nak”.

Yah, mungkin Anda tidak bisa mewujudkan resolusi Anda di tahun ini. Tapi itu tidak lantas membuat Anda dibilang gagal dan loyo. Sejauh Anda bisa melihat jernih gambaran makna hidup Anda dan menikmati tiap jejak langkah yang Anda lewati, maka sah-lah Anda disebut sebagai orang yang sukses sejati. It’s not a billion diammonds  that you make this year that counts, but a single spark you put  into your life that makes you alive.

Siti yang tidak mampu mewujudkan cita-citanya sendiri membelikan anaknya Play Station bukannya merasa ciut hatinya, malah bertambah bersyukur. Pasalnya ia tahu kalau gambaran maknanya adalah menjadi Ibu yang care, menyayangi  tanpa syarat, dan siap sedia setiap saat menemani anaknya bermain dan belajar.  Ia teringat-ingat betapa tahun 2009 ia lewatkan banyak waktu bermain bersama anaknya, mengajarinya menjahit, main lompat tali, makan bakso bareng, tertawa bersama-sama nonton dagelan tv dan masih banyak lagi. Pikirannya sadar penuh kalau ia sudah menghidupi maknanya,  dan itulah yang membuat Siti semakin bergelimang rasa syukur walau resolusinya tidak tercapai. Inilah yang kita sebut sebagai mindfulness, kesadaran tinggi akan sari pati keberadaan hidup kita di tengah kekacauan peradaban era nuklir ini.

Sekarang Anda boleh tersenyum bangga, bukan karena hal-hal baru yang Anda buat tahun 2009, tapi karena Anda semakin menikmati alunan makna hidup Anda. Apakah Anda masih setia dengan panggilan hidup Anda sebagai seorang Ayah, atasan, karyawan, pasangan, atau mungkin sebagai seorang anak? Karena itulah yang sesungguhnya mendefinisikan hidup Anda, bukan seberapa banyak resolusi yang sudah Anda buat dan capai. Dan semoga, lewat doa dan derap langkah Anda, potongan-potongan puzzle hidup Anda yang belum terwujud akan datang menghampiri.

Tinggalkan 2009 dengan bangga, dan sambut 2010 dengan tawa renyah Anda!

Comments

Comments

One Response to “Goodbye 2009 with happy ending?”
  1. paulus says:

    Luar BIASA pak Sandy!
    Terhenyak saya!…
    bolehkah saya berbagi artikel ini ke Istri dan keluarga dan sahabat saya?

    Hidup selalu misteri, setiap hari selalu saya ucapkan dengan rasa Syukur…Ucapkan, bahwa saya masih hidup..
    Dan selalu ber komitmen: Ber awal dan melangkah dari yang benar..

    salam hangat dan senyum selalu untuk sahabatku terkasih,
    paulus

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!