Reason to love?

December 22, 2009 by Max Sandy  
Filed under mind shop

Di bulan Desember ini ada statement menarik yang saya pergoki hampir dalam waktu bersamaan, baik di milis HR Excellency dan juga di Facebook. Bunyi statementnya adalah “Tak perlu alasan untuk mencintai” ….  Ada juga yang dimodif sedikit jadi kalimat “Karena cinta tak butuh alasan”. Hmmm … bulu kuduk rada bergidik juga membacanya, berhubung kalimat itu menyemburkan hawa romantis yang luar biasa. Anda yang dasarnya memang gemar dengan untaian kata-kata mutiara dan kisah cinta yang mendayu-dayu dijamin bakal melayang-layang mendengarkan kalimat ini. Apalagi kalau itu keluar dari bibir ranum pasangan kita, bukan?

Namun, kalau kita mau bersedia merenungkan baik-baik kalimat itu dan menaruhnya dalam perspektif realitas kehidupan emosional kita, bisa jadi kita akan pikir-pikir panjang lagi sebelum meng”iya”kan kalimat itu. Bagaimana jika sesungguhnya : “Selalu ada ALASAN kenapa kita bisa MENCINTAI seseorang”?

It’s How we are built

Seberapapun anda tidak suka mendengarnya, itulah kenyataannya. Otak kita selalu bekerja dengan prinsip yang sama : Stimulus, proses, dan dilanjutkan dengan respon. Entah Anda membenci ataupun menyukai seseorang, itu merupakan produk dari proses yang terjadi di otak kita terhadap stimulus, baik itu berupa stimulus real di luar diri kita, atau bisa juga stimulus internal di kepala kita.

Ketika Anda memutuskan untuk “naksir” seseorang, maka sesungguhnya otak Anda telah melakukan sensus yang mendata segala sesuatu dari orang tersebut yang bisa memicu rasa suka Anda. Perkara Anda bisa mem-verbal-kan alasannya atau tidak, tetap saja otak Anda tahu apa yang Anda sukai dari orang tersebut. Nah, dalam kamus besar ilmu kematangan emosi, malah terang-terangan mengatakan kalau orang yang tidak bisa mendefinsikan emosinya dengan baik akan digolongkan sebagai orang yang kurang matang emosinya. Memang kedengaran agak sedikit kejam, tetapi mari kita pertimbangkan lebih jauh lagi. Coba kita simak kalimat-kalimat sederhana ini :

“Ga tau deh, pokoknya aku suka banget ama dia” ….

“Entahlah, pokoknya aku benci dia!” ….

“Koq tiba-tiba aku pengen nangis yaa ..??” ….

Bandingkan dengan kalimat-kalimat yang ini :

“Aku suka sama dia, karena wajahnya mengingatkan saya pada pacar pertama saya”

“Aku benci dia karena dia kemarin melakukan kebohongan yang fatal”

“Aku pengen nangis, karena tahu-tahu ingatanku akan trauma masa kecilku muncul”

Maka tidaklah heran, bila orang-orang yang tidak matang emosinya sering kedapatan terjerumus dengan perasaan-perasaan yang mereka sendiri tidak bisa jelaskan. Saat dalam kubangan euphoria, mereka pokoknya tertawa-tawa tanpa bisa menyebutkan alasannya. Begitu juga kala diterjang perasaan yang tidak menyenangkan, mereka bisa menjerit sejadi-jadinya karena tidak tahu bagaimana harus mem-break down perasaannya dengan jelas. Masih mending kalau cuma menangis atau menjerit, bahkan orang-orang ini bisa memutuskan minum  baygon atau loncat dari lantai 5 mall hanya gara-gara ia tidak terampil memilah-milah perasaannya dengan baik.

Be Authentic some times can be embarassing

Bayangkan bila seorang cewek naksir cowok yang berhati lembut, berotot tebal dan punya tunggangan BMW kemana-mana. Si cewek sesungguhnya tahu betul apa alasannya mencintai sang kekasihnya itu. Bisa jadi sekedar berhati lembut saja tidak cukup baginya untuk mencintai sang cowok. Aksesoris otot tebal dan mobil mentereng bisa jadi yang membuat rasa naksirnya menjadi sangat beralasan. Tapi, budaya “romantisme” seringkali melarang kita untuk mencintai orang karena alasan materi. Maka dengan lugas si cewekpun selalu berkata kepada teman-temannya, “Sungguh, hanya kelembutan hatinyalah yang membuatku terpikat”. Padahal kalau dijelajahi lagi, belum tentu si cewek ini memberi perhatian kepada si cowok bila ia sekedar baik hati saja.

Budaya model begini diperparah lagi dengan hujan syair-syair lagu romantis dan novel-novel cinta yang kemudian melariskan statement “Tidak perlu alasan untuk mencintai seseorang”.

Saat kita semakin sadar kenapa kita mencintai seseorang, di saat itulah kita menjadi tulus dengan diri sendiri dan orang lain.

Seorang ibu bijaksana nyaris saja ditabrak truk saat ia berusaha menyelamatkan anak orang lain yang ia tidak ia kenal sama sekali. Saat orang berkata, “Sungguh Ibu ini mencintai anak itu tanpa alasan!” – si Ibu menjawab dengan bijak, “Oh, saya punya alasannya. Saya selamatkan anak itu untuk membela dan memegang teguh iman saya akan kasih yang berkelimpahan”. Lihatlah, bahkan si Ibu  itu bisa menemukan alasannya di kala orang menganggapnya memiliki cinta tanpa alasan.

Find the reason of your love, find out the reason of all of your feeling

Jadilah seorang inventor dalam dunia emosi Anda sendiri. Temukan dan selidikilah alasan kenapa Anda memiliki rasa cinta, takut, bimbang dan sebagainya kepada siapapun atau apapun dalam hidup Anda. Ambillah langkah berani untuk mengakui, minimal kepada diri sendiri, kenapa Anda memiliki perasaan yang Anda rasakan.

“Ya sih. Saya benci anak saya karena nilai pe er nya selalu jeblok”

“Jujur, saya lebih suka cowok yang bermobil”

“Terus terang, gue takut presentasi karena lagi jerawatan”

Yah apapun alasannya, yang penting Anda sudah melokalisirnya. Dengan demikian, kalau Anda merasa perlu meningkatkan kualitas dan kematangan diri Anda sebagai pasangan, orangtua, atasan maupun bawahan, maka Anda sudah tahu daerah mana yang harus Anda perbaiki. Dengan begitu, kita akan menjadi satu langkah lebih baik dalam pengelolaan emosi kita dan tidak melulu gampang larut dengan kalimat-kalimat cinta ala pujangga. Dan seandainya saja Anda memang benar-benar memiliki alasan luhur untuk mencintai seseorang, artinya Anda  bukan cuma sekedar matang secara emosional – tapi juga pantas diacungi jempol secara spiritual.

Mumpung di akhir tahun banyak dari kita yang merayakan Natal juga, ada bagusnya momen agung itu kita gunakan untuk melakukan kontemplasi – mengumpulkan dan menghadirkan kembali alasan-alasan tulus dari segala perasaan cinta kita pada orang-orang yang kita sayangi dan juga cinta kita kepada Sang Khalik yang Maha Agung. Inilah saat yang pas untuk saling bertautan tangan dan merayakan indahnya memiliki ALASAN untuk MENCINTAI.

Selamat Natal dan Tahun Baru

Comments

Comments

4 Responses to “Reason to love?”
  1. ria says:

    Tulisan yg bagus dan cukup menggugah pembacanya. Bikin kangen ama yg nulis…. :)

  2. anton says:

    saya pengunjung baru

    bagus pak, logika nya mantab, dan membangunkan lagi jiwa kembali ke jati diri yang sebenarnya

    Thanks for the words

  3. oka says:

    Dear Max,
    Saya kenal Max saat beliau memberikan materi ttg EQ bareng pak Martin dikelas MDP BCAF..dan brilliant..kok ada ya orang seperti Max :D
    Benar-benar orang yang tidak bisa diam :D
    Semoga Sukses ya

  4. Emily says:

    Dear Max,
    Saya kenal Max saat beliau memberikan materi ttg EQ bareng pak Martin dikelas MDP BCAF..dan brilliant..kok ada ya orang seperti Max :D
    Benar-benar orang yang tidak bisa diam :D
    Semoga Sukses ya

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!