Happy like Shrek!
May 25, 2010 by Max Sandy
Filed under movie splash
Berapa kali Anda mendengar orang-orang curhat kayak gini; “Coba seandainya saja hidupku gak seperti ini, aku pasti merasa bisa lebih bahagia”. Atau jangan-jangan Anda sendiri yang sering dalam hati berkeluh, ”Kenapa ya hidupku cuma begini-begini aja”. Kalau memang begitu, gak ada salahnya kalau Anda meluangkan waktu untuk ngantri nonton film Shrek terbaru yang sekarang ini sedang diputar di bioskop. Apalagi kalau Anda termasuk fans berat tokoh monster gempal yang satu ini, dan mengikuti seluruh jilid filmnya, dijamin Anda akan lebih bisa memahami alur kisahnya dan lebih tercubit dengan semprotan inspirasinya.
Saya sendiri tidak menyangka kalau film Shrek kali ini punya muatan filosofis yang lebih dalam ketimbang jilid-jilid sebelumnya. Hebatnya, film ini berhasil membungkus sebuah nasihat sederhana dengan tuturan dongeng yang bagus sehingga nasihat sederhana itu bisa menampar kita dengan telak.
The Story in brief
Kisahnya, Shrek si monster baik hati bertelinga lucu ini sudah menutup masa-masa petualangan liarnya dengan menikahi Fiona, putri raja negeri Far Far A Way. Setelah berbuntut tiga orang anak yang lucu-lucu, Shrek mulai terhisap dalam rutinitas kehidupan rumah tangga yang begitu-begitu saja. Tidak ada lagi perjalanan penuh tantangan dan pertarungan seru melawan musuh-musuh yang aneh. Paling banter, tiap hari tantangannya cuma membetulkan genteng atau selang toilet yang mampet. Hari-hari bebasnyapun berganti dengan tanggungjawab harian mengurusi anak dan meladeni tetangga.
Saking bosannya, Shrek mulai merasa tidak bahagia lagi. Sampai suatu ketika ia dipergoki penyihir culas Rumpelstiltskin, yang selalu mencari mangsa orang-orang yang sedang bermasalah. Rumpelstiltskin ini mengiming-imingi Shrek untuk bisa menikmati lagi masa kebebasannya asalkan Shrek bersedia menyerahkan satu hari pada masa lalunya untuk dimiliki penyihir itu.
Maka transaksipun terjadi. Shrekpun masuk ke kehidupan yang dipilihnya, dimana dia bisa bebas melakukan apapun. Awalnya Shrek memang bergelimang rasa bahagia luar biasa, karena tak seorangpun bisa menuntutnya untuk melakukan rutinitas apapun. Tapi konsekuensinya, dalam kehidupan barunya ini, baik Fiona istrinya, Donkey sahabatnya, Pinokio dan semua sahabat-sahabatnya tidak mengenal Shrek sama sekali. Sadarlah Shrek, bahwa hanya untuk mencecapi kebahagiaan semunya itu, ia harus kehilangan orang-orang yang disayanginya. Sampai suatu saat, di dasar kesedihannya ia berkata, “I don’t realize it, untill I lost it” . Maka dengan segenap tenaga dan hatinya, Shrek berusaha untuk bisa menarik kembali permintaannya, dan membatalkan transaksi sihirnya itu.
Open your eyes for this moment’s happiness
Waktu Anda kuliah, anda membathin “Saya belum bahagia kalau belum lulus jadi sarjana”. Begitu Anda jadi sarjana, bathin Anda bergumam “Saya belum bahagia kalau belum bisa dapat diterima kerja”. Begitu diterima kerja, lain lagi keluhan bathin Anda, “Saya belum bahagia kalau gajinya cuma segini-segini aja”. Dan berderet-deret lagi syarat kebahagiaan Anda. Lha kalau begitu terus, kapan Anda akan sungguh-sungguh merasa komplit dan utuh untuk menikmati hidup Anda?
Inilah paradigma para pengejar kebahagiaan, yang menganggap bahagia itu harus dikejar dan dicapai. Selama belum tercapai, jadinya Anda merasa belum berhak merasa bahagia. Dan kalaupun Anda berhasil mencapai target Anda, paling-paling Anda cuma merasa bahagia sebentar, lalu berlanjut lagi dengan set up target berikutnya, dan mengosongkan kantong kebahagiaan Anda lagi. Maka kebahagiaan Anda bisa dihitung dengan jari donk seumur hidup Anda. Boleh-boleh saja sih Anda menjadi pengikut setia para motivator yang gemar berteriak, “Jangan cepat puas! Kejar targetmu terus!”. Tapi, Saya lebih senang memodifikasi nasihat itu menjadi : “Pasang targetmu, dan bahagialah setiap saat selama masa pengejaranmu!”
Kalau Anda mau merasa bahagia setiap hari, ubahlah sedikit status Anda menjadi “Perasa kebahagiaan”, dan bukan lagi sebagai “Pengejar Kebahagiaan”. Karena itulah arahkan sorot mata hati Anda kepada detik dan momen sekarang ini, dan temukanlah sejuta alasan kenapa Anda pantas merasakan kebahagiaan. Jadikanlah sesuatu yang kesannya biasa-biasa saja dan yang tidak patut disyukuri – menjadi suatu berkat dan anugerah besar yang bisa Anda rasakan kelimpahannya di saat ini.
“Alhamdulilah, enaknya bisa merasakan nikmat nasi putih dan ikan asin ini. Coba kalau lagi sariawan, makanan seenak apapun ya bakalan perih di bibir”.
“Hmmm, jari tanganku masih sepuluh! Coba kalau hilang satu saja gara-gara kecelakaan. Pasti hidupku rasanya kayak di neraka! Syukur masih lengkap ya”.
“Wah, air mandinya segerrr banget. Tadi aku baca artikel ada orang yang alergi karena air, kesentuh air sedikit aja langsung badannya iritasi. Terima Kasih Tuhan masih memberi saya kulit normal begini”.
Jangan menunggu sesuatu direnggut dari Anda, dan baru Anda sadar betapa berharganya sesuatu itu dalam hidup Anda. Hargai sesuatu itu sekarang, dan cerapi kebahagiaannya. Jangan bisanya cuma memarahi anak Anda – tapi begitu anak Anda diambil oleh Tuhan, Anda malah menangis sejadi-jadinya menyesali kehilangannya. Kalau begitu sih gak beda jauh dengan sikap anak kecil, yang ketika punya mainan malah dicuekin dan dibiarkan tergeletak. Tapi begitu mainannya itu diambil oleh orang lain malah berteriak-teriak histeris sejadi-jadinya. Makanya, apapun karunia yang ada dalam kehidupan Anda sekecil apapun tampaknya, berbahagialah sebesar-besarnya!
Happiness is here and now, not IF.


waowww, seperti biasanya …
inspiring ….
thank’s buat sharingnya bro …
ditunggu posting berikutnya.