Video Heboh!

June 10, 2010 by Max Sandy  
Filed under everyday life

Gatal rasanya kalau tidak ikutan nimbrung meramaikan bursa komentar film box office bulan ini : The Ariel Peter Porn, yang sedang heboh-hebohnya sekarang ini. Kebetulan sekali saya dengan tim di HR Excellency sedang getol-getolnya mempersiapkan pagelaran luar biasa pelatihan kecerdasan emosional untuk orangtua dan remaja di awal bulan depan ini. Jadinya klop sekali kalau momentum meledaknya berita heboh video adegan syur ini dijadikan appetiser untuk menyadarkan kita akan pentingnya “membangunkan” kesadaran EQ remaja, sekaligus para orangtuanya juga.

Kayaknya, dari mulai pojokan warung tegal sampai sudut-sudut kantor mentereng, semuanya ribut mengomentari video “maknyus” itu. Kontan saja, film ajaib yang durasinya cuma beberapa menit itu mencelat jadi komoditi panas minggu ini. Sampai-sampai ada yang nekad membongkar celengan demi mendapatkan koleksi lengkap videonya. Acara-acara infotainment sampai talkshow bergengsi pun berbondong-bondong meliput berita ini dan beradu jam tayang. Pokoknya, dijamin meriah, seru dan menegangkan. Untuk sejenak orang-orangpun rela melupakan urusan isu KPK dan FIFA demi hot news yang satu ini.

Tapi lihatlah baik-baik, apa yang menjadi tren “opini dan reaksi” orang-orang terhadap peristiwa ini. Gravitasi yang terbentuk membuat orang-orang punya pendapat kolektif yang mirip-mirip. Selain mengutuk aktor, aktris dan kaki tangannya, masyarakat juga kompak melakukan gerakan penggerebekan demi memblokade beredarnya video ini. Yah tentu saja sasarannya adalah sarang dan markas besar tempat nongkrong remaja : SEKOLAH ! (Sejauh ini saya belum dapat berita ada penggerebekan dilakukan oleh boss ke karyawan-karyawannya. Bisa jadi perlakuannya sama dengan film-film PG-13nya Amerika mungkin, alias di  atas 17 thn  bebas beli tiket nonton :) ). Dan siapapun yang kepergok punya filenya di dalam HP atau laptop, pasti langsung diseret ke meja hijau sekolah, dicap bandel – preman – asusila atau apapun julukannya. Serta merta orangtua yang dikabari kalau anaknya masuk “bui” sekolah langsung migren dan meriang. Dan bisa ditebak, mereka segera memberlakukan siaga merah, melarang anak-anaknya men-download, mengintip, ataupun sekedar membayangkan seperti apa ujud filmnya. Kalau bisa, dengan wajah sesangar mungkin.

Parents, let’s wake up first before you can wake up your children

Sadarkah kita kalau di abad digital ini kita harusnya berhenti menganggap remeh anak-anak kita? Apapun yang kita lakukan untuk menghentikan arus informasi kepada anak-anak kita justru akan meningkatkan kecepatannya! Ini persamaan yang aneh memang, tapi apa boleh buat, itulah kenyataan pahit yang harus kita terima. Begitu anak-anak kita sudah dihantui rasa ingin tahu dan penasaran terhadap sebuah informasi, maka percuma saja kita memeras keringat dan darah membendung informasi itu.  Satu-satunya cara yang Anda bisa lakukan adalah mengurung anak Anda di dalam kamar isolasi tanpa satupun alat komunikasi. Yah itupun kalau Anda cukup tega dan bersedia dipanggil Kak Seto sewaktu-waktu. Tapi begitu Anda melepas anak Anda di dunia bebas bersama  teman-temannya, maka seberapapun hebatnya Anda melarang anak Anda, buah-buah hati Anda akan menemukan “jalan”nya. Saya jadi teringat ucapan Malcolm, Sang Profesor di bidang Chaos dalam film Jurrasic Park yang mengatakan “Life finds a way” saat ia menegaskan kalau Dinosaurus akan menemukan caranya untuk survive dan berkembang biak walaupun manusia berusaha untuk mengendalikannya.

Yah, anak-anak dan remaja kita adalah “dinosaurus” kecil, yang kekuatannya tidak boleh kita remehkan. Mereka selalu menemukan jalan untuk mendapatkan informasi yang mereka mau, entah diijinkan atau tidak oleh orangtuanya. Hormon pubertas dan rasa penasaran adalah dua panah pasopati yang tidak bisa dibendung kesaktiannya hanya sekedar dengan larangan dan penggerebekan.

Inilah saatnya paradigma “Melarang dan Mengawasi” digantikan dengan paradigma “Mendampingi dan Memahami”. Sudah waktunya kita para orangtua menyisihkan seragam algojo dan sipir penjara, dan mengenakan busana baru sebagai “sahabat” mereka. Alih-alih berkata, “Jangan coba-coba kamu mendownload video itu ya!!” mungkin kita bisa melakukan pendekatan yang lebih holistik, mengajak anak kita tukar pikiran, “Nak, siapa tahu kamu sudah terlanjur pernah nonton video itu sama teman-temanmu, apa pendapat kamu? Yuk kita ngobrol. Papa pingin tahu komentar kamu …… “. Bayangkan, obrolan seperti itu bisa dijadikan moment bagus buat orangtua menyuntikan edukasi seks, siraman rohani, dan tentu saja sekalian merapatkan tali kasih antara anak dan handaitolannya. Plus, anak kitapun jadi tumbuh rasa percaya dirinya karena merasa sudah diperlakukan seperti anak yang sudah matang.

Begitu kita mengijinkan jari-jari anak kita menyentuh Hp, Blackberry, laptop, internet, dan remote control maka mereka akan melacak apapun informasi yang mereka mau. Dan jangan disangka, mereka bisa sangat smart di bidang IT dibanding kita orangtuanya. Karena itulah, Stop being Stopper, Start being Starter …. Marilah jadi orangtua yang hobinya bukan bilang “STOP!” … karena Anda tidak pernah bisa sungguh-sungguh menyetop, dan mulailah sering mengatakan “Ayo nak, kita START membicarakan macam-macam yang kamu alami dan rasakan…” Malah, jika Anda beruntung, dengan menjadi STARTER, justru Anda punya kesaktian untuk men-STOP secara jitu apapun yang Anda anggap buruk bagi masa depan anak Anda. Aneh, bukan?

Ya itulah dunia PARENTING, dunia yang aneh bin ajaib dan menarik.

Comments

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!