Kotak-Kotak on the Move

“Kotak vs Kumis”

Alamak.

Di Jakarta semua orang pernah ribut-ribut membicarakan siapa yang bakalan jadi jawaranya. Pemilihan gubernur DKI Jakarta jadi bahan obrolan – entah ibu-ibu yang lagi belanja, bapak-bapak yang lagi maen gapleh, boss-boss yang lagi pada main golf, sampai para jambret pasar juga gak mau kalah ikut berpolemik. Jangankan di Jakarta, para pemegang KTP Non Jakarta juga ikut berkepentingan meramaikan bursa pemilihan kursi DKI 1 ini.

Arena tarung cagub DKI yang dulunya biasa-biasa tiba-tiba menjadi arena yang seru untuk ditonton. Untuk pertama kalinya, Jakarta punya peluang dikomandani orang non-betawi, alias tidak punya hubungan darah sama sekali dengan si pitung. Malahan, bumbu langkanya ditambah pula dengan calon kuat wakil gubernur yang etnisnya tidak pernah masuk rumusan percaturan politik DKI 1. Kontan saja, Jakarta jadi hiruk pikuk. Jadi mengingatkan kita pada suasana negara kondang AS ketika ada orang negro nekat mencalonkan diri jadi presiden.

Dan hari H-pun tiba.

Berbondong-bondong orang iklas antri di TPS mengotori jarinya dengan tinta hitam. Tiba-tiba saja orang-orang  jadi berjiwa militan demi memenangkan calonnya masing-masing. Sampai-sampai tetangga Saya yang masih ber-KTP DKI juga bela-belain memboyong anak cucunya ke pusat kota demi bisa menambah 2-3 potong suara. Sementara itu, Saya bersama jutaan orang lainnya yang gak pegang KTP DKI karena tinggal di negara tetangga Jakarta cuma bisa ikutan cenat-cenut menunggu hasil quick count.

Akhirnya …… KUMIS-pun rontok diterjang KOTAK-KOTAK.

Joko Wi sang Wong Solo dan Ahok sang Wong Sipit memenangkan topi mandor Jakarta. Jakarta akan mendapatkan sentuhan baru …. management gudek dan manajemen glodok akan bersinergi habis-habisan. Kisah sukses masing-masing di Belitung dan Solo adalah modal mereka untuk mengutak-atik Jakarta. Is it going to work?

It’s not just about how to lead, but also how to be led

kotakDinamika kepemimpinan jangan cuma dilihat dari sisi leadernya. Tapi juga bagaimana kesiapan mental orang-orang yang akan dipimpinnya. Dalam kisah sukses mereka, Joko Wi dan Ahok bisa berhasil menyulap Belitung dan Solo menjadi kota yang gemah ripah loh jinawi. Ini tidak lepas dari keterbukaan dan kesiapan rakyatnya sendiri ketika dipimpin oleh mereka. Dan demi mendapatkan kepercayaan masyarakat itu, kedua orang ini bekerja keras untuk menunjukkan integritas dan ketulusan mereka.

John Maxwell sang maestro kepemimpinan pernah menyebutkan hukum kepemimpinan yang bunyinya begini, “The Law of Buying”, artinya orang terlebih dulu percaya dengan figur pribadi pemimpinnya sebelum percaya dengan visi misi yang ditawarkan pemimpin itu. Setelah hukum ini terpenuhi, maka para pengikutpun akan cenderung lebih open dan “manut” kepada leadernya.

Di sinilah problemnya. Apakah integritas Joko Wi dan Ahok yang sudah “terbeli” oleh masyarakat Belitung dan Solo – bisa otomatis membeli kepercayaan masyarakat Jakarta yang notebene jauh lebih kompleks dan rewel? Belum tentu! Maukah masyarakat Jakarta percaya pada proses kepemimpinan kedua kapten barunya ini?

Jadi pemimpin itu gak ubahnya seperti dokter. Untuk penyakit-penyakit parah, dokter harus menyuntik dengan jarum tajam bahkan membedah dengan pisau lancip. Artinya, pasien harus mau dibuat sakit dan merintih-rintih dulu sebelum sembuh. Lha kalau pasien tumor menuntut pingin sembuh tanpa proses –  tanpa rasa sakit –  tanpa pake lama, lha dokter sekaliber apapun hebatnya bakal geleng-geleng kepala donk. Begitulah Jakarta, dengan tumor yang sudah merayap sampai ke akar-akar, butuh kesiapan mental menerima rasa sakit supaya bisa sembuh secara bertahap. Siapkah engkau wahai Jakarta? Dokternya sudah ada. Terbukti sudah hebat. Tinggal kesiapan kita saja untuk dipimpin oleh mereka.

Pemimpinnya sudah ganti. Sekarang giliran warganya harus berani ganti mental juga. Mental bersabar dan percaya. Mental mau berjuang bersama demi Jakarta nomor wahid.

Welcome to Jakarta, square leadership!

Related posts

Leave a Comment