Patah Tulang, Sebuah Catatan

Kalau gak sengaja memergoki orang yang tangan atau kakinya digips karena patah tulang, saya suka iseng membathin, “Apa sih rasanya punya tulang patah …?”

Rupa-rupanya Tuhan Maha Mendengar rasa penasaran saya. Maka dirancanglah sebuah peristiwa menggemparkan di Malaysia. Kejadiannya di awal tahun 2012. Kala itu, Saya dengan sahabat Saya sedang menjadi active observer dalam sebuah pagelaran Workshop Training for Trainers. Di acara training itu, Saya kadang di daulat untuk memberikan masukan, sekaligus ikut nimbrung dengan segala kegiatan yang dilakukan peserta training. Nah, alkisah, di satu sesi, ada tim yang kemudian membuat aktivitas simbolis yang mengharuskan masing-masing dari kita melompati kursi. Ceritanya waktu itu, acara lompat-lompatan itu melambangkan keberanian kita melewati batasan psikologis. Memang bagus dan seru sih. Tapi, ada satu hal yang belum dipertimbangkan oleh tim itu ….. campur tangan Tuhan untuk menjawab rasa penasaran Saya!

Dan benar saja. Giliran Saya melompati kursi itu, jaket yang saya kenakan tau-tau nyangkut di satu ujung kaki kursi. Kontan saya kaget, dan lompatan yang seharusnya sederhana tiba-tiba berubah jadi salto memutar ala Jackie Chen. Sayapun jatuh. Dan berhubung jarak jatuhnya tidak terlalu tinggi, telapak tangan kanan saya belum dalam posisi pas menahan tubuh. Dan …. Krek!

Begitu saya berdiri, para peserta training bukannya menatap wajah saya. Tapi mata mereka pada mencelat keluar begitu melihat telapak dan jari-jari tangan saya yang melenceng memutar! Dan resmilah pada moment itu saya tidak lagi penasaran, “Ohhh begini tokh rasanya patah tulang ….”

A lesson learned

gips1So that’s it, dari mulai detik itu, hingga 6 bulan berikutnya, saya tampil lebih keren dari biasanya. Tangan dibungkus gips fiber. Lengan ditopang kain penyangga. Dan kemana-mana, saya kudu menyiapkan pidato singkat kepada siapapun yang bertanya, “ASTAGA, PAK! Kenapa tangannya??”

Selama 6 bulan, pola hidup saya berubah drastis. Gerakan puasa setir mobil, setir motor, setir sepeda dicanangkan tanpa ampun. Mau melancong atau pergi rada jauh, terpaksa iklas booking taxi dulu. Mengajar di ruang training,  tidak lagi ditemani tangan kanan. Untuk bergestur di depan peserta atau menulis di filpchart, tangan kirilah yang harus maju perang. Gesek kartu kreditpun jadi makan waktu lama gara-gara tanda tangan saya yang belepotan. Mandi bukan lagi peristiwa sederhana, karena istri harus ikut digalakkan untuk memastikan saya bisa tetap harum dan rapi setiap hari. Pakai celana dan mengancing baju jadi prosedur yang melelahkan. Mengetik dan membuat bahan training di laptop butuh kerja keras hanya dengan satu tangan. Bahkan, tidurpun harus komplit dengan acara menahan sakit karena kontraksi otot akibat komplikasi bengkak yang lama sembuhnya.

Tanpa kehadiran tangan kanan, hidup tidak segampang biasanya. Tanpa kehadiran tangan kanan, hidup terasa melelahkan. Namun ketika tangan kanan Saya ada, hidup koq terasa biasa saja. Tidak disyukuri. Tidak disadari keberadaannya. Tidak dihayati. What have I done?

Momento

Enam bulan adalah masa refleksi yang cukup panjang.

Ini adalah Gift in Disguise yang paling pas buat Saya untuk mengawali ronde usia ke 40 kehidupan saya. Untuk tahun-tahun selebihnya dalam hidup Saya, segala sesuatu harus disadari dalam level yang lebih dalam. “Life is too short”, hidup terlalu singkat untuk sekedar dihabiskan dengan seabrek aktivitas. Bukan aktivitas yang membuat Saya hidup. Melainkan kesadaran beraktivitas itu sendiri yang harus Saya lebih nikmati. Itulah hidup.  Live moment to moment. Enjoying simple things. Enjoying the enjoying it self.

Yah, dari dulu Saya tahu hal-hal itu. Tapi dengan absennya tangan kanan Saya selama setengah tahun, Saya bukan cuma sekedar tahu. Bukan cuma sekedar paham. Tapi Saya jadi bisa menghayati dengan total. Sumbu penyadaran saya yang lebih dalam mulai tumbuh merambat pelan. Dalam istilah gaya hidup Zen, ini dikenal sebagai hidup dengan sadar : Mindfulness.

Sadar dalam setiap nafas yang saya hirup, sadar dalam setiap gerakan tubuh saya, sadar dalam setiap geliat pikiran dan imajinasi saya, sadar dalam setiap kebaikan dan keburukan yang saya lakukan.

Itulah kenapa salah satu hal yang saya lakukan adalah merombak web pribadi Saya ini dengan kolom artikel yang lebih simple dari sebelumnya. Dan walaupun saya sadar tangan kanan saya tidak akan pernah bisa kembali 100% normal, tapi itu adalah tangan indah yang akan selalu mendampingi kehidupan “eling” saya.

gips2Anyway busway, kemana gerangan gips fiber yang selama enam bulan mengurung pergelangan tangan Saya? This is another story. Sewaktu Dokter spesialis melucuti gips saya dan bersiap melempar gips itu ke tong sampah di ruang praktek, Saya nyeletuk, “Dok, jangan dibuang. Saya mau bawa pulang potongan gipsnya.”

“Apaa?? Kok aneh. Bapak ini satu-satunya pasien yang minta gips bekas dibawa pulang. Buat souvenir ya?” sahut si dokter sambil tersenyum geli. Saya cuma mesem-mesem saja.

Days after that, seorang teman dekat mampir ke rumah saya. Melihat salah satu dinding di rumah saya, dia tiba-tiba nyengir sendiri, “Pajangan dindingnya unik. Apa sih itu?” sambil menjulurkan telunjuknya ke satu hiasan dinding berpigura hitam. Di situ telihat ada pigura persegi 60 kali 40 sentimeter, di dalamnya bertengger dua belah gips fiber yang pernah saya pakai, dengan satu tulisan simbol putih yang artinya, ”bersyukur ….”

Have a mindfulness life ….

Related posts

One thought on “Patah Tulang, Sebuah Catatan

  1. Jackhy

    Dahsyat bro Max, kamu luar biasa

Leave a Comment