Skyfall … an ice cream leadership

bondBuat Anda yang sudah kerasukan James Bond sejak lama, maka tentunya anda sudah sempat mencicipi film James Bond yang ke-23, “Skyfall”.

Tadinya saya pikir, judul “Skyfall” diambil dari nama proyek musuh bebuyutan Bond, atawa minimal nama barang super canggih yang jadi bahan rebutan di film itu. Tak dinyana, dugaan saya meleset semua. Taunya, Skyfall adalah nama rumah tempat dulu Bond dilahirkan yang letaknya ada di pedesaan Skotlandia. Disitulah, konon Bond di usia kanak-kanaknya melewati masa suram kehidupan paska tewasnya kedua orangtuanya akibat kecelakaan. Dan rumah itu pulalah yang menjadi kawah candradimukanya Bond sehingga dia bisa jadi sosok yang bengis, dingin, gesit, anti menyerah, dan loyal terhadap negara.

It’s personal

Di film Skyfall adonan ceritanya dibuat unik. Bukan lagi bertutur soal kecanggihan mobil atau senjata yang mematikan. Bukan juga bicara soal musuh yang megalomania dan punya birahi gede jadi penguasa dunia. Di film Skyfall, tidak lain dan tidak bukan kisahnya menyoroti soal hubungan Bond dengan M yang … kalau boleh saya bilang bagaikan Es Krim: Dingin di luar namun Hangat di Jiwa.

Lihat saja. Di awal film, M dengan tanpa ragu memerintahkan seorang agen menembak saat Bond sedang bergumul duel dengan lawannya walaupun tahu resikonya 50-50 Bond yang akan terkena. Dan alhasil, memang Bond yang malah kesasar pelor dan dinyatakan ko-it in duty. Berikutnya, M pulalah yang mengirimkan Bond dalam misi berbahaya walaupun tahu saat itu Bond fisik dan mentalnya masih lemah. Dan para penggemar Bond tahu betul kalau di film-film sebelumnya, M gak akan sungkan-sungkan berkata, ”Aku mengirimkan kamu untuk menyambut ajal kamu, dan aku tidak akan ragu sedikitpun!”

O lala, Boss yang berdarah dingin, bukan? Bahkan walaupun Bond sudah berkali-kali jadi pahlawan negara membela kepentingan M, sekali peristiwa Bond menyambangi rumah M dalam keadaan capek, butuh tidur dan mandi – M dengan lantang bilang, ”Kamu butuh mandi, tapi jangan sekali-kali kepikiran buat mandi dan nginap di rumah Saya!”

Boss macam apa itu?? M mestinya sudah masuk dalam kategori ”TOXIC LEADER”. Harusnya Bond benci M, begitu logikanya. Tapi jangan harap Anda akan bertemu Bond yang bereaksi begitu. Yang dipersembahkan Bond kepada M seluruhnya melanggar akal sehat : Bond malah memberikan hatinya. Kesetiaan dan cintanya terhadapa M begitu solidnya, dan hanya peluru-peluru di pistol walther PPK-nyalah yang jadi saksinya. Dan hey, bagaimana kisah Skyfall ini berakhir? M meninggal dalam pelukan Bond. Hembusan nafas terakhir M menyertai tatapan mata seorang Ibu terhadap Anaknya. Dan hanya di pangkuan Bond-lah, M bisa meninggal dalam keadaan damai dan tersenyum simpul. Dan kita sama-sama bisa lihat tanpa perlu kaca pembesar: Bond meneteskan air matanya.

Boss and His/Her Children.

Film Bond adalah film motivasi menurut Saya. Film yang wajib ditonton jutaan para Boss, dan milyaran para karyawan. Film Bond mengajarkan kita dengan lembut, bahwa kedekatan Boss dan Bawahan tidak harus mesti diwakilkan dengan karaoke bareng, mancing bareng, lunch dinner bareng atau saling kirim surat cinta di hari valentine.

Hubungan atasan-bawahan bisa juga seperti ES KRIM, dingin di lidah tapi memberikan sejuta hangat di hati. Inilah hubungan yang tidak dipetakan dengan sanjungan yang berlebihan atau frekuensi temu yang intensif. Tapi hubungan boss-karyawan bisa juga mengambil rupa bagaikan asap dupa di ruang-ruang pijat dan spa: tidak terlihat namun harumnya tak terelakkan. Loyalitas dan pengabdian si bawahan mengucur tiada henti, dan sebaliknya tanggungjawab akan pengembangan bawahan juga deras mengalir dari pihak atasannya. Si bawahan melakukan extra mile buat si atasan, dimana kerja A akan dirampungkan komplit dengan B, C, D, kalau perlu sampai Z. Sementara Atasan melakukan extra care juga; bukan cuma menggaji bulanan, tapi sekaligus mengamankan semua pelosok kehidupan bawahannya. Saling memberikan nilai tambah begitu banyaknya sampai-sampai lembaran JOB DESC tidak lagi bisa muat menampung detailnya. Inilah kualitas hubungan boss dan bawahan yang transendental.

So, tunggu apa lagi. Segera ngantri tiketnya, dan biarkan langit runtuh juga di kepala Anda.

Related posts

Leave a Comment