Resep Galau

Rasanya bulan ini adalah bulan stress buat saya.

portrait of dissatisfied man with drawing storm cloud over grey background

Bukan karena saya kehisap jaring-jaring stress kehidupan saya sendiri. Tapi justru karena saya keseret masuk ke dalam jejaringnya stress orang lain. Ada yang curhat karena anaknya mau di DO dari sekolah, ada remaja yang bilang hidupnya gak lagi berarti. Plus beberapa sobat lainnya yang berusaha memindahkan gunung masalahnya ke pundak saya. Mungkin banyak yang berpikir, ah Mr. Max pasti bisa kasih solusi. Dipikir saya ini tabib sakti yang bisa membebaskan orang-orang dari hiruk pikuk masalahnya. Padahal, saya juga punya segudang stress tempat saya memendam urat-urat kekesalan dan teriakan kepenatan saya sendiri. Nah, dengan cara apa saya saya bisa bergeliat dalam pusaran stress yang saya alami sendiri?

Sederhana aja sih. Sebelum bergerak mencari solusi atas setiap kegalauan yang terjadi, Saya mulai dengan rumus yang simpel : PROBLEMA = SITUASI + LABEL. Rumus apa pula itu?

Basic Ingredient of Kegalauan

NasiSaya selalu berdecak-decak kagum sama orang-orang yang punya radar yang peka terhadap rasa nasi. Padahal, Saya ini kelahiran kota Cianjur, yang katanya Ibu Kota Perberasan di Jawa. Mustinya, rongga-rongga lidah saya terdidik untuk peka dengan rasa nasi. Tapi, entahlah, sampai sekarang saya masih merasa culun, gak bisa memdedakan mana nasi yang pulen, mana nasi yang pandan wangi, dan entah apa lagi terminologi nasi-nasi lainnya. Makanya, saat teman saya makan nasi goreng dan dia tiba-tiba bisa nyeletuk, ”Enak nih nasinya. Pulen, gurih, pas teksturnya!” Saya langsung geleng-geleng kepala saking terpananya.

Gile. Dia bahkan belum mengomentari rasa nasi gorengnya. Yang dia komentari adalah rasa nasinya, rasa berasnya! Dan entah dengan ilmu kesaktian kanuragan apa, sobat saya ini bisa membedakan mana cita rasa bumbunya, dan mana rasa asli nasinya sendiri! Padahal di lidah saya rasa nasi goreng itu ya sudah jadi satu …. gurih dan pedes.

Itulah juga yang terjadi saat kita digempur kegalauan.

Masalah kita tidak lain adalah paduan antara SITUASI /KEJADIAN dengan bumbu-bumbu LABEL PERASAAN kita. Saat diputus pacar …. situasinya adalah pacar bilang, ”Sori kita cuma teman biasa”. Lalu habis itu kita meng-asinkan masalah kita dengan bumbu rasa kita sendiri, “Aku cowok sial – aku berat jodoh – aku kehilangan belahan jiwaku – aku jatuh dalam lembah kegelapan” …. dan sederet-seret kata-kata lain yang Anda kutip-kutip dari novel-novel yang pernah anda baca atau dari lagu-lagu yang sering anda dengar. Dan lengkaplah sudah penderitaan Anda. Anda meresmikan kegalauan Anda. Lalu dengan sisa uang gopek-an di kantong,  lantas Anda pergi ke warung terdekat membeli racun tikus.

Taste the Rice, Separate the Spice

Belajar dari sobat saya yang ahli beras, maka kita perlu belajar memisahkan, mana SITUASI dan mana LABEL PERASAAN kita. Dan kalau anda bisa melihat situasi dengan label perasaan seminim mungkin, maka gunung kepedihan anda akan terurai dengan sendirinya menjadi pecahan-pecahan dan urutan-urutan kejadian yang akan lebih mudah dicerna mental Anda dengan sehat. Dan kalaupun Anda dilanda perasaan yang hebat, entah itu kesedihan, kemarahan, atau kekecewaan – maka yang perlu Anda lakukan hanya amati saja perasaan Anda. Duduk diam dalam perasaan anda dan rasakan sensasi-nya. Itu saja. Rasakan tubuh Anda. Rasakan nafas Anda. Jangan membumbui dengan label apapun yang bisa membuat Anda mendramatisasi skenario filmnya. Apalagi kalau ditambah dengan olah nafas dan meditasi ringan ….. hmmm Anda mungkin akan mengalami keajaiban-keajaiban dimana Anda bisa merasakan kendali dan penerimaan Anda lebih lapang terhadap keruwetan hidup yang Anda alami.

Gak ada ruginya dicoba, bukan?

Related posts

Leave a Comment