Guru Trap

Akhir tahun 2012, ditandai dengan sebuah event menarik.

logo_network-500Kami mengundang Joshua Freedman, Sang COO dari organisasi EQ International Six Seconds. Dan untuk pertama kalinya di Indonesia, kami berbangga hati bisa menggagas Workshop International Certification untuk para simpatisan EQ di seluruh Indonesia. Perhelatan training berskala International ini sampai dihadiri oleh partisipan dari luar negeri juga. Ada juga yang bela-belain minggat sebentar dari tempat kerjanya di Singapore demi bisa mengais ilmu EQ ini. Uniknya lagi, walaupun tahu trainingnya menggunakan bahasa INggris, ada peserta nekad yang ngotot ikut walaupun modal Inggrisnya pas-pasan. Kontan saja training pun jadi berlangsung multi-lingual : Inggris dan Indonesia, dengan sentuhan celetukan Jawa dan Sunda. Dan berhubung acaranya sedikit bernuansa eksklusif dan butuh kocek rada tebal, maka total peserta tidak melebihi 20 orang saja.

Termasuk saya yang nyelip jadi peserta juga.

Ini namanya aji mumpung, bisa jadi panitia sekaligus jadi penggembira. Dapat Diskon besar – dapat ilmupun besar juga.

Lima hari kita dipanaskan uap EQ, belajar langsung dari Maestro-nya Joshua Freedman. Kebetulan saya sendiri membawa misi ”hisap-telan-bagi”, yakni harus mencerna ilmu ini sebanyak-banyaknya demi bisa membagikannya kepada orang lain. Maka itu sayapun menikmati insight-insight EQ dari Josh ini bukan cuma dari sudut pandang sebagai peserta saja, tapi juga dengan kaca mata seorang trainer.

Sampai akhirnya, setelah semuanya usai tuntas ….. saya berseru pada rekan trainer saya, ”Ini ciamikk banget ….! Contentnya menusuk, dan pembawaan Josh begitu classy …. sehingga gak sepotongpun kalimat-kalimatnya berkesan mengajari …!” Detik itupun saya berharap diciptakan Tuhan dengan jempol tangan masing-masing lebih dari dua. Supaya saya bisa berikan 4 jempol buat Josh dan Six Seconds International. Apa ya resep seorang Josh Freedman bisa menghembuskan hawa perubahan tanpa berkesan ”menggurui’?

Guru Trap

public_speakingSalah Satu frase kata yang diucapkan Josh dan bersarang telak di dalam benak saya adalah ”The Guru Trap”. Istilah ini mencuat di hari pertama workshop, saat Josh menggambarkan betapa banyaknya motivator, guru, orang tua dan leader yang tidak menyadari jebakan maut ”Guru Trap” ini. Sebuah jebakan yang kita pasang sendiri dan membuat kita betah ”Mengajari” orang lain dengan berbagai cara. Seolah-olah kita menjelma jadi manusia yang ”lebih tahu” dan maunya”memberi tahu” dengan lenggak lenggok bak seorang ”Maha Guru”.

Bukankah memang itu pemandangang yang sering kita lihat? Orang-orang bertitel lebih tinggi mengajari yang hampa titel. Orang-orang yang berjubah besar mengkuliahi yang berkaos oblong. Orang-orang yang berpengalaman segunung mendidik mereka yang masih bau ingus. Di rumah, di sekolah, di kantor, di tempat ibadat, di ruang training …. selalu ada orang yang merasa “lebih pintar” dan lebih berhak “mengajari”.

Setruman istilah itu menjalari tubuh saya. Mencubit saya dengan pertanyaan sederhana, ”Is that me all this time?”

Maunya sih saya menjawab. “Gak kok … I am just fine.”

Tapi, hmmm ….. who knows.

Agaknya, saya perlu mendaftarkan diri saya sendiri buat menjalani “cek up mental”. Menghamplas ego internal saya, mencabuti kerak-kerak “guru trap” yang mungkin bertengger lama dalam pembawaan saya sehari-hari.

Semoga saya, anda, dan kita semua bisa terlahir baru  – menjadi orang biasa-biasa lagi, yang lebih haus untuk berdiskusi daripada memberi intruksi, yang lebih pingin memperbaharui daripada menggurui, lebih berhasrat menciptakan pemimpin-pemimpin daripada menciptakan murid-murid, dan lebih semangat merangsang munculnya pertanyaan daripada memberikan sejuta jawaban.

Saatnya menciptakan rute baru di peta pekerjaan saya sebagai seorang speaker.

Care to join me?

Related posts

Leave a Comment