Infinity Happiness

Saya sangat pilih-pilih dalam urusan nonton film drama. Dan salah satu film drama yang saya putuskan untuk nikmati adalah The Fault in Our Stars. Itupun karena beberapa sobat kantor dengan wajah sumringah pernah berkomentar, “Bapak kudu nonton …!” Yah, kata-kata “kudu” itu buat saya bagaikan mandat dari langit, apalagi kalau yang berkomentar itu adalah sobat kepercayaan saya.  Dia bilang salah satu hal yang paling berkesan dari film itu adalah quote yang bunyinya begini :

“You don’t get to choose if you get hurt in this world…but you do have some say in who hurts you. I like my choices.”

Ahh .. qoute yang bagus. Walau terjemahannya agak sedikit ribet, tapi intinya adalah soal betapa kita tetap memiliki pilihan dalam situasi bagaimanapun sulitnya. Dan otomatis, quote ini menjelma jadi quote favorit dan jadi bahan bisik-bisik di antara para penggemar berat film itu. Berbagai poster digitalpun akhirnya berseliweran di internet memajang kata-kata keren tersebut.

Anehnya, saya malah tertusuk oleh qoute yang lain. Quote yang justru pertama kali diucapkan dari mulut tokoh yang menyebalkan di film itu, seorang penulis buku bernama Peter Van Houten yang kehadirannya di film itu awalnya bikin mual penonton saking bikin kesalnya. Lantas mendekati ending, quote-nya kemudian diucap ulang oleh tokoh sentral film itu. Dan barulah saya sadar betapa sebetulnya kata-kata dari orang yang menyebalkan itu menjadi belati inspirasi utama saya!

The-Fault-in-Our-StarsSo, singkatnya film ini berkisah tentang perjalanan cinta dua remaja yang menderita kanker (Hazel dan Auguste) dan sama-sama dalam proses menyambut ajalnya masing-masing. Dan berhubung di Amerika sana ada yayasan yang khusus bisa mengabulkan permintaan para penderita kanker, maka kedua remaja ini memutuskan pergi ke Belanda menemui penulis buku pujaan mereka. Hasilnya mengecewakan. Ternyata, sang penulis adalah sosok pemabuk dan depresif yang kata-katanya justru menyakitkan hati mereka. Nah, klimaksnya tentu saja pada saat salah satu dari mereka dipanggil Tuhan terlebih dahulu. Inilah momen puncak film dimana Hazel dalam kesendiriannya berusaha meresapi makna di balik segala peristiwa yang dijalaninya. Tepat di situlah film berakhir. Dan tepat di situ pulalah saya menyeka bola mata saya yang kelebihan H2O, sambil tersenyum mengalami ekstasi sebuah inspirasi luar biasa yang bersumber dari quote yang aslinya terucap begini :

“There are infinite numbers between 0 and 1. There’s .1 and .12 and .112 and an infinite collection of others. Of course, there is a bigger infinite set of numbers between 0 and 2, or between 0 and a million. Some infinities are bigger than other infinities. A writer we used to like taught us that. There are days, many of them, when I resent the size of my unbounded set. I want more numbers than I’m likely to get, and God, I want more numbers for Augustus Waters than he got. But, Gus, my love, I cannot tell you how thankful I am for our little infinity. I wouldn’t trade it for the world. You gave me a forever within the numbered days, and I’m grateful.”

Angka Infinite Kebahagiaan.

ac178b46c3453a7685590596cbebc24fIni yang bergaung di benak saya sesudah menonton film itu. Kita seumur hidup fokus kepada angka-angka bulat pencapaian hidup kita. Dimaksud angka di sini adalah “metafora” pencapaian nyata dalam hidup : grade sekolah, angka gaji, jumlah mobil, investasi, kepopuleran, dsb. Dan betapa hausnya kita mencapai angka yang lebih tinggi. Tidak puas dengan perolehan angka satu, kita bergerak ke angka dua, dan seterusnya. Bahkan saking gak sabaran, orang berusaha lompat angka – karena asumsinya semakin selisih angkanya besar maka makin besar pula rasa bahagianya. Padahal lompatan angka-angka ini tanpa disadari bayarannya juga makin besar. Saat jabatan makin tinggi, waktu lekat dengan keluarga jadi makin menipis. Semakin populer dan dikejar banyak janji, maka waktu “me time” juga jadi terkuras habis duluan. Canda tawa bersama sahabat ditukar dengan ratusan jam meeting yang penuh dengan tensi dan tarik urat syaraf. Begitulah hidup kita, sampai akhirnya kita sadar kalau seumur hidup kita cuma dihabiskan dalam mode “mengejar tambahan angka” dengan ongkos-ongkos mental yang besar pula. Angka-angka bulat pencapaian ini disebut MaHA (Macro Happiness Agent).

Padahal, dari angka NOL dan SATU saja ada begitu banyak angka tak terhingganya. Angka-angka kecil desimal “INFINITE” yang tidak pernah terpikirkan oleh kita. Saya menyebutnya sebagai Micro Happiness Agent (MiHA). Contoh MiHA adalah merasakan nikmatnya berjalan kaki di sekitar taman atau merasakan nikmatnya meneguk air putih yang segar. Saat fokus dengan MiHA angka kebahagiaan kita naik tapi angka bulat pencapaian hidup kita tidak naik (merasa bahagia luar biasa walau rekening tabungan belum bertambah atau jabatan belum naik). Jadi kita tidak fokus menaikkan angka 1 ke 2. tapi fokus ke angka infinite dari angka 1,001 ke angka 1,002 dst.

MiHA, The Secret Ingredient of Happiness.

Berhubung tubuh kita punya kapasitas daya tampung hormon kebahagiaan yang terbatas, maka kapasitas bahagia kitapun sama antar satu orang dengan orang lainnya, sebut saja dari angka 0% sampai 100% saja. Atau mari kita istilahkan dalam UHK (Unit Hormon Kebahagiaan). Semua orang tidak bisa mencapai lebih dari angka 100 UHK. Ini adalah kapasitas otak menampung gabungan hormon Endorphin, Serotonin, dan Oxytocin dalam sekali waktu. Analoginya sama seperti titik didih air yang tidak bisa melebihi 100 derajat celcius. Nah perkaranya, ada perbedaan gaya dalam mencapai UHK ini. Ada orang yang berupaya untuk bisa jalan-jalan keliling Eropa demi mendapatkan 100 UHK. Ada juga yang sekedar mensyukuri dan menikmati cahaya matahari pagi untuk memperolah 100 UHK. Bedanya, untuk mendapat 100 UHK, ada yang butuh biaya puluhan juta rupiah (jalan-jalan Eropa) dan ada yang ongkosnya cuma jalan lima langkah ke teras rumah (menikmati matahari pagi sepenuh hati). dengan kata lain, ada orang yang fokus dengan MaHA untuk mencapai titik didih kebahagiannya, dan ada yang fokus dengan MiHA untuk mencapai titik didih yang sama.

Nah, ijinkan saya menelurkan sebuah hukum : ”MiHA dan MaHA sama-sama bisa mencapai besaran titik didih UHK yang sama”. Yang berbeda adalah ongkosnya, bayarannya. Dengan fokus ke MaHA untuk mencapai titik didih bahagia, kita mungkin akan mengorbankan waktu dan biaya besar. Belum lagi korban mental harus bersedia melewati konflik di sana sini dalam prosesnya. Tapi kalau fokus dengan MiHA, bayarannya hampir NOL.

Jadi, mungkin ini bedanya antara orang yang mudah merasa bahagia dengan orang yang seumur hidupnya berjuang untuk bahagia tapi susah mendapatkan. Antara pejuang angka bulat, dan pengumpul angka desimal infinite (SIN = Small Infinite Numbers) . Bila anda sudah terlanjur mati-matian memperjuangkan angka bulat anda untuk mendapatkan  UHK anda, maka barangkali sudah saatnya anda berpikir untuk bisa fokus dengan angka SIN. Kita bisa merasakan lonjakan ekstasi yang besar misalnya, hanya dengan 5 tarikan nafas dan tersenyum kepada kekasih anda. Bisa didapat hanya dengan merasakan sungguh-sungguh nikmat sejuknya air putih yang anda minum, dsb … tanpa perlu keluar biaya, tenaga serta pengorbanan yang besar. Bahwa tidak peduli seberapapun kecilnya desimal angka SIN anda, maka takaran UHK anda tetap besar. Semakin seseorang disebut sakti mencapai kebahagiaan, artinya orang tersebut bisa fokus dengan SIN yang lebih kecil. Dia bahkan bisa merasakan perbedaan 1, 1111111 dengan 1,1111112 dalam keseharian hidupnya, dalam tiap gerak tubuhnya, dalam tiap stimulus yang diterimanya. Wow, bukankah orang seperti ini akan tampak selalu tersenyum dengan bergelimangnya rasa syukur yang dia rasakan detik demi detik. Walaupun dia tetap punya impian besar jalan-jalan ke luar negeri, punya impian  lonjakan karir dan sebagainya – tapi dia punya lensa kebahagiaan yang berbeda dengan kebanyakan orang lainnya. Dia memiliki kepekaan kebahagiaan yang sangat tajam, yang saya sebut dengan istilah Happiness Sense … terinspirasi dari Spider Sense-nya Spiderman yang selalu peka dengan mara bahaya sekecil apapun kepunyaan Peter Parker :).

Okay, last question ….. pe er kecil buat dikantongi kita semua : berapa pekanya Happiness Sense anda? Semakin peka maka otomatis anda bisa fokus dengan SIN. Dan kalau seluruh eksistensi anda bisa merasakan SIN dalam keseharian anda … artinya UHK anda akan bertumpuk-tumpuk. Dan berdoalah … semoga suatu saat nanti (atau sudah barangkali?) anda bisa menyulap diri anda menjadi seorang pengumpul SIN alias SINNER sejati …. (bukannya pengumpul dosa ya, hahahahaha)

Related posts

Leave a Comment