Equalizer … equalize expectation

denzel

Ada puisi indah …. Wajar.

Ada syair lagu indah …. Juga wajar.

Ada lukisan indah …. Sama wajarnya.

Tapi kalau ada film brutal en berdarah-darah tapi indah?

Itu baru agak gak wajar … Agak gak sinkron.

Tapi ternyata … ada.

Dan saya saksi hidupnya.

Kalau gak percaya, silakan nonton film “The Equalizer”. Pelakonnya adalah Denzel Washington, si hitam ireng berkharisma. Dia berperan sebagai Robert McCall – sosok misterius yang punya penyakit OCD – Obsessive Compulsive Disorder (penyakit mental yang membuat orang jadi suka melakukan sesuatu secara sempurna dan rapi), pendiam, santun, dan kerjanya di supermarket bahan bangunan. Hobinya baca buku, dan suka begadang di coffee shop sambil menuntaskan buku-buku bacaannya.

Alkisah, pola hidupnya yang serba rutin terusik begitu dia peduli dengan nasib seorang pelacur (Aliana a.k.a Teri) yang jadi korban kekerasan pelanggan dan mucikarinya. Kebetulan sang pelacur yang imut-imut ini suka juga nongkrong di warkop tempat langganannya. Nah, yang bikin penonton menahan nelan ludah selama 90 menit adalah melihat bagaimana si McCall ini begitu jagonya menggebrak sarang mafia Rusia demi membuat si pelacur ini akhirnya bisa hidup dengan tenang dan damai. Kontan, filmnya jadi penuh muncratan darah dan gebak-gebuk sadis. Ternyata, McCall bukanlah sembarang orang yang  bisanya cuma jadi kuli toko bahan bangunan. Dia sebetulnya adalah superman tanpa jubah mantan operative CIA yang punya kemampuan sakti dalam berstrategi dan bertempur. Dia ini boleh dibilang adalah titisan McGyver, James Bond, dan Rambo jadi satu.

Secara plot cerita sih, yaaa … Begitu-begitu aja. Genre membosankan yang formatnya udah pernah kita nikmati dari banyak judul-judul film sebelumnya. Tapi, sebagaimana makanan nasi goreng …. di tangan koki yang tepat, rasanya bisa jadi spektakuler maknyus top markotop. Begitu film action ini didandani oleh sutradara Antoine Fuqua, maka abrakadabra, jadilah sebuah film yang anggun dan cantik. Membuat saya kesengsem dan menjulurkan lidah kagum sepanjang film. Malah masih sempat-sempatnya film ini dibuka oleh quote dari Mark Twain yang bunyinya kira-kira begini “Ada dua hari yang penting dalam hidup kita. Pertama, saat kita dilahirkan. Kedua, saat kita tahu untuk apa kita dilahirkan”. Dan memang, filosofi ini mengejawantah dengan apik dalam rohnya fim ini. Dengan lihainya, sang dalang menceplok adegan dan scene demi scene dengan manis dan elegan. Beda dengan film-film laga belakangan ini yang temponya dibuat cepat, film Equalizer disulam dengan flow yang empuk sekaligus renyah ditonton. Ditambah, Denzel Washington sangat kuat dan pas memainkan tokoh protagonisnya, sampai-sampai beberapa pengamat menyebutkan kalau di film inilah Denzel tampil paling yahud dibandingkan film-film lain yang pernah dilakoni sebelumnya. Gigitan film ini bertambah menusuk dengan hadirnya tokoh villain yang kental juga kharismanya. Wah, umpamanya anda makan nasi goreng, inilah nasi goreng komplit plus-plus yang membuat anda bersendawa tak henti-hentinya. Sebuah karya master piece action movie yang kualiasnya jarang berkeliaran di layar lebar tahun 2014 ini.

Saya keluar dari bioskop dengan sebuah maklumat …. “Film ini terlalu bagus untuk tiket seharga 25 rebu perak” … O laaa laaa.

Dua hari sebelum nonton film ini, saat surfing internet, saya memergoki satu komentar dari seseorang yang tinggal di Dubai. Dia ini adalah seorang komentator film yang punya kebiasaan unik. Sebelum nonton film apapun, ia menghindar dari segala bentuk ulasan preview filmnya. Nonton ekstra (trailer) filmnya aja dia menolak mentah-mentah. Baginya, nonton dengan “preinstalled” harapan akan mengkontaminasi kenikmatan menonton. Dan hasilnya, orang ini mengulas film itu dengan sekarung pujian yang membahana.

Tapi bedanya, saat saya melangkahkan kaki masuk bioskop mau nonton film ini, kepala saya sudah dijejali pengharapan tinggi gara-gara udah duluan membaca ulasan-ulasannya di sosmed. Saya membuat diri saya sendiri jadi rentan buat kecewa, kuatir kalau filmnya tidak sebagus resensinya . Itulah yang kerap terjadi kalau kita bertemu dengan sesuatu atau seseorang yang reputasinya udah duluan bagus, iya kan?

Hasilnya, film ini bahkan melampaui harapan saya yang sudah disetel tinggi!

Pertanyaan buat kita semua : Saat berjumpa dengan orang lain yang sudah duluan “tahu” reputasi baik kita, bisakah kita sedemikian rupa membuat orang itu jauh lebih terkesan dengan kita, sehingga di akhir pertemuan dia akan membathin “Orang ini aura nya bahkan lebih bagus dari yang dibicarakan orang sebelumnya!”

Sisihkan duit jajanmu. Ayo nonton Equalizer.

Related posts

Leave a Comment