Vibrasi vs Ajaran

Orang tua mana sih yang pernah dengan sengaja mengajarkan hal-hal buruk kepada anaknya? Mana ada orang tua yang berniat mendidik anak-anaknya untuk menjadi anak yang anti sosial atau jadi anak pendiam, bahkan jadi anak-anak yang suka memberontak dan membully?

Tapi, koq kenyatannya, masih saja banyak anak-anak yang perilakunya kepeleset dan keluar jalur?

Lantas, lingkungan eksternal pun dijadikan kambing hitam. Pengaruh gadget, buruknya sistem pendidikan, jeleknya lingkungan pergaulan seringkali dituduh sebagai sumber kesesatan perilaku anak-anak kita. Tapi, apakah iya selalu itu yang jadi biang keladinya?

Memang sih, gelombang pengaruh lingkungan eksternal di luar keluarga memiliki kekuatan untuk membuat anak-anak kita bergeser dari jalurnya. Tetapi saya mengajak anda untuk merenungkan kemungkinan bahwa bisa saja pihak orangtuanya juga punya sumbangsih besar … yang tidak disengaja.

Kekuatan Vibrasi

Di masa dini pertumbuhan anak-anak – ketika perkembangan bahasa masih dalam taraf awal, mereka tidak memiliki filter untuk mencerna segala perkataan orangtuanya. Namun, bukan berarti mereka tidak belajar sama sekali.  Anak-anak sesungguhnya memiliki sensor bawah sadar yang menangkap dan memodel segala tingkah laku orangtuanya. Bahkan sampai gestur, tatapan mata dan pola intonasi orengtua pun akan dicapture dan digoreng dalam benak alam bawah sadar mereka. Di luar dari apa yang diajarkan oleh orangtua secara verbal, anak-anak terus menerus menerima sinyal-sinyal non-verbal yang juga berlaku sebagai buku petunjuk kehidupan mereka kelak. Inilah yang saya istilahkan sebagai VIBRASI ORANG TUA.

vibrasi inBayangkan, saat seorang anak masih belia – orangtuanya secara tidak sengaja sering menunjukkan muka sedih, sebal, bete, kasar atau marah. Semuanya itu akan terekam secara tidak sadar. Lalu dari situ mulailah si anak merajut pemahaman bahwa dunia ini adalah tempat yang tidak aman dan penuh kecemasan. Dan pelan-pelan ia pun mulai membangun benih-benih gaya perilaku yang kasar , yang mirip dengan orangtua mereka. Modeling atau sistem “peniruan” tingkah laku secara bawah sadar ini secara kontinyu terus menerus berlangsung.  Dengan sistem inilah pondasi bangunan karakter anak-anak kita mulai dibentuk.

Tetapi, jangan salah. Bahkan di saat anak-anak menginjak masa remaja pun, sistem bawah sadar mereka tetap punya porsi yang besar. Artinya, anak-anak masih menghisap ajaran orangtua mereka bukan hanya dari apa yang mereka ucapkan. Pola sikap mental orangtua yang dingin misalnya, tetap akan terekam dengan kental meskipun sang orangtua berkali-kali menasihati, “Ayou, bergaul supaya punya banyak teman-teman.”

Jadi, apa sesungguhnya diri kita, akan merasuk ke dalam pola laku anak kita, tidak peduli seberapapun baiknya konten nasihat-nasihat harian kita kepada anak-anak. Suasana “mental” keseluruhan rumah kita ibaratnya seperti panci masak yang uapnya langsung dihirup oleh anak-anak kita yang berada di dalam panci tersebut. Makanya, tidak mengherankan bila seorang anak bisa tumbuh menjadi skeptis, tidak punya daya juang bagus, anti sosial, terlalu lebay, dsb. Pastilah uap yang mereka hirup dari suasana rumah menjadikan mereka seperti itu. Padahal orangtuanya sudah sangat getol memberikan kata-kata bijaksana yang serba indah.

Tambahan Tanggung Jawab

Ya, apa boleh buat deh. Sebagai orangtua, kita jadi punya tanggungjawab ekstra selain mencegah pengaruh gadget dan lingkungan yang buruk bagi anak-anak kita. Tanggung jawab ekstranya adalah memastikan vibrasi non-verbal kita pun bisa menciptakan suasana rumah yang hangat, aman dan nyaman buat anak-anak kita. Bagaimana suami-istri saling berinteraksi akan terpancar hawanya dan terukir menjadi bahan pelajaran yang kuat bagi jiwa anak-anaknya. Bagaimana suasana makan malam bersama, atau atmosfer jalan-jalan bareng bersama keluarga akan lebih nancep sebagai pasak-pasak utama perilaku anak-anak kita kelak.

Percuma berkarung-karung nasihat ideal, kalau tidak dibarengi dengan atmosfer rumah yang hangat dan supportif. Percuma anak-anak sering dibawa beribadah, kalau orangtuanya malah menunjukkan vibrasi-vibrasi yang bertolak belakang. Sikap kasar orangtua, sikap otoriter orangtua, sikap lemah orangtua, sikap iri orangtua dsb – itu semualah yang akan menjadi kitab tingkah laku anak-anaknya.

Yuk, kita para orangtua mulai lebih peka dengan “siapa diri kita di mata anak”.

Save Our Youth!

Related posts

Leave a Comment