Setrum atau Lompat ?

Balada sang anjing

Tahun 1964, tersebutlah seorang mahasiswa psikologi bernama Martin Seligman yang kala itu sedang kumat isengnya, dan mulai ngerjain beberapa anjing.

Dua jenis kandang disiapkan terlebih dahulu, sebut saja kandang A dan kandang B. Di kedua kandang ini, anjing-anjing itu dikerjain dengan setruman listrik di kakinya, dengan interval yang sama dan durasi setruman yang sama pula. Bedanya adalah, di kandang A disiapkan tuas khusus yang kalau tidak sengaja di dorong oleh moncong anjing, maka setrumannya berhenti. Di kandang B, tuas ini tidak ada. So, di kandang B ini setruman listrik harus ditelan mentah-mentah olah sang anjing.

dogEksperiment pun dimulai. Anjing-anjing yang mendekam di kandang A, awalnya shock berkali-kali kena setrum listrik. Namun, lewat trial error beberapa kali, mereka menemukan kiat untuk membuat penderitaan mereka tidak terlalu mengenaskan. Dengan sigap mereka jadi mengerti kalau setiap kali setruman mulai datang, tuas di depannya tinggal ditekan sedikit oleh moncong mereka, dan bim sa la bim setruman pun berhenti. Tetapi, anjing penghuni kontrakan kandang B berbeda nasibnya. Mereka pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa manakala kena setrum.

Dan itu berlangsung seharian!

Revelation

Di hari berikutnya, eksperimen masuk ke babak ke dua. Di sinilah terjadi sebuah penemuan yang membuat nama Martin Seligman jadi berkibar di kalangan para psikolog dunia.

Anjing-anjing tadi, baik penghuni kandang A dan B dipindahkan ke kandang yang berbeda desainnya.. Interior kandangnya dibagi dua areal yang dipisahkan oleh sekat pendek yang bisa dilompati anjing. Bayangkan saja seperti meja tenis dengan net yang tinggi tapi masih bisa dilompati anjing. Nah, di masing2 belahan kandang itu lantainya bisa sewaktu-waktu di aliri lisrtik.

Coba tebak apa reaksi anjing mantan penghuni kandang A dan kandang B?jump dog

Martin Seligman menjadi saksi sebuah fenomena yang luar biasa. Anjing-anjing mantan penghuni kandang A segera mencari-cari cara untuk lepas dari penderitaan dan melompat ke belahan kandang lain yang bebas setruman. Yang aneh adalah para anjing mantan penghuni kandang B. Hampir semuanya pasrah saja, meraung-raung kesakitan, dan diam di tempat. Badan mereka gemetaran, dan mata para anjing ini merah berair. Seolah mereka merintih dan kehilangan daya juang.

Sebuah eksperimen yang keji menurut saya. Yah, walaupun subyeknya binatang, tapi tetap saja saya kepikiran bagaimana nasib anjing-anjing itu selepas eksperimen kondang ini. Terbayang-bayang sebuah RS Jiwa khusus anjing yang penuh dengan anjing-anjing mantan penghuni kandang B dari eksperimen Martin Seligman itu.

Catatan kecil soal penderitaan

Well, any way …. Martin Seligman patut dapat medali.

Eksperimen ini berbuah sebuah pemahaman soal penderitaan manusia. Kesimpulannya sih pendek, tapi bisa mempertobatkan kita :

“Bukan penderitaan yang menyebabkan ketidakberdayaan kita”

Yuk, kita renungkan dalam-dalam. Hidup memang bukanlah jalanan lurus panjang lancar jaya yang penuh bunga warna-warni di kanan kiri. Siapapun kita, pasti merasa punya kesusahannya masing-masing. Yang masih berjuang cari makan, susah cari sesuap nasi. Yang sudah banyak duit, kesusahan dengan harga saham yang melorot drastis. Yang masih jomblo, susah cari pasangan. Yang sudah menikah, susah ngurus anak.

Yang membedakan adalah belief system kita. Kalau dulu kita belajar soal kepasrahan, karena memang masa kecil kita “diajarkan” untuk tak punya kendali, maka perasaan tak berdaya ini akan terus langgeng lestari sampai dewasa. Apa-apa yang sulit akan direspon dengan muka geleng-geleng kepala, “Hidup susah nih … bisa apa lagi?” Kita ini tidak ubahnya seperti korban eksperimen tadi yang bisanya cuma meringkuk, merintih dan berharap pertolongan datang.

jump smallSementara, ada orang-orang yang datang dari belahan dunia optimis. Yang kalau kena dera setruman kehidupan, langsung mengumpulkan daya internal mereka, melihat situasinya dengan obyektif, mencari peluang, meyakinkan diri… dan MELOMPAT!

Karena hidup cuma masalah bagaimana kita melihat dan meyakini apa yang kita lihat.

Jadi bukan masalah seberapa besar penderitaannya. Karena bagi orang pesimis dan negatif, setruman sedikit saja akan dikomentari sebagai badai gempa 10 richter, dan sudah cukup dijadikan alasan untuk membeli obat penenang, bahkan obat nyamuk cair sekalian. Tapi, bagi mereka yang sadar masih punya kendali, setruman kehidupan akan bikin mereka menjerit dan menangis 3 hari 3 malam, tetapi di hari ke 4 mereka kemudian pelan-pelan bangkit dan bergerak maju.

Ayo, rasakanlah kendali itu ada dalam diri kita. Ciptakan tuas-tuas pikiran yang bisa mematikan pikiran-pikiran negatif kita sendiri.

Karena kita …. bisa.

 

 

 

Related posts

Leave a Comment