Life Bubble
Suatu kali, Presiden Amerika George Bush punya hajatan resmi di sebuah jaringan supermarket di Amerika. Di situ, sesudah acara resmi pidato dan ramah tamah, si Presiden lantas cuci mata keliling-keliling melihat lokasi super store itu. Tiba-tiba saja, sang presiden berhenti melangkah menyaksikan kejadian aneh yang luar biasa. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat kemampuan sihir kasir-kasir di supermarket itu. Cukup dengan sekali dua kali mengoleskan barang belanjaan di atas meja counter kasir, tahu-tahu bandrol barang tersebut bisa muncul di monitor dan jumlah total harganya terhitung dengan otomatis.
“Ajaib! Spektakuler!” begitu barangkali yang ada di otak sang presiden. Sampai-sampai mulutnya menganga, dan penasaran pingin mencoba sendiri mengoleskan barang-barang belanjaan itu di counter kasir. Dengan sigap barisan pengawal Presiden “Secret Service” yang tampangnya sangar-sangar itu segera membuat formasi khusus melindungi Presiden di sekeliling counter kasir, saat Mr. President melakukan uji coba benda ajaib itu. Dan George Bush pun berseru dengan spontan,”This is Brilliant!”
Tahu-tahu, seseorang nyeletuk kepada Sang Presiden, “Pak, mesin ini sudah ada sejak 10 tahun yang lalu.” Gubrak! Read more
Too Much Psychology Will Kill You?
Saat menggelar workshop kecerdasan emosi di penghujung tahun 2010 ini, seorang peserta mendekati Saya di tengah-tengah Coffee Break. Kalimat pertama yang terpental dari mulutnya membuat saya bergidik, “Pak Sandy, Saya kesal dengan buku-buku Psikologi!” Kontan saja saya tersentak.
Si Bapak tadi melanjutkan, “Semenjak istri saya suka sekali membaca-baca buku psikologi, anak saya jadinya diperlakukan bagai berlian. Ini dan itu dijaga baik-baik. Sampai-sampai mertua sayapun iku-ikutan. Saya khawatir nantinya anak saya jadi tidak kebal ketika menghadapi situasi yang sulit. Padahal setahu saya, orang-orang sukses entah itu motivator atau pebisnis, rata-rata justru masa kecilnya susah!” Read more
Reason to love?
Di bulan Desember ini ada statement menarik yang saya pergoki hampir dalam waktu bersamaan, baik di milis HR Excellency dan juga di Facebook. Bunyi statementnya adalah “Tak perlu alasan untuk mencintai” …. Ada juga yang dimodif sedikit jadi kalimat “Karena cinta tak butuh alasan”. Hmmm … bulu kuduk rada bergidik juga membacanya, berhubung kalimat itu menyemburkan hawa romantis yang luar biasa. Anda yang dasarnya memang gemar dengan untaian kata-kata mutiara dan kisah cinta yang mendayu-dayu dijamin bakal melayang-layang mendengarkan kalimat ini. Apalagi kalau itu keluar dari bibir ranum pasangan kita, bukan?
Namun, kalau kita mau bersedia merenungkan baik-baik kalimat itu dan menaruhnya dalam perspektif realitas kehidupan emosional kita, bisa jadi kita akan pikir-pikir panjang lagi sebelum meng”iya”kan kalimat itu. Bagaimana jika kenyataan sesungguhnya adalah: “Selalu ada ALASAN kenapa kita bisa MENCINTAI seseorang”? Read more
Goodbye 2009 with happy ending?

Bu Siti adalah seorang guru TK di sebuah kota kecil tak jauh dari Ibu Kota. Hidupnya bisa dibilang baik-baik saja, hidup di rumah sederhana dengan suami yang sangat pengertian dan kebetulan juga adalah seorang guru SMEA. Rumahnya yang mungil juga sudah dihiasi tawa anaknya yang semata wayang berumur 7 tahun, namanya Aisah.
Namun belakangan ini, Siti sedikit agak gelisah karena bulan Desember ini sudah hampir tuntas. Teman-temannya, termasuk juga rekan-rekan gurunya selalu meributkan soal resolusi tahun 2010 dan pencapaian-pencapaian di tahun 2009. Ia pernah tidak sengaja mencuri dengar temannya nyeletuk, “Alhamdulilah, tahun ini bisa juga aku beli motor buat berangkat kerja. Jadi ada pencapaian baru di tahun 2009 ini.” Lain lagi dengan tetangganya, yang pernah sambil santai nyeruput teh bercerita, “Tahun lalu saya punya cita-cita buka warung kecil-kecilan. Eh, nyatanya bisa terwujud juga tahun ini. Lumayan jadi ada yang baru di tahun ini”. Read more
Cicak vs Buaya, The Power of Analogy
Aduh, Bangsa kita ini sungguh unik dan ceria. Selain kaya dengan harta budaya dan cagar alamnya, negara kitapun semarak dengan kehebohan-kehebohan yang mengundang senyum takjub kita. Tidak cuma berita balada artis kawin cerai saja yang mengisi hari-hari sepi kita, tapi para ningrat-ningrat politik kitapun tidak mau kalah saing masuk berita. Read more
“NO CHOICE?!” IS IT?!
Bayangkan kejadian mengenaskan ini ….
Anda terdampar di gurun pasir sahara sendirian. Udara panas dengan ganas menggerogoti tenggorokan Anda. Tidak setetespun bekal air anda punya, dan sejauh mata menerawang tidak ada apa-apa kecuali hamparan kuning padang pasir tak berujung. Langkah anda mulai gontai – dan akhirnya anda tersungkur – cuma bisa berjalan menyeret badang saking haus dan tak bertenaga. Di puncak penderitaan Anda, tiba-tiba Anda menemukan satu kaleng berisi bensin setengah liter.
Apa yang bakal anda lakukan?
Sebelum menjawab pertanyaan ajaib di atas, mari kita ngintip kasus yang satu ini : Seorang dokter tiba-tiba kedatangan pasien aneh. Mukanya lusuh. Bajunya menebar aroma keringat menyengat. Nafasnya bikin mabok juga. Dan si pasien ini menyeringai kesakitan sambil memegang perutnya, “Dokter tolong saya. Saya terdampar di gurun, dan saking hausnya saya minum bensin yang saya temui di tengah padang pasir!” Si Dokter kaget dan balik bertanya, “Lha kok kamu minum bensinnya??”. Read more
The Power of WORDS
Kalau Anda termasuk orang yang rajin membaca tulisan para motivator, atau syukur-syukur pernah langsung menghadiri training maupun seminar yang digelar oleh para penjaja motivasi ini, maka pasti Anda sudah terbiasa dengan teriakan-teriakan “Ayo katakan kamu BISA! Yes I CAN!”, serta kalimat-kalimat positif lainnya. Apapun kalimatnya, beragam cara digunakan mereka demi membuat Anda bisa dan terbiasa mengucapkan kalimat-kalimat pembakar nyali ini untuk menambah gairah hidup. Tidak terkecuali saya, yang hobby juga meyakinkan orang-orang untuk tidak malu-malu membasahi lidah mereka dengan kalimat-kalimat yang positif. Read more
Take critics with love
Dalam artikel sebelumnya, saya mengusung tema seputar memberikan kritik. Kritik yang dikemas dengan baik, plus disajikan dengan bumbu yang tepat akan terasa gurih di telinga penerimanya. Sebaliknya, kritik yang diberikan sembarangan – asal tembak, akan terasa menyakitkan, malah terasa menyayat harga diri.
Tapi, sadarkah Anda, ada juga orang-orang yang ketika dikritik dengan pedas, malah tetap bisa tersenyum. Bukan cuma itu, orang-orang itu dengan jitunya bisa mengolah kritikan tajam menjadi “pembelajaran’. Dari situ, mereka bisa beradaptasi dengan lincah dan mengembangkan kinerjanya berdasarkan kritik tajam tersebut. Merekalah yang saya sebut sebagai “TOP Critics Receiver”- penerima kritik yang TOP.
Kontras bedanya dengan “Poor Critics Receiver”, yakni orang-orang yang anti-kritik pedas. Tipe orang ini maunya cuma mendengar kritikan yang manis dan santun. Begitu menangkap kritikan tajam, kompor emosinya langsung menyala. Dan ujung-ujungnya protes keras tidak terima, atau bahkan menyiapkan pisau mental untuk balas dendam. Read more
Give critics with love

Apapun profesi kita, dimanapun kita berada, dan berapapun usia kita, tentu kita tidak bisa hidup dalam atmosfer yang “kedap kritik”. Baik langsung atau tidak langsung, pasti kita pernah disenggol kritik. Mulai dari belaian kritik kecil, misalkan komentar orang soal warna kaos kaki yang kurang cocok – sampai kritik yang rada menggigit, bahkan mencakar kedamaian kita, contohnya saat orang mengatakan betapa tidak becusnya kita merampungkan pekerjaan. Malah kitapun sesekali (atau bisa jadi sering) adalah orang yang justru menerbangkan kritik kepada orang lain. Singkat kalimat, kritik adalah menu hidup yang pasti ada berseliweran dalam keseharian kita.
Konon. Kata “kritik” berasal dari bahasa Yunani “Krites” atau “Kritikos” yang artinya adalah orang yang mampu melihat dan menyampaikan penilaian. Lebih jauh lagi “kritik” lekat maknanya dengan pernyataan “tidak setuju” terhadap sesuatu. Itulah asal muasal kenapa kritik menjadi sesuatu yang sebisa mungkin kita “hindari”, karena kritik identik dengan pernyataan “belum berdamai”. Read more
STRESS, siapa takut?
Gonjang-ganjing drama resesi saham global tengah melanda dunia.
Taring tajam kisis finansial kolosal ini pelan-pelan sudah menancap juga di sendi-sendi perekonomian bangsa kita. Ceceran darahnya mulai mengucur di belantara korporasi besar di negara kita, dan lambat laun merembes juga ke skala yang lebih kecil. Berita-berita dan gossip-gossip penutupan pabrik-pabrik dan industri kelas besar sampai menengah di kota-kota besar, termasuk Jakarta dan sekitarnya, sudah membuat gerah banyak kalangan. Terutama rakyat kecil.
Saya dan Anda barangkali termasuk dalam skala “rakyat kecil” itu, yang terkena imbasnya. Meloncatnya harga-harga bahan baku dalam dollar memaksa para pelaku bisnis mengecangkan celana demi menjaga kelangsungan asap dapur perusahaan. Barang produksipun jadi harus “dimodifikasi” sedikit supaya harganya tidak perlu dinaikkan drastis. Misalnya saja dengan mengurangi proporsi bahan baku atau berat bersihnya secara tidak kentara. Di sisi lain, nilai komersil mata uang rupiah jadi mengkerut sedikit, membuat kemampuan belanja harian kita berkurang. Dan yang paling tragis adalah berkembang biaknya pengangguran dadakan akibat aksi pemecatan dan pengurangan pegawai dimana-mana. Read more

