<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>www.maxsandy.com &#187; mind shop</title>
	<atom:link href="http://www.maxsandy.com/category/mind-shop/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.maxsandy.com</link>
	<description>Max Sandy Official Website</description>
	<lastBuildDate>Sat, 29 Oct 2011 03:30:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Life Bubble</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2011/10/20/life-bubble/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2011/10/20/life-bubble/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Oct 2011 19:16:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[mind shop]]></category>
		<category><![CDATA[Bubble]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=546</guid>
		<description><![CDATA[Suatu kali, Presiden Amerika George Bush punya hajatan resmi di sebuah jaringan supermarket di Amerika. Di situ, sesudah acara resmi pidato dan ramah tamah, si Presiden lantas cuci mata keliling-keliling melihat lokasi super store itu. Tiba-tiba saja, sang presiden berhenti melangkah menyaksikan kejadian aneh yang luar biasa. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat kemampuan sihir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/bush.jpg" alt="" width="225" height="310" />Suatu kali, Presiden Amerika <strong>George Bush</strong> punya hajatan resmi di sebuah jaringan supermarket di Amerika. Di situ, sesudah acara resmi pidato dan ramah tamah, si Presiden lantas cuci mata keliling-keliling melihat lokasi super store itu. Tiba-tiba saja, sang presiden berhenti melangkah menyaksikan kejadian aneh yang luar biasa. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat kemampuan sihir kasir-kasir di supermarket itu. Cukup dengan sekali dua kali mengoleskan barang belanjaan di atas meja counter kasir, tahu-tahu bandrol barang tersebut bisa muncul di monitor dan jumlah total harganya terhitung dengan otomatis.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Ajaib! Spektakuler!”</em> begitu barangkali yang ada di otak sang presiden. Sampai-sampai mulutnya menganga, dan penasaran pingin mencoba sendiri mengoleskan barang-barang belanjaan itu di counter kasir. Dengan sigap barisan pengawal Presiden <em>“Secret Service”</em> yang tampangnya sangar-sangar itu segera membuat formasi khusus melindungi Presiden di sekeliling counter kasir, saat Mr. President melakukan uji coba benda ajaib itu. Dan George Bush pun berseru dengan spontan,<em>”This is Brilliant!”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Tahu-tahu, seseorang nyeletuk kepada Sang Presiden, <em>“Pak, mesin ini sudah ada sejak 10 tahun yang lalu.”</em> Gubrak!<span id="more-546"></span></p>
<h3 style="text-align: justify;">Where Are You All this time, Mr. President?</h3>
<p style="text-align: justify;">Kisah di atas bukan rekaan orang-orang kurang kerjaan. Saya menyaksikan sendiri liputan dokumenter itu di stasius televisi “History” yang meliput soal suka-duka kehidupan sehari-hari para President Amerika Serikat. Sejak masih menjabat senator, seorang calon Presiden sudah membaktikan kepala dan hatinya pada dunia politik, strategi pertahanan, issue hak asasi manusia, perkembangan ekonomi negara dan sebagainya. Dampaknya, seseorang sekaliber Presiden Amerika Serikat tidak lagi punya waktu buat urusan-urusan sepele sehari-hari. Semuanya sudah diatur dan disiapkan. Tinggal bilang, barang datang, tinggal minta, orang bergerak.</p>
<p style="text-align: justify;">Alhasil, barangkali seorang Presiden sudah lupa rasanya mencuci piring sendiri atau tidak lagi ingat kapan terakhir kali belanja sendiri koran di pinggir jalan. Dan resmilah dia masuk dalam apa yang kemudian disebut sebagai <strong><em>“Presidential Bubble” </em></strong>&#8230; gelembung kehidupan seorang Presiden, yang membuatnya tidak lagi bersentuhan langsung dengan perkara-perkara kecil sehari-hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, konon Presiden  AS yang sekang &#8211; Obama, berusaha untuk tidak terjebak di dalam gelembung ini. Menurut cerita yang beredar, barisan “secret service” pengawal presiden Obama paling sering dikejutkan oleh spontanitas Obama yang bisa sewaktu-waktu melanggar protokoler. Kalau lagi kumat isengnya, Obama tiba-tiba pingin berjalan kaki sendiri keluar gedung putih untuk mencegat penjual burger, atau dengan seenak perut menghentikan konvoi mobil presiden sekedar supaya bisa ngantri di kedai kopi.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Detect your own bubble</h3>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/bubblebig.jpg" alt="" width="210" height="205" />Ternyata bukan cuma presiden saja yang bisa terjebak di dalam “bubble”nya sendiri. Kitapun para “rakyat jelata” saja bisa sengaja tidak sengaja menciptakan gelembung kehidupan kita sendiri. Begitu terhisapnya kita pada gaya hidup dan gaya berpikir kita sendiri, sampai-sampai kita tidak lagi pernah mencicipi apapun yang ada di luar gelembung kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Saking terbiasa mondar-mandir di mal berlantai keramik, Anda ogah diajak ke pasar becek dengan alasan keren, <em>“Sori, ga tahan baunya”.</em> Kebalikannya Anda yang merasa masuk kasta terpinggir, gantian yang emoh diajak ke mal dengan alasan spiritual, “<em>Maaf ya, aku orang biasa-biasa aja ga cocok masuk mal.” </em>Ada juga bos-bos berperut buncit yang merasa terhina kalau harus makan bersama bawahannya di kantin perusahaan. Sementara di tempat lain ada yang bangga punya prinsip, <em>“Bergaul dengan orang beda etnis dan agama bisa merusak tatanan!”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Apapun gelembung yang sedang anda diami sekarang, adalah sah-sah saja. Itu adalah produk alamiah dari segunung kebiasan dan pola berpikir Anda selama ini. Jadi, pantas disyukuri dan dinikmati. Tapi seandainya Anda termasuk orang yang ingin berevolusi menjadi manusia yang lebih baik dan lebih sakti dalam merengkuh wawasan yang lebih luas dan bijak, nah tidak ada salahnya jika anda sedikit melobangi gelembung Anda dan membuat jendela intip dan jendela cicip.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa harus meninggalkan gelembung sejati diri Anda, dengan jendela ini Anda menjadi lebih siap untuk membuka diri Anda pada hembusan pengalaman yang berbeda. Keluarlah sesekali untuk merasakan sensasi yang bisa membuat gelembung hidup Anda melebar pelan-pelan. Tidak ada ruginya sesekali Anda nyeruput kopi mahal di kafe-kafe mentereng bersama kawan-kawan karib. Atau iseng-iseng mencoba makan ala kadarnya di warteg seberang jalan rumah Anda. Mungkin, suatu saat Anda spontan ingin mencoba masak sendiri ala master chef di rumah. Terserah Anda pokoknya. Apapun petualangan yang mau Anda  eksekusi &#8211; lakukanlah dengan porsi yang tepat dan jangan berlebihan. Merasakan sensasi yang berbeda bukan berarti Anda harus nyemplung ke ranah-ranah yang mepet-mepet resiko ekstrim.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Ah, iseng nyoba narkoba …”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Gimana ya rasanya selingkuh …”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Nyobain minum baygon ah …”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Please, saya tidak bermaksud mendorong Anda melakukan hal-hal ngaco dan konyol seperti itu. <strong><em>B</em><em>e wise and be adventurous</em></strong> <strong><em>at the same time</em></strong>. Itulah barangkali prinsip tepatnya, <strong><em>“Bertualanglah dengan bijak”</em></strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, jangan sampai nasib Anda seperti si Presiden di atas yang ngakunya peduli dengan perkembangan negaranya tapi ternyata tidak tahu kalau Supermarket sudah bertahun-tahun menggunakan <em>barcode scanner</em>. Daripada cuma merendam diri dalam gelembung hidup Anda yang cuma itu-itu aja, segera pakai sandal jepit anda dan langkahkan kaki Anda untuk bertualang ke luar sana.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Berani?</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2011/10/20/life-bubble/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Too Much Psychology Will Kill You?</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2010/12/24/too-much-psychology-will-kill-you/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2010/12/24/too-much-psychology-will-kill-you/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Dec 2010 11:30:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[mind shop]]></category>
		<category><![CDATA[Too Much Psychology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=534</guid>
		<description><![CDATA[Saat menggelar workshop kecerdasan emosi di penghujung tahun 2010 ini, seorang peserta mendekati Saya di tengah-tengah Coffee Break. Kalimat pertama yang terpental dari mulutnya membuat saya bergidik, “Pak Sandy, Saya kesal dengan buku-buku Psikologi!” Kontan saja saya tersentak.
Si Bapak tadi melanjutkan, “Semenjak istri saya suka sekali membaca-baca buku psikologi, anak saya jadinya diperlakukan bagai berlian. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saat menggelar workshop kecerdasan emosi di penghujung tahun 2010 ini, seorang peserta mendekati Saya di tengah-tengah Coffee Break. Kalimat pertama yang terpental dari mulutnya membuat saya bergidik, <em>“Pak Sandy, Saya kesal dengan buku-buku Psikologi!”</em> Kontan saja saya tersentak.</p>
<p style="text-align: justify;">Si Bapak tadi melanjutkan, <em>“Semenjak istri saya suka sekali membaca-baca buku psikologi, anak saya jadinya diperlakukan bagai berlian. Ini dan itu dijaga baik-baik. Sampai-sampai mertua sayapun iku-ikutan. Saya khawatir nantinya anak saya jadi tidak kebal ketika menghadapi situasi yang sulit. Padahal setahu saya, orang-orang sukses entah itu motivator atau pebisnis, rata-rata justru masa kecilnya susah!”<span id="more-534"></span></em></p>
<h3 style="text-align: justify;">Psikologi Kebablasan</h3>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/Vinci.jpg" alt="" width="325" height="377" />Nah, kalau direnungkan sejenak, apa yang dikeluhkan si Bapak tadi sebetulnya sangat masuk akal. Sejak toko-toko buku diserbu oleh ratusan buku yang mengatasnamakan Psikologi, banyak sekali orang yang jatuh cinta dan kesengsem untuk menjadi Psikolog dadakan. Dengan modal istilah-istilah Psikologi yang keren-keren, orang-orang ini mulai menebar pesona dengan gaya-gaya nasihat ala psikolog. Dengan sekuat tenaga, mereka mengerahkan ilmu psikologi ini untuk kebaikan hidup mereka, entah itu dalam kesuksesan berkarir, berpacaran, kehidupan suami istri, sampai soal merawat anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Masalahnya, karena pemahaman fundamental yang kurang solid dan ala kadarnya, makna Psikologi jadi melenceng. Awam mulai percaya kalau Psikologi adalah ilmu KEBAHAGIAAN.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan dimulailah parade kelirumologi dalam wacana Psikologi Awam. Dunia Psikologi jadi diterjemahkan sebagai kumpulan resep-resep manjur untuk membuat hidup orang bahagia. Maka bermekaranlah buku-buku, seminar ataupun artikel-artikel dengan tema-tema seperti “Kiat-Kiat Membahagiakan Pasangan Anda”, “Membina Keluarga Bahagia”, “Menciptakan Anak-Anak yang Bahagia”,  dan sebagainya. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja awam banyak yang kepleset mengartikan judul-judul itu terlalu harafiah. Contoh paling gampang, ketika ada seorang ayah yang memarahi anaknya dengan keras, maka dengan bertameng istilah psikologi &#8211; si ibu membela anaknya dengan komentar bak seorang psikolog kelas wahid,<em>”Kamu gak boleh gitu! Nanti alam bawah sadar anak kita tercemar, tahu!” </em>Inilah sampel sederhana dari gejala psikologi kebablasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pantas saja si Bapak tadi sampai mengatakan kalau anaknya diperlakukan bagai berlian oleh istrinya yang tidak boleh tergores sedikitpun. Jadilah muncul istilah <strong>“Good Cop, Bad Cop” </strong>di keluarganya. Si Bapak tadi otomatis jadi dilabel “BAD COP” karena keseringan membuat anaknya “susah”.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Basic Ingredient</h3>
<p style="text-align: justify;">Psikologi bukanlah ilmu KEBAHAGIAAN. Ilmu ini lahir karena dorongan besar manusia untuk memahami spesiesnya sendiri dengan lebih komprehensif. Kalau boleh sedikit nakal, maka saya berani mengatakan kalau ilmu Psikologi tumbuh dari obsesi manusia untuk mengumpulkan data-data dalam rangka membuat buku besar manual tentang proses kerja perilaku manusia. Dan sebagaimana ilmu-ilmu lainnya di dunia ini, maka nasib ilmu Psikologipun sama saja, yakni : tidak pernah tuntas.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun begitu, ilmu ini sudah mengendus sejak lama kalau makna kebahagiaan itu kompleks dan banyak faktornya. Orang yang ketika dewasa menjadi figur yang matang secara emosional dan spiritual tidak melulu harus mengalami masa kecil yang indah. Tantangan dan pergolakan &#8230; bahkan trauma masa kecil bisa juga mencetak pribadi-pribadi yang unggul.  Masih ingatkah Anda dengan kisah luar biasa <em>DAVE PELZER</em> dari buku biografi fenomenal <em>“A child called it”</em> yang mengisahkan masa kecil Dave yang kelam namun akhirnya bisa mendorong Dave untuk menjadi tokoh inspirasional terkenal di dunia? Atau mungkin kisah haru masa kecil <em>OPRAH WINFREY </em>yang menjadi bibit kesuksesannya di kala dewasa? Tampaknya, analogi membesarkan anak sama dengan membuat pedang tajam bisa jadi mengandung kebenaran juga. Sebilah pedang baru bisa tajam ketika melewati proses pemanasan dan pukulan bertubi-tubi. Artinya, orangtua juga harus punya skill “memanaskan” dan “memukul” anak dengan tantangan dan kesusahan dalam kadar yang cukup.</p>
<p style="text-align: justify;">Pepatah lain mengatakan, “Beda tanaman boleh jadi butuh ekologi dan pupuk yang berbeda-beda, tapi kalau tak ada oksigen – matilah semuanya”. Anak-anak pun demikian, butuh pendekatan yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lain. Tapi jangan tinggalkan oksigen utamanya : Cinta Orangtua. Inilah bumbu dasarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Intinya, Psikologi bukan dimaksudkan untuk membuat orangtua menyenangkan anaknya secara ekstrim, tapi juga tidak menyarankan orangtua untuk keras secara ekstrim juga. Semuanya harus berada dalam takaran yang imbang sesuai dengan kepribadian anak-anak kita. Dan jangan sekali-kali berlindung di balik jargon-jargon Psikologi untuk membenarkan tindakan Anda yang salah. Ayo kita kembalikan ilmu dan buku-buku Psikologi ke takhtanya aslinya sebagai ilmu untuk memahami manusia secara utuh. Karena itu, setiap kali Anda memboyong buku-buku Psikologi Populer ke rumah Anda, ingat saja rumus <strong>3D</strong> nya : <strong>DIBACA </strong>isinya secara komprehensif, <strong>DIBANDINGKAN </strong>dengan buku-buku lainnya, dan <strong>DIDISKUSIKAN</strong> sebelum Anda terlanjur percaya mutlak dengan isinya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Selamat ber-Psikologi Ria &#8230;.</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2010/12/24/too-much-psychology-will-kill-you/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reason to love?</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/12/22/reason-to-love/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/12/22/reason-to-love/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 19:03:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[mind shop]]></category>
		<category><![CDATA[Reason to love]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=475</guid>
		<description><![CDATA[Di bulan Desember ini ada statement menarik yang saya pergoki hampir dalam waktu bersamaan, baik di milis HR Excellency dan juga di Facebook. Bunyi statementnya adalah &#8220;Tak perlu alasan untuk mencintai” ….  Ada juga yang dimodif sedikit jadi kalimat “Karena cinta tak butuh alasan”. Hmmm … bulu kuduk rada bergidik juga membacanya, berhubung kalimat itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/lovein.jpg" alt="" width="225" height="206" />Di bulan Desember ini ada statement menarik yang saya pergoki hampir dalam waktu bersamaan, baik di milis HR Excellency dan juga di Facebook. Bunyi statementnya adalah <strong><em>&#8220;Tak perlu alasan untuk mencintai” </em></strong>….  Ada juga yang dimodif sedikit jadi kalimat <em><strong>“Karena cinta tak butuh alasan”</strong></em>. Hmmm … bulu kuduk rada bergidik juga membacanya, berhubung kalimat itu menyemburkan hawa romantis yang luar biasa. Anda yang dasarnya memang gemar dengan untaian kata-kata mutiara dan kisah cinta yang mendayu-dayu dijamin bakal melayang-layang mendengarkan kalimat ini. Apalagi kalau itu keluar dari bibir ranum pasangan kita, bukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, kalau kita mau bersedia merenungkan baik-baik kalimat itu dan menaruhnya dalam perspektif realitas kehidupan emosional kita, bisa jadi kita akan pikir-pikir panjang lagi sebelum meng”iya”kan kalimat itu. Bagaimana jika kenyataan sesungguhnya adalah: &#8220;Selalu ada ALASAN kenapa kita bisa MENCINTAI seseorang&#8221;?<span id="more-475"></span></p>
<h3 style="text-align: justify;">It’s How we are built</h3>
<p style="text-align: justify;">Seberapapun anda tidak suka mendengarnya, itulah kenyataannya. Otak kita selalu bekerja dengan prinsip yang sama : Stimulus, proses, dan dilanjutkan dengan respon. Ketika Anda membenci ataupun menyukai seseorang, itu merupakan produk dari proses yang terjadi di otak kita. Selalu ada stimulus yang jadi bahan pertimbangan otak kita untuk bisa merasakan sesuatu, baik itu berupa stimulus nyata di luar diri kita, atau bisa juga berupa stimulus internal yang ada di benak kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Anda memutuskan untuk “naksir” seseorang, maka sesungguhnya otak Anda telah mendata segala sesuatu dari orang tersebut yang bisa memicu rasa suka Anda. Kalaupun Anda kesulitan buat mem-verbal-kan alasannya itu lewat kata-kata, tetap saja otak Anda tahu apa yang Anda sukai dari orang tersebut. Nah, menurut kamus besar ilmu kematangan emosional, malah terang-terangan menyatakan kalau orang yang tidak bisa mendefinsikan emosinya dengan baik akan digolongkan sebagai orang yang kurang matang emosinya. Memang kedengaran agak sedikit kejam, tetapi mari kita pertimbangkan lebih jauh lagi. Coba kita simak kalimat-kalimat sederhana ini :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Ga tau deh, pokoknya aku suka banget ama dia” ….</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Entahlah, pokoknya aku benci dia!” ….</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Koq tiba-tiba aku pengen nangis yaa ..??” ….</em></p>
<p style="text-align: justify;">Bandingkan dengan kalimat-kalimat yang berikut ini :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Aku suka sama dia, karena wajahnya mengingatkan saya pada pacar pertama saya”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Aku benci dia karena dia kemarin melakukan kebohongan yang fatal”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Aku pengen nangis, karena tahu-tahu ingatanku akan trauma masa kecilku muncul”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Maka tidaklah heran, bila orang-orang yang tidak matang emosinya sering kedapatan terjerumus dengan perasaan-perasaan yang mereka sendiri tidak bisa jelaskan. Saat dalam kubangan <em>euphoria</em>, mereka pokoknya tertawa-tawa tanpa bisa menyebutkan alasannya. Begitu juga kala diterjang perasaan yang tidak menyenangkan, mereka bisa menjerit sejadi-jadinya karena tidak tahu bagaimana harus mem-<em>break down</em> perasaannya dengan jelas. Masih mending kalau cuma menangis atau menjerit, bahkan orang-orang ini bisa memutuskan minum  baygon atau loncat dari lantai 5 mall hanya gara-gara ia tidak terampil memilah-milah perasaannya dengan baik.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Be Authentic some times can be embarassing</h3>
<p style="text-align: justify;">Bayangkan bila seorang cewek naksir cowok yang berhati lembut, berotot tebal dan punya tunggangan BMW kemana-mana. Si cewek  ini sesungguhnya tahu betul apa alasannya mencintai sang kekasihnya itu. Bisa jadi kalau cowoknya itu sekedar berhati lembut saja tidak cukup baginya untuk mencintai sang cowok. Kenyataan bahwa si cowok itu punya otot tebal dan mobil mentereng, bisa jadi itulah yang membuat rasa naksirnya menjadi sangat beralasan. Tapi, budaya “romantisme” seringkali melarang kita untuk mencintai orang karena alasan materi. Maka dengan lugas si cewekpun selalu berkata kepada teman-temannya, <em>“Sungguh, hanya kelembutan hatinyalah yang membuatku terpikat”</em>. Padahal kalau dijelajahi lagi, belum tentu si cewek ini memberi perhatian kepada si cowok kalau cuma sekedar baik hati saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Budaya model begini diperparah lagi dengan hujan syair-syair lagu romantis dan novel-novel cinta yang kemudian melariskan statement <em>“Tidak perlu alasan untuk mencintai seseorang”.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Saat kita semakin sadar kenapa kita mencintai seseorang, di saat itulah kita menjadi tulus dengan diri sendiri dan orang lain.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Seorang ibu bijaksana nyaris saja ditabrak truk saat ia berusaha menyelamatkan anak orang lain yang ia tidak ia kenal sama sekali. Saat orang berkata,<em> “Sungguh Ibu ini mencintai anak itu tanpa alasan!”</em> – si Ibu menjawab dengan bijak, <em>“Oh, saya punya alasannya. Saya selamatkan anak itu untuk menambah pahala saya masuk surga”</em>. Lihatlah, bahkan si Ibu  itu bisa menyatakan alasannya  dengan lugas di kala orang menganggapnya memiliki cinta tanpa alasan.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Find the reason of your love, find out the reason of all of your feeling</h3>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/lovein2.jpg" alt="" width="225" height="246" />Jadilah seorang inventor dalam dunia emosi Anda sendiri. Temukan dan selidikilah alasan kenapa Anda memiliki rasa cinta, rasa takut, atau bimbang kepada siapapun atau apapun dalam hidup Anda. Ambillah langkah berani untuk mengakui, minimal kepada diri sendiri, kenapa Anda memiliki perasaan yang Anda rasakan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Ya sih. Saya benci anak saya karena nilai pe er nya selalu jeblok”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Jujur, saya lebih suka cowok yang bermobil”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Terus terang, gue gak pede presentasi karena lagi jerawatan”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Yah apapun alasannya, yang penting Anda sudah melokalisirnya. Dengan demikian, kalau Anda merasa perlu meningkatkan kualitas dan kematangan diri Anda sebagai pasangan, orangtua, atasan maupun bawahan, maka Anda sudah tahu daerah mana yang harus Anda perbaiki. Dengan begitu, kita akan menjadi satu langkah lebih baik dalam pengelolaan emosi kita dan tidak melulu gampang larut dengan kalimat-kalimat cinta ala pujangga. Dan seandainya saja Anda memang benar-benar memiliki alasan luhur untuk mencintai seseorang, artinya Anda  bukan cuma sekedar matang secara emosional &#8211; tapi juga pantas diacungi jempol secara spiritual.</p>
<p style="text-align: justify;">Mumpung di akhir tahun banyak dari kita yang merayakan Natal juga, ada bagusnya momen agung ini kita gunakan untuk melakukan kontemplasi – mendeteksi dan melacak kembali alasan-alasan dari segala perasaan cinta kita pada orang-orang yang kita sayangi. Inilah saat yang pas untuk saling bertautan tangan dan merayakan indahnya memiliki ALASAN untuk MENCINTAI.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em> Selamat Natal dan Tahun Baru</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/12/22/reason-to-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Goodbye 2009 with happy ending?</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/12/16/goodbye-2009-with-happy-ending/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/12/16/goodbye-2009-with-happy-ending/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 14:36:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[mind shop]]></category>
		<category><![CDATA[Bye 2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[
Bu Siti adalah seorang guru TK di sebuah kota kecil tak jauh dari Ibu Kota. Hidupnya bisa dibilang baik-baik saja, hidup di rumah sederhana dengan suami yang sangat pengertian dan kebetulan juga adalah seorang guru SMEA. Rumahnya yang mungil juga sudah dihiasi tawa anaknya yang semata wayang berumur 7 tahun, namanya Aisah.
Namun belakangan ini, Siti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="/images/guru.jpg" alt="" width="225" height="296" /></p>
<p style="text-align: justify;">Bu Siti adalah seorang guru TK di sebuah kota kecil tak jauh dari Ibu Kota. Hidupnya bisa dibilang baik-baik saja, hidup di rumah sederhana dengan suami yang sangat pengertian dan kebetulan juga adalah seorang guru SMEA. Rumahnya yang mungil juga sudah dihiasi tawa anaknya yang semata wayang berumur 7 tahun, namanya Aisah.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun belakangan ini, Siti sedikit agak gelisah karena bulan Desember ini sudah hampir tuntas. Teman-temannya, termasuk juga rekan-rekan gurunya selalu meributkan soal resolusi tahun 2010 dan pencapaian-pencapaian di tahun 2009. Ia pernah tidak sengaja mencuri dengar temannya nyeletuk, <em>&#8220;Alhamdulilah, tahun ini bisa juga aku beli motor buat berangkat kerja. Jadi ada pencapaian baru di tahun 2009 ini.&#8221;</em> Lain lagi dengan tetangganya, yang pernah sambil santai nyeruput teh bercerita, <em>&#8220;Tahun lalu saya punya cita-cita buka warung kecil-kecilan. Eh, nyatanya bisa terwujud juga tahun ini. Lumayan jadi ada yang baru di tahun ini&#8221;.</em><span id="more-462"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja Siti jadi agak sedikit salah tingkah mendengar omongan-omongan kayak begitu. Maklumlah, karena ia merasa sepertinya tidak ada hal apapun yang baru dalam hidupnya terwujud di tahun ini. Kreditan motor suaminya aja masih belum lunas. Belum lagi KPR rumahnya yang masih berjalan terus seolah tak berujung. Mau belikan anaknya mainan PS aja gagal selalu gara-gara tabungannya terkuras terus buat urusan dapur.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/puzzle.jpg" alt="" width="215" height="220" />Syukurnya, hari Senin ini, Siti bisa sedikit mengalihkan pikirannya berhubung hari ini ia punya aktivitas baru dengan murid-muridnya. Siti ingin menyenangkan anak-anak muridnya dengan bermain puzzle beramai-ramai. Maka ia pun dengan muka sumringah membagi-bagikan puzzle ke tiap muridnya, masing-masing sebuah puzzle bergambar kartun terdiri dari 70 potongan puzzle. Maka, permainanpun dimulai.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil anak-anak didiknya asyik sendiri dengan puzzlenya, Ibu Siti berkeliling sambil mengamat-ngamati. Tiba-tiba ia berhenti saat melihat seorang anak yang sedang menempelkan potongan puzzlenya dengan asal-asalan. <em>&#8220;Lho kok asal nempel sih, Unang? Gambar kartunnya tapi gak tersusun?&#8221; </em>Tanya si Bu Guru. Muridnya mendongak dan senyum-senyum saja, <em>&#8220;Gak apa-apa Bu. Yang penting ada yang baru yang aku tempel, biar papannya lama-lama penuh, kan?&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Yah namanya juga anak-anak, bathin Siti. Ia pun membiarkan Unang sibuk sendiri menambah potongan baru di atas papannya walau gambarnya acak-acakan. Perhatiannya kemudian terarah ke pojok kelas, ke seorang anak yang memegang papan puzzle dengan kedua tangannya dan tertawa-tawa. Wah, cepat juga dia bisa menyelesaikan puzzlenya, pikir Siti. Iapun jalan mendekat dan melihat ke papan puzzle si anak, dan tiba-tiba saja Siti terhentak bingung. Di depannya ia melihat si anak memegang papan puzzle yang masih belum selesai, masih sekitar 8-10 potong belum ia rampungkan. Memang sih si anak ini mengerjakannya sudah benar, terbukti dari gambar Mickey Mouse yang sudah terlihat, tinggal bagian kakinya yang belum komplit. Tapi yang bikin Siti bingung adalah raut muka si anak yang kelihatannya bahagia gemah ripah loh jinawi. &#8220;<em>Lho, Rini, kamu koq senang banget kelihatannya. Kan puzzlenya belum selesai?&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Rini, dengan rambut ikalnya yang lucu lantas menjawab, <em>&#8220;Bu, punya Rini memang cuma ada segini potongannya. Mungkin potongan lainnya gak sengaja masuk ke kotak puzzle teman lainnya. Tapi gak apa-apa koq BU. Rini udah bisa lihat gambar Mickeynya. Wah makin lama dilihat makin bagus ya Bu. Rini jadi tahu potongan yang belum ada itu pasti gambar kakinya Mickey ama mulut anjingnya, si Pluto. Bagus &#8230;lucu sekali ya!&#8221; </em>Rinipun tenggelam lagi menikmati gambar puzzlenya itu. Ia terlihat bahagia sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Siti shock sejenak. Sepertinya halilintas baru menyambar dirinya. Segala kegalauannya soal resolusi 2010 dan pencapaian 2009 tiba-tiba saja sirna, digantikan dengan perasaan &#8220;penuh&#8221; dan rasa syukur tak terhingga. Tuhan sepertinya baru saja berbisik dan membangunkan kesadarannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pagi itu tidak akan pernah dilupakan Siti seumur hidupnya.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Mindfulness</h4>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/siti.jpg" alt="" width="225" height="356" />Boleh jadi Siti tidak sendirian. Banyak dari kita mungkin berbagi kegalauan yang sama di hari-hari menjelang ganti tahun. Yang tidak bisa menghasilkan hal-hal yang baru di tahun 2009 kepleset jadi minder di hadapan mereka yang banyak pencapaiannya. Kebalikannya, yang sukses meraih targetnya lantas mentertawakan yang tidak berhasil, menyebut orang-orang itu &#8220;Tidak setia dengan resolusinya, tidak ada achievementnya&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Hmmm &#8230; Siti menemukan jawabannya. Ia akhirnya sadar bahwa hidup tak ubahnya menyusun puzzle misteri makna keberadaan kita. Di jaman yang serba edan sekarang ini, orang sepertinya kesirep dengan kalimat &#8220;Harus sukses. Harus bertambah maju&#8221;,  dan membuat orang saling berburu dan berlomba-lomba membuat resolusi  tahun baru dan berusaha mewujudkannya. Mata Siti sekarang sudah terbuka saat melihat Unang yang bangga sudah menambah terus potongan puzzlenya tapi tidak membentuk gambar apapun. Kitapun bisa jadi Unang-Unang itu, yang sibuk bikin resolusi dan mencapainya, bangga dengan hal-hal baru dalam hidup kita, tapi sama sekali tidak memancarkan makna apapun dalam hidupnya. Hidup kita jadinya seolah cuma menuruti kemauan orang lain, sekedar menyesakkan hidup kita dengan hal-hal baru yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan panggilan hidup kita. Akhirnya kita jadi lelah dan capek sendiri, membuat diri kita makin rentan dengan stress.</p>
<p style="text-align: justify;">Siti terinspirasi oleh Rini, yang walau puzzlenya tidak bertambah, tapi bisa begitu bersyukur dan menikmati &#8220;keutuhan&#8221; gambar puzzlenya. Siti teringat dengan mendiang ayahnya yang pernah berkata, <em>&#8220;Hidup itu seperti jalan naik gunung, nak. Jangan menunggu puas sampai ke puncak, tapi nikmatilah perjalanannya. Berhentilah pusing dengan urusan sampai atau tidaknya engkau ke puncak gunung, dan bukalah mata kamu ke keAgungan pemandangan di sekitarmu. Itulah indahnya hidup, nak&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Yah, mungkin Anda tidak bisa mewujudkan resolusi Anda di tahun ini. Tapi itu tidak lantas membuat Anda dibilang gagal dan loyo. Sejauh Anda bisa melihat jernih gambaran makna hidup Anda dan menikmati tiap jejak langkah yang Anda lewati, maka sah-lah Anda disebut sebagai orang yang sukses sejati. <strong><em>It&#8217;s not a billion diammonds  that you make this year that counts, but a single spark you put  into your life that makes you alive.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Siti yang tidak mampu mewujudkan cita-citanya sendiri membelikan anaknya Play Station bukannya merasa ciut hatinya, malah bertambah bersyukur. Pasalnya ia tahu kalau gambaran maknanya adalah menjadi Ibu yang care, menyayangi  tanpa syarat, dan siap sedia setiap saat menemani anaknya bermain dan belajar.  Ia teringat-ingat betapa tahun 2009 ia lewatkan banyak waktu bermain bersama anaknya, mengajarinya menjahit, main lompat tali, makan bakso bareng, tertawa bersama-sama nonton dagelan tv dan masih banyak lagi. Pikirannya sadar penuh kalau ia sudah menghidupi maknanya,  dan itulah yang membuat Siti semakin bergelimang rasa syukur walau resolusinya tidak tercapai. Inilah yang kita sebut sebagai mindfulness, kesadaran tinggi akan sari pati keberadaan hidup kita di tengah kekacauan peradaban era nuklir ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang Anda boleh tersenyum bangga, bukan karena hal-hal baru yang Anda buat tahun 2009, tapi karena Anda semakin menikmati alunan makna hidup Anda. Apakah Anda masih setia dengan panggilan hidup Anda sebagai seorang Ayah, atasan, karyawan, pasangan, atau mungkin sebagai seorang anak? Karena itulah yang sesungguhnya mendefinisikan hidup Anda, bukan seberapa banyak resolusi yang sudah Anda buat dan capai. Dan semoga, lewat doa dan derap langkah Anda, potongan-potongan puzzle hidup Anda yang belum terwujud akan datang menghampiri.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Tinggalkan 2009 dengan bangga, dan sambut 2010 dengan tawa renyah Anda!</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/12/16/goodbye-2009-with-happy-ending/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cicak vs Buaya, The Power of Analogy</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/11/18/cicak-vs-buaya-the-power-of-analogy/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/11/18/cicak-vs-buaya-the-power-of-analogy/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 12:22:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[mind shop]]></category>
		<category><![CDATA[Cicak Buaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[Aduh, Bangsa kita ini sungguh unik dan ceria. Selain kaya dengan harta budaya dan cagar alamnya, negara kitapun semarak dengan kehebohan-kehebohan yang mengundang senyum takjub kita. Tidak cuma berita balada artis kawin cerai saja yang mengisi hari-hari sepi kita, tapi para ningrat-ningrat politik kitapun tidak mau kalah saing masuk berita. Sampai-sampai beberapa bulan terakhir ini, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/cicak2.jpeg" alt="" width="225" height="176" />Aduh, Bangsa kita ini sungguh unik dan ceria. Selain kaya dengan harta budaya dan cagar alamnya, negara kitapun semarak dengan kehebohan-kehebohan yang mengundang senyum takjub kita. Tidak cuma berita balada artis kawin cerai saja yang mengisi hari-hari sepi kita, tapi para ningrat-ningrat politik kitapun tidak mau kalah saing masuk berita. <span id="more-443"></span>Sampai-sampai beberapa bulan terakhir ini, headline koran dan hot news tv lagi hot-hotnya ketagihan menyiarkan berita adu jotosnya kubu POLRI dan KPK, dengan tag linenya yang lagi hit “Cicak vs Buaya”. Itulah kenapa, saking berita-beritanya mengundang perhatian dan rasa penasaran, maka tokoh-tokoh elite kita sudah memenuhi syarat untuk menyandang gelar “entertainer”. Jadinya, saya seringkali mengatakan kalau panggung politik Indonesia sudah bersifat <em>“Politainment”</em>, alias serius tapi sekaligus menghibur.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, berhubung saya tidak mau latah membahas soal serba-serbi politiknya, saya lebih tertarik membahas kesaktian tag line “Cicak vs Buaya” yang konon menjadi api yang menyulut sumbu perang saudara di tubuh ikon-ikon institusi hukum negara kita. Jutaan masyarakat Indonesia geleng-geleng kepala, <em>“Wah kok bisa ya cuman gara-gara istilah gitu, orang jadi nekad saling menghunuskan pedang perang!”</em> Namun, di kalangan para suhu NLP dan  psikolinguistik, fenomena ini adalah demontrasi dari kekuatan ANALOGI yang luar biasa. Yang tidak banyak diketahui awam adalah, selain punya kekuatan destruktif, analogi juga punya kekuatan pendorong luar biasa yang bisa dijadikan amunisi sukses kita.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Creating Powerful Analogy</h3>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika seorang entepreneur yang sukses gemilang ditanya oleh seseorang,<em> “Wah bapak hebat sekali bisa mengembangkan bisnis sebesar ini. Padahal setahu saya, Bapak dulu sempat gagal beberapa kali dan nyaris bangkrut. Apa sih resepnya Pak?”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sang businessman tersenyum-senyum kecil sambil menjawab, <em>“Oh, sederhana sih. Sejak muda saya selalu percaya kalau hidup ini bagaikan belajar main sepeda. Setiap kita jatuh, kita jadi belajar sesuatu dan membuat kita lebih jago menggenjot sepeda kita. Tapi kalau Kita takut resiko jatuh, maka seumur hidup bahkan kita tidak akan punya nyali naik sepeda!”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Bayangkan, hanya dengan berpegang pada analogi sederhana<em> “Life is like riding a bicycle”,</em> maka seseorang bisa punya obor semangat untuk menerjang segala cobaan yang menjegal hidupnya. Padahal, analogi atau gampangnya disebut perumpamaan, biasanya tidak lebih dari satu atau dua potong kalimat saja. Namun, hawa saktinya bisa jadi sumber inspirasi dan energi yang mampu mendongrak spirit hidup kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan cuma itu saja, dengan analogipun kita bisa menularkan insight-insight kita dengan lebih mudah ke orang-orang di sekeliling kita. Alih-alih menggunakan teori-teori atau uraian panjang lebar, kita cukup meramu analogi yang simpel.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Berbesar hatilah. Biasanya pelangi selalu muncul setelah hujan deras.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Kamu itu seperti Kepiting. Walau di luar kelihatan keras, tapinya isinya lembut.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Mengasuh anak itu harus sabar. Sama seperti ulat dalam kepompong, semakin dipaksa keluar justru sayapnya semakin lumpuh.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Pilihannya tidak terbatas – Anda bisa merangkai analogi untuk menggambarkan segala situasi apapun. Dengan analogi, orang tidak lagi perlu rumit-rumit mencerna maksud komunikasi kita, dan dampak psikologisnyapun lebih tajam ketimbang kita menggunakan bahasa-bahasa ala kadarnya. Bahkan, sejarah mencatat, dari mulai pemimpin negara sampai nabi besarpun ada yang kerap memakai analogi untuk menyampaikan pesan-pesannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, kalau celetukan “cicak vs buaya” saja bisa menyulut energi perang dan nafsu saling hantam, maka Andapun bisa – sengaja tidak sengaja -menelorkan celetukan analogi negatif yang malah menggemboskan daya juang dan semangat hidup.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“percumalah, bagaikan mengeringkan air laut usahamu itu!”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sulit mengajarkan anjing tua trik-trik yag baru, jadi kamu cuekin aja dia”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“hatiku udah kayak vas cina yang udah remuk. Gak akan kumaafkan dia!”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Analogi itu betul-betul sakti mandraguna bukan? Sekali keluar dari mulut Anda, maka seluruh aliran energi Anda akan mengikuti suhu analogi itu, entah dia bersuhu hangat atau dingin. Kalau analoginya dingin, andapun jadi ikutan dingin, dan sekujur otot Anda jadi berat sekali rasanya untuk melakukan hal-hal positif. Tapi kalau analoginya hangat dan menghibur, kontan Anda jadi kesetrum energi positif dan lebih gampang melakukan hal-hal hebat dalam hidup Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesimpulannya sederhana saja, selalu ciptakan analogi positif untuk menciptakan atmosfer positif dalam hidup Anda. Jangan gampang tergoda untuk melontarkan analogi yang negatif. Dan selalulah jadi orang yang berkelimpahan, membagikan analogi-analogi mujarab untuk menyehatkan orang-orang di sekitar Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tutup dengan analogi kecil, <em>“Analogi itu seperti cabe rawit. Satu gigitan saja bisa bikin gorengan hidup jadi nikmat.”</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/11/18/cicak-vs-buaya-the-power-of-analogy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;NO CHOICE?!&#8221; IS IT?!</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/06/23/no-choice-is-it/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/06/23/no-choice-is-it/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Jun 2009 05:02:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[mind shop]]></category>
		<category><![CDATA[No Choice]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[Bayangkan kejadian mengenaskan ini &#8230;.
Anda terdampar di gurun pasir sahara sendirian. Udara panas dengan ganas menggerogoti tenggorokan Anda. Tidak setetespun bekal air anda punya, dan sejauh mata menerawang tidak ada apa-apa kecuali hamparan kuning padang pasir tak berujung. Langkah anda mulai gontai &#8211; dan akhirnya anda tersungkur &#8211; cuma bisa berjalan menyeret badang saking haus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/padangpasir.jpg" alt="" width="231" height="319" />Bayangkan kejadian mengenaskan ini &#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Anda terdampar di gurun pasir sahara sendirian. Udara panas dengan ganas menggerogoti tenggorokan Anda. Tidak setetespun bekal air anda punya, dan sejauh mata menerawang tidak ada apa-apa kecuali hamparan kuning padang pasir tak berujung. Langkah anda mulai gontai &#8211; dan akhirnya anda tersungkur &#8211; cuma bisa berjalan menyeret badang saking haus dan tak bertenaga. Di puncak penderitaan Anda, tiba-tiba Anda menemukan satu kaleng berisi bensin setengah liter.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang bakal anda lakukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum menjawab pertanyaan ajaib di atas, mari kita ngintip kasus yang satu ini : Seorang dokter tiba-tiba kedatangan pasien aneh. Mukanya lusuh. Bajunya menebar aroma keringat menyengat. Nafasnya bikin mabok juga. Dan si pasien ini menyeringai kesakitan sambil memegang perutnya, &#8220;<em>Dokter tolong saya. Saya terdampar di gurun, dan saking hausnya saya minum bensin yang saya temui di tengah padang pasir!&#8221;</em> Si Dokter kaget dan balik bertanya,<em> &#8220;Lha kok kamu minum bensinnya??&#8221;.<span id="more-283"></span></em></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan lemas orang itu menjawab,<em> &#8220;Saya tidak punya pilihan lain Dok! Di situ cuma ada bensin!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, jika ditilik lebih dalam, pernyataan orang aneh ini agak sedikit &#8220;keliru&#8221; bukan? Pernyataan dia yang mengatakan <em><strong>&#8220;TIDAK ADA PILIHAN LAIN&#8221;</strong></em> tidaklah akurat, karena sebetulnya bisa saja dia memilih tidak minum bensin itu bukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau saja orang ini mau memverbalkan situasinya lebih transparan, dia mungkin bilang begini, <em>&#8220;Pilihan saya dua-duanya buruk. Kalau tidak minum bensin itu saya akan mati kehausan. Tapi kalau saya pilih minum bensin itu, saya bisa mati juga akhirnya. Tapi dari dua pilihan itu, saya memutuskan MINUM BENSINnya&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Singkat kata, orang ini sebetulnya punya pilihan. Hanya kebetulan saat itu pilihannya semua buruk dan fatal. Dan dia memilih salah satunya yang menurut dia paling logis.</p>
<p style="text-align: justify;">Coba pasang radar Anda lebih peka. Berapa kali Anda menangkap deretan omongan-omongan model begini :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Saya tidak punya pilihan lain! Saya terpaksa menikah dengannya!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Saya tidak punya pilihan selain menerima pekerjaan itu!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Saya tidak punya pilihan selain memecat dia!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Saya tidak ada alternatif lain. Saya terpaksa memukul anak saya!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kasusnya bisa berbeda. Situasinya bisa beragam cerita. Tapi intinya adalah, apakah benar pilihannya hanya ada satu?</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam banyak kejadian, kita seringkali dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tidak enak. Dan dalam kedipan mata, otak kita memilih salah satunya, dengan kalkulasi maha rumit dalam kepala kita. Namun, konyolnya &#8211; setelah kita memilih, lantas kita berkata,<em> &#8220;Saya tidak punya pilihan lain selain &#8230;&#8230;&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sejak masa belia, kita melakukan imitasi dengan banyak cara untuk menemukan gaya pribadi dan gaya komunikasi kita, termasuk gaya pertahanan diri kita secara verbal. Budaya untuk berkata, <em>&#8220;saya tidak punya pilihan &#8230;&#8221;</em> adalah modus yang paling populer untuk membuat tindakan kita disahkan oleh orang lain. Kalimat ini seringkali ampuh untuk membuat orang iba dan bersimpati dengan kita, <em>&#8220;Aduh, betapa malangnya kamu. Memang kelihatannya tidak ada pilihan lain selain menerima pekerjaan itu. Daripada anak-anakmu kelaparan dan tidak sekolah bukan?&#8221;</em></p>
<h3 style="text-align: justify;">Break the Habit!</h3>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/choice.jpg" alt="" width="212" height="250" />Pelan-pelan tanpa disadari kebiasaan kita untuk bertameng di balik kalimat <em>&#8220;Saya tidak punya pilihan selain &#8230;&#8230;&#8221; </em>menggerogoti keyakinan diri kita untuk mengendalikan situasi. Lama-lama kita terbiasa menganggap diri kita sebagai korban dari situasi, dan berharap orang lain mengulurkan tangan membantu, atau minimal bersimpati.</p>
<p style="text-align: justify;">Coba saja bandingkan dengan kalimat yang kesannya lebih melelahkan ini, <em>&#8220;Saya punya pilihan untuk mempertahankan atau memecat dia. Jika dipertahankan, saya kuatir ia akan merusak semangat tim ini. Jika dipecat saya memang harus segera mencari penggantinya, tapi paling tidak semangat tim saya tidak akan luntur! Maka saya memilih untuk memecat dia.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Yah, kalimatnya lebih panjang, sedikit menguras energi untuk bisa merumuskannnya. Tapi dampaknya berkali-kali lipat lebih powerful pada kekuatan internal Anda. Anda memegang kendali!</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh kontras dengan orang yang cuma bersandar pada komentar,<em> &#8220;Saya tidak punya pilihan selain memecatnya!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan ini berlaku untuk 1001 macam kegetiran dalam hidup kita. Entah di saat anda harus menampar orang, saat anda harus mencubit anak anda, saat anda harus memutuskan pacar anda, saat harus mengemis-ngemis minta bantuan saudara anda, dan sebagainya. Ingatlah dalam situasi seburuk apapun, sebetulnya anda MEMILIH dari antara pilihan yang sama-sama buruk. Tapi tetap saja anda<strong> MEMILIH</strong>. Dan beranikan diri Anda untuk mengatakannya keras-keras,<em> &#8220;Saya memilih ini. Sungguh berat, namun ini adalah pilihan yang saya anggap baik dari antara alternatif yang ada&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Inilah salah satu kunci kecerdasan emosional yang sangat langka dimiliki orang-orang. Bahkan mungkin seorang presiden saja belum tentu paham dengan esensi fenomena ini, dan akhirnya seringkali dengan yakinnya berkata di podium, <em>&#8220;Bangsa ini tidak punya pilihan selain maju berperang!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Budaya bangsa manapun tidak keberatan dengan salah kaprah ini, dan karenanya kalimat keliru ini tumbuh subur dan jadi populer di seantero dunia. Makanya tantangannya benar-benar berat untuk bisa menghilangkan kebiasan ini. Dibutuhkan lebih dari sekedar niat dan tekad untuk bisa menguasai jurus ini. Selain tekad dan niat, kemampuan refleksi yang dalam adalah salah satu pendukungnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dan Anda bisa jadi teladan yang pertama di lingkungan Anda.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Saat ada orang yang bersikukuh <em>&#8220;Saya tidak punya pilihan selain &#8230;..&#8221; </em>Katakan saja <em>&#8220;Pssst&#8230;! Sebetulnya kamu ada pilihan koq, cuma barangkali semuanya tidak enak. Jadi kamu memilih yang tidak enaknya lebih sedikit. Jadi kamu sebetulnya kan MEMILIH &#8230;.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">So &#8230; jangan sampai Anda bilang, <em>&#8220;Saya tidak punya pilihan selain membaca artikel ini&#8221; <img src='http://www.maxsandy.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/06/23/no-choice-is-it/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Power of WORDS</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/05/03/the-power-of-words/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/05/03/the-power-of-words/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 May 2009 16:36:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[mind shop]]></category>
		<category><![CDATA[Power of WORDS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Kalau Anda termasuk orang yang rajin membaca tulisan para motivator, atau syukur-syukur pernah langsung menghadiri training maupun seminar yang digelar oleh para penjaja motivasi ini, maka pasti Anda sudah terbiasa dengan teriakan-teriakan &#8220;Ayo katakan kamu BISA! Yes I CAN!&#8221;, serta kalimat-kalimat positif lainnya. Apapun kalimatnya, beragam cara digunakan mereka demi membuat Anda bisa dan terbiasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/word.jpg" alt="" width="225" height="122" />Kalau Anda termasuk orang yang rajin membaca tulisan para motivator, atau syukur-syukur pernah langsung menghadiri training maupun seminar yang digelar oleh para penjaja motivasi ini, maka pasti Anda sudah terbiasa dengan teriakan-teriakan <em>&#8220;Ayo katakan kamu BISA! Yes I CAN!&#8221;,</em> serta kalimat-kalimat positif lainnya. Apapun kalimatnya, beragam cara digunakan mereka demi membuat Anda bisa dan terbiasa mengucapkan kalimat-kalimat pembakar nyali ini untuk menambah gairah hidup. Tidak terkecuali saya, yang hobby juga meyakinkan orang-orang untuk tidak malu-malu membasahi lidah mereka dengan kalimat-kalimat yang positif.<span id="more-188"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Bagi sementara orang, pertanyaan yang sering mencuat adalah <em>&#8220;Apa bisa kehidupan berubah hanya dengan kata-kata?!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Jawabannya adalah <strong><em>&#8220;Kata-kata memang tidak menentukan sukses Anda, tapi kata-kata sungguh mampu MEMPENGARUHI pencapaian sukses kita&#8221;.</em></strong> Gampangnya, kata-kata memiliki kekuatan unik yang bisa mengarahkan alam bawah sadar. Cara kerjanya mirip seperti mantra yang ketika diucapkan atau diperdengarkan akan mempengaruhi cuaca alam bawah sadar kita. Kata-kata yang positif membentuk cuaca positif, dan kebalikannya, kata-kata negatif memciptakan iklim yang negatif juga. Hal ini sudah lama diakui oleh banyak ahli psikolinguistik (cabang ilmu yang mengkaitkan psikologi dengan ilmu bahasa), yang dalam prosesnya kemudian berkembang menjadi cabang ilmu kondang NLP (Neuro Linguistic Program).</p>
<p style="text-align: justify;">Satu contoh eksperimen menarik pernah dilakukan oleh seorang Psikolog berotak encer dari Yale University Amerika, Profesor John Bargh. Dalam eksperimennya, beberapa relawan diundang untuk diberikan tugas menyusun kalimat dari kata-kata yang diacak (<em>scrambled sentence test</em>). Para relawan dibagi menjadi dua kelompok secara random, dimana satu kelompok sengaja diberikan kata-kata yang bernuansa negatif seperti : <em>marah, agresi, mengganggu, marah, kesal</em> dan sebagainya. Sementara kelompok satunya lagi diberikan rangkaian kata yang nuansanya positif semisal : <em>sabar, sopan, menghargai, respek, apresiasi</em>, dan lain-lain. Setelah selesai mengerjakan beberapa item soal, masing-masing kelompok diminta untuk mencari panitia untuk mendapatkan item-item soal lainnya. Ketika ketemu panitianya, semua relawan itu sengaja dipersulit, entah dengan tidak diacuhkan, dipontang-panting, bahkan ada panitia yang sibuk sendiri ngobrol dengan orang lain (padahal semua panitia cuma berakting, diluar sepengetahuan peserta eksperimen).</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata, peserta yang sebelumnya mendapatkan soal dengan kalimat-kalimat negatif jadi cenderung lebih emosional, cepat kesal dan marah kepada panitia. Sedangkan kelompok lainnya bisa lebih bersabar dan menahan diri, karena sebelumnya mereka berkutat dengan kalimat-kalimat yang banyak muatan kata-kata positifnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di lain kesempatan, eksperimen ini dilakukan dengan variasi yang berbeda kepada dua kelompok relawan yang lain. Kelompok pertama diberikan soal-soal kalimat yang penuh kata-kata seperti : <em>segar, awet muda, ceria, kekanakan, panjang umur</em>, dan sebagainya. Kelompok yang lain mengerjakan soal-soal merangkai kalimat yang sarat dengan kata-kata : <em>tua, keriput, tutup usia, lemah, sakit-sakitan,</em> dan lain-lain. Kali ini, setelah semuanya selesai mengerjakan, mereka diminta berjalan menuju ruangan lain melewati koridor yang panjang. Uniknya, orang-orang yang tadinya menjawab soal-soal bermuatan kata positif berjalan dengan langkah mantap dan ceria. Bagaimana dengan relawan-relawan yang mendapatkan soal-soal dengan kata-kata negatif? Mereka melewati lorong dengan langkah gontai, terseok-seok, dan lemas.</p>
<p style="text-align: justify;">John Bargh dan rekan-rekannya menyebut percobaan ini dengan nama <em>Priming Experiment</em>, membuktikan betapa powerfulnya  pengaruh kata-kata terhadap kinerja alam bawah sadar, yang pada gilirannya berdampak juga pada perilaku kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang, bayangkan saja orang yang melewati hari-harinya dengan tanki pikiran penuh dengan kata-kata negarif, entah diucapkan, didengar atau bahkan cuma sekedar dibaca. Hidupnyapun bakal dikaluti awan mendung terus, karena perilakunya terus-menerus memproyeksikan kata-kata negatif yang terhisap alam bawah sadarnya,<em> &#8220;hidupku kacau&#8221; &#8220;istriku tidak mencintaiku&#8221; &#8220;hutangku tidak akan pernah lunas&#8221;</em>. Tidaklah mengejutkan kalau orang ini lantas hanya berfokus kepada nasib buruknya terus dan melewatkan banyak hal yang mestinya bisa disyukuri. Saya senang menyebut fenomena ini sebagai <strong><em>&#8220;Junk words create junk life&#8221;.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Lain halnya dengan orang-orang yang rongga mentalnya penuh dengan  kata-kata positif. Bahkan di titik-titik kegetiran hidupnya yang paling pahitpun, orang-orang macam ini bisa tetap mengais-ngais kata-kata positif dari sela-sela air matanya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">&#8220;Bright words brighten life&#8221;</h3>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright" src="/images/depresi.jpg" alt="" width="176" height="245" />Belum lama berselang, seorang wanita yang saya kenal baik, sebut saja namanya ANA, mencurahkan kejadian tragis yang menimpanya. Setelah hampir 6 tahun membina hubungan dengan pasangannya, tiba-tiba saja Ana mendapatkan maklumat putus begitu saja tanpa alasan yang jelas. Langitpun terasa runtuh dihadapannya, meremas semua kantung persediaan air matanya. Untuk beberapa waktu, ia menjalani hari-harinya seperti seorang penjelajah gua tanpa peta dan senter. Gelap pekat seakan tak ada lagi harapan. Siapapun akan memahami kalau kesedihannya itu betul-betul berlapis-lapis dan tidak tertahankan. Kasarnya, opsi &#8220;minum baygon&#8221; adalah hal wajar yang akan dipilih segelintir orang-orang yang berada dalam posisinya itu. Sayapun sempat dag dig dug, mengkhawatirkan dampak peristiwa ini kepada jejaring kehidupannya, baik secara fisik maupun mental.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi kemudian, pada satu titik, kecemasan saya menguap. Ini terjadi begitu saya mulai menangkap percikan kata-kata positif dari Ana, <em>&#8220;Saya akan bisa melewatinya Pak. Saya kuat&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Lebih menakjubkan lagi, di tengah-tengah kenyataan pahit yang menjerat kesadarannya, Ana bahkan menopang dirinya sendiri dengan goresan-goresan puisi yang ia ciptakan sendiri. Salah satu guratan hatinya tertuang dalam kalimat-kalimat ini :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ricuh bergemuruh..</p>
<p style="text-align: justify;">Sakit menyengat..</p>
<p style="text-align: justify;">Mulut terkatup menahan luap..</p>
<p style="text-align: justify;">Berontak jerit tertahan.. Terkunci di langit2 rongga mulutku..</p>
<p style="text-align: justify;">Dan nafasku tersumbat..</p>
<p style="text-align: justify;">Bergetar sekujur tubuh seiring air mata yang mendera..</p>
<p style="text-align: justify;">Otakku penuh dengan  perih menjejal..</p>
<p style="text-align: justify;">Syaraf syaraf bersitegang dengan dahsyatnya..</p>
<p style="text-align: justify;">Emosi yg tak dinyana..</p>
<p style="text-align: justify;">Mematikan ragaku dan menghidupkan jiwa yang sekarat..</p>
<p style="text-align: justify;">Jiwa yang sempat tersungkur hancur..</p>
<p style="text-align: justify;">Terhanyut oleh suasana kematian yg mencekam.. </p>
<p style="text-align: justify;">Habiskan hirup sesakku!!..</p>
<p style="text-align: justify;">Matikan lolongan penuh sayat!!..</p>
<p style="text-align: justify;">Dan tibalah jiwaku pada perhentian abstrak..</p>
<p style="text-align: justify;">Bagai debu tak terlihat..</p>
<p style="text-align: justify;">Bagai jiwa tak terjangkau..</p>
<p style="text-align: justify;">Kudaki puncak knikmatan dr sakit, perih, dan getir penuh makna..</p>
<p style="text-align: justify;">Kuraih lelah tenaga yg tersisa..</p>
<p style="text-align: justify;">Dan kusisakan sadarku..</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hening dan kesunyian..</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kepalan tangan dan ringkukan badanku..</p>
<p style="text-align: justify;">Kukecap damai luar biasa..</p>
<p style="text-align: justify;">Aku lega..</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara luka teriring bahagia..</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu tak kusadari air mataku mereda..</p>
<p style="text-align: justify;">Jiwa ini..</p>
<p style="text-align: justify;">Menyentuh surga..</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/write.jpg" alt="" width="225" height="302" />Jika Anda peka dengan isi puisi ini, maka Anda akan menangkap bahwa Ana sangat sadar dengan realitas yang menggulungnya, dan sama sekali tidak menyangkal perasaan sakitnya itu. Namun di saat yang sama, Ana bisa menarik serpihan terang dari tumpukan penderitaannya dan mulai membangun kata-kata positif bagi dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Lambat laun, Ana benar-benar mendapatkan kekuatannya kembali dan mulai menata kembali hidupnya. Dan saya yakin seratus persen, dengan talentanya merangkai kata-kata bijak seperti itu, Ana akan menjadi wanita luar biasa yang bukan saja akan mencerahkan hidupnya sendiri tapi juga semua orang yang ada disekelilingnya. <em>What an amazing woman!</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan, kabar gembiranya, talenta ini juga dimiliki Anda dan saya sendiri, yakni kemauan dan kesanggupan kita untuk fokus dengan kata-kata positif sepanjang alur hidup kita. Maka tipsnya sederhana saja :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ucapkan kata-kata positif, dengarkan kata-kata positif, bacalah kata-kata positif, tulislah kata-kata positif, renungkanlah kata-kata positif.</strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Bukan berarti saya menyarankan Anda menolak mentah-mentah semua kata-kata negatif yang menerpa hidup kita, karena pada dasarnya mustahil kita bisa terhindar dari bombardir kata-kata negatif yang tiap hari kita terima. Yang terpenting, seberapapun banyaknya kata-kata negatif berseliweran setiap hari di mata dan telinga kita, jangan sampai kata-kata negatif ini melelehkan semangat hidup kita.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Berapa banyak kata positif keluar dari mulut Anda hari ini?</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/05/03/the-power-of-words/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Take critics with love</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/04/29/take-critic-with-love/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/04/29/take-critic-with-love/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2009 02:30:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[mind shop]]></category>
		<category><![CDATA[Take Critrics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[Dalam artikel sebelumnya, saya mengusung tema seputar memberikan kritik. Kritik yang dikemas dengan baik, plus disajikan dengan bumbu yang tepat akan terasa gurih di telinga penerimanya. Sebaliknya, kritik yang diberikan sembarangan &#8211; asal tembak, akan terasa menyakitkan, malah terasa menyayat harga diri.
Tapi, sadarkah Anda, ada juga orang-orang yang ketika dikritik dengan pedas, malah tetap bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="TEXT-ALIGN: justify"><img class="alignleft" src="/images/critic.jpg" alt="" width="225" height="334" />Dalam artikel sebelumnya, saya mengusung tema seputar memberikan kritik. Kritik yang dikemas dengan baik, plus disajikan dengan bumbu yang tepat akan terasa gurih di telinga penerimanya. Sebaliknya, kritik yang diberikan sembarangan &#8211; asal tembak, akan terasa menyakitkan, malah terasa menyayat harga diri.</p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Tapi, sadarkah Anda, ada juga orang-orang yang ketika dikritik dengan pedas, malah tetap bisa tersenyum. Bukan cuma itu, orang-orang itu dengan jitunya bisa mengolah kritikan tajam menjadi &#8220;pembelajaran&#8217;. Dari situ, mereka bisa beradaptasi dengan lincah dan mengembangkan kinerjanya berdasarkan kritik tajam tersebut. Merekalah yang saya sebut sebagai <strong>&#8220;TOP Critics Receiver&#8221;</strong>- penerima kritik yang TOP.</p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Kontras bedanya dengan <strong>&#8220;Poor Critics Receiver&#8221;</strong>, yakni orang-orang yang anti-kritik pedas. Tipe orang ini maunya cuma mendengar kritikan yang manis dan santun. Begitu menangkap kritikan tajam, kompor emosinya langsung menyala. Dan ujung-ujungnya protes keras tidak terima, atau bahkan menyiapkan pisau mental untuk balas dendam.<span id="more-175"></span></p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Coba bayangkan, seandainya Anda adalah seorang penyanyi yang lagi girang-girangnya unjuk gigi di panggung American Idol. Anda begitu yakin sudah menyanyi sepenuh hati, dan penontonpun gegap gempita bersorak-sorak menikmati alunan suara Anda. Tapi begitu juri memberikan opini, tahu-tahu SIMON menjotos Anda dengan kritikan yang super spicy alias tidak tanggung-tanggung pedasnya. Apa reaksi Anda??</p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Boleh jadi Anda tetap nyengir dan say <em>&#8220;thank you&#8221;,</em> kemudian mencari-cari kebenaran di balik kata-kata tajam kritikannya. Atau kebalikannya, mungkin Anda dalam hati cemberut dan mencanangkan tekad <em>&#8220;I hate SIMON forever!&#8221;.</em></p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Contoh sederhana ini cukup tepat menggambarkan perbedaan cara kita menanggapi kritikan pedas. Saya tidak menyalahkan salah satunya atau membenarkan yang lain. Perkaranya adalah soal memilih sikap kita, menentukan siapa diri kita sebenarnya di tengah hujaman kritik yang menyengat.</p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Nah, yang pasti, kritikan pedas jelas tidak membuat diri kita nyaman. Harga diri kita seakan di garuk-garuk, dan mudah sekali memicu badmood. Baik &#8220;TOP receiver&#8221; maupun &#8220;POOR receiver&#8221; sama-sama bisa merasakan penurunan suhu mood ini di kala telinga atau mata menangkap kritikan sengit. Justru tantangan sesungguhnya adalah : setelah menerima kritikan ini, apa yang dilakukan?</p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Saya mengusulkan tips <strong>TOP</strong> agar kita bisa belajar menjadi &#8220;TOP critics receiver&#8221; :</p>
<h3 style="TEXT-ALIGN: justify">Teliti makna di balik kata-katanya</h3>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Kritik pedas pastilah berisi kata-kata yang pilihannya tidak santun. Namun, ingatlah bahwa isi kritikan sebetulnya bukanlah pada pilihan katanya, tapi pada inti &#8220;PESAN&#8221;nya. Seringkali di balik peluru panas kritikan, ada pesan yang memang objektif. Tidak semua orang pandai merangkai kata, bukan? Kebanyakan orang-orang seperti ini tidak sadar pada pilihan kata-katanya sendiri. Oleh sebab itu, janganlah kita fokus dengan kata-katanya, apalagi sampai menimbun dendam kesumat. Di balik kalimat tidak sedap, &#8221; Kamu bedebah yang tidak becus merawat badan&#8221;, mungkin pesannya, &#8220;mandi jangan cuma seminggu sekali&#8221;.</p>
<h3 style="TEXT-ALIGN: justify">Olah pesan kritiknya</h3>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Setelah kita menangkap pesannya, tinggal kita bertanya pada diri sendiri : &#8220;Benarkah itu?&#8221; Kali ini dibutuhkan daya introspeksi yang kuat agar mata hati bisa terbuka dengan segala kemungkinan. Bisa jadi pesan kritikan itu benar. Atau bisa juga tidak benar. Dalam keadaan tidak yakin, sah-sah saja kita minta pendapat orang ketiga tentang kebenaran kritik tersebut. Mungkin saja pada akhirnya, Anda dan orang lain itu menyimpulkan, &#8220;kritikannya tidak benar&#8221;. Walau begitu, kita tetap harus selidiki lebih jauh kenapa kritikan itu bisa muncul. Apakah ada salah persepsi? Apa yang bisa kita lakukan untuk meminimalkan salah paham ini? Singkat kata, isi kritikan &#8211; entah benar atau tidak, tetap harus ditindaklanjuti dengan arif agar di kemudian hari kinerja kita semakin membaik. Seandainya sesudah pergumulan mental ini Anda setuju dengan pesan krikannya, maka tugas berikutnya tentu saja melakukan revisi sebisa mungkin tergantung dari energi dan kapasitas Anda.</p>
<h3 style="TEXT-ALIGN: justify">Pantau hasilnya</h3>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Setelah kita memoles kinerja berdasarkan kritikan yang kita terima, jangan lupa untuk selalu memantau hasilnya. Apakah kritikan yang sama masih terulang kembali? Ataukah ada kritikan baru yang berkembang? Dan mulailah Anda kembali dengan langkah TOP yang baru. Seringkali terjadi, kinerja kita harus melewati rangkaian TOP berulang-ulang, sampai raport kita bisa mendekati angka sempurna. Dalam kasus tertentu malah rangkaian TOP-nya tidak pernah berhenti. Itulah makna sejati dari pengembangan diri tiada henti, bukan?</p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify">Langkah TOP di atas hanyalah penggalan tips sederhana yang bisa kita lakukan. Masih ada segudang tips bijak lainnya yang bisa kita terapkan seputar dunia kritik-mengkritik ini. Yang terpenting adalah, jangan sampai kita menjadi orang yang alergi terhadap kritikan, karena saya selalu mengatakan, <em>&#8220;One among all possible reasons why people criticize us, is &#8230; love&#8221;.</em> Artinya, sejelek-jeleknya orang mengkritik kita, mungkin ada alasan cinta dan perhatian di baliknya. Nah, lain kali orang tua kita, anak kita, atasan kita, pasangan kita, atau bawahan kita memberikan kritik pada kita, &#8230;. tersenyumlah. </p>
<p style="TEXT-ALIGN: justify"><strong><em>Berapa kritikan hari ini Anda dapat?</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/04/29/take-critic-with-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Give critics with love</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/04/25/give-critics-with-love/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/04/25/give-critics-with-love/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Apr 2009 05:37:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[mind shop]]></category>
		<category><![CDATA[Give Critics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[
Apapun profesi kita, dimanapun kita berada, dan berapapun usia kita, tentu kita tidak bisa hidup dalam atmosfer yang &#8220;kedap kritik&#8221;. Baik langsung atau tidak langsung, pasti kita pernah disenggol kritik. Mulai dari belaian kritik kecil, misalkan komentar orang soal warna kaos kaki yang kurang cocok &#8211; sampai kritik yang rada menggigit, bahkan mencakar kedamaian kita, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/kritik.jpg" alt="" width="225" height="309" /></p>
<p style="text-align: justify;">Apapun profesi kita, dimanapun kita berada, dan berapapun usia kita, tentu kita tidak bisa hidup dalam atmosfer yang &#8220;kedap kritik&#8221;. Baik langsung atau tidak langsung, pasti kita pernah disenggol kritik. Mulai dari belaian kritik kecil, misalkan komentar orang soal warna kaos kaki yang kurang cocok &#8211; sampai kritik yang rada menggigit, bahkan mencakar kedamaian kita, contohnya saat orang mengatakan betapa tidak becusnya kita merampungkan pekerjaan. Malah kitapun sesekali (atau bisa jadi sering) adalah orang yang justru menerbangkan kritik kepada orang lain. Singkat kalimat, kritik adalah menu hidup yang pasti ada berseliweran dalam keseharian kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Konon. Kata &#8220;kritik&#8221; berasal dari bahasa Yunani <em><strong>&#8220;Krites&#8221;</strong></em> atau <strong><em>&#8220;Kritikos&#8221;</em></strong> yang artinya adalah orang yang mampu melihat dan menyampaikan penilaian. Lebih jauh lagi &#8220;kritik&#8221; lekat maknanya dengan pernyataan &#8220;tidak setuju&#8221; terhadap sesuatu. Itulah asal muasal kenapa kritik menjadi sesuatu yang sebisa mungkin kita &#8220;hindari&#8221;, karena kritik identik dengan pernyataan &#8220;belum berdamai&#8221;.<span id="more-131"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Saya boleh jadi setuju-setuju saja ketika mendengar orang berkomentar, <em>&#8220;I love critic&#8221;</em> atau <em>&#8220;Kritikan itu sehat&#8221;.</em> Tapi sesungguhnya, banyak juga orang yang jujur berkata, <em>&#8220;Saya sakit hati mendengar kritik dari dia&#8221;.</em> Kalau begitu, sebetulnya kritikan itu vitamin atau virus?</p>
<p style="text-align: justify;">Jawabannya adalah &#8220;depends on&#8221;, tergantung bagaimana kritikan itu disajikan. Gampangnya, saat kritikan dinilai manis dari segi 6W 1H-nya (Who, When, Why, Where, Whom, What, dan How) maka kritikan menjadi sedap dan enak dikunyah, atau istilahnya &#8220;kritikan yang konstruktif&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi bila kritikan disampaikan dengan tidak bijak, malah bisa terasa menikam dan meluluhlantakan kebahagiaan kita. Coba saja bedakan antara atasan yang bilang, <em>&#8220;Kamu ada baiknya membuat ulang kembali proposal ini, karena detail anggarannya masih belum lengkap&#8221;,</em> dengan atasan yang mengatakan, <em>&#8220;Kamu kayaknya gak ngerti bikin proposal. Ini sama sekali tidak bisa diterima manajemen&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh, ilmu mengkritik di mata saya adalah ilmu tingkat tinggi yang tidak sembarang orang bisa kuasai. Bahkan mereka yang punya jabatan ataupun titel mewah dibelakang nama mereka belum tentu bisa menguasai ilmu ajaib yang satu ini. Pasalnya, untuk menjadi master mengkrtitik, yang dibutuhkan adalah modal kebijaksanaan dan kematangan berpikir, yang notabene tergolong barang langka di dunia ini. Anehnya, bisa terjadi malah mereka-mereka yang tidak makan &#8220;sekolah&#8221; yang justru piawai merangkai kritikan yang sedap, enak didengar, sekaligus membangun. Jadi, seakan-akan, makin kita merasa diri kita lebih tua, lebih pengalaman, atau lebih pintar, justru lidah kita lebih rentan keseleo menyampaikan kritik yang alot dan pahit, bukannya membuat orang membangun diri, tapi malah membangun dendam kesumat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau begitu, marilah kita sejenak mempertimbangkan resep <strong><em>SEDAP</em></strong> saat mulai menggoyang lidah mengkritik orang lain :</p>
<blockquote style="text-align: justify;">
<ol>
<li><strong><em>S</em></strong>ampaikan kritik dengan lapisan pujian. Seorang ahli komunikasi bahkan mengatakan rumusan 1 kritik ditambah 2 pujian akan membuat orang menyimak opini kita dengan lega hati. Saya sering mengistilahkannya sebagai Critic Sandwich : 1 daging kritikan + 2 lapis roti pujian. <em>&#8220;Ibu lihat kamu sangat telaten mengerjakan laporan ini. Tapi sebisa mungkin kecepatannya ditambah ya supaya bisa dikumpulkan tepat waktu. Ibu yakin koq, buktinya laporan yang lain kamu bisa buat setor lebih cepat dari yang staff lainnya.&#8221;</em></li>
<li><em><strong>E</strong></em>nyahkan kalimat-kalimat negatif yang mengarah kepada orangnya. Saat kita mulai melabel karakter orang, itu akan menghalangi orang mendengarkan kita dengan respek. <em>&#8220;Kamu ini memang kurang disiplin. Masak telat terus kirim laporan&#8221;. </em>Cobalah lebih fokus dengan fakta kejadiannya, <em>&#8220;Laporan bulan Januari masih belum saya terima dari kamu. Yang Desember tahun lalu datangnya meleset seminggu. Saya khawatir keterlambatan ini terjadi lagi di bulan berikutnya&#8221;.</em></li>
<li><strong><em>D</em></strong>iksi yang spesifik. Artinya gunakan kata yang artinya spesifik dan jelas, bukannya istilah-istilah yang maknanya ambigu atau meluas. <em>&#8220;Bapak merasakan AURA NEGATIF dari kamu saat kamu menyampaikan alasan-alasan keterlambatan laporan ini&#8221;.</em> Lebih baik pilihlah kata yang lebih membumi di telinga, <em>&#8220;Alasan yang kamu sampaikan belum bisa saya terima, karena staff yang lain juga menggunakan jenis komputer yang sama tapi tidak pernah terlambat koq&#8221;.</em></li>
<li><strong><em>A</em></strong>rahkan pada solusi. Atau paling tidak kita bisa memberikan pemahaman apa yang sebaiknya terjadi. <em>&#8220;Nah, yang terpenting, lain kali kamu bisa serahkan laporan ini selambat-lambatnya tanggal 2 setiap awal bulan. Itu yang saya harapkan&#8221;.</em></li>
<li><strong><em>P</em></strong>ergunakan bahasa tubuh dan kontak mata yang baik, sehingga orang yang kita kritik tidak merasa diintimidasi atau merasa harga dirinya &#8220;dikuliti&#8221;.</li>
</ol>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja, resep ini bukanlah satu-satunya resep di dunia yang ada dalam hal memberikan kritik. Masih banyak point-point bijak lainnya yang bisa kita dapatkan dari banyak sumber perihal kritik mengkritik ini. Dan tentu jangan terlewat juga, menjadi orang yang menerima kritikpun butuh kebijaksanaan dan ilmu mental yang tidak kalah tingginya. Dalam artikel yang lain, saya akan mensharingkan topik ini juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Ingat saja prinsip utamanya, <strong><em>&#8220;Critics is all about making this world a better place. Be the one who engages them wisely&#8221;.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Semoga artikel ini juga bisa mengkritik Anda dengan sedap.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/04/25/give-critics-with-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>STRESS, siapa takut?</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/04/10/stress-siapa-takut/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/04/10/stress-siapa-takut/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2009 15:48:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[mind shop]]></category>
		<category><![CDATA[stress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Gonjang-ganjing drama resesi saham global tengah melanda dunia.
Taring tajam kisis finansial kolosal ini pelan-pelan sudah menancap juga di sendi-sendi perekonomian bangsa kita. Ceceran darahnya mulai mengucur di belantara korporasi besar di negara kita, dan lambat laun merembes juga ke skala yang lebih kecil. Berita-berita dan gossip-gossip penutupan pabrik-pabrik dan industri kelas besar sampai menengah di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/frantic.jpg" alt="" width="250" height="362" />Gonjang-ganjing drama resesi saham global tengah melanda dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Taring tajam kisis finansial kolosal ini pelan-pelan sudah menancap juga di sendi-sendi perekonomian bangsa kita. Ceceran darahnya mulai mengucur di belantara korporasi besar di negara kita, dan lambat laun merembes juga ke skala yang lebih kecil. Berita-berita dan gossip-gossip penutupan pabrik-pabrik dan industri kelas besar sampai menengah di kota-kota besar, termasuk Jakarta dan sekitarnya, sudah membuat gerah banyak kalangan. Terutama rakyat kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya dan Anda barangkali termasuk dalam skala &#8220;rakyat kecil&#8221; itu, yang terkena imbasnya. Meloncatnya harga-harga bahan baku dalam dollar memaksa para pelaku bisnis mengecangkan celana demi menjaga kelangsungan asap dapur perusahaan. Barang produksipun jadi harus &#8220;dimodifikasi&#8221; sedikit supaya harganya tidak perlu dinaikkan drastis. Misalnya saja dengan mengurangi proporsi bahan baku atau berat bersihnya secara tidak kentara. Di sisi lain, nilai komersil mata uang rupiah jadi mengkerut sedikit, membuat kemampuan belanja harian kita berkurang. Dan yang paling tragis adalah berkembang biaknya pengangguran dadakan akibat aksi pemecatan dan pengurangan pegawai dimana-mana.<span id="more-56"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kondisi begini, hal umum yang paling mungkin terjadi adalah .. STRESS. Stress karena tidak lagi bisa jajan atau jalan-jalan seperti biasa. Stress karena diomelin istri yang kekurangan duit belanja. Stress karena tidak bisa membiayai anak sesuai rencana. Stress karena harus bersaing lebih sengit. Stress karena tuntutan yang semakin tinggi dalam pekerjaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah mengapa, sejak nenek moyang kita, &#8220;stress&#8221; dianggap momok yang menakutkan dan harus dihindari. Kedudukan &#8220;stress&#8221; boleh jadi sama mengerikannya dengan &#8220;kolor ijo&#8221; atau &#8220;genderowo&#8221; di mata masyarakat kita. Dengan satu kata, orang sepakat &#8220;Jauhi Stress&#8221;.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Apa benar stress harus diberantas?</h3>
<p style="text-align: justify;">Mungkin banyak dari kita belum sadar, bahwa ternyata Tuhan menciptakan kita lengkap dengan software stress management systemnya. Software yang dimaksud adalah sistem fisiologi kita saat menghadapi situasi yang memicu ketidakseimbangan internal kita. Istilah ilmiahnya, stress adalah kondisi dimana kondisi homeostatis kita terganggu. Penyebabnya bisa 1001 macam, dan semua orang bisa dipastikan pernah mengalami stress baik levelnya ringan maupun berat.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara fisiologi, saat otak kita menerima signal gangguan, maka dengan segera sistem tubuh kita berada dalam kondisi &#8220;red alert&#8221;. Analoginya sama seperti stasiun pemadam kebakaran yang menerima telpon &#8220;kebakaran&#8221; lalu kemudian segera menyalakan alarm yang membangunkan semua crew petugas pemadam. Pada saat ini, otak mengirimkan perintah untuk mengeluarkan hormon cortisol yang memicu adrenalin. Akibatnya, pengolahan glukosa tubuh menjadi lebih cepat untuk menghasilkan energi tambahan yang diperlukan tubuh untuk memberikan reaksi. Dan bukan cuma itu, degup jantung dan pernafasan kitapun semakin efesien untuk membantu mempertajam indera kita. Makanya, di saat-saat kritis, tubuh kita mendadak seperti &#8220;gatot kaca&#8221; yang punya otot kawat balung besi dan siap bertempur. Atau bisa juga kondisi tubuh yang prima ini kita gunakan untuk berlari lebih cepat dari biasanya. Coba saja lihat seorang anak perempuan yang tiba-tiba bisa berlari cepat hanya karena gara-gara ada anjing rabies yang mengejar. Oleh karena itu tidaklah salah bila para ilmuwan menyebutkan hormon stress sebagai hormon &#8220;Flight or Fight&#8221;, alias bisa digunakan untuk bertempur lebih hebat atau kabur lebih gesit.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright" src="/images/stresscurve.jpg" alt="" width="300" height="258" />Dengan kenyataan ini, terbukti bahwa kondisi stress justru bermanfaat supaya tubuh dan pikiran kita bisa &#8220;berolahraga&#8221; untuk mencapai kondisi peak performance kita. Level stress yang dosisnya tepat malah membuat kita bisa menemukan potensi-potensi diri kita yang sebelumnya bahkan kita tidak pernah tahu. Sudah sejak lama, penelitian di bidang psikologi dan organisasi mencapai kesimpulan bahwa dampak stress terhadap performance kita bisa digambarkan dalam kurva normal. Dengan tingkat stress yang optimum, kinerja kita akan meningkat. Tapi di sisi lain, stress yang terlampau berkepanjangan dan berat justru akan menurunkan kualitas kinerja kita. Secara fisiologis memang terbukti, bahwa semburan hormon cortisol yang berlebihan akan mempengaruhi sistem imun tubuh sehingga kita jadi lebih rentan terkena penyakit.</p>
<p style="text-align: justify;">Coba bayangkan, seorang sopir yang terbiasa menyetir mobil Roll Royce suatu ketika tiba-tiba dipindah tugas, dan terpaksa harus mengendarai mobil truk gandeng yang super berat. Tangan dan kakinya mulai pegal-pegal saat awal-awal menyupiri truk itu. Namun lama-lama, otot-ototnya makin terlatih dan bertambah mahir menggoyang setir truk yang sangat bongsor. Lalu, begitu dia dipindah tugas lagi mengendarai mobil pickup, si supir ini tersenyum-senyum dan bilang, &#8220;Mobil truk gede saja Saya sudah biasa, apalagi mobil pickup yang lebih kecil ini!&#8221; Sementara itu rekan kerjanya yang dari dulu terlalu nyaman bertugas membawa mobil Roll Royce, cuma bisa uring-uringan begitu mendapatkan tugas membawa mobil pickup. Dia mengeluh, &#8220;Yahh, berat sekali rasanya harus membawa mobil pickup. Setirnya berat, koplingnya manual, joknya keras, ditambah per rodanya juga atos!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Perumpamaan supir-supir tadi jelas menggambarkan kehidupan kita. Ada yang pernah menjalani stress, ada juga yang nyaman-nyaman saja hidupnya tidak pernah kena tekanan. Begitu roda kehidupan berguncang, mungkin mereka yang otot stressnya terlatih akan menganggapnya sebagai tantangan biasa. Tapi yang tidak terlatih akan menganggapnya sebagai musibah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesimpulannya, mari kita berpikir ulang lagi soal bahaya &#8220;stress&#8221; dalam kehidupan kita. Boleh jadi stress dalam batasan tertentu harus kita ciptakan sendiri, supaya otot-otot juang kita terus berkembang. Dan seandainya kondisi stress menimpa kita, jangan lagi bikin bulu kuduk kita berdiri dan membuat kita lemah lunglai. Jadikan stress dan beban hidup kita sebagai peluang kita untuk merangkai sukses hidup yang lebih baik. Entah itu deadline yang mepet, kondisi finansial yang berantakan, krisis hubungan personal atau target sales yang tinggi, semuanya bukan lagi untuk ditakuti.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Semoga Anda tidak bertambah stress membaca artikel ini.</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/04/10/stress-siapa-takut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

