<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>www.maxsandy.com &#187; everyday life</title>
	<atom:link href="http://www.maxsandy.com/category/thoughts-life/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.maxsandy.com</link>
	<description>Max Sandy Official Website</description>
	<lastBuildDate>Sat, 29 Oct 2011 03:30:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Serve the Server</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2011/10/25/serve-the-server/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2011/10/25/serve-the-server/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 10:41:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[everyday life]]></category>
		<category><![CDATA[Serve Back]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=567</guid>
		<description><![CDATA[Ijinkan saya mengakui salah satu dosa yang saya perbuat di bulan Oktober ini. TKP-nya terjadi di restoran Pizza salah satu Mall yang ada di pojokkan Jakarta Barat. Waktu itu sambil hilir mudik belanja ransum bulanan dan gosok-gosok mata, saya dan istri menyelusup masuk ke satu resto Pizza di situ. Kebetulan istri saya lagi ngidam-ngidamnya pingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ijinkan saya mengakui salah satu dosa yang saya perbuat di bulan Oktober ini. TKP-nya terjadi di restoran Pizza salah satu Mall yang ada di pojokkan Jakarta Barat. Waktu itu sambil hilir mudik belanja ransum bulanan dan gosok-gosok mata, saya dan istri menyelusup masuk ke satu resto Pizza di situ. Kebetulan istri saya lagi ngidam-ngidamnya pingin nyerobot salad yang ada di situ.<span id="more-567"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, seperti Anda duga, begitu kami duduk maka segeralah salah satu pramusajinya datang mendekat. Wajahnya sudah disetel ramah. Kepalanya sudah siap dengan dialog <em>“service excellent”</em> yang sudah dilatihkan selama bertahun-tahun. Matanya dibuat selentik mungkin, digabung dengan warna lipstik yang mengkilat. Dan, akhirnya dengan cekatan dan lancar, meluncurlah serentetan kalimat ramah yang durasinya kurang lebih satu menitan. <em>“Selamat malam, saya &#8230;.. (nama disensor), silakan ini menunya Pak. Bulan ini kita punya paket spesial &#8230;. bla &#8230;..bla &#8230;..bla”.</em> Anda mungkin bisa mengira-ngira rentetan kalimat berikutnya. Andapun bisa menebak bagaimana pramusaji ini dengan setulus mungkin memberikan pelayanannya yang terbaik. Ini betul-betul ciri khas yang Anda otomatis dapatkan kalau berada di restoran Pizza yang satu ini. Yang jadi pertanyaan saya, tahukan Anda reaksi saya saat itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, di sinilah tindakan kriminal saya terjadi. Saya pada detik-detik itu malah membuang muka saya dengan cueknya, sambil bermain-main dengan botol saus cabe yang ada di atas meja. Istri saya sibuk menyusuri buku menunya ketika si Mbak Pramusaji ini menjelaskan dan menawarkan jasa servisnya. Istri Saya kemudian berkata, <em>“Oke Mbak, kita pilih-pilih dulu ya menunya. Mungkin satu menit lagi kita baru order.” </em>Dengan anggukan ramah, si Mbak Pramusaji ini merespon, <em>“Baik, jika sudah siap, tinggal panggil saya aja ya Bu. Terima Kasih.” </em>Diapun beranjak dari situ dan lenyap dari pandangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba kepala saya seperti digetok palu dua ton. Seperti ada suara kecil berteriak-teriak di dalam tempurung kepala saya yang kecil ini, <em>“Heyyyy, Sandy!! Sadar gak sih kamu barusan? Selama si Mbak tadi jelasin dengan begitu ramahnya &#8230;.. kemana mukamu?”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan resmilah hari itu saya membuat dosa kecil saya. Dosa kecil yang juga dilakukan jutaan orang di dunia ini &#8230;&#8230;.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Appreciate the good service person</h3>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/serve.jpg" alt="" width="225" height="301" />Bayangkan kehidupan satu hari seorang <em>service person</em>, entah dia seorang pramusaji, spg, teller bank, atau apapun. Dari detik pertama tempat kerjanya buka pintu gerbang sampai tutup pintu di sore atau larut malam, seorang petugas service berarti sudah ratusan kali (ribuan mungkin) mengulang-ngulang potongan-potongan kalimat sambutan, layanan, dan kalimat penutup yang sudah katam dihafal di kepalanya. Itu artinya dibutuhkan energi dan ketulusan luar biasa supaya kalimat-kalimat itu bisa tetap terdengar hangat di telinga customernya. Bagi kita yang baru datang, kalimat itu memang baru kita dengar. Tapi buat si “pelayan”, bisa jadi itu adalah omongan yang kesekian ratus kali di hari itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Terima kasih Pak kunjungannya. Silakan datang kembali &#8230;”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Mari Pak saya tunjukkan menu istimewa kita hari ini &#8230;”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, bisa dibayangkan betapa seorang petugas service punya hati yang luar biasa berlimpah ruah kalau bisa melayani kita dengan derajat kehangatan yang tinggi. Sungguh bukan hal gampang!</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu di restoran Pizza tadi saya menyadari kalau saya tidak menghargai kelimpahan hati sang pramusaji. Apa sih susahnya balik menatap hangat si Mbak yang baik hati itu, membalas senyumannya, atau sekedar memberikan anggukan simpati?</p>
<p style="text-align: justify;">Kita seringkali meributkan layanan buruk yang kita terima. Tapi saat kita sudah dilayani dengan baik, apa balasan kita buat mereka? Apakah hati kita sudah terlalu dingin atau darah kita terlalu biru warnanya untuk mau bersedia membalas ketulusan mereka? Ayolah, mereka tidak butuh banyak koq dari kita. Asalkan kita bisa balik menatap matanya dengan hangat, itu sudah cukup melegakan hati orang yang melayani kita. Ucapan “terima kasih” yang mengalir dalam dari kerongkongan kita sudah bisa melunasi kelimpahan hati sang “pelayan” kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, mulai sekarang, bukan cuma para “pelayan” yang harus menyiapkan mental <em>“service excellent”</em> ketika memergoki Anda. Andapun harus mengambil ancang-ancang yang sama kalau menjumpai “pelayan” yang tulus dan hangat. Jangan lagi berlagak jadi orang penting pencet-pencet BB saat orang melayani Anda dengan sepenuh hati. Jangan buang mata Anda ke tempat lain saat ada pramusaji sedang semangat-semangatnya menawarkan menu restorannya hari itu. Berikanlah juga atensi Anda buat dia. Hargailah <em>passion</em>-nya. Maka, Anda akan terhindar dari dosa kecil Anda setiap hari. Semoga suatu hari, di dunia ini bakal ada seorang pelayan restoran yang pulang ke rumahnya dan memasukkan Anda dalam doanya sebelum tidur, <em>“Terima kasih Tuhan, hari ini Engkau telah mengirimkan orang yang mau tulus dan balik tersenyum hangat buat pelayanan yang saya berikan &#8230;.. “</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Be nice &#8230;.</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2011/10/25/serve-the-server/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Heboh!</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2010/06/10/523/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2010/06/10/523/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 19:42:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[everyday life]]></category>
		<category><![CDATA[Peter Porn]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=523</guid>
		<description><![CDATA[Gatal rasanya kalau saya tidak ikutan nimbrung meramaikan bursa komentar film box office bulan ini : The Ariel Peter Porn, yang sedang heboh-hebohnya sekarang ini. Kebetulan sekali saya dengan tim di HR Excellency sedang getol-getolnya mempersiapkan pagelaran pelatihan kecerdasan emosional untuk orangtua dan remaja di awal bulan depan ini. Jadinya klop sekali kalau momentum meledaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/skulbig.jpg" alt="" width="269" height="253" />Gatal rasanya kalau saya tidak ikutan nimbrung meramaikan bursa komentar film box office bulan ini : <strong>The Ariel Peter Porn</strong>, yang sedang heboh-hebohnya sekarang ini. Kebetulan sekali saya dengan tim di HR Excellency sedang getol-getolnya mempersiapkan pagelaran pelatihan kecerdasan emosional untuk orangtua dan remaja di awal bulan depan ini. Jadinya klop sekali kalau momentum meledaknya berita heboh video adegan syur ini dijadikan <em>appetizer</em> untuk menyadarkan kita akan pentingnya “membangunkan” kesadaran EQ remaja, sekaligus para orangtuanya juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Kayaknya, dari mulai pojokan warung tegal sampai sudut-sudut kantor mentereng, semuanya ribut mengomentari video “maknyus” itu. Kontan saja, film ajaib yang durasinya cuma beberapa menit itu mencelat jadi komoditi panas minggu ini. Sampai-sampai ada yang nekad membongkar celengan demi mendapatkan koleksi lengkap videonya. Acara-acara infotainment sampai talkshow bergengsi pun berbondong-bondong meliput berita ini dan beradu jam tayang. Pokoknya, dijamin meriah, seru dan menegangkan. Untuk sejenak orang-orangpun rela melupakan urusan isu KPK dan FIFA demi <em>hot news</em> yang satu ini.<span id="more-523"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tapi lihatlah baik-baik apa yang menjadi tren “opini dan reaksi” orang-orang terhadap peristiwa ini. Gravitasi mental yang terbentuk membuat orang-orang punya pendapat kolektif yang mirip-mirip. Selain mengutuk aktor, aktris dan kaki tangannya, masyarakat juga kompak melakukan gerakan penggerebekan demi memblokade beredarnya video ini. Yah tentu saja sasarannya adalah sarang dan markas besar tempat nongkrong remaja : <strong>SEKOLAH ! </strong>(Sejauh ini saya belum dapat berita ada penggerebekan dilakukan oleh boss ke karyawan-karyawannya. Bisa jadi perlakuannya sama dengan film-film PG-13nya Amerika mungkin, alias di  atas 17 thn  bebas beli tiket nonton <img src='http://www.maxsandy.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ). Dan siapapun yang kepergok punya filenya di dalam HP atau laptop, pasti langsung diseret ke meja hijau sekolah, dicap bandel – preman – asusila atau apapun julukannya. Serta merta orangtua yang dikabari kalau anaknya masuk “bui” sekolah langsung migren dan meriang. Dan bisa ditebak, mereka segera memberlakukan siaga merah, melarang anak-anaknya men-download, mengintip, ataupun sekedar membayangkan seperti apa wujud filmnya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Parents, let’s wake up first before you can wake up your children</h3>
<p style="text-align: justify;">Sadarkah kita kalau di abad digital ini kita harusnya berhenti menganggap remeh anak-anak kita? Apapun yang kita lakukan untuk menghentikan arus informasi kepada anak-anak kita justru akan meningkatkan kecepatannya! Ini persamaan yang aneh memang, tapi apa boleh buat, itulah kenyataan pahit yang harus kita terima. Begitu anak-anak kita sudah dihantui rasa ingin tahu dan penasaran terhadap sebuah informasi, maka percuma saja kita memeras keringat dan darah membendung informasi itu.  Satu-satunya cara yang Anda bisa lakukan untuk mengisolasi anak Anda dari informasi adalah mengurung anak Anda di dalam kamar tanpa satupun alat komunikasi selama bertahun-tahun. Yah itupun kalau Anda cukup tega dan bersedia dipanggil Kak Seto sewaktu-waktu. Tapi begitu Anda melepas anak Anda di dunia bebas bersama  teman-temannya, maka seberapapun hebatnya Anda melarang anak Anda, buah-buah hati Anda akan menemukan “jalan”nya sendiri untuk mendapatkan informasi. Saya jadi teringat ucapan <strong>Malcolm</strong>, Sang Profesor di bidang disiplin ilmu Chaos dalam film Jurrasic Park yang mengatakan <strong><em>“Life finds a way”</em></strong> saat ia menegaskan kalau Dinosaurus akan menemukan caranya untuk survive dan berkembang biak walaupun manusia berusaha untuk mengendalikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yah, anak-anak dan remaja kita adalah “dinosaurus” kecil, yang kekuatannya tidak boleh kita remehkan. Mereka selalu menemukan jalan untuk mendapatkan informasi yang mereka mau, entah diijinkan atau tidak oleh orangtuanya. Hormon pubertas dan rasa penasaran adalah dua panah pasopati yang tidak bisa dibendung kesaktiannya hanya sekedar dengan larangan dan penggerebekan.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah saatnya paradigma<strong> “Melarang dan Mengawasi” </strong>digantikan dengan paradigma <strong>“Mendampingi dan Memahami”</strong>. Sudah waktunya kita para orangtua menyisihkan seragam algojo dan sipir penjaranya, dan mengenakan busana baru sebagai “sahabat” anak-anak mereka. Alih-alih berkata, <em>“Jangan coba-coba kamu mendownload video itu ya!!”</em> mungkin kita bisa melakukan pendekatan yang lebih holistik, mengajak anak kita tukar pikiran, <em>“Nak, siapa tahu kamu sudah terlanjur pernah nonton video itu sama teman-temanmu, apa pendapat kamu? Yuk kita ngobrol. Papa pingin tahu komentar kamu …… “.</em> Bayangkan, obrolan seperti itu bisa dijadikan moment bagus buat orangtua menyuntikan edukasi seks, siraman rohani, dan tentu saja sekalian merapatkan tali kasih antara anak dan handaitolannya. Plus, anak kitapun jadi tumbuh rasa percaya dirinya karena merasa sudah diperlakukan seperti anak yang sudah matang.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu kita mengijinkan jari-jari anak kita menyentuh Hp, Blackberry, laptop, internet, dan remote control maka mereka akan melacak apapun informasi yang mereka mau. Dan jangan disangka, mereka bisa sangat smart di bidang IT dibanding kita orangtuanya. Karena itulah, <em><strong>Stop being Stopper, Start being Starter</strong></em> …. Marilah jadi orangtua yang hobinya bukan bilang “STOP!” … karena Anda tidak pernah bisa sungguh-sungguh menyetop. Dan mulailah sering mengatakan <em>“Ayo nak, kita START membicarakan macam-macam yang kamu alami dan rasakan…”</em> Malah, jika Anda beruntung, dengan menjadi STARTER, justru Anda punya kesaktian untuk men-STOP secara jitu apapun yang Anda anggap buruk bagi masa depan anak Anda. Aneh, bukan?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ya itulah dunia PARENTING, dunia yang aneh bin ajaib dan menarik.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2010/06/10/523/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Let&#8217;s DOWNDATE??</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/10/27/lets-downdate/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/10/27/lets-downdate/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 09:57:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[everyday life]]></category>
		<category><![CDATA[Downdate]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=434</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Pak, kok lama sekali tidak ada artikel baru di blog Bapak. Update donk&#8221;
Banyak sahabat-sahabat mulai nyentil-nyentil dan mencolek saya dengan pertanyaan begitu belakangan ini. Maklum, bulan liburan kemarin ditambah dengan minggu-minggu menegangkan belakangan ini membuat saya rada sedikit memalingkan wajah dari web saya sendiri. Tapi lama-lama saking fasihnya telinga saya mendengar pertanyaan itu, saya jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><em><img class="alignleft" src="/images/downdate.jpg" alt="" width="225" height="164" />&#8220;Pak, kok lama sekali tidak ada artikel baru di blog Bapak. Update donk&#8221;</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Banyak sahabat-sahabat mulai nyentil-nyentil dan mencolek saya dengan pertanyaan begitu belakangan ini. Maklum, bulan liburan kemarin ditambah dengan minggu-minggu menegangkan belakangan ini membuat saya rada sedikit memalingkan wajah dari web saya sendiri. Tapi lama-lama saking fasihnya telinga saya mendengar pertanyaan itu, saya jadi naksir dengan kalimat &#8220;UPDATE DONK&#8221;.<span id="more-434"></span> Boleh dibilang, kalimat itu seolah sudah jadi aji-ajian yang sudah katam diserukan orang-orang kalau lagi kepingin memotivasi orang lain supaya bisa bertumbuh. Dari mulai update informasi, update sistem, update software, sampai urusan lisptick dan bedakpun perlu di update juga. Jadinya orang-orang gampang kena alergi kalau dicap &#8220;TIDAK UPDATE&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang bisa naik tingkatan, bisa lebih baru, atau bisa lebih canggih &#8211; otomatis punya tempat terhormat dan dianggap &#8220;berkembang&#8221; di mata orang-orang. Dan akhirnya dorongan untuk meng-update diri itu sudah menjadi semacam agama tersendiri di masyarakat kita. Dan itulah alasannya kenapa orang-orang jadi tidak pernah peduli dengan lawan kata &#8220;UPDATE&#8221; &#8211; yang saya sendiri aja gak pernah tahu apa lawan katanya itu. Coba anda tanya orang-orang di sebelah Anda, apa lawan kata &#8220;UPDATE&#8221;?</p>
<p style="text-align: justify;">Ijinkan saya memperkenalkan kata &#8220;DOWNDATE&#8221; yang kedengarannya rada jayus dan bikin geli telinga Anda. Apapula itu?? Berhubung masih belum distandarisasi dalam tata bahasa kita, gampangnya &#8220;DOWNDATE&#8221; berarti turun kelas atau turun hirarki. Alih-alih kita belajar sesuatu yang baru, kita malah belajar sesuatu yang lama. Bukannya menambah informasi, kita malah memangkas informasi dan menfilternya. Downdate adalah proses dimana kita berhenti maju, dan mundur menuntaskan tahapan-tahapan yang sudah kita lewati.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat sepi mengupdate artikel web di bulan liburan puasa dan lebaran, saya sibuk meng-downdate rumah saya. Maksudnya bukan menambah perabot dan perkakas rumah, tapi malah membongkar dan menata-nata yang lama. Membereskan gudang, menguras bak tampungan, mengikis pernak-pernik rumah yang sudah tidak berguna lagi, dan sebagainya. Termasuk juga merapikan file-file hardisk komputer yang awut-awutan sekian bulan. Bisa jadi kalau sampai saya ditanya tetangga &#8220;Wah, rumahnya di UPDATE ya?&#8221; otomatis bakal saya jawab spontan &#8220;Wah, bukan di update, malah saya downdate&#8221;.</p>
<h3 style="text-align: justify;">The beauty of DOWNDATING</h3>
<p style="text-align: justify;">Pikir-pikir, kasihan juga si downdate ini. Kata-katanya asing, tidak mentereng, dan bikin bingung. Namun kalau kita mau sejenak saja merenung-renung, mungkin downdate akan sama ampuhnya dengan update jika tahu bagaimana memanfaatkan dan mengoptimalkannya. Dan sesungguhnya &#8220;downdate&#8221; punya padanannya sendiri, diantaranya adalah kalimat-kalimat &#8220;Back to BASIC&#8217;, &#8220;Learn the Fundamental&#8221;, dan &#8220;Contemplation&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Lupakan dulu menambah jumlah tim penjualan Anda, dan pikirkan kemungkinan merapatkan barisan di dalam dan menggenjot aspirasi dasar bersama. Jangan muluk-muluk memborong sistem telekomunikasi baru di kantor, dan konsentrasi dulu dengan mengoptimalkan skill interpersonal para karyawan. Tidak usah beli PS2 dulu buat bikin anak-anak Anda riang, tapi luangkan waktu lebih banyak mendongeng buat mereka. Jangan dulu update kekasih Anda dengan anting-anting elit, tapi pasang dulu telinga Anda lebih baik mendengarkan curhatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Konyol sekali kalau suatu ketika kita terbentur masalah runyam bukan karena kita kurang advanced atau kurang canggih, tapi semata-mata karena kita lupa hal-hal dasar yang sepele. Rumah tangga porak poranda, hasil sales melorot, moral tim kerja berantakan, semuanya bisa terjadi bukan karena Anda malas meng-update, tapi lupa untuk &#8220;downdate&#8221;. Jangan sampai Anda mengalami nasib yang sama dengan tim NASA yang sibuk meng-update pesawat ulang alik challenger tapi tidak mempedulikan hal-hal dasar, sehingga berujung tragis dan menanggung malu dengan meledaknya pesawat  itu cuma gara-gara persoalan kecil yang dianggap sepele. Banyak sekali kita dikelilingi orang-orang jenius yang rajin meng-update dirinya, tapi sedikit sekali kita menemukan orang-orang bersahaja yang selalu ingat untuk meng-downdate kehidupannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Siapapun Anda, ada baiknya mulai sekarang mengantongi kata &#8220;Downdate&#8221; ini lebih rapat dalam kehidupan Anda. Sering-seringlah berpikir mundur, dan mulai bertanya-tanya &#8220;Adakah hal-hal dasar yang saya lewati?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dan siapa tahu Anda bakal terkejut menyadari betapa kehidupan Anda bisa jauh lebih bahagia, bukannya karena Anda sering &#8220;UPDATE&#8221; melulu &#8230;&#8230;. Tapi juga terampil mengeluarkan jurus &#8220;DOWNDATE&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Happy Downdating!</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/10/27/lets-downdate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Legacy of Mbah Surip</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/08/08/the-legacy-of-mbah-surip/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/08/08/the-legacy-of-mbah-surip/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2009 08:48:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[everyday life]]></category>
		<category><![CDATA[Mbah Surip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=355</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Tak gendong &#8230; kemana-mana&#8221;
Dari mulai warteg-warteg langganan supir bajaj sampai mal-mal di kawasan elit tidak mau ketinggalan memasang ultra hitnya Bang Surip. Dari mulai anak-anak di kompleks kumuh sampai boss-boss berdasi di kantoran juga berlomba-lomba menyiulkan lagu heboh ini. Sampai akhirnya orang-orang shock mendengar berita kalau Mbah Surip sudah tiada. Sengatan beritanya sampai mengalahkan wanginya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/Surip.jpg" alt="" width="225" height="339" /><strong><em>&#8220;Tak gendong &#8230; kemana-mana&#8221;</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dari mulai warteg-warteg langganan supir bajaj sampai mal-mal di kawasan elit tidak mau ketinggalan memasang ultra hitnya Bang Surip. Dari mulai anak-anak di kompleks kumuh sampai boss-boss berdasi di kantoran juga berlomba-lomba menyiulkan lagu heboh ini. Sampai akhirnya orang-orang shock mendengar berita kalau Mbah Surip sudah tiada. Sengatan beritanya sampai mengalahkan wanginya berita Michael Jackson.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh, Mbah Surip sudah menjelma jadi legenda hanya dalam tempo sekelibat. Saat kali pertama saya tidak sengaja nonton video klip &#8220;Tak Gendong&#8221; saja, saya tidak kepikiran kalau lagu ini adalah lagu sakti mandraguna &#8211; Saking lagu ini terlalu apa adanya. Namun tokh akhirnya saya kesirep juga oleh keunikan lagu ini. Saat saya butuh hiburan swalayan atau dikala pingin membuat orang lain tersenyum, dengan menyanyikan syair pertama &#8220;Tak gendong&#8221; saja dampaknya terbukti ampuh. Dan akhirnya, resmilah saya bergabung dengan jutaan orang lainnya yang mensyukuri kehadiran Mbah Surip di khasanah kekayaan budaya bangsa kita.<span id="more-355"></span></p>
<h3 style="text-align: justify;">The Power of Simplicity</h3>
<p style="text-align: justify;">Memang Mbah Surip akhirnya digendong juga kembali ke pangkuan Sang Ilahi. Tapi fenomenanya masih diributkan dan jadi bahan obrolan banyak kalangan. Kekuatan lagu &#8220;Tak Gendong&#8221; dan &#8220;Bangun Tidur&#8221; begitu dahsyatnya, sampai royalti miliaran rupiah mengalir lancar ke dalam topi gimbalnya Mbah Surip. Entah apapun misteri yang ada di balik kepergian Mbah Surip yang terkesan terlalu &#8220;mendadak&#8221;, saya bolak-balik merenungkan esensi di balik sukses yang telah diraih beliau. Dan selalu kesimpulan pribadi saya sama : <strong><em>it&#8217;s the power of simplicity!</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di tengah himpitan intrik sosial politik yang memborbardir kehidupan masyarakat Indonesia &#8211; orang menjadi haus akan sesuatu yang sederhana, polos, dan apa adanya. Seolah kita sudah terlalu kenyang dengan segala topeng sosial, ke&#8221;jaim&#8221;an, dan kepura-puraan yang sudah jadi penyakit kronis dalam masyarakat kita. Aturan sekolah semakin aneh, tuntutan orangtua makin tidak masuk akal, SOP di perusahaan bertambah rumit, dan seterusnya. Kitapun bertambah mumet, dan mulai mencari-cari celah untuk sejenak bisa lari dari segala kerumitan hidup. Tapi bahkan untuk itu saja, kita dijegal lagi oleh keruwetan sarana hiburan yang ada. Mau main Playstation tidak ada duit, mau curhat di fesbuk tidak punya komputer, mau ke dufan tidak punya waktu. Orang semakin butuh hiburan yang instan, gampang diduplikasi dan murah meriah.</p>
<p style="text-align: justify;">Di saat-saat kritis itulah, tiba-tiba Mbah Surip tampil di tengah-tengah kita. Ia menjadi jawaban buat semua kelelahan hidup kita. Dengan lagunya yang sederhana, lucu dan gampang diingat &#8211; Mbah Surip berhasil membawa kita sejenak menjadi &#8220;diri sendiri&#8221; lepas dari segala lapisan topeng jaim kita. Lagu &#8220;Tak Gendong&#8221; tidak berat dikantong &#8211; tidak juga berat di otak, namun efek menghiburnya benar-benar merasuk sampai tulang sumsum kita. Dan daya penetrasi lagu Mbah Surip tembus ke segala lapisan dan umur, sampai anak-anak umur 3 tahunan saja cuma perlu waktu 5 menit untuk menghapal lagu Tak Gendong. Betul-betul karya seni yang brilian!</p>
<h3 style="text-align: justify;">Be a simple person like Mbah Surip</h3>
<p style="text-align: justify;">Lagu Tak Gendong bukan cuma ajaib di lirik dan nadanya. Lagu itu ajaib juga di penciptanya, karena Mbah Surip adalah sosok yang sama bersahajanya dengan semua lagu ciptaannya. Ia memilih tetap merangkul kesederhanaannya, walaupun kantongnya sudah setebal selebritis-selebritis lainnya. Alih-alih tampil mentereng di balik setir mobil bermerk, Mbah Surip lebih suka naik sepeda motor kemana-mana. Gaya bicaranya juga tidak secanggih para artis, apalagi politikus. Kostumnyapun bisa dibilang biasa-biasa saja untuk ukuran artis seheboh dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, justru karena itu semua, kita semakin bersimpati kepadanya. Kesahajaanlah yang membuat Mbah Surip lekat di hati masyarakat Indonesia. Barangkali ia mewakili mimpi banyak orang yang mendambakan bisa tampil menjadi diri sendiri tapi sekaligus bisa dicintai. Bayangkan saja betapa lelahnya kita setiap hari harus menabung rupiah-demi rupiah untuk membeli Blackberry hanya agar bisa merebut hati orang. Betapa capeknya kita harus dandan  modis dan bergaya ngobrol segala trend demi bisa diterima oleh lingkungan pergaulan kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin kita tidak keberatan dengan segala hal itu, tapi bisa jadi alam bawah sadar kita semakin letih dengan itu semua.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau lagu Tak Gendong dan Mbah Surip berhasil memuaskan dahaga alam bawah sadar jutaan orang Indonesia dengan kesederhanaannya, maka kitapun bisa melakukan hal yang sama bukan? Lihatlah orang-orang di sekeliling Anda, mereka juga mungkin lelah secara mental dan mendambakan penerimaan tak bersyarat. Mereka juga menantikan sentuhan yang bersahaja dari Anda. Istri Anda mungkin membayangkan jalan-jalan bareng di Mal sambil pegangan tangan. Anak Anda ingin didongengi sebelum tidur. Anak buah Anda mau sekali-kali diajak ngopi bareng dan ngobrol santai dengan Anda. Sahabat-sahabat Anda ingin ditelpon sekedar &#8220;say hi&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Apapun bentuk kesederhanaan yang Anda pilih untuk menyentuh hati orang lain, maka itu akan menjadi hal yang besar di mata mereka. Seperti Mbah Surip yang mencurahkan hatinya untuk tiap potongan nada yang diciptakannya, maka kitapun bisa memancarkan totalitas cinta kita di setiap tindakan sederhana yang kita lakukan buat orang lain. Sebagaimana pernah dikatakan oleh <strong>Mother Teresa</strong>, <em>&#8220;Melakukan hal-hal besar jauh lebih mudah dibandingkan melakukan hal-hal kecil tapi dengan hati yang besar&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Maka patutlah kita menganggukan kepala kita dan mengucapkan terima kasih untuk warisan besar yang ditinggalkan Mbah Surip buat kita semua : <strong>sederhana itu indah.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Sederhana, bukan?</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/08/08/the-legacy-of-mbah-surip/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seberapa biru darah Anda?</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/07/25/seberapa-biru-darah-anda/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/07/25/seberapa-biru-darah-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 07:04:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[everyday life]]></category>
		<category><![CDATA[Blue Blood]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=334</guid>
		<description><![CDATA[Bertahun-tahun lalu, saya dengan tim HR Excellency diundang ke Jogja untuk menggelar satu acara training untuk publik di sana. Seru dan menarik -  ternyata orang Jogja yang kelihatannya kalem dan adem-adem ternyata bisa gegap gempita juga. Tapi yang tidak kalah memorable adalah manakala saya dan tim diajak jalan-jalan buat ngintip kawasan penjual barang-barang gerabah yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/cop1.JPG" alt="" width="250" height="188" />Bertahun-tahun lalu, saya dengan tim HR Excellency diundang ke Jogja untuk menggelar satu acara training untuk publik di sana. Seru dan menarik -  ternyata orang Jogja yang kelihatannya kalem dan adem-adem ternyata bisa gegap gempita juga. Tapi yang tidak kalah memorable adalah manakala saya dan tim diajak jalan-jalan buat ngintip kawasan penjual barang-barang gerabah yang terkenal di sana. Kebetulan, kami memang punya niat hunting souvenir ala jogja yang cocok untuk dijadikan cinderamata setiap kali kami melakukan workshop.<span id="more-334"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Alkisah, waktu kami hilir mudik di sana, tiba-tiba mendadak muncul muka-muka sangar naik sepeda motor : bapak-bapak polisi. Bak tim SWAT Amerika yang sedang menyisir TKP, bapak-bapak polisi ini menertibkan mobil-mobil yang lagi parkir di pinggiran jalan. Rupa-rupanya hari itu bakalan ada rombongan petinggi negara yang bakal lewat daerah itu, sehingga bapak-bapak seragam coklat ini berhamburan dimana-mana demi mengamankan jalan.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright" src="/images/cop2.JPG" alt="" width="250" height="188" />Saya sambil nyeruput teh botol ngobrol-ngobrol dengan rekan saya saat itu tahu-tahu didatangi dua orang polisi. Kontan bathin saya bereaksi, <em>&#8220;Paling-paling kita disuruh minggirin mobil dengan gaya gertak seperti biasanya.&#8221; </em>Maka saya dan teman sayapun santai saja ketika dua polisi itu kemudian menghampiri kami. Tapi, apa yang kemudian terjadi bikin saya shock : Si polisi berdiri tegap di depan kami, memberi hormat ala hormat bendera merah putih, kemudian meluncur kata-kata sopan, <em>&#8220;Selamat siang Pak. Mohon maaf bila mengganggu kenyamanan bapak-bapak. Tapi kami mohon bapak bersedia memarkir mobilnya lebih ke pinggir sedikit. Maaf kalau jadi merepotkan.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Mata saya terbelalak, mulut saya menganga lebar. Bagi saya, ini sungguh peristiwa langka bin ajaib di negara kita. Seorang polisi, yang lumrahnya bergaya arogan dan berkuasa, ternyata bisa bersikap rendah hati dan ekstra karismatik! Instink saya sebagai seorang trainer dan pembicara langsung beraksi. Segera saya ambil kamera pocket saya, mendekati si polisi,<em> &#8220;Maaf, Pak. Kalau gak keberatan boleh saya ambil foto Bapak? Maklum Pak, Saya jarang ketemu Polisi yang ramah seperti Bapak. Siapa tahu, fotonya nanti bisa ditunjukkan ke orang-orang.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Ah, Bapak bisa aja. Silakan Pak&#8221;</em> begitu jawab si Polisi. Maka sayapun bersemangat menjepret dua bapak Polisi ini berpose bersama rekan saya dari Jogja.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Do You Feel Like a Blue Blood?</h3>
<p style="text-align: justify;">Seumur karir saya berbicara di depan banyak orang dan kalangan, seringkali saya berpergokan dengan orang-orang dengan jabatan darah biru seperti : Guru, Dosen, Dokter, Direktur, Manager, atau Business Owner. Jabatan-jabatan darah biru ini biasanya semakin pekat warna birunya kalau tingkat pendidikan mereka semakin tinggi, apalagi kalau lulusan jebolan universitas seberang lautan. Lebih seringnya, mereka tampil dengan gaya yang lebih &#8220;picky&#8221; alias pilih-pilih, suhu wajahnyapun cenderung lebih dingin dan lebih sensitif dengan status sosial. Keramahan mereka terbatas hanya buat orang-orang yang selevel atau mereka anggap &#8220;pantas&#8221; untuk dihargai. Saat training atau workshop, orang-orang berdarah biru ini lebih tertarik untuk ngobrol-ngobrol dengan trainernya ketimbang dengan fasilitator. Trainer yang merasa darahnya biru juga akhirnya lebih senang ngobrol dengan peserta yang level jabatannya tinggi. Fenomena ini adalah hal yang lumrah di belantara topeng-topeng sosial di masyarakat kita yang serba heterogen ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadinya, begitu Saya bertemu dengan orang-orang berdarah biru namun rendah hati, otomatis akan menjadi pengalaman indah tak terlupakan. Wajah orang-orang ini pun jadi lebih lekat di hati dan jadi sumber inspirasi &#8211; bagaikan menemukan berlian di tengah tumpukan batu bara. Dan sungguh mungkin, pengalaman saya ini juga dirasakan berjuta-juta orang lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu pengalaman saya dan tim yang tergolong nikmat dalam kenangan kami adalah ketika kami terlibat dengan satu perusahaan farmasi kesohor di Indonesia dalam rangkaian program workshop leadership. Saat itu, kami berpapasan dengan jajaran direktur dan para division head, salah satunya adalah seorang dokter. Berlawanan dengan warna &#8220;darah&#8221; mereka yang biru, keramahan dan keterbukaan mereka sungguh <em>exceptional</em>. Bahkan sang dokter &#8211; sebut saja namanya Saulus (nama sudah disamarkan) tampil dengan antusiasme luar biasa, kerendahan hati yang tulus, dan keterbukaan pikiran yang memikat. Kontras dengan &#8220;dokter-dokter&#8221; lain yang pernah saya temui, dokter yang satu ini membuat saya makin percaya bahwa di dunia ini masih mungkin ada &#8220;anomali&#8221; luar biasa yang bisa jadi sumbu perubahan dan inspirasi positif. Saya ingat betul salah satu potongan obrolan dari sang dokter, <em>&#8220;Sebagai dokter, kebahagiaan utama saya adalah saat melihat orang menjadi lebih sehat. Bukan uang.&#8221; </em>Hmm &#8230; ada berapa sih dokter-dokter di sekitar kita yang dengan iklas dan senang berbagi ilmu, advis dan memberikan resep tanpa imbalan? Sedikit sekali, bukan? Dan Dokter Saulus ini adalah salah satunya. Berapa kira-kira skor kerendahan hati yang pantas kita berikan untuk dokter dahsyat macam ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan cuma sang dokter saja, hampir semua jajaran petinggi-petinggi di perusahaan ini menunjukkan gelagat anomali yang sama &#8211; termasuk direkturnya, yang bahkan bisa ngobrol-ngobrol asyik dengan tim kami. Dengan laskar HR-nya pun saya begitu menikmati interaksinya, bahkan sampai bisa berbagi hobby yang sama. Sungguh pengalaman tak terlupakan, yang dengan segera membuat hubungan kami begitu lengketnya, bahkan sampai di luar konteks pelatihan dan workshop. (Demi menetralisir kesan mencolok saya untuk memuji perusahaan ini, maka dengan sangat terpaksa saya menekan hasrat saya untuk menyebutkan nama perusahaan ini <img src='http://www.maxsandy.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  )</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/blood.jpg" alt="" width="225" height="151" />Seandainya di dunia ini ada lebih banyak orang-orang seperti itu, berdarah biru namun berhati merah jernih, tentunya hidup kita tidak lagi akan segersang biasanya. Dalam perjalanan karir dan <em>passion</em> saya untuk sharing dengan banyak orang, saya temukan banyak juga perusahaan dan institusi lain yang memiliki budaya rendah hati seperti itu. Dan kenyataan itu sangat melegakan hati Saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan peluang ini juga terbuka bagi Anda yang kebetulan memiliki warna darah yang serupa. Dengan cara yang sama Anda bisa mengejutkan anak buah anda, mahasiswa anda, sampai keluarga Anda juga. Ketika posisi Anda me &#8220;lumrah&#8221; kan Anda untuk bertingkah arogan, &#8220;jaim&#8221; dan dingin, maka berbuatlah sebaliknya! Jadilah berbeda dengan cara-cara yang mengagumkan. Dan dunia akan akan tertegun serta mencatat nama Anda dalam list panjang orang-orang berkharisma yang pernah mendiami muka bumi ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Sembunyikan topi jabatan Anda dan tundukan kepala Anda lebih rendah hati.</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/07/25/seberapa-biru-darah-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Facebook oh fesbuk</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/07/16/facebook-oh-fesbuk/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/07/16/facebook-oh-fesbuk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2009 09:42:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[everyday life]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=316</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin ini satu-satunya virus yang akselerasi dan skala penularannya paling heboh di abad ini. Bahkan gelegar penyebaran virus flu burung atau flu babi masih kalah beken dengan kesaktian facebook. Sejak munculnya layanan Google yang fenomenal di belantara dunia maya, maka facebook dinobatkan sebagai tonggak sejarah baru yang mewarnai budaya global ber-internet. Bukan hanya anak-anak abg [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/facebook.gif" alt="" width="250" height="318" />Mungkin ini satu-satunya virus yang akselerasi dan skala penularannya paling heboh di abad ini. Bahkan gelegar penyebaran virus flu burung atau flu babi masih kalah beken dengan kesaktian facebook. Sejak munculnya layanan Google yang fenomenal di belantara dunia maya, maka facebook dinobatkan sebagai tonggak sejarah baru yang mewarnai budaya global ber-internet. Bukan hanya anak-anak abg atau pekerja kantoran yang sudah kesirep budaya fesbuk, bahkan bocah-bocah bau kencur sampai kakek nenek pikun-pun tidak kalah ikut-ikutan jadi fanatik fesbuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, nasib fesbuk tidak terlalu mujur. Ruang-ruang pengadilan sosial-budaya sudah mencatat fesbuk sebagai daftar tersangka utama melorotnya produktifitas dan kesehatan mental masyarakat. Banyak sudah kantor-kantor dan sekolah-sekolah yang menerapkan aturan ketat soal penggunaan fesbuk. Tidak cuma sampai di situ saja &#8211; orangtua pun banyak yang jadi paranoid dengan anak-anaknya yang keranjingan fesbuk. Maka jadilah fesbuk terpolarisasi dalam dua kutub kontras : berguna atau sampah??<span id="more-316"></span></p>
<h3 style="text-align: justify;">It&#8217;s a digital fire afterall</h3>
<p style="text-align: justify;"><strong>John Naisbitt</strong>, sang futurolog kesohor dunia &#8211; jauh-jauh hari dalam bukunya <strong>&#8220;High Tech High Touch&#8221;</strong> sudah memperingati kita akan bahaya perkembangan teknologi yang akan memperlebar jarak psikologis satu manusia dengan manusia lainnya. Layar-layar televisi dan komputer akan menggantikan ruang ekspresi manusia, sementara manusia sendiri lambat-laun kehilangan &#8220;sentuhan alami&#8221;nya dan pelan-pelan berubah ujud bagai robot-robot tak ber-jiwa. Menyeramkan memang melihat ramalan John Naisbitt  ini. Tapi sang  futurolog tersebut juga mengeluarkan ajian ramalan yang menghibur : kelak manusia akan kenyang dan muntah-muntah dengan perkembangan teknologi ultra mutakhir. Pada saat-saat kritis itulah akan mulai bermunculan gerakan-gerakan <em>&#8220;Back to nature&#8221;</em> yang mengembalikan kecintaan manusia akan sentuhan alami alam semesta.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu dimana posisi fesbuk dalam ramalan John Naisbitt?</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau dilihat dari medianya, kesan fesbuk memang masuk kategori teknologi pencabut produktifitas manusia. Membuat orang lupa waktu, membuat orang tidak konsen dengan kerjaan, membuat anak-anak kita betah mengunci diri dalam kamarnya. Masih ingatkah kita dengan budaya YM, MIRC dan friendster yang juga punya efek yang mirip?</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, fesbuk lebih ajaib dibandingkan dengan saudara-saudara tuanya itu. Dengan fesbuk, kita dengan gampang bisa terkoneksi dengan sohib-sohib karib yang hilang jejaknya. Dengan fesbuk, orang jarang ada yang komplain kena tipu saat kopi darat. Fesbuk juga membuka jalur konsultasi, curhat, group milis formal dan informal. Tak bisa dielakkan, fesbuk membuka gerbang baru untuk memulai reaksi berantai perubahan mental yang positif. Beberapa program training pengembangan kepribadian dan notes-notes inspirasional dengan mudah bisa berseliweran di gang-gang fesbuk. Bahkan saya seringkali dimintai konseling lewat fesbuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkatnya, fesbuk menciptakan ruang sosial baru dimana orang-orang bisa bersentuhan dalam dimensi yang baru yang belum pernah bisa ditawarkan <em>&#8220;internet social utility&#8221;</em> lainnya. Tidak heran kalau nantinya fesbuk akan berkembang menjadi one &#8220;<em>stop social avenue</em>&#8221; yang komplit dan terintegrasi, dimana orang-orang dengan mudah bisa juga terhubung dengan layanan-layanan internet lainnya hanya dengan sekali klik.</p>
<p style="text-align: justify;">Wajarlah kalau sampai muncul selentingan,<strong><em> &#8220;Ga tau fesbuk?? Apa kata dunia??&#8221;</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di mata saya, fesbuk seperti menawarkan wahana baru buat orang-orang yang haus sentuhan personal tapi terjepit oleh keterbatasan waktu dan ruang gerak. Fesbuk bagaikan <em>&#8220;International Park</em>&#8221; yang bisa dikunjungi orang di sela-sela keringat kesibukannya, demi sekedar mendapatkan oksigen sosial yang bisa mengembalikan semangat dan harapan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright" src="/images/facebok.jpg" alt="" width="200" height="160" />Maka posisi saya netral terhadap fesbuk. Karena saya yakin, fesbuk sendiri netral dengan segala keunikannya. Oleh sebab itu, saya percaya segala tuduhan miring yang menerpa fesbuk tidak lain adalah akibat ulah para fanatik yang kebablasan. Orang-orang ini tidak menganggap fesbuk sekedar hiburan di kala senggang, tapi benar-benar dianggap tempat pelarian sejati. Mereka betah melotot di depan layar digital fesbuk selama berjam-jam demi melupakan segala kepahitan yang mereka alami di dunia nyata. Kalau sudah begini, produktifitas dan tanggungjawab riil mereka memang jadi berantakan.</p>
<h3 style="text-align: justify;">It&#8217;s an amusement park, NOT YOUR HOME</h3>
<p style="text-align: justify;">Belum lama lewat, saya sempat senyum-senyum sendiri karena pada saat meng-observe jalannya training di satu perusahaan farmasi ternama, saya sempat fesbuk-fesbukan dengan salah satu &#8220;pejabat tinggi&#8221; perusahaan itu yang duduk di sebelah saya. Lantas, satu teman online jauh saya memberi komentar lewat fesbuk, <em>&#8220;Waduh, sama orang di sebelah aja maen fesbuk-fesbukan.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Fesbuk terbukti bisa menghibur juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, tips saya buat para non-pengguna fesbuk, please jangan melihat fesbuk melulu dari efek sampingnya. Di ujung jari orang-orang yang positif, fesbuk bisa menjelma menjadi perahu emas yang membuka pintu sukses.</p>
<p style="text-align: justify;">Khusus buat para fan fesbuk, saya sekedar wanti-wanti, jangan sampai menganggap fesbuk sebagai rumah yang membutakan Anda dari kewajiban sejati Anda. Jangan sampai Anda lebih betah menatap layar laptop atau blackberry dibandingkan menatap Istri dan anak-anak Anda. Bahaya juga kalau gara-gara fesbuk, kita jadi lupa dengan buku-buku kuliah kita atau agenda urgent di kantor. Ayo kita nikmati fesbuk sebagai taman bermain yang sesekali saja kita kunjungi : sehat dan menghibur.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Selamat berfesbuk ria</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/07/16/facebook-oh-fesbuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oleh-Oleh Youth EQ Program</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/07/11/oleh-oleh-youth-eq-program/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/07/11/oleh-oleh-youth-eq-program/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2009 19:17:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[everyday life]]></category>
		<category><![CDATA[EQ Youth]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 2 sampai 4 di bulan Juli ini jadi momentum baru bagi Saya dan tim HR Excellency. Buat pertama kalinya dalam sejarah karir cuap-cuap kami, HR Excellency bikin pagelaran workshop Kecerdasan Emosi buat anak-anak muda. Makanya, spirit kitapun jadi &#8220;on fire&#8221; menggalang segala kekuatan demi suksesnya acara ini. Saya jadi geleng-geleng kepala saking kagumnya melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/youth1.jpg" alt="" width="275" height="210" />Tanggal 2 sampai 4 di bulan Juli ini jadi momentum baru bagi Saya dan tim HR Excellency. Buat pertama kalinya dalam sejarah karir cuap-cuap kami, HR Excellency bikin pagelaran workshop Kecerdasan Emosi buat anak-anak muda. Makanya, spirit kitapun jadi &#8220;on fire&#8221; menggalang segala kekuatan demi suksesnya acara ini. Saya jadi geleng-geleng kepala saking kagumnya melihat bagaimana trainer-trainer muda super talented kami : <strong>Mr. Iwan &#8220;Josua&#8221; Wahyudi &amp; Mr. Adrian Luis</strong> &#8211; menumpahkan segala jurus-jurus ampuh mereka merangkai modul EQ for Youth ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan, memang tidak sia-sia.<span id="more-289"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Acara yang menyedot waktu 3 hari itu alhasil berjalan sukses gegap gempita. Gaungnyapun masih kedengaran hingga sekarang. Banyak orangtua-orangtua yang menyampaikan bertumpuk terimakasih pasca workshop itu. Mereka tidak habis pikir, kenapa bisa anak-anak mereka begitu terkesan dengan acara itu dan bahkan ada yang &#8220;ketagihan&#8221; minta lagi. Padahal, ada orangtua yang bersaksi kalau anaknya pertama-tama ogah habis-habisan diajak ikut dan lebih memilih nonton konser musik. Tahunya setelah pulang dari pelatihan, si anak lantas teriak-teriak, <em>&#8220;Papa, untung nonton konsernya gak jadi. Bersyukur banget bisa ikut pelatihan EQ&#8221;</em>. Ada juga orangtua yang memberi komentar, <em>&#8220;Anak saya betul-betul bisa merasa dekat dengan para trainernya. Jarang sekali ada pelatihan, dimana para trainernya memperhatikan masing-masing pesertanya secara personal&#8221;.</em> Bahkan, dari anak-anak muda para peserta pelatihan ini muncul ide untuk bikin paguyuban bersama di facebook demi menjaga tali silaturahmi.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat kata, pelatihan EQ for Youth ini sungguh luarrr biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi lepas dari segala hingar bingar kesan-kesan positif baik dari para remaja peserta dan orangtua, ada satu hal yang sangat berbekas panas dalam benak saya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Seeing the face of the Parents through the Youngster&#8217;s Eyes</h3>
<p style="text-align: justify;">Memang ini bukan kali pertama saya berkesempatan untuk berbagi mengenai berbagai pernak-pernik EQ dengan anak-anak muda usia sekolah. Sudah berkali-kali saya mendapat kehormatan dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi untuk men-sharing-kan tema ini, entah dengan para murid, orangtuanya, ataupun jajaran guru dan dosennya.  Tapi dalam workshop EQ for Youth kemarin, saya benar-benar ada di antara mereka siang dan malam. Kesempatan langka ini patut saya syukuri, karena bisa memperluas kacamata saya dalam melihat pemandangan &#8220;kehidupan&#8221; langsung dari mata hati anak-anak muda. Dan ternyata, banyak sekali ironi yang mengagetkan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jauh-jauh hari sebelum kami dan peserta meringkuk 3 hari 2 malam di Rancamaya Bogor, ada banyak orangtua yang sengaja menitipkan anaknya dengan tambahan pesan sponsor.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Tolong anak saya disadarkan untuk lebih berani bergaul, Pak. Dia minder sekali!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Kalau bisa anak saya diinspirasi untuk lebih berprestasi, Pak.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Pak, bantu anak saya untuk bisa menentukan pilihannya kelak.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja, pesan-pesan itu adalah amanah yang kami anggap keramat dan harus dijunjung tinggi. Karena itu dengan sangat hati-hati kamipun kemudian ngobrol dengan masing-masing peserta di sela-sela sesi workshop. Sayapun sempat menyiduk beberapa peserta, mengajak mereka mojok ngobrol ngalor ngidul.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil ngobrol-ngobrol dengan mereka membuat saya rada tersentak kaget.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak-anak yang disinyalir punya masalah, di depan kami curhat habis-habisan perihal ortu mereka. Kisah bagaimana mereka dibesarkan dan bagaimana kualitas hubungan mereka dengan ortunya dibeberkan dengan tulus. Dari anak-anak muda ini, terhampar kisah-kisah pendek yang membuat hati kami miris.</p>
<p style="text-align: justify;">Kadang tanpa sadar, banyak orangtua yang tidak sadar kalau kecemasan mereka akan masa depan anak-anak mereka justru membuat anak-anak tidak bisa menemukan potensi diri mereka sesungguhnya. Kasih sayang orangtua diterjemahkan dalam banyak bentuk larangan, tuntutan, bahkan ancaman.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Mama pingin kamu bisa bertahan 10 besar ranking sekolah.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Lulus SMP, paling tidak kamu harus tembus universitas anu.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Nggak boleh main-main fesbuk! Ayo belajar!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Saya bukannya menentang ortu yang menetapkan <strong>THR (Tuntutan, Harapan, Rule)</strong>. Tokh, THR adalah menu wajib yang harus digalakkan ortu manapun. Justru yang saya pertanyakan adalah sejauh mana THR ini diterapkan. Karena dalam banyak kasus, THR seringkali diberikan dengan menggunakan senjata <strong>Fear (ketakutan)</strong>, <strong>Obligation (kewajiban), dan Guilty (rasa bersalah)</strong>. Hasilnya, banyak remaja yang hidup dengan membayangkan orangtuanya sebagai satpam. Giliran mereka mencari keteduhan dan kasih yang tulus, fesbuk jadi sasaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Beda halnya dengan ortu yang menerapkan THR ini dengan bumbu atensi dan cinta. Orangtua macam ini tidak cuma pandai membacakan aturan dan tuntutan, merekapun pandai untuk hadir dan memeluk anak-anak mereka &#8211; bukannya tenggelam dalam jam karir dan jabatan mereka sendiri. Orangtua seperti ini tahu benar pentingnya <strong>The Golden Period</strong> anak-anak mereka, dan memilih berada di sisi anak-anak mereka di saat anak-anaknya di puncak krisis pencarian indentitas diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya populasi orangtua yang ideal macam itu sudah termasuk dalam daftar spesies yang terancam punah. Yang banyak beredar sekarang adalah orangtua-orangtua era digital yang menganggap telepon, sms, transfer pulsa dan transfer rekening sebagai media asuh anak-anak mereka. Bagaimana mereka sukses dengan karir mereka lantas juga diterapkan habis-habisan di rumah. Anak-anakpun kontan jadi obyek, bukan subyek lagi. Ujung-ujungnya, apapun yang mereka keluhkan soal anak-anak mereka, justru orangtualah yang sebetulnya punya andil dalam porsi tertentu. Pelatihan kecerdasan emosional manapun akan tidak mempan selama mereka masih menjalankan pola asuh yang lama. Jika seorang pemilik kuda mencambuki kudanya tiap hari, lantas mengirim kuda itu kepada seorang pelatih kuda ternama, bisakah sang pelatih membuat kuda itu sayang kepada tuannya?</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/youth2.jpg" alt="" width="250" height="388" />Saya begitu terenyuh melihat puluhan remaja yang menangis ketika membaca ucapan cinta orangtua mereka dalam pelatihan itu. Tidak ada lagi sosok anak geng atau anak minder malam itu, tidak juga sosok anak gila fesbuk. Saat air mata anak-anak itu menetesi karpet lantai, yang kami lihat adalah wajah remaja-remaja yang putih bersih dan rindu dekapan cinta orangtua mereka. Seandainya saja, orangtua mereka ada disitu malam itu dan menyaksikan sendiri anak-anak mereka tertunduk haru &#8211; bisa jadi segalanya akan berbeda.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai orangtua, kemungkinan sederhananya minimum ada dua : anak Anda menganggap Anda sebagai polisi (kalau tidak mau dibilang Hansip), atau anak Anda menganggap Anda sebagai sahabat baiknya, &#8230;. atau bahkan malaikat?</p>
<p style="text-align: justify;">Mumpung anak-anak Anda masih muda, masih kenyal, dan masih bergeliat &#8211; belum telat buat Anda untuk mengubah garis sejarah Anda di mata anak Anda. Modalnya tidak banyak,  cuma segenggam cinta,  selembar ketulusan, dan sebersit niat kuat Anda.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Hmmm &#8230; dimana posisi Anda sekarang?</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/07/11/oleh-oleh-youth-eq-program/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyontek? Ayo Aja!</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/06/14/nyontek-ayo-aja/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/06/14/nyontek-ayo-aja/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 10:34:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[everyday life]]></category>
		<category><![CDATA[Nyontek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Tengah bulan ini, saya berada di Palembang mendukung program workshop Kecerdasan Emosional untuk publik di sana. Di sela-sela acara sikat gigi dan tidur lelap di kamar hotel, sambil lalu saya menikmati acara MTV Movie Award sambil tiduran di atas ranjang empuk di sana. Lama-lama saya jadi keasyikan juga menonton acara itu, berhubung acaranya sendiri menarik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/twilight.jpg" alt="" width="250" height="311" />Tengah bulan ini, saya berada di Palembang mendukung program workshop Kecerdasan Emosional untuk publik di sana. Di sela-sela acara sikat gigi dan tidur lelap di kamar hotel, sambil lalu saya menikmati acara MTV Movie Award sambil tiduran di atas ranjang empuk di sana. Lama-lama saya jadi keasyikan juga menonton acara itu, berhubung acaranya sendiri menarik dan segar. Maklum, ajang MTV Movie Award memang sengaja dibungkus dengan format bebas dan kreatif sehingga semua audience dan pembawa acaranya bisa lepas berimprovisasi. Konon, acara penganugerahan piala buat insan-insan perfilman hollywood ini didesain dengan gaya muda untuk menandingi pamor ajang Piala Oscar yang formatnya cenderung formal.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang paling mengejutkan saya adalah ketika diumumkan film apa yang akhirnya menyandang gelar &#8220;Best Movie of the Year&#8221; versi MTV. Ternyata pemenangnya adalah film &#8220;Twilight&#8221;, menyisihkan nominasi film Dark Knight, Slumdog Millionaire, IronMan, dan High School Musical.<span id="more-256"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Jujur, tadinya saya pikir, MTV mungkin lebih berpihak pada film &#8220;Dark Knight&#8221; mengingat filmnya memang diacungi jempol banyak orang, dan dianggap sebagai film superhero yang bisa tampil berbobot dan tidak berkesan childish. Film &#8220;Twilight&#8221; memang renyah ditonton, namun ide dasarnya tidak terlalu orisinil, karena filmnya berkisah soal vampire. Soalnya di mata saya, hollywod sudah dijejali banyak film bertema vampir, drakula, werewolf, dan sebagainya. Di Indonesia kondisinya lebih parah lagi, bukan? 3 dari 4 poster film hasil karya anak negeri pasti tidak bakal jauh dari gambar pocong, kuntilanak, sundel bolong dan cs-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah itulah kenapa saya awalnya yakin Twilight tidak akan terpilih.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, fenomena pasar memang selalu penuh kejutan. Buktinya, twilight laris manis di bioskop-bioskop seantero dunia. Bahkan MTV movie award sampai menumpahkan 5 potong piala golden popcornnya buat film ini! Selain best movie, twilight juga menyabet piala untuk kategori performance leading actress dan actornya, kategori adegan berantem paling seru, dan adegan ciuman terheboh!!</p>
<h3 style="text-align: justify;">What is the SECRET?</h3>
<p style="text-align: justify;">Saya akhirnya sadar. Dalam dunia perfilmanpun berlaku hukum<strong><em> &#8220;Originality is not always the only thing!&#8221;</em></strong> Orisinalitas bukanlah penentu kemenangan. Bahkan dengan menyontek-pun, Anda bisa jadi pemenang!</p>
<p style="text-align: justify;">Ini bertentangan dengan keyakinan segelintir orang yang masih yakin kalau meniru-niru akan menurunkan prestise. Istilah keren pecontek dalam dunia profesional adalah : <strong>plagiat atau copy cat</strong>. Dan kenyataan membuktikan bahwa Plagiat tidak selalu kalah dalam arena permainan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Peter Drucker</strong> mengatakan dengan tegas<strong><em> &#8220;Be a creative imitator!&#8221;.</em></strong> Maksudnya sederhana saja: kita di sahkan untuk mencontek, asalkan kreatif. Menjiplak 100% menurunkan kesempatan kita untuk bertanding, tetapi kalau kita menjiplak dengan kreatif, justru akan membuka peluang baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Coba lihat sekeliling anda, dan hitung ada berapa produk yang sebetulnya meniru produk yang lain tetapi sama-sama bisa mendulang emas. Satu rokok mild bersaing dengan rokok mild merk lainnya. Satu merk permen kopi menyaingi permen kopi lainnya. Satu merk minuman teh botolan menyaingi teh botolan yang lain. Restoran pizza yang satu bersaing dengan merk pizza yang lain. Ah, banyak bukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka kelihatannya sama, tapi sesungguhnya kreativitaslah yang membuat produk-produk itu berbeda dan merebut hati pangsa pasarnya sendiri-sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Twilight bukanlah kekecualian. <strong>Stephanie Meyer</strong> sang pengarang buku Twilight dan serial lanjutannya sadar betul bahwa dia mencontek ide besar tentang suka duka kehidupan vampire pengisap darah. Namun, dengan lihainya ia memberi muatan yang berbeda, yakni ramuan dinamika kehidupan remaja dan keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">Elaborasi ide inilah yang kemudian membuat film Twilight jadi film vampire yang punya rasa gurih yang khas sehingga bisa menyedot banyak penggemarnya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Elaborate and Win the Game</h3>
<p style="text-align: justify;">Apapun profesi anda, hukum yang sama berlaku juga. Bukan saatnya lagi anda merasa bersalah atau malu jika anda mulai meniru-niru orang lain. Kalau anda seorang pengarang buku, jangan takut membuat buku yang temanya standar, asalkan anda bisa memberikan bumbu yang berbeda. Kalau Anda seorang pengajar, ajarkanlah hal yang sama dengan orang lain tetapi dengan gaya yang berbeda. Kalau anda salesman, jualah barang anda dengan brosur yang mirip pesaing Anda tetapi dengan sentuhan warna yang khas.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, saat kita sekolah sampai kuliah, tukang contek adalah cap yang negatif. Saat kita terjun ke masyarakat, mencontek disahkan dalam balutan istilah : meniru teladan, benchmarking,  studi banding, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Apapun istilahnya, marilah kita sama-sama berseru, &#8220;Nyontek, hayoo aja!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Siapa tau artikel ini juga adalah hasil contekan, bukan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/06/14/nyontek-ayo-aja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A sentence that changes our world</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/04/24/a-sentence-that-change-our-world/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/04/24/a-sentence-that-change-our-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 18:22:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[everyday life]]></category>
		<category><![CDATA[Angelic Sentence]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Dari deretan nama resto fast food yang biasa mangkal di mal-mal, ada satu gerai pizza yang gampang terlintas di benak perut saya saat putar-putar di dalam mal. Karena lumayan sering mampir di situ, jadinya saya cukup akrab dengan &#8220;drill&#8221; protokol para pramusajinya. Anda yang biasa hilir mudik ke resto pizza yang sudah kesohor itupun tentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/pizza.jpg" alt="" width="225" height="169" />Dari deretan nama resto fast food yang biasa mangkal di mal-mal, ada satu gerai pizza yang gampang terlintas di benak perut saya saat putar-putar di dalam mal. Karena lumayan sering mampir di situ, jadinya saya cukup akrab dengan &#8220;drill&#8221; protokol para pramusajinya. Anda yang biasa hilir mudik ke resto pizza yang sudah kesohor itupun tentu sudah terbiasa dengan tradisi mereka saat memberi salam, mencatat menu, mempersilakan kita menunggu, dan seterusnya. Skenario kalimat yang diucapkan waiter/waitressnya kelihatan sekali distandarisasi. Pemandangannya jadi mirip dengan Pramugari pesawat sewaktu menjelaskan kelengkapan &#8220;safety&#8221; sebelum take off. Saking skenarionya terus diulang-ulang, maka saya lama-lama jadi lumayan imun, dan menganggap kalimat-kalimat yang mereka ucapkan adalah hal &#8220;wajar dan sepantasnya&#8221;.<span id="more-115"></span></p>
<h3 style="text-align: justify;">Namun, sesuatu yang &#8220;luar biasa&#8221; terjadi.</h3>
<p style="text-align: justify;">Di satu sore beberapa minggu lalu, saya kesasar kembali ke sarang Pizza tersebut di bilangan pertokoan Mangga Dua. Maklum, saat itu perut saya berkoar-koar karena kebetahan berkeliling mencari-cari earphone merk tertentu. Alkisah, seperti bisa Anda tebak, semua protokol sambutan dan pelayanan waitressnya terulang kembali persis sama dengan yang lalu-lalu di semua outletnya yang pernah saya mampiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu selesai makan, saya berkedip ke satu waitress untuk menyelesaikan urusan gono-gininya. Yang bikin saya kaget, ketika si waitress mengangkat piring kosong, ia melempar senyum sambil bertanya,<em> &#8220;Bagaimana Pak, rasa pizzanya?&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ditanya begitu, saya shock sepersekian detik. Ini sungguh-sungguh di luar prediksi saya. Berbeda dari biasanya, tapi &#8230;. menyenangkan.  Sayapun kemudian bercakap-cakap dengan si waitress seputar menu yang barusan saya lahap. Bukan cuma itu saja, sayapun jadi sekalian curhat soal jenis pizza yang ditarik dari daftar menu mereka. Tidak lama kemudian, saya akhirnya melangkah keluar dari situ dengan hati tergelitik.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya baru sadar, satu kalimat <em>&#8220;Bagaimana Pak, rasa pizzanya?&#8221;</em> telah mengubah orientasi pengalaman makan saya di situ. Bayangkan, hanya sebuah kalimat sederhana, tapi begitu ampuh memancing perasaan menyenangkan dan kesan positif. Untuk sejenak tadi, saya merasakan sensasi &#8220;didengarkan dan diperhatikan&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright" src="/images/angel.jpg" alt="" width="213" height="324" />Bukankah hukum yang sama berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari dengan orang-orang di sekitar kita? Kalimat-kalimat yang kita ucapkan bisa membuat perbedaan. Apalagi kalau kalimat-kalimat itu kita ucapkan berbeda dengan biasanya dan bermakna positif. Yang saya maksudkan bukanlah rayuan panjang penuh bunga-bunga ataupun pidato diplomatis pemikat hati, melainkan hanya sepotong kalimat yang sederhana. Barisan kata yang terucap dari ketulusan kita. Saya ingin menyebutnya sebagai<strong><em> &#8220;The angelic sentence&#8221;</em></strong> &#8211; &#8220;kalimat malaikat&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Bayangkan saat Anda menyetir mobil masuk pelataran kantor, dan berpapasan dengan satpam yang biasa jaga di situ. Si satpam boleh jadi terbiasa dengan ucapan <em>&#8220;Met Pagi&#8221;</em> dari Anda. Tapi saya jamin, pengalamannya akan berubah drastis di kala Anda mengeluarkan kalimat yang berbeda, <em>&#8220;Wah muka Bapak kelihatan seger banget hari ini!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Di rumah, Anda juga bisa membuat pasangan Anda tercengang-cengang mendengar kalimat baru,<em> &#8220;Ma, makasih ya tadi udah dipijet</em>&#8221; (terutama jika Anda tidak terbiasa bilang terima kasih). Mungkin juga kalimatnya berupa pertanyaan tulus kepada bawahan Anda,<em> &#8220;Menurut kamu, bagaimana penampilan saya waktu tadi bertemu dengan supplier baru?&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kalimatnya bisa 1001 macam. Isi dan konteksnyapun boleh jadi beragam. Tapi satu hal yang sama dan tidak boleh hilang : <strong>KETULUSAN</strong>-nya. Inilah sari bumbu yang akan membuat &#8220;Angelic sentence&#8221; Anda lebih bermakna dalam dan berbekas panjang. Inilah yang nantinya akan melengkapi imej positif Anda di mata orang-orang penting di sekeliling Anda. Dan siapa tahu, sepenggal kalimat Anda bisa membuat hidup orang lain berubah. Saya pernah tersenyum geli ketika seorang kawan bercerita,<em>&#8220;Biasanya nyetir di jalan tol biasa-biasa aja. Ehh, tahu-tahu ada penjaga tol yang memberikan tiket tol sambil bilang &#8216;met kerja Pak ya, selamat jalan&#8217;. Dan bim sa la bim, perjalanan sepanjang jalan tol itu menjadi terasa indah&#8221;. </em>Pernah juga saya dengar orang curhat, <em>&#8220;Tahu gak, biasanya tuh cewek lewat aja di depanku. Tahu-tahu kemarin dia menyapaku di dalam lift &#8216;Apa kabar?&#8217;. Wah, seharian aku jadi hepi&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh luar biasa apa yang bisa dilakukan sepenggal kalimat tulus bagi kehidupan kita, bukan? Anda pasti pernah merasakan dampak dahsyatnya, entah itu dari kalimat spontan yang dilontarkan anak Anda, rekan kerja, atasan, bahkan orang yang Anda tidak kenal sama sekali. Dan tidak ada salahnya, sekarang kita mulai menambah hitungan kalimat seperti ini keluar dari mulut kecil kita untuk mengisi penuh dahaga orang-orang akan ketulusan yang sederhana.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Tipsnya :</p>
<ol>
<li>Jangan ucapkan kalimat yang sama pada orang yang sama setiap hari, cobalah gunakan kalimat yang berbeda-beda supaya tidak dianggap &#8220;basa-basi rutin&#8221;.</li>
<li>Kalimat pernyataan ataupun kalimat bertanya sama baiknya jika diucapkan dengan tepat. Gunakan keduanya sesuai kondisi.</li>
<li>Lontarkan kalimat &#8220;angelic&#8221; Anda sambil melemparkan kontak mata yang bagus. Begitu juga gestur tubuh yang positif, akan menambah daya magic kalimat Anda.</li>
<li>Dan jangan lupakan kunci utamanya : TULUS di hati, TULUS di lidah.</li>
</ol>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Bagaimana menurut Anda? Berani mencoba?</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/04/24/a-sentence-that-change-our-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesta PEMILU, pesta KEMASAN</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/04/10/pesta-pemilu-pesta-kemasan/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/04/10/pesta-pemilu-pesta-kemasan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2009 14:24:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[everyday life]]></category>
		<category><![CDATA[PEMILU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[
Masih hangat dalam ingatan kita saat sebagian dari kita ada yang harus rela antri di hari libur. Bukan ngantri bensin, elpiji atau sembako. Melainkan antri pemilu, bareng-bareng dengan orang-orang lainnya yang kebetulan sadar akan hak dan kesempatan mereka ikut menentukan navigasi politik di negara kita tercinta ini.
Saya tidak mau ketinggalan juga. Maka dengan semangat &#8216;45, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/logo-pemilu.jpg" alt="" width="167" height="223" />Masih hangat dalam ingatan kita saat sebagian dari kita ada yang harus rela antri di hari libur. Bukan ngantri bensin, elpiji atau sembako. Melainkan antri pemilu, bareng-bareng dengan orang-orang lainnya yang kebetulan sadar akan hak dan kesempatan mereka ikut menentukan navigasi politik di negara kita tercinta ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tidak mau ketinggalan juga. Maka dengan semangat &#8216;45, hari kamis itu saya berjalan kaki dengan sendal karet empuk tercinta menuju tempat kerumunan TPS di kompleks rumah. Dan akhirnya, leburlah saya bersama ibu-ibu dan bapak-bapak yang lain menyerahkan surat pendaftaran ke petugas di situ. Berikutnya sambil menunggu giliran, sayapun ikut-ikutan nonton mengamati contoh lembaran-lembaran surat suara dan petunjuk pengisiannya di papan besar dekat situ.<span id="more-44"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright" src="/images/pemilu.jpg" alt="" width="300" height="225" />Tahu-tahu saya terhenyak melihat satu lembar surat suara caleg-caleg yang tidak ada nama partainya. Ternyata raut wajah saya juga ditiru ibu-ibu yang kebetulan ada di samping saya. <em>&#8220;Lho, yang ini kita harus nyontreng nama, ga bisa nyontreng partainya&#8221;</em> begitu komentar satu ibu di sebelah saya. Dan benar saja, untuk lembaran itu, kita tidak punya pilihan lain selain harus memilih salah satu nama, kecuali kalau memang punya niatan golput. Padahal, sejak awal-awal saya sudah mempersiapkan skenario untuk nyontreng nama partai di semua lembaran surat suara. Jelas, ini di luar bayangan saya. Belum habis saya putar-putar sel kelabu di kepala saya, tiba-tiba satu ibu nyeletuk ,<em>&#8220;Pilih yang cewek aja. Tuh yang ini mukanya kelihatan adil&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Saya tertawa dalam hati. Lucu juga niatan ibu ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi yang lebih lucu lagi, akhirnya sayapun melakukan strategi yang sama! : memilih-milih wajah mana yang lebih berkenan. Otak dan intuisi saya lantas musti saling berdebat, memilah-milah wajah caleg berdasarkan kriteria-kriteria <em>&#8220;bisa dipercaya&#8221;, &#8220;bukan tampang koruptor&#8221;, &#8220;tidak berkesan kriminal&#8221;,</em> dan sebagainya. Alhasil, di penghujung acara kontes itu, terpilihlah wajah caleg yang menurut penilaian saya &#8220;berjiwa muda, idealis pragmatis, netral, dan pejuang&#8221;. Ah, saat itu juga saya merasa sudah menyaingi mama Lauren. Berhubung saya tidak tahu datanya, tidak kenal faktanya, apalagi akrab dengan caleg-caleg itu, maka pilihan saya dan mungkin juga sebagian besar ibu-ibu dan bapak-bapak lainnya adalah &#8220;memilih dari wajahnya&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright" src="/images/pemilub.jpg" alt="" width="250" height="333" />Pulang dari TPS, saya jadi berpikir-pikir. Betapa kita tidak bisa menghindari event dimana kita secara naluriah akan memilih berdasarkan &#8220;kemasannya&#8221;. Walau telinga kita tidak asing dengan petuah bijak <em>&#8220;Don&#8217;t judge the book by it&#8217;s cover&#8221;,</em> tapi kenyataannya tidak selalu demikian. Kemasan akan selalu menjadi faktor tersendiri yang tidak boleh kita anggap remeh. Lihat saja orang-orang di supermarket yang dalam keadaan bingung memilih produk mana yang akan digaet masuk keranjang belanja. Ketika data dan pengalaman tidak tersedia, maka barangkali satu jalan yang bisa ditempuh adalah memilih berdasarkan kemasannya. Mana yang warnanya berkesan sehat dan bonafid? Mana yang kemasannya lebih lucu dan bisa menyenangkan anak-anak? Dan seterusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan Amerika dan Indonesia saja pernah menjadi saksi bagaimana rakyatnya saat memilih presiden masih terpengaruh kemasan wajah presidennya. Dari mulai presiden Kennedy, Ronal Reagan, sampai SBY. Survey menyebutkan banyak ibu-ibu di Indonesia memilih SBY karena &#8220;jatuh cinta&#8221; dengan kharisma wajah sang Presiden.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah. Kalau begitu, pesannya sederhana : Olah kemasan sebaik Anda mengolah isinya. Entah Anda seorang guru, pendeta, sales, eksekutif, caleg, bahkan &#8230;. pengemis. Pernahkah Anda menyaksikan film investigasi dokumenter tentang adanya organisasi peminjaman bayi khusus buat pengemis-pengemis di Jakarta? Tujuannya kan tidak lain untuk menciptakan packaging yang bagus, yang akan membuat pengemis lebih memelas hingga orang rela merogoh recehan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau pengemis saja sudah memikirkan packagingnya, maka kitapun harusnya lebih seksama memanage kemasan dan tampilan luar kita. Jangan sampai kemasan yang Anda buat justru berlawanan dengan goal Anda, misalnya mau berkesan trendy malah membuat kesan &#8220;matre&#8221;, mau berkesan &#8220;profesional&#8221; malah jadi berkesan &#8220;amatiran&#8221;. Karena itu, selain niat dan usaha Anda, menciptakan kemasan juga butuh feedback agar ketika naik &#8220;panggung&#8221; tidak terjadi kesalahan yang akan merusak imej kita. Maka tipsnya adalah :</p>
<blockquote>
<ul class="unIndentedList" style="text-align: justify;">
<li><strong>Secara pribadi</strong>, olah penampilan kita lebih baik. Dari mulai busana, model rambut, riasan wajah, aksesoris dan sebagainya. Tujuannya bukan sekedar supaya terlihat glamour, tapi agar benar-benar pas dengan imej yang mau kita pancarkan.</li>
<li><strong>Secara institusional</strong>, tatalah tampilannya. Baik eksterior interior gedung, stationery, seragam karyawan, display produk, kemasan barang dan sebagainya. Sekali lagi, sesuaikan dengan imej yang mau dimunculkan sesuai visi misi organisasi.</li>
<li><strong>Dapatkan feedback</strong>. Tidak ada salahnya kita minta feedback terlebih dulu sebelum semua tampilan yang kita buat dirilis ke publik. Waspadai missmatch antara tampilan dengan imej ideal yang direncanakan.</li>
</ul>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Istilah saya &#8220;kemasan memang bukan segala-galanya, tapi kemasan yang salah di waktu yang salah akan menentukan segala-galanya&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Anda pernah mengalaminya?</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/04/10/pesta-pemilu-pesta-kemasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

