<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>www.maxsandy.com</title>
	<atom:link href="http://www.maxsandy.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.maxsandy.com</link>
	<description>Max Sandy Official Website</description>
	<lastBuildDate>Fri, 11 Jun 2010 07:54:06 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Video Heboh!</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2010/06/10/523/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2010/06/10/523/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 19:42:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[everyday life]]></category>
		<category><![CDATA[Peter Porn]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=523</guid>
		<description><![CDATA[Gatal rasanya kalau tidak ikutan nimbrung meramaikan bursa komentar film box office bulan ini : The Ariel Peter Porn, yang sedang heboh-hebohnya sekarang ini. Kebetulan sekali saya dengan tim di HR Excellency sedang getol-getolnya mempersiapkan pagelaran luar biasa pelatihan kecerdasan emosional untuk orangtua dan remaja di awal bulan depan ini. Jadinya klop sekali kalau momentum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/skulbig.jpg" alt="" width="269" height="253" />Gatal rasanya kalau tidak ikutan nimbrung meramaikan bursa komentar film box office bulan ini : <strong>The Ariel Peter Porn</strong>, yang sedang heboh-hebohnya sekarang ini. Kebetulan sekali saya dengan tim di HR Excellency sedang getol-getolnya mempersiapkan pagelaran luar biasa pelatihan kecerdasan emosional untuk orangtua dan remaja di awal bulan depan ini. Jadinya klop sekali kalau momentum meledaknya berita heboh video adegan syur ini dijadikan <em>appetiser</em> untuk menyadarkan kita akan pentingnya “membangunkan” kesadaran EQ remaja, sekaligus para orangtuanya juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Kayaknya, dari mulai pojokan warung tegal sampai sudut-sudut kantor mentereng, semuanya ribut mengomentari video “maknyus” itu. Kontan saja, film ajaib yang durasinya cuma beberapa menit itu mencelat jadi komoditi panas minggu ini. Sampai-sampai ada yang nekad membongkar celengan demi mendapatkan koleksi lengkap videonya. Acara-acara infotainment sampai talkshow bergengsi pun berbondong-bondong meliput berita ini dan beradu jam tayang. Pokoknya, dijamin meriah, seru dan menegangkan. Untuk sejenak orang-orangpun rela melupakan urusan isu KPK dan FIFA demi <em>hot news</em> yang satu ini.<span id="more-523"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tapi lihatlah baik-baik, apa yang menjadi tren “opini dan reaksi” orang-orang terhadap peristiwa ini. Gravitasi yang terbentuk membuat orang-orang punya pendapat kolektif yang mirip-mirip. Selain mengutuk aktor, aktris dan kaki tangannya, masyarakat juga kompak melakukan gerakan penggerebekan demi memblokade beredarnya video ini. Yah tentu saja sasarannya adalah sarang dan markas besar tempat nongkrong remaja : <strong>SEKOLAH ! </strong>(Sejauh ini saya belum dapat berita ada penggerebekan dilakukan oleh boss ke karyawan-karyawannya. Bisa jadi perlakuannya sama dengan film-film PG-13nya Amerika mungkin, alias di  atas 17 thn  bebas beli tiket nonton <img src='http://www.maxsandy.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ). Dan siapapun yang kepergok punya filenya di dalam HP atau laptop, pasti langsung diseret ke meja hijau sekolah, dicap bandel – preman – asusila atau apapun julukannya. Serta merta orangtua yang dikabari kalau anaknya masuk “bui” sekolah langsung migren dan meriang. Dan bisa ditebak, mereka segera memberlakukan siaga merah, melarang anak-anaknya men-download, mengintip, ataupun sekedar membayangkan seperti apa ujud filmnya. Kalau bisa, dengan wajah sesangar mungkin.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Parents, let’s wake up first before you can wake up your children</h3>
<p style="text-align: justify;">Sadarkah kita kalau di abad digital ini kita harusnya berhenti menganggap remeh anak-anak kita? Apapun yang kita lakukan untuk menghentikan arus informasi kepada anak-anak kita justru akan meningkatkan kecepatannya! Ini persamaan yang aneh memang, tapi apa boleh buat, itulah kenyataan pahit yang harus kita terima. Begitu anak-anak kita sudah dihantui rasa ingin tahu dan penasaran terhadap sebuah informasi, maka percuma saja kita memeras keringat dan darah membendung informasi itu.  Satu-satunya cara yang Anda bisa lakukan adalah mengurung anak Anda di dalam kamar isolasi tanpa satupun alat komunikasi. Yah itupun kalau Anda cukup tega dan bersedia dipanggil Kak Seto sewaktu-waktu. Tapi begitu Anda melepas anak Anda di dunia bebas bersama  teman-temannya, maka seberapapun hebatnya Anda melarang anak Anda, buah-buah hati Anda akan menemukan “jalan”nya. Saya jadi teringat ucapan <strong>Malcolm</strong>, Sang Profesor di bidang Chaos dalam film Jurrasic Park yang mengatakan <strong><em>“Life finds a way”</em></strong> saat ia menegaskan kalau Dinosaurus akan menemukan caranya untuk survive dan berkembang biak walaupun manusia berusaha untuk mengendalikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yah, anak-anak dan remaja kita adalah “dinosaurus” kecil, yang kekuatannya tidak boleh kita remehkan. Mereka selalu menemukan jalan untuk mendapatkan informasi yang mereka mau, entah diijinkan atau tidak oleh orangtuanya. Hormon pubertas dan rasa penasaran adalah dua panah pasopati yang tidak bisa dibendung kesaktiannya hanya sekedar dengan larangan dan penggerebekan.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah saatnya paradigma<strong> “Melarang dan Mengawasi” </strong>digantikan dengan paradigma <strong>“Mendampingi dan Memahami”</strong>. Sudah waktunya kita para orangtua menyisihkan seragam algojo dan sipir penjara, dan mengenakan busana baru sebagai “sahabat” mereka. Alih-alih berkata, <em>“Jangan coba-coba kamu mendownload video itu ya!!”</em> mungkin kita bisa melakukan pendekatan yang lebih holistik, mengajak anak kita tukar pikiran, <em>“Nak, siapa tahu kamu sudah terlanjur pernah nonton video itu sama teman-temanmu, apa pendapat kamu? Yuk kita ngobrol. Papa pingin tahu komentar kamu …… “.</em> Bayangkan, obrolan seperti itu bisa dijadikan moment bagus buat orangtua menyuntikan edukasi seks, siraman rohani, dan tentu saja sekalian merapatkan tali kasih antara anak dan handaitolannya. Plus, anak kitapun jadi tumbuh rasa percaya dirinya karena merasa sudah diperlakukan seperti anak yang sudah matang.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu kita mengijinkan jari-jari anak kita menyentuh Hp, Blackberry, laptop, internet, dan remote control maka mereka akan melacak apapun informasi yang mereka mau. Dan jangan disangka, mereka bisa sangat smart di bidang IT dibanding kita orangtuanya. Karena itulah, <em><strong>Stop being Stopper, Start being Starter</strong></em> …. Marilah jadi orangtua yang hobinya bukan bilang “STOP!” … karena Anda tidak pernah bisa sungguh-sungguh menyetop, dan mulailah sering mengatakan “Ayo nak, kita START membicarakan macam-macam yang kamu alami dan rasakan…” Malah, jika Anda beruntung, dengan menjadi STARTER, justru Anda punya kesaktian untuk men-STOP secara jitu apapun yang Anda anggap buruk bagi masa depan anak Anda. Aneh, bukan?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ya itulah dunia PARENTING, dunia yang aneh bin ajaib dan menarik.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2010/06/10/523/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Main tanah, siapa takut!</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2010/05/25/main-tanah-siapa-takut/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2010/05/25/main-tanah-siapa-takut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 09:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brainclips]]></category>
		<category><![CDATA[Main tanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=513</guid>
		<description><![CDATA[Kabar gembira untuk orangtua yang masih hobby mengijinkan anak-anaknya bermain di luar dan kontak langsung dengan alam. Baru-baru ini dalam simposium American Society of Microbiolgy, muncul wacana menarik yang dituturkan oleh pakar mikrobiology Dorothy Matthews dan Susan Jenks. Menurut penelitian yang mereka lakukan, ada fakta menarik tentang satu jenis bakteri yang sering tak sengaja dihirup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/dirt.jpg" alt="" width="250" height="204" />Kabar gembira untuk orangtua yang masih hobby mengijinkan anak-anaknya bermain di luar dan kontak langsung dengan alam. Baru-baru ini dalam simposium <strong>American Society of Microbiolgy</strong>, muncul wacana menarik yang dituturkan oleh pakar mikrobiology <em>Dorothy Matthews</em> dan <em>Susan Jenks.</em> Menurut penelitian yang mereka lakukan, ada fakta menarik tentang satu jenis bakteri yang sering tak sengaja dihirup oleh anak-anak saat bermain di alam bebas. Nama bakterinya adalah <strong><em>mycobacterium vaccae</em></strong> yang biasanya bercokol di tanah. <span id="more-513"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dari penelitian mereka, ada bukti kalau bakteri ini mempengaruhi kemampuan anak untuk belajar, karena bakteri ini bisa merangsang munculnya hormon serotonin dan bersifat antidepressant, sehingga bisa sekaligus mengurangi kecemasan. Ketika bakteri ini diujicobakan pada tikus eksperimen, efeknya adalah tikus-tikus jadi lebih cepat bisa menemukan jalan di labirin yang rumit, dan juga terlihat lebih tenang.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, mulai sekarang, tidak ada salahnya anda menjadwalkan waktu khusus supaya anak Anda bisa bermain di alam bebas. Atau minimal Anda sisakan space kosong di rumah untuk dijadikan taman mungil. <strong><em>L</em><em>et’s GO GREEN and HAPPY!</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2010/05/25/main-tanah-siapa-takut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Happy like Shrek!</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2010/05/25/happy-like-shrek/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2010/05/25/happy-like-shrek/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 08:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[movie splash]]></category>
		<category><![CDATA[Happy Shrek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=508</guid>
		<description><![CDATA[Berapa kali Anda mendengar orang curhat, “Coba seandainya saja hidupku gak seperti ini, aku pasti merasa bisa lebih bahagia”. Atau jangan-jangan Anda sendiri yang sering dalam hati berkeluh, ”Kenapa ya hidupku cuma begini-begini aja”. Kalau memang begitu, tidak ada salahnya kalau Anda meluangkan waktu ngantri nonton film Shrek terbaru yang sekarang ini sedang diputar di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/shrek2.jpg" alt="" width="250" height="371" />Berapa kali Anda mendengar orang curhat, <em>“Coba seandainya saja hidupku gak seperti ini, aku pasti merasa bisa lebih bahagia</em>”. Atau jangan-jangan Anda sendiri yang sering dalam hati berkeluh, <em>”Kenapa ya hidupku cuma begini-begini aja”</em>. Kalau memang begitu, tidak ada salahnya kalau Anda meluangkan waktu ngantri nonton film Shrek terbaru yang sekarang ini sedang diputar di bioskop. Apalagi kalau Anda termasuk fans berat tokoh monster gempal yang satu ini, dan mengikuti seluruh jilid filmnya, dijamin Anda akan lebih bisa memahami alur besar kisahnya dan lebih tercubit dengan semprotan inspirasinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sendiri tidak menyangka kalau film Shrek kali ini punya muatan filosofis yang lebih dalam ketimbang jilid-jilid sebelumnya. Hebatnya, film ini berhasil membungkus sebuah nasihat sederhana dengan tuturan dongeng yang bagus sehingga nasihat sederhana itu menjadi tamparan yang telak untuk membangunkan kesadaran kita.<span id="more-508"></span></p>
<h3 style="text-align: justify;">The Story in brief</h3>
<p style="text-align: justify;">Kisahnya, Shrek si monster baik hati bertelinga lucu ini sudah menutup masa-masa petualangan liarnya dengan menikahi Fiona, putri raja negeri Far Far A Way. Setelah berbuntut tiga orang anak yang lucu-lucu, Shrek mulai terhisap dalam rutinitas kehidupan rumah tangga yang begitu-begitu saja. Tidak ada lagi perjalanan penuh tantangan dan pertarungan seru melawan musuh-musuh yang aneh. Paling banter, tiap hari tantangannya cuma membetulkan genteng atau selang toilet yang mampet. Hari-hari bebasnyapun berganti dengan tanggungjawab harian mengurusi anak dan meladeni tetangga.</p>
<p style="text-align: justify;">Saking bosannya, Shrek mulai merasa tidak bahagia lagi. Sampai suatu ketika ia dipergoki penyihir culas Rumpelstiltskin, yang selalu mencari mangsa orang-orang yang sedang bermasalah. Rumpelstiltskin ini mengiming-imingi Shrek untuk bisa menikmati lagi masa kebebasannya asalkan Shrek bersedia menyerahkan satu hari pada masa lalunya untuk dimiliki penyihir itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka transaksipun terjadi. Shrek masuk ke dunia kehidupan pilihannya, bebas melakukan apapun. Awalnya Shrek memang bergelimang rasa bahagia luar biasa, karena tak seorangpun bisa menuntutnya untuk melakukan rutinitas apapun. Tapi konsekuensinya, dalam kehidupan barunya ini, baik Fiona istrinya, Donkey sahabatnya, Pinokio dan semua sahabat-sahabatnya tidak mengenal Shrek sama sekali. Sadarlah Shrek, bahwa hanya untuk mencecapi kebahagiaan semunya itu, ia harus kehilangan orang-orang yang disayanginya. Sampai suatu saat, di dasar kesedihannya ia berkata, <strong><em>“I don’t realize it, untill I lost it”</em></strong> . Maka dengan segenap tenaga dan hatinya, Shrek berusaha untuk bisa menarik kembali permintaannya, dan membatalkan transaksi sihirnya itu.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Open your eyes for this moment’s happiness</h3>
<p style="text-align: justify;">Waktu Anda kuliah, anda membathin <em>“Saya belum bahagia kalau belum lulus jadi sarjana”</em>. Begitu Anda jadi sarjana, bathin Anda bergumam <em>“Saya belum bahagia kalau belum bisa dapat diterima kerja”</em>. Begitu diterima kerja, lain lagi keluhan bathin Anda, “<em>Saya belum bahagia kalau gajinya cuma segini-segini aja”</em>. Dan berderet-deret lagi syarat kebahagiaan Anda. Lha kalau begitu terus, kapan Anda akan sungguh-sungguh merasa komplit dan utuh menikmati hidup Anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah paradigma para pengejar kebahagiaan, yang menganggap bahagia itu harus dikejar dan dicapai. Selama belum tercapai, jadinya Anda merasa belum berhak merasa bahagia. Dan kalaupun Anda berhasil mencapai titik target Anda, paling-paling Anda cuma merasa boleh bahagia sebentar, lalu berlanjut lagi dengan set up target berikutnya, dan mengosongkan kantong kebahagiaan Anda lagi. Maka kebahagiaan Anda bisa dihitung dengan jari donk seumur hidup Anda. Boleh-boleh saja sih Anda menjadi pengikut para motivator yang gemar berteriak, <em>“Jangan cepat puas! Kejar targetmu terus!”</em>. Tapi, Saya lebih senang memodifikasinya menjadi : <strong><em>“Pasang targetmu, dan bahagialah setiap saat selama masa pengejaranmu!”</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau Anda mau merasa bahagia setiap hari, kenapa tidak Anda menggoyang sedikit status Anda menjadi <strong>“Perasa kebahagiaan”</strong>, dan bukan lagi sebagai<strong> “Pengejar Kebahagiaan”</strong>.  Karena itu arahkan sorot mata hati Anda kepada detik ini, dan temukan sejuta alasan kenapa Anda bisa merasakan kebebasan, kelepasan, dan kebahagiaan Anda. Jadikan sesuatu yang biasa-biasa dan yang tidak patut disyukuri menjadi suatu berkat dan anugerah yang besar hari ini dan sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Alhamdulilah, enaknya bisa merasakan nikmat nasi putih dan ikan asin ini. Coba kalau lagi sariawan, makanan seenak apapun ya bakalan perih di bibir”.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Hmmm, jari tanganku masih sepuluh! Coba kalau hilang satu saja gara-gara kecelakaan. Pasti hidupku rasanya kayak di neraka! Syukur masih lengkap ya”.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Wah, air mandinya segerrr banget. Tadi aku baca artikel ada orang yang alergi karena air, kesentuh air sedikit aja langsung badannya iritasi. Terima Kasih Tuhan masih memberi saya kulit normal begini”.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Jangan menunggu sesuatu direnggut dari Anda, dan baru Anda sadar betapa berharganya sesuatu itu dalam hidup Anda. Hargai sesuatu itu sekarang, dan cerapi kebahagiaannya. Jangan bisanya cuma memarahi anak Anda – tapi begitu anak Anda diambil oleh Tuhan, Anda malah menangis sejadi-jadinya menyesali kehilangannya. Kalau begitu sih apa bedanya dengan sikap anak kecil, yang ketika punya mainan dicuekin tergeletak, tapi begitu diambil oleh orang lain malah berteriak-teriak histeris sejadi-jadinya. Makanya, apapun karunia yang ada dalam kehidupan Anda sekecil apapun tampaknya, berbahagialah sebesar-besarnya!</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Happiness is here and now, not IF.</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2010/05/25/happy-like-shrek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Innovate like Shrek!</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2010/05/25/innovate-like-shrek/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2010/05/25/innovate-like-shrek/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 07:51:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[movie splash]]></category>
		<category><![CDATA[Innovating Shrek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=504</guid>
		<description><![CDATA[Penonton Indonesia dibikin tergelak-gelak lagi oleh lakon buto ijo yang satu ini, SHREK dan kawan-kawannya, di besutan film seri ke empatnya, Shrek the Final Chapter. Muncul tepat di ambang musim ujian sekolah, tampaknya Shrek bisa dijadikan cemilan ringan yang bisa membuat anak-anak kita rada terhibur sebelum mereka masuk arena pembantaian ujian di bulan Mei ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/shrek1.jpg" alt="" width="300" height="225" />Penonton Indonesia dibikin tergelak-gelak lagi oleh lakon buto ijo yang satu ini, SHREK dan kawan-kawannya, di besutan film seri ke empatnya, Shrek the Final Chapter. Muncul tepat di ambang musim ujian sekolah, tampaknya Shrek bisa dijadikan cemilan ringan yang bisa membuat anak-anak kita rada terhibur sebelum mereka masuk arena pembantaian ujian di bulan Mei ini. Para pembesar di rumah produksi Dreamworks rupanya tidak mau kalah, dan mempersenjatai film Shrek ke empat ini dengan tampilan 3D yang memang sudah digandrungi jutaan penonton bioskop. Belakangan ini memang muncul imej, kalau sebuah film sampai dibalut dengan teknologi 3D – pastilah itu film jawara andalan. Ya memang jelas sekali film Shrek pantas dibuat dengan kemewahan tampilan 3D, karena jasa Shrek sudah begitu besarnya buat para boss di pabrikan film Dreamworks. Sejarah pernah mencatat, ketika film Shrek jilid pertama merengsek masuk pasaran bursa film animasi CGI dunia, orang-orang begitu kesengsemnya dengan Shrek sampai-sampai suhu film animasi dunia macam Pixar dan Disneypun harus legowo mengakui posisi Shrek di papan rating box office. Koq bisa? Apa resepnya?<span id="more-504"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sederhana saja : pemutarbalikkan pakem!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sejak awal ide cerita Shrek digagas oleh penulis William Steig, memang tujuan mulianya cuma satu yaitu menawarkan kepada para audience sebuah kisah dongeng yang lebih posmo, unik, dan unforgetable. Dengan lihainya  ide cerita film Shrek ini menantang budaya dongeng ala Walt Disney dan H.C Anderson yang biasanya dicicipi orang-orang. Kalau di cerita-cerita dongeng klasik, selalu Pangeran Tampan, Putri cantik dan Ibu Perilah yang punya takhta pesona tertinggi sebagai lakon jagoannya &#8211; sementara naga penyembur api atau monster penunggu hutan kerap dapat bagian peran jahat. Nah, di alur cerita Shrek, kita diajak untuk melihat kemungkinan lain, “Bagaimana seandainya Monster Hutan itu dijadikan lakon utama, sementara Pangeran Tampanlah yang jadi biang keladi kekacauan karena tingkahnya yang sok ganteng dan gila kekuasaan?”</p>
<p style="text-align: justify;">Dan bim sa la bim, Film Shrek mengguncang bioskop sejagat. Dan orang-orang tiba-tiba jadi jatuh cinta dengan sosok “tidak ganteng, tidak rapi, tidak harum, tidak intelek” dari si SHREK, sang monster ogre berkulit hijau.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Jaman sudah berubah, bung!</h3>
<p style="text-align: justify;">Masih rada hangat dalam ingatan kita, ketika dunia menyorot serunya pemilihan presiden Amerika, dan Obama mencuat jadi orang nomor satu di negeri adi daya itu. Untuk pertama kalinya Amerika menoreh sejarah seorang kulit hitam bisa naik takhta jadi Presiden, dan jelas-jelas itu adalah fenomena nyeleneh di luar “pakem” tradisi panjang budaya Amerika dimana bule kulit putihlah yang biasanya lebih dilirik mayoritas untuk didaulat jadi Presiden. Lha wong biasanya, orang-orang negro di sana selalu diasosiasikan dengan kasta tersingkir dan dianggap cuma jago nyanyi dan nge-rap doank. Naga-naganya, dunia ini sudah terjangkit virus perubahan radikal, dimana orang-orang sudah saking “bosan”nya dengan pakem-pakem standard yang ada, dan mulai mencari-cari variasi yang menyegarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Indonesia juga tidak terkecuali. Begitu jenuhnya kita melihat acara sinetron, berita, talkshow atau infotainment yang bertaburan cowok-cowok macho dan cewek-cewek mulus. Dan ketika seorang “nobody” bernama Tukul masuk panggung pentas televisi lewat acara Empat Matanya, kontan acara itu jadi primadona dan menembus rating yang tinggi. Bayangkan saja kalau Obama atau Tukul memutuskan untuk maju ke depan mata publik 10 atau 20 tahun yang lalu, apa mungkin penerimaan orang akan sama ya? Who knows?</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali ke soal film, kita juga pernah terperangah 15 tahun yang lalu, saat film Jurrasic  Park dirilis. Orang-orang takjub dengan keajaiban teknologi CGI yang bisa mewujudkan apapun efek yang diinginkan skenario film. Efek kaku penampilan dinosaurus yang biasanya dikerjakan dengan animatronik, kostum karet, atau stop motion sekarang digantikan dengan animasi digital yang begitu realistisnya sampai-sampai penonton geleng-geleng kepala saking terpukaunya melihat dinosaurus yang begitu hidup di film Jurrasic Park hasil godokan sineas kesohor Steven Spielberg.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, di tahun-tahun belakangan ini, orang tidak lagi terpana melihat kecanggihan olahan teknologi CGI, alias sudah mulai terbiasa. Coba perhatikan saja, dalam setahun bisa puluhan film diramu dengan efek digital canggih, sehingga tidak lagi menjadi sesuatu yang luar biasa. Justru begitu ada sineas yang nekad menantang pakem budaya efek digital, filmnya jadi mudah dilirik orang dan menarik atensi publik. Contoh gampangnya adalah film Supranatural, yang modalnya cuma handycam,  memakai setting kamar tidur sepanjang film, dan pemainnyapun antah berantah bukan aktor populer – eh, malah bisa menembus angka box office lumayan tinggi.</p>
<h3 style="text-align: justify;">It’s time to make things different</h3>
<p style="text-align: justify;">Jamannya sudah pas untuk mencoba resep-resep dan kiat-kiat baru dalam segala segi kehidupan kita. Yang jadi soal cuma masalah keberanian dan kemauan kita saja. Audiencenya sudah siap dan menanti-nanti Anda untuk berani tampil beda, kalau perlu sedikit keluar jalur pakem biasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di rumah ataupun di kantor, sah-sah saja bila Anda mau mencoba-coba gaya dan akifitas baru yang bisa menyenggol kebiasaan  lama yang sudah jadi tradisi di situ. Anak, pasangan, bawahan, rekan kerja, konsumen ataupun murid/mahasiswa Anda butuh juga kejutan-kejutan di luar budaya dan rutinitas yang Ada. Mereka bisa jadi selama ini sudah jenuh dengan gaya serta tampilan Anda yang itu-itu aja, dan menunggu-nunggu kapan waktunya Anda bisa membuat suasana jadi lebih segar. Kalau pemimpin yang ja’im, guru galak, atau orangtua kaku sih sudah  banyak bergentayangan dimana-mana. Sekaranglah saatnya Anda &#8230;. berubah! Dan sekali Anda merombak imej Anda dan melangkah sedikit saja keluar dari zona nyaman Anda, serta berani mengambil resiko ….. mungkin hasilnya bisa mengejutkan Anda sendiri. Mumpung ini adalah jaman dimana orang ganteng dan cantik belum tentu jadi pilihan, jaman dimana IQ dan titel sarjana belum tentu jadi jaminan, jaman dimana produk mahal belum tentu menjamin mutu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Ini jamannya inovasi. Berani bergabung?</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2010/05/25/innovate-like-shrek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Avatar</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/12/24/avatar/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/12/24/avatar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 02:08:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[movie splash]]></category>
		<category><![CDATA[Avatar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=495</guid>
		<description><![CDATA[Apa jadinya kalau sutradara kelas kakap punya dua obsesi dalam waktu bersamaan: pelestarian lingkungan dan pelestarian film heboh? Jawabannya adalah : film menggemparkan AVATAR, yang bulan Desember ini sedang santer-santernya bikin bioskop antri. Film ini sempat bikin awam rada linglung karena banyak yang tadinya berpikir film ini diangkat dari serial kartun “avatar” yang banyak digandrungi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/avatar1.jpg" alt="" width="225" height="288" />Apa jadinya kalau sutradara kelas kakap punya dua obsesi dalam waktu bersamaan: pelestarian lingkungan dan pelestarian film heboh? Jawabannya adalah : film menggemparkan AVATAR, yang bulan Desember ini sedang santer-santernya bikin bioskop antri. Film ini sempat bikin awam rada linglung karena banyak yang tadinya berpikir film ini diangkat dari serial kartun “avatar” yang banyak digandrungi anak-anak Indonesia. Nyatanya Avatar yang satu ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan film kartun itu, tapi cuma judulnya saja yang kebetulan mirip.</p>
<p style="text-align: justify;">Avatar memang dinobatkan menjadi film yang paling ditunggu-tunggu tahun 2009 ini, karena dianggap sebagai film yang paling ambisius dan digarap super serius. Bayangkan saja, bujet yang musti dikuras demi mewujudkan film ini mencapai 400 juta dollar – konon dianggap film paling mahal tercatat dalam sejarah hingga tahun ini. Kalau bukan James Cameron yang jadi dalang film ini, mungkin tidak ada satupun rumah produksi Hollywod yang iklas patungan menggodok film ini. Ya, siapa sih yang tidak kenal James Cameron? Dialah dedengkot yang berada di balik film-film pengeruk duit macam Terminator, Aliens, True Lies, The Abyss dan Titanic. Dan setelah absen lama dari panggung film hollywod cukup lama, akhirnya Sang Maestro kembali lagi bikin gemuruh lewat film AVATAR-nya itu.<span id="more-495"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tapi kelihatannya, pertaruhan 20<sup>th</sup> Century Fox mencukongi film ini tidak bakal sia-sia. Di Minggu awal pemutaraannya saja, pundi-pundi emas penghasilannya saja sudah meraih angka 700 juta dollaran. Ditambah lagi dengan adanya rumor kalau film ini bakal sukses dilirik masuk dalam nominasi Oscar tahun depan. So pasti, nama James Cameron bakal semakin sakti saja di panggung persilatan film dunia</p>
<h3 style="text-align: justify;">It’s Cameron’s Personal Passion</h3>
<p style="text-align: justify;">Sejak sukses dengan film The Abyss dan Titanic, tampaknya James Cameron mendapatkan wangsit baru untuk jadi pecinta lingkungan sejati. Buktinya, ia tiba-tiba lengser dari hiruk pikuk film action dan picisan Hollywood, kemudian menekuni hobby barunya menggarap film-film berbau dokumenter lingkungan. Dewi Bumi rupanya benar-benar sudah merasuki jiwa Cameron, sampai-sampai sekembalinya ke ajang film komersilpun ia tidak mau melepaskan panggilan nuraninya untuk menghembuskan pesan-pesan moral kelestarian lingkungan.</p>
<p style="text-align: justify;">Filmnya sendiri berkisah di seputar sepak terjang seorang kopral bernama <strong>Jake Sully</strong>, yang kakinya cacat dan ditawari untuk membantu proses diplomasi dengan komunitas alien penghuni planet Pandora. Tujuan diplomasinyaadalah supaya suku native primitif ini bersedia untuk direlokasi, karena tanah tempat mereka tinggal akan ditambang untuk mendapatkan sumber energi <strong>unobtanium</strong> yang sangat dibutuhkan untuk melangsungkan kehidupan di bumi yang kisahnya tengah mengalami krisis energi akibat ulah manusia yang terlampau serakah menggerogoti kelestarian alam di bumi.</p>
<p style="text-align: justify;">Berhubung udara planet sangat berbahaya bagi manusia, maka tim ilmuwan telah merekayasa unit-unit biologis yang mirip alien itu dan bisa ditunggangi oleh kesadaran manusia “pengendaranya”  &#8211; yang diberi julukan avatar. Caranya adalah, orang-orang yang telah terpilih dan sudah disinkronkan gelombang otak dan sarafnya akan didownload kesadarannya ke dalam avatarnya selama orangnya berada dalam tabung tidur. Nah, Jake Sully bersama dengan beberapa gelintir ilmuwan itulah yang ditugaskan mengendarai tubuh avatar ini supaya bisa melakukan riset alam sekaligus mempelajari budaya suku native di planet Pandora tersebut – yang ujudnya sangat bongsor, berkulit kebiruan, memiliki ekor dan mata besar seperti kucing.</p>
<p style="text-align: justify;">Alkisah, Avatar Jake Sully kemudian diterima oleh suku native itu, bahkan bisa menjalin kasih dengan <strong>Neytiri</strong> – gadis primitif planet Pandora. Dan saking lamanya Jake Sully menyelami filosofi dan budaya suku Pandora yang sangat menjunjung tinggi keseimbangan alam dan energi planetnya – malah membuat Jake berempati dan membela habis-habisan komunitas Pandora dalam menghadapi keserakahan kaum kapitalis dan militer bumi yang punya niat mengacak-ngacak keseimbangan ekologi planet Pandora. Syukurnya, Jake dibantu juga oleh teman-teman buminya yang memiliki visi yang sama. Plot filmnya senada dengan film “Last Samurai”nya Tom Cruise beberapa tahun silam.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Go Green Message</h3>
<p style="text-align: justify;">Maka resmilah film Avatar ini sebagai film iklan layanan masyarakat termahal di jagad ini, mengusung pesan moral yang berusaha menyadarkan kita kalau bumi dan alam seisinya ini sesungguhnya merupakan energy network yang memiliki jiwanya sendiri dan punya kemampuan untuk “memberontak dan membalas” jika manusia kelewat lupa diri membabat kelestarian alamnya demi menggerakkan roda industri dan memuaskan dahaga kaum industrialis.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/avatar2.jpg" alt="" width="225" height="321" />Tapi terlebih lagi, Seandainya saya punya 10 jempol, maka akan saya acungkan semuanya buat James Cameron yang menumpahkan segala energi dan kesabarannya demi merealisasikan panggilan hidupnya dalam film avatar ini. Sejak tahun 1994, sebetulnya ia sudah gregetan pingin membuat film avatar ini. Namun berhubung kala itu teknologi cinematography kita masih pas-pasan, maka Cameron bersedia menunggu 13 tahun sampai perangkat dan software CGI serta teknik film 3 Dimensi Hollywood sudah benar-benar matang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedalam itulah Passion seorang James Cameron. Ia sadar kalau dirinya bukan politikus ataupun pecinta lingkungan yang mahir mengumpulkan massa dan berdemo dimana-mana. Ia juga maklum dirinya bukanlah reporter atau jurnalis yang katam menulis buku dan artikel-artikel ilmiah. Tapi itu tak menghentikannya untuk bisa menyentuh dan mengingatkan kita semua akan pentingnya nilai keseimbangan alam. Lewat talentanya merangkai dongeng, ia berjuang dengan caranya yang khas menggagas film-film yang mudah dicerna dan bisa menginspirasi kita semua.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana dengan Anda? Dimana talenta Anda? Sudahkah Anda mencari titik temu antara panggilan hidup, passion dan talenta Anda  sehingga bisa menyuguhkan kontribusi buat orang-orang di sekeliling Anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Apapun bakat Anda, selalu ada 1001 macam cara (bahkan lebih) agar Anda bisa meringankan beban hidup orang lain, memberikan inspirasi, dan memperjuangkan nilai-nilai luhur semesta. Ully sigar melantunkan lagu-lagu kecintaan alamnya, GM Sudharta mencoretkan pensilnya membuat karikatur-karikatur kemasyarakatan, Guruh Soekarno Putra mengerahkan penari-penarinya menginspirasi kita, Gus Dur dengan politik ceplas-ceplosnya, Butet dengan monolog-monolog sindirannya, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pilihlah cara Anda sendiri, jadilah diri sendiri, gaungkanlah ke-khas-an Anda untuk menyentuh dan membuat dunia menjadi rumah kita yang lebih indah. Hey … minimal jika Anda sulit menemukan dimana talenta Anda, cukup arahkan mata Anda ke bawah, cari sepotong sampah … dan buang pada tempatnya. Itu sudah lebih dari cukup bisa menginspirasi orang banyak.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Songsong 2010 dengan talenta Anda yang lebih bersinar. Selamat Tahun Baru.</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/12/24/avatar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reason to love?</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/12/22/reason-to-love/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/12/22/reason-to-love/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 19:03:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[mind shop]]></category>
		<category><![CDATA[Reason to love]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=475</guid>
		<description><![CDATA[Di bulan Desember ini ada statement menarik yang saya pergoki hampir dalam waktu bersamaan, baik di milis HR Excellency dan juga di Facebook. Bunyi statementnya adalah &#8220;Tak perlu alasan untuk mencintai” ….  Ada juga yang dimodif sedikit jadi kalimat “Karena cinta tak butuh alasan”. Hmmm … bulu kuduk rada bergidik juga membacanya, berhubung kalimat itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/lovein.jpg" alt="" width="225" height="206" />Di bulan Desember ini ada statement menarik yang saya pergoki hampir dalam waktu bersamaan, baik di milis HR Excellency dan juga di Facebook. Bunyi statementnya adalah <strong><em>&#8220;Tak perlu alasan untuk mencintai” </em></strong>….  Ada juga yang dimodif sedikit jadi kalimat <em><strong>“Karena cinta tak butuh alasan”</strong></em>. Hmmm … bulu kuduk rada bergidik juga membacanya, berhubung kalimat itu menyemburkan hawa romantis yang luar biasa. Anda yang dasarnya memang gemar dengan untaian kata-kata mutiara dan kisah cinta yang mendayu-dayu dijamin bakal melayang-layang mendengarkan kalimat ini. Apalagi kalau itu keluar dari bibir ranum pasangan kita, bukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, kalau kita mau bersedia merenungkan baik-baik kalimat itu dan menaruhnya dalam perspektif realitas kehidupan emosional kita, bisa jadi kita akan pikir-pikir panjang lagi sebelum meng”iya”kan kalimat itu. Bagaimana jika sesungguhnya : &#8220;Selalu ada ALASAN kenapa kita bisa MENCINTAI seseorang&#8221;?<span id="more-475"></span></p>
<h3 style="text-align: justify;">It’s How we are built</h3>
<p style="text-align: justify;">Seberapapun anda tidak suka mendengarnya, itulah kenyataannya. Otak kita selalu bekerja dengan prinsip yang sama : Stimulus, proses, dan dilanjutkan dengan respon. Entah Anda membenci ataupun menyukai seseorang, itu merupakan produk dari proses yang terjadi di otak kita terhadap stimulus, baik itu berupa stimulus real di luar diri kita, atau bisa juga stimulus internal di kepala kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Anda memutuskan untuk “naksir” seseorang, maka sesungguhnya otak Anda telah melakukan sensus yang mendata segala sesuatu dari orang tersebut yang bisa memicu rasa suka Anda. Perkara Anda bisa mem-verbal-kan alasannya atau tidak, tetap saja otak Anda tahu apa yang Anda sukai dari orang tersebut. Nah, dalam kamus besar ilmu kematangan emosi, malah terang-terangan mengatakan kalau orang yang tidak bisa mendefinsikan emosinya dengan baik akan digolongkan sebagai orang yang kurang matang emosinya. Memang kedengaran agak sedikit kejam, tetapi mari kita pertimbangkan lebih jauh lagi. Coba kita simak kalimat-kalimat sederhana ini :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Ga tau deh, pokoknya aku suka banget ama dia” ….</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Entahlah, pokoknya aku benci dia!” ….</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Koq tiba-tiba aku pengen nangis yaa ..??” ….</em></p>
<p style="text-align: justify;">Bandingkan dengan kalimat-kalimat yang ini :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Aku suka sama dia, karena wajahnya mengingatkan saya pada pacar pertama saya”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Aku benci dia karena dia kemarin melakukan kebohongan yang fatal”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Aku pengen nangis, karena tahu-tahu ingatanku akan trauma masa kecilku muncul”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Maka tidaklah heran, bila orang-orang yang tidak matang emosinya sering kedapatan terjerumus dengan perasaan-perasaan yang mereka sendiri tidak bisa jelaskan. Saat dalam kubangan euphoria, mereka pokoknya tertawa-tawa tanpa bisa menyebutkan alasannya. Begitu juga kala diterjang perasaan yang tidak menyenangkan, mereka bisa menjerit sejadi-jadinya karena tidak tahu bagaimana harus mem-break down perasaannya dengan jelas. Masih mending kalau cuma menangis atau menjerit, bahkan orang-orang ini bisa memutuskan minum  baygon atau loncat dari lantai 5 mall hanya gara-gara ia tidak terampil memilah-milah perasaannya dengan baik.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Be Authentic some times can be embarassing</h3>
<p style="text-align: justify;">Bayangkan bila seorang cewek naksir cowok yang berhati lembut, berotot tebal dan punya tunggangan BMW kemana-mana. Si cewek sesungguhnya tahu betul apa alasannya mencintai sang kekasihnya itu. Bisa jadi sekedar berhati lembut saja tidak cukup baginya untuk mencintai sang cowok. Aksesoris otot tebal dan mobil mentereng bisa jadi yang membuat rasa naksirnya menjadi sangat beralasan. Tapi, budaya “romantisme” seringkali melarang kita untuk mencintai orang karena alasan materi. Maka dengan lugas si cewekpun selalu berkata kepada teman-temannya, <em>“Sungguh, hanya kelembutan hatinyalah yang membuatku terpikat”</em>. Padahal kalau dijelajahi lagi, belum tentu si cewek ini memberi perhatian kepada si cowok bila ia sekedar baik hati saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Budaya model begini diperparah lagi dengan hujan syair-syair lagu romantis dan novel-novel cinta yang kemudian melariskan statement <em>“Tidak perlu alasan untuk mencintai seseorang”.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Saat kita semakin sadar kenapa kita mencintai seseorang, di saat itulah kita menjadi tulus dengan diri sendiri dan orang lain.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Seorang ibu bijaksana nyaris saja ditabrak truk saat ia berusaha menyelamatkan anak orang lain yang ia tidak ia kenal sama sekali. Saat orang berkata,<em> “Sungguh Ibu ini mencintai anak itu tanpa alasan!”</em> – si Ibu menjawab dengan bijak, <em>“Oh, saya punya alasannya. Saya selamatkan anak itu untuk membela dan memegang teguh iman saya akan kasih yang berkelimpahan”</em>. Lihatlah, bahkan si Ibu  itu bisa menemukan alasannya di kala orang menganggapnya memiliki cinta tanpa alasan.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Find the reason of your love, find out the reason of all of your feeling</h3>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/lovein2.jpg" alt="" width="225" height="246" />Jadilah seorang inventor dalam dunia emosi Anda sendiri. Temukan dan selidikilah alasan kenapa Anda memiliki rasa cinta, takut, bimbang dan sebagainya kepada siapapun atau apapun dalam hidup Anda. Ambillah langkah berani untuk mengakui, minimal kepada diri sendiri, kenapa Anda memiliki perasaan yang Anda rasakan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Ya sih. Saya benci anak saya karena nilai pe er nya selalu jeblok”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Jujur, saya lebih suka cowok yang bermobil”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Terus terang, gue takut presentasi karena lagi jerawatan”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Yah apapun alasannya, yang penting Anda sudah melokalisirnya. Dengan demikian, kalau Anda merasa perlu meningkatkan kualitas dan kematangan diri Anda sebagai pasangan, orangtua, atasan maupun bawahan, maka Anda sudah tahu daerah mana yang harus Anda perbaiki. Dengan begitu, kita akan menjadi satu langkah lebih baik dalam pengelolaan emosi kita dan tidak melulu gampang larut dengan kalimat-kalimat cinta ala pujangga. Dan seandainya saja Anda memang benar-benar memiliki alasan luhur untuk mencintai seseorang, artinya Anda  bukan cuma sekedar matang secara emosional &#8211; tapi juga pantas diacungi jempol secara spiritual.</p>
<p style="text-align: justify;">Mumpung di akhir tahun banyak dari kita yang merayakan Natal juga, ada bagusnya momen agung itu kita gunakan untuk melakukan kontemplasi – mengumpulkan dan menghadirkan kembali alasan-alasan tulus dari segala perasaan cinta kita pada orang-orang yang kita sayangi dan juga cinta kita kepada Sang Khalik yang Maha Agung. Inilah saat yang pas untuk saling bertautan tangan dan merayakan indahnya memiliki ALASAN untuk MENCINTAI.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em> Selamat Natal dan Tahun Baru</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/12/22/reason-to-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Goodbye 2009 with happy ending?</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/12/16/goodbye-2009-with-happy-ending/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/12/16/goodbye-2009-with-happy-ending/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 14:36:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[mind shop]]></category>
		<category><![CDATA[Bye 2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[
Bu Siti adalah seorang guru TK di sebuah kota kecil tak jauh dari Ibu Kota. Hidupnya bisa dibilang baik-baik saja, hidup di rumah sederhana dengan suami yang sangat pengertian dan kebetulan juga adalah seorang guru SMEA. Rumahnya yang mungil juga sudah dihiasi tawa anaknya yang semata wayang berumur 7 tahun, namanya Aisah.
Namun belakangan ini, Siti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="/images/guru.jpg" alt="" width="225" height="296" /></p>
<p style="text-align: justify;">Bu Siti adalah seorang guru TK di sebuah kota kecil tak jauh dari Ibu Kota. Hidupnya bisa dibilang baik-baik saja, hidup di rumah sederhana dengan suami yang sangat pengertian dan kebetulan juga adalah seorang guru SMEA. Rumahnya yang mungil juga sudah dihiasi tawa anaknya yang semata wayang berumur 7 tahun, namanya Aisah.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun belakangan ini, Siti sedikit agak gelisah karena bulan Desember ini sudah hampir tuntas. Teman-temannya, termasuk juga rekan-rekan gurunya selalu meributkan soal resolusi tahun 2010 dan pencapaian-pencapaian di tahun 2009. Ia pernah tidak sengaja mencuri dengar temannya nyeletuk, <em>&#8220;Alhamdulilah, tahun ini bisa juga aku beli motor buat berangkat kerja. Jadi ada pencapaian baru di tahun 2009 ini.&#8221;</em> Lain lagi dengan tetangganya, yang pernah sambil santai nyeruput teh bercerita, <em>&#8220;Tahun lalu saya punya cita-cita buka warung kecil-kecilan. Eh, nyatanya bisa terwujud juga tahun ini. Lumayan jadi ada yang baru di tahun ini&#8221;.</em><span id="more-462"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja Siti jadi agak sedikit salah tingkah mendengar omongan-omongan kayak begitu. Maklumlah, karena ia merasa sepertinya tidak ada hal apapun yang baru dalam hidupnya terwujud di tahun ini. Kreditan motor suaminya aja masih belum lunas. Belum lagi KPR rumahnya yang masih berjalan terus seolah tak berujung. Mau belikan anaknya mainan PS aja gagal selalu gara-gara tabungannya terkuras terus buat urusan dapur.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/puzzle.jpg" alt="" width="215" height="220" />Syukurnya, hari Senin ini, Siti bisa sedikit mengalihkan pikirannya berhubung hari ini ia punya aktivitas baru dengan murid-muridnya. Siti ingin menyenangkan anak-anak muridnya dengan bermain puzzle beramai-ramai. Maka ia pun dengan muka sumringah membagi-bagikan puzzle ke tiap muridnya, masing-masing sebuah puzzle bergambar kartun terdiri dari 70 potongan puzzle. Maka, permainanpun dimulai.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil anak-anak didiknya asyik sendiri dengan puzzlenya, Ibu Siti berkeliling sambil mengamat-ngamati. Tiba-tiba ia berhenti saat melihat seorang anak yang sedang menempelkan potongan puzzlenya dengan asal-asalan. <em>&#8220;Lho kok asal nempel sih, Unang? Gambar kartunnya tapi gak tersusun?&#8221; </em>Tanya si Bu Guru. Muridnya mendongak dan senyum-senyum saja, <em>&#8220;Gak apa-apa Bu. Yang penting ada yang baru yang aku tempel, biar papannya lama-lama penuh, kan?&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Yah namanya juga anak-anak, bathin Siti. Ia pun membiarkan Unang sibuk sendiri menambah potongan baru di atas papannya walau gambarnya acak-acakan. Perhatiannya kemudian terarah ke pojok kelas, ke seorang anak yang memegang papan puzzle dengan kedua tangannya dan tertawa-tawa. Wah, cepat juga dia bisa menyelesaikan puzzlenya, pikir Siti. Iapun jalan mendekat dan melihat ke papan puzzle si anak, dan tiba-tiba saja Siti terhentak bingung. Di depannya ia melihat si anak memegang papan puzzle yang masih belum selesai, masih sekitar 8-10 potong belum ia rampungkan. Memang sih si anak ini mengerjakannya sudah benar, terbukti dari gambar Mickey Mouse yang sudah terlihat, tinggal bagian kakinya yang belum komplit. Tapi yang bikin Siti bingung adalah raut muka si anak yang kelihatannya bahagia gemah ripah loh jinawi. &#8220;<em>Lho, Rini, kamu koq senang banget kelihatannya. Kan puzzlenya belum selesai?&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Rini, dengan rambut ikalnya yang lucu lantas menjawab, <em>&#8220;Bu, punya Rini memang cuma ada segini potongannya. Mungkin potongan lainnya gak sengaja masuk ke kotak puzzle teman lainnya. Tapi gak apa-apa koq BU. Rini udah bisa lihat gambar Mickeynya. Wah makin lama dilihat makin bagus ya Bu. Rini jadi tahu potongan yang belum ada itu pasti gambar kakinya Mickey ama mulut anjingnya, si Pluto. Bagus &#8230;lucu sekali ya!&#8221; </em>Rinipun tenggelam lagi menikmati gambar puzzlenya itu. Ia terlihat bahagia sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Siti shock sejenak. Sepertinya halilintas baru menyambar dirinya. Segala kegalauannya soal resolusi 2010 dan pencapaian 2009 tiba-tiba saja sirna, digantikan dengan perasaan &#8220;penuh&#8221; dan rasa syukur tak terhingga. Tuhan sepertinya baru saja berbisik dan membangunkan kesadarannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pagi itu tidak akan pernah dilupakan Siti seumur hidupnya.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Mindfulness</h4>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/siti.jpg" alt="" width="225" height="356" />Boleh jadi Siti tidak sendirian. Banyak dari kita mungkin berbagi kegalauan yang sama di hari-hari menjelang ganti tahun. Yang tidak bisa menghasilkan hal-hal yang baru di tahun 2009 kepleset jadi minder di hadapan mereka yang banyak pencapaiannya. Kebalikannya, yang sukses meraih targetnya lantas mentertawakan yang tidak berhasil, menyebut orang-orang itu &#8220;Tidak setia dengan resolusinya, tidak ada achievementnya&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Hmmm &#8230; Siti menemukan jawabannya. Ia akhirnya sadar bahwa hidup tak ubahnya menyusun puzzle misteri makna keberadaan kita. Di jaman yang serba edan sekarang ini, orang sepertinya kesirep dengan kalimat &#8220;Harus sukses. Harus bertambah maju&#8221;,  dan membuat orang saling berburu dan berlomba-lomba membuat resolusi  tahun baru dan berusaha mewujudkannya. Mata Siti sekarang sudah terbuka saat melihat Unang yang bangga sudah menambah terus potongan puzzlenya tapi tidak membentuk gambar apapun. Kitapun bisa jadi Unang-Unang itu, yang sibuk bikin resolusi dan mencapainya, bangga dengan hal-hal baru dalam hidup kita, tapi sama sekali tidak memancarkan makna apapun dalam hidupnya. Hidup kita jadinya seolah cuma menuruti kemauan orang lain, sekedar menyesakkan hidup kita dengan hal-hal baru yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan panggilan hidup kita. Akhirnya kita jadi lelah dan capek sendiri, membuat diri kita makin rentan dengan stress.</p>
<p style="text-align: justify;">Siti terinspirasi oleh Rini, yang walau puzzlenya tidak bertambah, tapi bisa begitu bersyukur dan menikmati &#8220;keutuhan&#8221; gambar puzzlenya. Siti teringat dengan mendiang ayahnya yang pernah berkata, <em>&#8220;Hidup itu seperti jalan naik gunung, nak. Jangan menunggu puas sampai ke puncak, tapi nikmatilah perjalanannya. Berhentilah pusing dengan urusan sampai atau tidaknya engkau ke puncak gunung, dan bukalah mata kamu ke keAgungan pemandangan di sekitarmu. Itulah indahnya hidup, nak&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Yah, mungkin Anda tidak bisa mewujudkan resolusi Anda di tahun ini. Tapi itu tidak lantas membuat Anda dibilang gagal dan loyo. Sejauh Anda bisa melihat jernih gambaran makna hidup Anda dan menikmati tiap jejak langkah yang Anda lewati, maka sah-lah Anda disebut sebagai orang yang sukses sejati. <strong><em>It&#8217;s not a billion diammonds  that you make this year that counts, but a single spark you put  into your life that makes you alive.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Siti yang tidak mampu mewujudkan cita-citanya sendiri membelikan anaknya Play Station bukannya merasa ciut hatinya, malah bertambah bersyukur. Pasalnya ia tahu kalau gambaran maknanya adalah menjadi Ibu yang care, menyayangi  tanpa syarat, dan siap sedia setiap saat menemani anaknya bermain dan belajar.  Ia teringat-ingat betapa tahun 2009 ia lewatkan banyak waktu bermain bersama anaknya, mengajarinya menjahit, main lompat tali, makan bakso bareng, tertawa bersama-sama nonton dagelan tv dan masih banyak lagi. Pikirannya sadar penuh kalau ia sudah menghidupi maknanya,  dan itulah yang membuat Siti semakin bergelimang rasa syukur walau resolusinya tidak tercapai. Inilah yang kita sebut sebagai mindfulness, kesadaran tinggi akan sari pati keberadaan hidup kita di tengah kekacauan peradaban era nuklir ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang Anda boleh tersenyum bangga, bukan karena hal-hal baru yang Anda buat tahun 2009, tapi karena Anda semakin menikmati alunan makna hidup Anda. Apakah Anda masih setia dengan panggilan hidup Anda sebagai seorang Ayah, atasan, karyawan, pasangan, atau mungkin sebagai seorang anak? Karena itulah yang sesungguhnya mendefinisikan hidup Anda, bukan seberapa banyak resolusi yang sudah Anda buat dan capai. Dan semoga, lewat doa dan derap langkah Anda, potongan-potongan puzzle hidup Anda yang belum terwujud akan datang menghampiri.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Tinggalkan 2009 dengan bangga, dan sambut 2010 dengan tawa renyah Anda!</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/12/16/goodbye-2009-with-happy-ending/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>New Moon &#8230; Your love story?</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/12/15/new-moon-your-love-story/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/12/15/new-moon-your-love-story/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 11:10:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[movie splash]]></category>
		<category><![CDATA[New Moon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Tidak ada yang menyangka kalau film new moon ternyata bisa menggusur pamor film 2012 yang kontroversial itu. Dalam kurun waktu seminggu saja, new moon sudah mengeruk untung setara dengan film-film sekaliber Spiderman dan The Dark Knight. Bahkan hasil penerawangan para dukun-dukun pengamat film box office menyatakan kalau film new moon ini bisa duduk di singgasana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/moon.jpg" alt="" width="225" height="333" />Tidak ada yang menyangka kalau film new moon ternyata bisa menggusur pamor film 2012 yang kontroversial itu. Dalam kurun waktu seminggu saja, new moon sudah mengeruk untung setara dengan film-film sekaliber Spiderman dan The Dark Knight. Bahkan hasil penerawangan para dukun-dukun pengamat film box office menyatakan kalau film new moon ini bisa duduk di singgasana sebagai film terlaris tahun 2009! Padahal menurut catatan gono-gininya, modal untuk menggodok film new moon ini tidak melebihi 40 juta dollar. Stephanie Meyer, sang penulis novel saga kisah kasih vampire itu tentu bakal kecipratan banyak rejeki nomplok berkat sukses trilogi film-filmnya itu. Sehebat apa sih film new moon yang konon banyak digandrungi kaum hawa itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Maka saya pun menyelinap masuk bioskop dan mencicipi film new moon itu. Barulah kemudian saya mengangguk-ngangguk mengerti kenapa film ini begitu bisa bikin banyak cewek-cewek sampai ibu-ibu pada kesengsem. Film ini dengan manisnya menggabungkan balada percintaan ala Rano Karno dan Lidya Kandau, ditambah dengan bumbu taring vamipre dan srigala ‘werewolf’ jadi-jadian. Dan dengan gampangnya film ini bisa memuaskan bapak-bapak yang kepingin menikmati adegan action gebuk-gebukan, memenuhi harapan para penggila scifi yang haus akan special effect, sekaligus bisa bikin senyum ibu-ibu dan gadis-gadis yang bercita-cita menikmati alur percintaan ala telenovela. <span id="more-459"></span>New Moon betul-betul film gado-gado yang gurih dan tidak sulit dicerna. Anda bisa menikmatinya sambil mengunyah popcorn Anda, dan aman bagi Anda yang punya masalah jantung. Kecuali bagi Anda yang tidak suka nonton film-film mistik perpocongan, mungkin film new moon bakal sedikit membuat Anda alergi karena masih setia mengangkat tema vampire dan serigala jadi-jadian.</p>
<h4 style="text-align: justify;">You like it Because You want it</h4>
<p style="text-align: justify;">Di film New Moon, Anda masih bertemu lakon-lakon yang sama dengan film seri pertamanya ‘Twilight’. Ada Edward si vampire ganteng nan menggemaskan yang kasmaran dengan Bella, cewek manis yang rada tomboy. Ada juga Jacob, pemuda cool dan macho keturunan Indian yang ternyata naksir Bella juga &#8211; walaupun kasihnya tidak kesampaian. Kebetulan dikisahkan Jacob punya aji-ajian mengubah dirinya menjadi serigala jejadian yang hobbynya memburu vampire. Lengkaplah sudah cinta segitiga antara Bella, Edward dan Jacob ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kamus psikologi menonton film, saat Anda duduk manis menyaksikan adegan demi adegan film, sesungguhnya otak Anda aktif merasakan seolah Anda berada dalam posisi lakon-lakon yang Anda saksikan &#8211; istilah kerennya adalah proses <strong>“Auto Personifikasi”</strong>. Karena itulah, kita yang hidup di dunia yang serba tidak aman dan penuh ketidakpastian jadi suka sekali dengan tema film new moon ini. Kesetiaan dan kesediaan Edward untuk berkorban demi cintanya adalah dambaan bawah sadar banyak wanita, yang seringkali dalam dunia nyata langka sekali bisa ditemui. Jutaan wanita juga mengharapkan perlindungan hangat dan cinta tulus ala Jacob dalam film ini. Dan bukan cuma itu saja – bagaiman Bella bisa diterima hangat oleh keluarga Edward yang kesannya eksklusif juga seolah menproyeksikan hasrat dalam bawah sadar kita. Bagi Anda yang punya pengalaman cinta tak berbalaspun bisa ikut-ikutan berempati dengan Jacob, membuat bawah sadar Anda bisa sedikit teduh dan nyaman karena bisa berbagi rasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Yah, walaupun settingnya adalah kota kecil “ndeso” di pelosok Amerika, namun New Moon berlimpah dengan kisah utopia akan cinta, kesetiaan, dan penerimaan. Dan alam bawah sadar sangat-sangat membutuhkan moment dimana kita bisa menyentuh sensasi aman, terlindungi, dan diterima seperti yang dialami oleh Bella. Maka, kitapun iklas saja merogoh kocek kita untuk membeli tiket nonton New Moon demi merasakan sensasi itu, sebelum akhirnya kembali ke dunia nyata kita yang dipenuhi oleh keculasan, ketidaksetiaan, kegetiran dan penolakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah resep bumbu rahasia film New Moon.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan semoga Anda yang menonton film New Moon ini bisa membawa oleh-oleh berharga, yakni sepotong niat untuk bisa juga mewujudkan dahaga orang-orang di sekitar Anda akan cinta yang tulus, perlindungan, dan kesetiaan. Tidak gampang memang, karena menjadi orang yang setia tanpa syarat atau menjadi pelindung yang siap berkorban tentulah butuh bayaran yang tidak murah. Angin dingin kehidupan akan terus menggoyang langkah Anda. Duri tanah dan ular berbisa bakal kerap Anda temui dalam perjalanan Anda membahagiakan pasangan Anda. <em><strong>Love is like surfing on the stormy waves – only the true winner gets trough</strong></em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang pasti, untuk mencintai pasangan Anda lebih hangat, tidak perlu Anda jadi vampire dulu, kan? Bukan taring tajam yang Anda butuhkan, melainkan niat yang tajam. So &#8230; make your own new moon love story.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/12/15/new-moon-your-love-story/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2012 boom!</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/12/01/2012/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/12/01/2012/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 09:19:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[movie splash]]></category>
		<category><![CDATA[2012]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[2012 betul-betul film nekad
Hollywood begitu kesengsem dengan kontroversi ramalan suhu-suhu suku Maya soal hari kiamat dunia, sampai-sampai filmnya digarap. Dan tidak tanggung-tanggung, sutradara sekaliber Roland Emmerich sendiri yang turun tangan menggodok filmnya. Ia memang sudah kesohor sebagai dalang film khusus cerita-cerita teror massal dan bencana global. Tengok saja film-film besutannya yang sudah meraup box office [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/2012in.jpg" alt="" width="225" height="338" />2012 betul-betul film nekad</p>
<p style="text-align: justify;">Hollywood begitu kesengsem dengan kontroversi ramalan suhu-suhu suku Maya soal hari kiamat dunia, sampai-sampai filmnya digarap. Dan tidak tanggung-tanggung, sutradara sekaliber Roland Emmerich sendiri yang turun tangan menggodok filmnya. Ia memang sudah kesohor sebagai dalang film khusus cerita-cerita teror massal dan bencana global. Tengok saja film-film besutannya yang sudah meraup box office sebelumnya seperti Indepence Day, Godzilla, dan the Day After Tommorow. Jadi, kalau skenario 2012 sampai jatuh ke tangan Emmerich, itu sama saja dengan memasukkan pelor ke pistol yang tepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan terbukti, film 2012 mendulang emas di seantero dunia. Lagi-lagi, banyak orang yang geregetan karena gagal berkali-kali nonton 2012 gara-gara kehabisan tiket. Bukan cuma itu saja, di Indonesia, MUI sampai ikut-ikutan sibuk menggedor orang-orang supaya tidak tergoda nonton 2012 karena ide filmnya ditenggarai mencemarkan keyakinan agama. Mandat MUI bukannya menyurutkan orang-orang yang nonton 2012. Justru sebaliknya, semakin dilarang, orang-orang Indonesia malah semakin beringas pingin nonton karena sudah penasaran sampai ke ubun-ubun.<span id="more-447"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tercatat sayapun dua kali gagal ngantri untuk menggondol tiket nonton 2012. Baru di akhir November akhirnya saya bisa bernafas puas bisa mencicipi kehebohan 2012 di bioskop bilangan Karawaci. Ternyata sesuai prediksi, nonton 2012 bikin nafas tersengal-sengal saking tegang dan mencekamnya film itu. Salut untuk tim Emmerich yang sudah sukses memvisualkan pesta kiamat bumi dengan begitu realnya. Ceritanyapun sarat dengan goyangan-goyangan emosi yang lumayan bisa bikin terenyuh. Namun, bagi Anda yang alergi dengan film-film model begini, sebaiknya jangan menyentuh film ini demi kesehatan mental Anda.</p>
<h4>Simple Idea</h4>
<p style="text-align: justify;">Aslinya film ini bukannya menggambarkan kiamat dunia, karena di ujung film ini bumi diceritakan masih bertahan dan orang-orang masih bisa melanjutkan generasinya dan beranak pinak. Bencana global yang terjadi adalah sebatas bergolaknya inti bumi gara-gara radiasi ledakan solar matahari yang dahsyat. Ini sesuai dengan ramalan suku indian Maya yang menyebutkan pada tahun 2012 galakasi tetangga akan berada pada garis lurus sempurna dengan tata surya kita, menyebabkan matahari bersin-bersin dan mengirimkan radiasi yang membuat inti bumi memanas bagaikan microwave. Hasilnya, lempeng-lempeng benua bumi menjadi berantakan dan pusat kutub-kutub magnet bumi berpindah tempat. Gempa bumi dan tsunami dahsyat terjadi dimana-mana, membuat akhirat penuh sesak dengan milyaran jiwa-jiwa korban bencana global bumi.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, dikisahkan, beberapa negara yang sudah mengendus kemungkinan terjadinya bencana ini lantas bekerjasama membuat beberapa bahtera raksasa super canggih untuk bisa menyelamatkan orang-orang pilihan, termasuk juga menyelamatkan benda-benda cagar budaya dan flora fauna. Mirip betul dengan ide Nabi Nuh di kitab-kitab suci. Uniknya, kursi-kursi dalam bahtera inipun dijual secara rahasia dengan bandrol satu milyar euro. Otomatis cuma konglomerat-konglomerat dan raja minyak arab saja yang mampu mendapatkan tiket kursi di bahtera ini. Unsur drama film 2012 juga dirangkai apik dengan menghadirkan tokoh-tokoh yang saling terkait satu sama lain, berusaha untuk menyelamatkan keluarga mereka masing-masing dan mencari jalan untuk bisa menyusup ke dalam bahtera ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Demi memuaskan penonton, tentu saja Rolland Emmerich masih memegang teguh pakem klasik pembuatan film : <em>“Jagoan harus menang dan selamat”.</em> Dan itulah yang membuat penonton tetap sumringah keluar dari gedung bioskop setelah lebih dari 2 jam diaduk-aduk jantungnya nonton film ini.</p>
<h4>Taste the End</h4>
<p style="text-align: justify;">Boleh jadi ini adalah film yang paling realistis menyuguhkan imej-imej bencana alam dalam skala gigantic. Dengan dukungan layar cineplex besar dan tata suara surround DTS/Dolby, maka penonton bisa mencicipi simulasi hari kiamat dunia seolah berada di tengah-tengah kejadian sesungguhnya. Dan percayalah, kalau anda cukup konsentrasi menontonnya dan tidak sibuk dengan popcorn atau blackberry Anda, maka arus signal imajinasi otak Anda akan aktif. Dan untuk beberapa saat, otak Anda tidak lagi bisa membedakan realitas dan imajinasi. Jantung Anda mulai berdegup dan nafas Anda jadi tertahan ketika hormon adrenalin Anda tersembur ke sekujur tubuh. Inilah fase yang seringkali saya sebut sebagai <em>“real time imagery and emotional congruency”,</em> dimana emosi anda terstimulasi dan mulai memunculkan dinamika emosi selayaknya dunia sekeliling Anda memang benar-benar sedang kiamat.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang Anda pikirkan dan rasakan pada saat itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Saat hanyut menyaksikan adegan orang-orang yang saling berpelukan menyambut gelombang tsunami mematikan, atau menyaksikan ekspressi penyesalan mendalam saat orang-orang menyambut ajalnya tapi tidak sempat berpamitan dengan orang-orang tercinta – Apa yang Anda rasakan? Apa yang terlintas dalam bathin Anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah anda termasuk dalam daftar penonton 2012 yang begitu keluar gedung bioskop mempertanyakan kembali alur kisah hidup Anda, dan mengajukan pertanyaan kecil : <em>“Jika itu terjadi sekarang, apa saya akan meninggal dalam keadaan tergenang oleh kenangan manis bersama orang-orang yang saya cintai?”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Saya termasuk orang yang percaya kalau kalender akhir dunia ini hanya Tuhan yang tahu. Tapi saya juga termasuk orang yang percaya kalau kita punya pilihan untuk menentukan dalam kondisi apa kita akan menyambut hari itu. Mana yang Anda siapkan dari sekarang?</p>
<p style="text-align: justify;">Yah, berhubung Anda still yakin kiamat dunia itu  hanyalah wacana fiksi belaka, ya sah-sah saja kalau Anda bilang, <em>“EGP, emang gue pikirin. Life goes On, ga usah dipusingin”.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Tokh, 2012 tidak berniat memaksakan filosofi apapun ke penontonnya. Jika tujuan Anda nonton cuma buat hiburan dan asal bisa kencan bareng pacar Anda, yah jadilah 2012 sebatas pengganjal mata Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi kalau sehabis nonton 2012, Anda jadi punya pertanyaan-pertanyaan transedental soal awal dan akhir semesta , sekaligus jadi lebih sayang dengan keluarga, hmmm … maka oleh-oleh nonton 2012 bisa jadi PR mental Anda yang tidak berkesudahan. Selamat mencerna 2012, mumpung Anda masih punya waktu 3 tahun untuk merenung <img src='http://www.maxsandy.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/12/01/2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cicak vs Buaya, The Power of Analogy</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/11/18/cicak-vs-buaya-the-power-of-analogy/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/11/18/cicak-vs-buaya-the-power-of-analogy/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 12:22:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[mind shop]]></category>
		<category><![CDATA[Cicak Buaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[Aduh, Bangsa kita ini sungguh unik dan ceria. Selain kaya dengan harta budaya dan cagar alamnya, negara kitapun semarak dengan kehebohan-kehebohan yang mengundang senyum takjub kita. Tidak cuma berita balada artis kawin cerai saja yang mengisi hari-hari sepi kita, tapi para ningrat-ningrat politik kitapun tidak mau kalah saing masuk berita. Sampai-sampai beberapa bulan terakhir ini, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/cicak2.jpeg" alt="" width="225" height="176" />Aduh, Bangsa kita ini sungguh unik dan ceria. Selain kaya dengan harta budaya dan cagar alamnya, negara kitapun semarak dengan kehebohan-kehebohan yang mengundang senyum takjub kita. Tidak cuma berita balada artis kawin cerai saja yang mengisi hari-hari sepi kita, tapi para ningrat-ningrat politik kitapun tidak mau kalah saing masuk berita. <span id="more-443"></span>Sampai-sampai beberapa bulan terakhir ini, headline koran dan hot news tv lagi hot-hotnya ketagihan menyiarkan berita adu jotosnya kubu POLRI dan KPK, dengan tag linenya yang lagi hit “Cicak vs Buaya”. Itulah kenapa, saking berita-beritanya mengundang perhatian dan rasa penasaran, maka tokoh-tokoh elite kita sudah memenuhi syarat untuk menyandang gelar “entertainer”. Jadinya, saya seringkali mengatakan kalau panggung politik Indonesia sudah bersifat <em>“Politainment”</em>, alias serius tapi sekaligus menghibur.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, berhubung saya tidak mau latah membahas soal serba-serbi politiknya, saya lebih tertarik membahas kesaktian tag line “Cicak vs Buaya” yang konon menjadi api yang menyulut sumbu perang saudara di tubuh ikon-ikon institusi hukum negara kita. Jutaan masyarakat Indonesia geleng-geleng kepala, <em>“Wah kok bisa ya cuman gara-gara istilah gitu, orang jadi nekad saling menghunuskan pedang perang!”</em> Namun, di kalangan para suhu NLP dan  psikolinguistik, fenomena ini adalah demontrasi dari kekuatan ANALOGI yang luar biasa. Yang tidak banyak diketahui awam adalah, selain punya kekuatan destruktif, analogi juga punya kekuatan pendorong luar biasa yang bisa dijadikan amunisi sukses kita.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Creating Powerful Analogy</h3>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika seorang entepreneur yang sukses gemilang ditanya oleh seseorang,<em> “Wah bapak hebat sekali bisa mengembangkan bisnis sebesar ini. Padahal setahu saya, Bapak dulu sempat gagal beberapa kali dan nyaris bangkrut. Apa sih resepnya Pak?”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sang businessman tersenyum-senyum kecil sambil menjawab, <em>“Oh, sederhana sih. Sejak muda saya selalu percaya kalau hidup ini bagaikan belajar main sepeda. Setiap kita jatuh, kita jadi belajar sesuatu dan membuat kita lebih jago menggenjot sepeda kita. Tapi kalau Kita takut resiko jatuh, maka seumur hidup bahkan kita tidak akan punya nyali naik sepeda!”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Bayangkan, hanya dengan berpegang pada analogi sederhana<em> “Life is like riding a bicycle”,</em> maka seseorang bisa punya obor semangat untuk menerjang segala cobaan yang menjegal hidupnya. Padahal, analogi atau gampangnya disebut perumpamaan, biasanya tidak lebih dari satu atau dua potong kalimat saja. Namun, hawa saktinya bisa jadi sumber inspirasi dan energi yang mampu mendongrak spirit hidup kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan cuma itu saja, dengan analogipun kita bisa menularkan insight-insight kita dengan lebih mudah ke orang-orang di sekeliling kita. Alih-alih menggunakan teori-teori atau uraian panjang lebar, kita cukup meramu analogi yang simpel.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Berbesar hatilah. Biasanya pelangi selalu muncul setelah hujan deras.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Kamu itu seperti Kepiting. Walau di luar kelihatan keras, tapinya isinya lembut.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Mengasuh anak itu harus sabar. Sama seperti ulat dalam kepompong, semakin dipaksa keluar justru sayapnya semakin lumpuh.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Pilihannya tidak terbatas – Anda bisa merangkai analogi untuk menggambarkan segala situasi apapun. Dengan analogi, orang tidak lagi perlu rumit-rumit mencerna maksud komunikasi kita, dan dampak psikologisnyapun lebih tajam ketimbang kita menggunakan bahasa-bahasa ala kadarnya. Bahkan, sejarah mencatat, dari mulai pemimpin negara sampai nabi besarpun ada yang kerap memakai analogi untuk menyampaikan pesan-pesannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, kalau celetukan “cicak vs buaya” saja bisa menyulut energi perang dan nafsu saling hantam, maka Andapun bisa – sengaja tidak sengaja -menelorkan celetukan analogi negatif yang malah menggemboskan daya juang dan semangat hidup.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“percumalah, bagaikan mengeringkan air laut usahamu itu!”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sulit mengajarkan anjing tua trik-trik yag baru, jadi kamu cuekin aja dia”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“hatiku udah kayak vas cina yang udah remuk. Gak akan kumaafkan dia!”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Analogi itu betul-betul sakti mandraguna bukan? Sekali keluar dari mulut Anda, maka seluruh aliran energi Anda akan mengikuti suhu analogi itu, entah dia bersuhu hangat atau dingin. Kalau analoginya dingin, andapun jadi ikutan dingin, dan sekujur otot Anda jadi berat sekali rasanya untuk melakukan hal-hal positif. Tapi kalau analoginya hangat dan menghibur, kontan Anda jadi kesetrum energi positif dan lebih gampang melakukan hal-hal hebat dalam hidup Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesimpulannya sederhana saja, selalu ciptakan analogi positif untuk menciptakan atmosfer positif dalam hidup Anda. Jangan gampang tergoda untuk melontarkan analogi yang negatif. Dan selalulah jadi orang yang berkelimpahan, membagikan analogi-analogi mujarab untuk menyehatkan orang-orang di sekitar Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tutup dengan analogi kecil, <em>“Analogi itu seperti cabe rawit. Satu gigitan saja bisa bikin gorengan hidup jadi nikmat.”</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/11/18/cicak-vs-buaya-the-power-of-analogy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
