<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>www.maxsandy.com</title>
	<atom:link href="http://www.maxsandy.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.maxsandy.com</link>
	<description>Max Sandy Official Website</description>
	<lastBuildDate>Sat, 29 Oct 2011 03:30:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Captain America in Indonesia</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2011/10/28/captain-america-in-indonesia/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2011/10/28/captain-america-in-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 10:48:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[movie splash]]></category>
		<category><![CDATA[Captain America]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[Tepat tanggal 28 Oktober tahun ini, hari Sumpah Pemuda kita tentu aja jauh beda dengan 83 tahun yang lalu. Jalan-jalan gak lagi dipenuhi delman-delman elite dan menir-menir yang lalu lalang sambil cas cis cus ngomong Belanda. Potongan rambut anak-anak mudanya juga masih pada lurus-lurus mengkilat dengan belahan pinggir yang sangat simetris. Bahkan jalananpun barangkali masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tepat tanggal 28 Oktober tahun ini, hari Sumpah Pemuda kita tentu aja jauh beda dengan 83 tahun yang lalu. Jalan-jalan gak lagi dipenuhi delman-delman elite dan menir-menir yang lalu lalang sambil cas cis cus ngomong Belanda. Potongan rambut anak-anak mudanya juga masih pada lurus-lurus mengkilat dengan belahan pinggir yang sangat simetris. Bahkan jalananpun barangkali masih penuh dengan aroma keju Belanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahun ini suasananya lain; jalanan penuh sesak dengan angkot dan motor yang lagi buru-buru kejar setoran. Di lapangan-lapangan luas orang-orang sepakat berteriak-teriak bareng-bareng. Cuma teriakannya bukan lagi, <em>“MERDEKA! MERDEKA” </em>… tapi <em>“BUBARKAN PEMERINTAH!”</em>. Anak-anak mudanya gak lagi pada klimis-klimis, karena nyaris semuanya sudah kesirep tren rambut korea yang bikin kepala kayak pasar kaget. <span id="more-577"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pokoknya, membandingkan 1928 dengan 2011 betul-betul kayak bumi dan langit. Semangat Sumpah Pemuda yang puluhan tahun lalu bergaung nyaring, sekarang berubah ujud menjadi Sumpah Serapah Pemuda yang menyumpahi anggota-anggota DPR kita yang hobbinya molor di ruang sidang. Tapi bersyukurnya, itu membuktikan kalau spirit murni perjuangan pemuda kita masih tetap langgeng dan lestari. Hanya casingnya aja yang berubah drastis. Tapi tujuan akhirnya tetap awet, yakni membuat Bangsa kita tercinta ini bisa makin rindang dan sejahtera.</p>
<h3 style="text-align: justify;">From Sumpah Pemuda to the Captain America</h3>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/captain.jpg" alt="" width="250" height="383" />Uniknya, hari ini saya bukannya terngiang-ngiang dengan perjuangan pemuda-pemuda Indonesia tempoe doeloe. Yang terlintas dalam pikirannya saya malah sebuah film yang bulan lalu sempat nongkrong di bioskop. Film yang berkisah soal pemuda ceking yang ngotot mau ikutan berjuang, tapi terus-terusan ditolak oleh negaranya sendiri. Sampai akhirnya si pemuda ini bisa berakhir menjadi jagoan super keren dengan tameng yang gagah. Ya itulah dia, &#8230;.. film Captain America.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau Anda bukan penikmat film-film model begini, kontan Anda pasti ogah nonton film Captain America ini. Lha, jelas-jelas ceritanya diangkat dari tokoh komik super hero yang segmen konsumennya sudah jelas adalah anak-anak usia tanggung. Jagoannyapun beraksi dengan kostum warna-warni genjreng dengan musuh kagak lumrah bermuka tengkorak.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi kalau Anda ingin tahu, sesungguhnya dunia per-komik-an Amerika sudah jauh bergeser dari pakem aslinya. Dulunya, komik-komik Amerika masih bertutur dengan gaya yang sederhana dan lugas. Cukup baca satu eksemplar komik, maka ceritanya pasti sudah tamat. Tokohnyapun jelas mana yang jahat mana yang baik, dan alur kisahnya sederhana sekali. Makanya anak-anak TK pun gak akan puyeng membacanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bedanya dengan era komik modern Amerika sekarang, plot dan penokohan komik semakin ruwet. Ceritanyapun bisa saling kait berkait, sehingga butuh komik berseri-seri untuk bisa menyelesaikan sebuah skenario. Jadinya, komik masa kini tidak lagi bisa dikonsumsi dengan mudah oleh anak-anak. Bahkan, beberapa tokoh komik legendaris Amerika pada awalnya diciptakan sebagai bentuk simbol patritosme bangsa Amerika. Tidak terkecuali Captain America ini.</p>
<h3 style="text-align: justify;">The birth of the Captain</h3>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright" src="/images/cap1.jpg" alt="" width="250" height="337" />Kalau tahun 1928 para pemuda-pemudi kita kompakan mengetik selembar naskah Sumpah Pemuda sebagai ekspresi darah mendidih perjuangan mereka. Maka di Amerika, pemudanya tidak cuma mengetik naskah saja, tapi sekaligus mencoret-coret kertasnya dengan gambar warna-warni. Jadilah tahun 1941 lahir sesosok tokoh keren Captain America dalam komik terbitan Marvel Comic. Adalah dua orang pemuda; Joe Simon dan Jack Kirby yang menggagas ide tokoh komik ini, sebagai pernyataan rasa patriotisme mereka dikala tahun itu Amerika tengah pusing-pusingnya terlibat perang dunia kedua melawan rezim Hitler. Sejak saat itulah tokoh Captain America menjadi salah satu idola anak-anak di negeri Paman Sam.</p>
<p style="text-align: justify;">Yah jadinya di Amerika sana bukan cuma guru sejarah dan para politikus saja yang bersusah payah mengajari generasi mudanya untuk memiliki jiwa patriotisme. Bahkan para komikus-komikus saja ikut-ikutan peras keringat untuk bisa mendidihkan darah perjuangan generasi muda Amerika. Itulah kenapa di era itu komik-komiknya banyak sekali bercerita soal perjuangan tokoh-tokoh superhero yang menumpas tentara-tentara musuh yang digambarkan sebagai penjahat-penjahat yang ingin menguasai dunia dengan kejahatan.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Captain America the movie</h3>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/cap2.jpg" alt="" width="250" height="205" />Setelah berkali-kali Hollywood berusaha mengangkat kisah Captain America ini ke layar lebar, maka di tahun 2011 ini akhirnya rumah produksi Marvel Studio dengan bangga mempersembahkan film Captain America yang betul-betul matang. Maklumlah, soalnya film-film Captain America sebelum-sebelumnya masih dibikin dengan setengah hati, setengah dana, dan setengah canggih. Bahkan saking kurang modalnya, sampai-sampai pernah ada besutan film Captain America yang kostum topeng kepalanya terbuat dari potongan helm motor &#8230;. Tapi jelas kali ini Hollywood tidak mau setengah-setengah menggarap film Captain America. Apalagi rumah produksi Marvel sudah punya pengalaman dan teknologi yang lebih dari cukup untuk bisa mewujudkan tokoh super hero manapun di buku komiknya. Dan jadilah film Captain America bergulir dengan sukses di layar-layar tancep box office dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Plot ceritanya juga masih mempertahankan pakem aslinya, di seting tahun 1940-an saat Amerika terhisap perang dunia kedua.  Berkisah tentang seorang pemuda kurus sakit-sakitan Steve Rogers yang berkali-kali berusaha melamar jadi tentara, tapi lagi-lagi ditolak karena tidak memenuhi syarat. Lantas suatu hari, seorang jenius yang bernama Profesor Abraham Erskine kebetulan mengendus ketelatenan si Steve Rogers ini. Dan berkat si Profesor inilah, Steve memperoleh kesempatan langka menjadi kelinci percobaan ilmiah sebuah proyek rahasia pemerintah Amerika. Dalam percobaan ini Steve disuntik serum yang membuat dirinya menjadi tentara gatotkaca versi Amerika yang tangguh dan kemudian punya julukan Captain America. Ceritapun berlanjut dengan sepak terjang Captain America menumpas komplotan jahat rezim Nazi : Hydra, yang diotaki oleh Red Skull.</p>
<h3 style="text-align: justify;">The Big Point</h3>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright" src="/images/steve.jpg" alt="" width="210" height="220" />Dari durasi 100 menitan kita disuguhi aksi-aksi jotos Captain America, saya merasa ada semangat Sumpah Pemuda tergores di rol film itu di menit ke 10 sampai menit ke 20. Salah satunya adalah adegan dimana Prof. Erskine menyatakan alasan kenapa dia memilih Steve Rogers untuk menjadi kandidat Captain America. Saat membolak-balik data formulir riwayat Steve Rogers, si Profesor berkata dengan bijak, “<em>Bukan isi formulir ini yang menarik perhatianku. Tapi “Berapa kali” engkau telah mencoba mendaftar menjadi tentara itulah yang membuatku tertarik!” </em>Dari situlah si Profesor paham bahwa si Steve ini walaupun sudah dinyatakan tidak lulus jadi tentara berkali-kali, tapi masih saja bersemangat untuk mencoba dan mencoba lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Adegan lain yang saya suka adalah pas ada granat bohong-bohongan yang dilempar ke tengah pasukan Steve Rogers. Begitu granat itu mendarat di tanah, kontan semua orang kocar-kacir mencari perlindungan walaupun kecil kemungkinan bisa selamat. Tapi, Steve Rogers malah meloncat dan menutupi granat itu dengan tubuhnya sambil berteriak pada rekan-rekannya, <em>“Cepat lari dari sini, selamatkan diri kalian!”</em> Maka tidaklah mengherankan kalau ujung-ujungnya Steve-lah yang terpilih menjadi Captain America, karena dianggap memiliki darah kepahlawanan sejati. Bukan sekedar punya badan gede dan otot kawat.</p>
<p style="text-align: justify;">Setujukah Anda, kalau Steve Rogers adalah simbol dari citra pemuda dambaan semua bangsa? Setiap negara manapun pasti bangga kalau bisa punya pemuda seperti itu. Pemuda yang memiliki otot juang dan spiritualitas pengorbanan yang tinggi. Pemuda yang bukan bisanya cuma berkoar-koar dan adu keren saja. Dan inilah yang makin langka kita temui pada generasi muda kita sekarang. Era digital membuat segalanya menjadi lebih instant. Dua dekade sebelumnya, untuk membuat tugas makalah sederhana aja bisa bikin jari kita bengkak-bengkak karena harus pencet-pencet mesin ketik yang tutsnya berat-berat. Berlembar-lembar kertas musti kita korbankan kalau ada salah ketik. Belum lagi harus bolak-balik perpustakaan mencari-cari bahan. Bayangkan betapa jaman itu otot juang pemuda-pemuda kita dilatih dengan segala kesusahan yang serba manual.</p>
<p style="text-align: justify;">Cobalah tengok sekarang ini. Saking terbuai dengan kemudahan digital yang serba murah, banyak pemuda kita dilatih untuk menjadi pribadi yang lembek dan lemot. Sedikit saja dapat kesusahan, langsung menggelepar-gelepar. Jadinya makin lama pemuda-pemuda ala Steve Rogers sudah makin punah dan langka. Karena itu, semoga dengan puing-puing semangat sumpah pemuda yang masih tersisa di era milenium ini, kita bisa bangkit dan merebut kembali hak-hak kepemudaan kita. Hak untuk tidak mudah menyerah. Hak untuk menjadi pribadi yang idealis dan visioner. Hak untuk belajar dari kesalahan-kesalahan kita sendiri. Di Amerika boleh saja ada yang namanya Captain America, tapi siapa tahu kelak di bumi pertiwi bakal muncul pemuda Kapten Indonesia &#8230;. yang tampil gagah dengan tameng Pancasila-nya &#8230;. memberantas segala ketidakpedulian dan kemaksiatan Bangsa ini. Atau paling tidak &#8230;.. yah siapa tahu ada yang mau membuatkan komiknya dahulu &#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Salut buat Captain America &#8230;..</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2011/10/28/captain-america-in-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Serve the Server</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2011/10/25/serve-the-server/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2011/10/25/serve-the-server/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 10:41:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[everyday life]]></category>
		<category><![CDATA[Serve Back]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=567</guid>
		<description><![CDATA[Ijinkan saya mengakui salah satu dosa yang saya perbuat di bulan Oktober ini. TKP-nya terjadi di restoran Pizza salah satu Mall yang ada di pojokkan Jakarta Barat. Waktu itu sambil hilir mudik belanja ransum bulanan dan gosok-gosok mata, saya dan istri menyelusup masuk ke satu resto Pizza di situ. Kebetulan istri saya lagi ngidam-ngidamnya pingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ijinkan saya mengakui salah satu dosa yang saya perbuat di bulan Oktober ini. TKP-nya terjadi di restoran Pizza salah satu Mall yang ada di pojokkan Jakarta Barat. Waktu itu sambil hilir mudik belanja ransum bulanan dan gosok-gosok mata, saya dan istri menyelusup masuk ke satu resto Pizza di situ. Kebetulan istri saya lagi ngidam-ngidamnya pingin nyerobot salad yang ada di situ.<span id="more-567"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, seperti Anda duga, begitu kami duduk maka segeralah salah satu pramusajinya datang mendekat. Wajahnya sudah disetel ramah. Kepalanya sudah siap dengan dialog <em>“service excellent”</em> yang sudah dilatihkan selama bertahun-tahun. Matanya dibuat selentik mungkin, digabung dengan warna lipstik yang mengkilat. Dan, akhirnya dengan cekatan dan lancar, meluncurlah serentetan kalimat ramah yang durasinya kurang lebih satu menitan. <em>“Selamat malam, saya &#8230;.. (nama disensor), silakan ini menunya Pak. Bulan ini kita punya paket spesial &#8230;. bla &#8230;..bla &#8230;..bla”.</em> Anda mungkin bisa mengira-ngira rentetan kalimat berikutnya. Andapun bisa menebak bagaimana pramusaji ini dengan setulus mungkin memberikan pelayanannya yang terbaik. Ini betul-betul ciri khas yang Anda otomatis dapatkan kalau berada di restoran Pizza yang satu ini. Yang jadi pertanyaan saya, tahukan Anda reaksi saya saat itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, di sinilah tindakan kriminal saya terjadi. Saya pada detik-detik itu malah membuang muka saya dengan cueknya, sambil bermain-main dengan botol saus cabe yang ada di atas meja. Istri saya sibuk menyusuri buku menunya ketika si Mbak Pramusaji ini menjelaskan dan menawarkan jasa servisnya. Istri Saya kemudian berkata, <em>“Oke Mbak, kita pilih-pilih dulu ya menunya. Mungkin satu menit lagi kita baru order.” </em>Dengan anggukan ramah, si Mbak Pramusaji ini merespon, <em>“Baik, jika sudah siap, tinggal panggil saya aja ya Bu. Terima Kasih.” </em>Diapun beranjak dari situ dan lenyap dari pandangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba kepala saya seperti digetok palu dua ton. Seperti ada suara kecil berteriak-teriak di dalam tempurung kepala saya yang kecil ini, <em>“Heyyyy, Sandy!! Sadar gak sih kamu barusan? Selama si Mbak tadi jelasin dengan begitu ramahnya &#8230;.. kemana mukamu?”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan resmilah hari itu saya membuat dosa kecil saya. Dosa kecil yang juga dilakukan jutaan orang di dunia ini &#8230;&#8230;.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Appreciate the good service person</h3>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/serve.jpg" alt="" width="225" height="301" />Bayangkan kehidupan satu hari seorang <em>service person</em>, entah dia seorang pramusaji, spg, teller bank, atau apapun. Dari detik pertama tempat kerjanya buka pintu gerbang sampai tutup pintu di sore atau larut malam, seorang petugas service berarti sudah ratusan kali (ribuan mungkin) mengulang-ngulang potongan-potongan kalimat sambutan, layanan, dan kalimat penutup yang sudah katam dihafal di kepalanya. Itu artinya dibutuhkan energi dan ketulusan luar biasa supaya kalimat-kalimat itu bisa tetap terdengar hangat di telinga customernya. Bagi kita yang baru datang, kalimat itu memang baru kita dengar. Tapi buat si “pelayan”, bisa jadi itu adalah omongan yang kesekian ratus kali di hari itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Terima kasih Pak kunjungannya. Silakan datang kembali &#8230;”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Mari Pak saya tunjukkan menu istimewa kita hari ini &#8230;”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, bisa dibayangkan betapa seorang petugas service punya hati yang luar biasa berlimpah ruah kalau bisa melayani kita dengan derajat kehangatan yang tinggi. Sungguh bukan hal gampang!</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu di restoran Pizza tadi saya menyadari kalau saya tidak menghargai kelimpahan hati sang pramusaji. Apa sih susahnya balik menatap hangat si Mbak yang baik hati itu, membalas senyumannya, atau sekedar memberikan anggukan simpati?</p>
<p style="text-align: justify;">Kita seringkali meributkan layanan buruk yang kita terima. Tapi saat kita sudah dilayani dengan baik, apa balasan kita buat mereka? Apakah hati kita sudah terlalu dingin atau darah kita terlalu biru warnanya untuk mau bersedia membalas ketulusan mereka? Ayolah, mereka tidak butuh banyak koq dari kita. Asalkan kita bisa balik menatap matanya dengan hangat, itu sudah cukup melegakan hati orang yang melayani kita. Ucapan “terima kasih” yang mengalir dalam dari kerongkongan kita sudah bisa melunasi kelimpahan hati sang “pelayan” kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, mulai sekarang, bukan cuma para “pelayan” yang harus menyiapkan mental <em>“service excellent”</em> ketika memergoki Anda. Andapun harus mengambil ancang-ancang yang sama kalau menjumpai “pelayan” yang tulus dan hangat. Jangan lagi berlagak jadi orang penting pencet-pencet BB saat orang melayani Anda dengan sepenuh hati. Jangan buang mata Anda ke tempat lain saat ada pramusaji sedang semangat-semangatnya menawarkan menu restorannya hari itu. Berikanlah juga atensi Anda buat dia. Hargailah <em>passion</em>-nya. Maka, Anda akan terhindar dari dosa kecil Anda setiap hari. Semoga suatu hari, di dunia ini bakal ada seorang pelayan restoran yang pulang ke rumahnya dan memasukkan Anda dalam doanya sebelum tidur, <em>“Terima kasih Tuhan, hari ini Engkau telah mengirimkan orang yang mau tulus dan balik tersenyum hangat buat pelayanan yang saya berikan &#8230;.. “</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Be nice &#8230;.</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2011/10/25/serve-the-server/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Life Bubble</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2011/10/20/life-bubble/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2011/10/20/life-bubble/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Oct 2011 19:16:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[mind shop]]></category>
		<category><![CDATA[Bubble]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=546</guid>
		<description><![CDATA[Suatu kali, Presiden Amerika George Bush punya hajatan resmi di sebuah jaringan supermarket di Amerika. Di situ, sesudah acara resmi pidato dan ramah tamah, si Presiden lantas cuci mata keliling-keliling melihat lokasi super store itu. Tiba-tiba saja, sang presiden berhenti melangkah menyaksikan kejadian aneh yang luar biasa. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat kemampuan sihir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/bush.jpg" alt="" width="225" height="310" />Suatu kali, Presiden Amerika <strong>George Bush</strong> punya hajatan resmi di sebuah jaringan supermarket di Amerika. Di situ, sesudah acara resmi pidato dan ramah tamah, si Presiden lantas cuci mata keliling-keliling melihat lokasi super store itu. Tiba-tiba saja, sang presiden berhenti melangkah menyaksikan kejadian aneh yang luar biasa. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat kemampuan sihir kasir-kasir di supermarket itu. Cukup dengan sekali dua kali mengoleskan barang belanjaan di atas meja counter kasir, tahu-tahu bandrol barang tersebut bisa muncul di monitor dan jumlah total harganya terhitung dengan otomatis.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Ajaib! Spektakuler!”</em> begitu barangkali yang ada di otak sang presiden. Sampai-sampai mulutnya menganga, dan penasaran pingin mencoba sendiri mengoleskan barang-barang belanjaan itu di counter kasir. Dengan sigap barisan pengawal Presiden <em>“Secret Service”</em> yang tampangnya sangar-sangar itu segera membuat formasi khusus melindungi Presiden di sekeliling counter kasir, saat Mr. President melakukan uji coba benda ajaib itu. Dan George Bush pun berseru dengan spontan,<em>”This is Brilliant!”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Tahu-tahu, seseorang nyeletuk kepada Sang Presiden, <em>“Pak, mesin ini sudah ada sejak 10 tahun yang lalu.”</em> Gubrak!<span id="more-546"></span></p>
<h3 style="text-align: justify;">Where Are You All this time, Mr. President?</h3>
<p style="text-align: justify;">Kisah di atas bukan rekaan orang-orang kurang kerjaan. Saya menyaksikan sendiri liputan dokumenter itu di stasius televisi “History” yang meliput soal suka-duka kehidupan sehari-hari para President Amerika Serikat. Sejak masih menjabat senator, seorang calon Presiden sudah membaktikan kepala dan hatinya pada dunia politik, strategi pertahanan, issue hak asasi manusia, perkembangan ekonomi negara dan sebagainya. Dampaknya, seseorang sekaliber Presiden Amerika Serikat tidak lagi punya waktu buat urusan-urusan sepele sehari-hari. Semuanya sudah diatur dan disiapkan. Tinggal bilang, barang datang, tinggal minta, orang bergerak.</p>
<p style="text-align: justify;">Alhasil, barangkali seorang Presiden sudah lupa rasanya mencuci piring sendiri atau tidak lagi ingat kapan terakhir kali belanja sendiri koran di pinggir jalan. Dan resmilah dia masuk dalam apa yang kemudian disebut sebagai <strong><em>“Presidential Bubble” </em></strong>&#8230; gelembung kehidupan seorang Presiden, yang membuatnya tidak lagi bersentuhan langsung dengan perkara-perkara kecil sehari-hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, konon Presiden  AS yang sekang &#8211; Obama, berusaha untuk tidak terjebak di dalam gelembung ini. Menurut cerita yang beredar, barisan “secret service” pengawal presiden Obama paling sering dikejutkan oleh spontanitas Obama yang bisa sewaktu-waktu melanggar protokoler. Kalau lagi kumat isengnya, Obama tiba-tiba pingin berjalan kaki sendiri keluar gedung putih untuk mencegat penjual burger, atau dengan seenak perut menghentikan konvoi mobil presiden sekedar supaya bisa ngantri di kedai kopi.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Detect your own bubble</h3>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/bubblebig.jpg" alt="" width="210" height="205" />Ternyata bukan cuma presiden saja yang bisa terjebak di dalam “bubble”nya sendiri. Kitapun para “rakyat jelata” saja bisa sengaja tidak sengaja menciptakan gelembung kehidupan kita sendiri. Begitu terhisapnya kita pada gaya hidup dan gaya berpikir kita sendiri, sampai-sampai kita tidak lagi pernah mencicipi apapun yang ada di luar gelembung kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Saking terbiasa mondar-mandir di mal berlantai keramik, Anda ogah diajak ke pasar becek dengan alasan keren, <em>“Sori, ga tahan baunya”.</em> Kebalikannya Anda yang merasa masuk kasta terpinggir, gantian yang emoh diajak ke mal dengan alasan spiritual, “<em>Maaf ya, aku orang biasa-biasa aja ga cocok masuk mal.” </em>Ada juga bos-bos berperut buncit yang merasa terhina kalau harus makan bersama bawahannya di kantin perusahaan. Sementara di tempat lain ada yang bangga punya prinsip, <em>“Bergaul dengan orang beda etnis dan agama bisa merusak tatanan!”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Apapun gelembung yang sedang anda diami sekarang, adalah sah-sah saja. Itu adalah produk alamiah dari segunung kebiasan dan pola berpikir Anda selama ini. Jadi, pantas disyukuri dan dinikmati. Tapi seandainya Anda termasuk orang yang ingin berevolusi menjadi manusia yang lebih baik dan lebih sakti dalam merengkuh wawasan yang lebih luas dan bijak, nah tidak ada salahnya jika anda sedikit melobangi gelembung Anda dan membuat jendela intip dan jendela cicip.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa harus meninggalkan gelembung sejati diri Anda, dengan jendela ini Anda menjadi lebih siap untuk membuka diri Anda pada hembusan pengalaman yang berbeda. Keluarlah sesekali untuk merasakan sensasi yang bisa membuat gelembung hidup Anda melebar pelan-pelan. Tidak ada ruginya sesekali Anda nyeruput kopi mahal di kafe-kafe mentereng bersama kawan-kawan karib. Atau iseng-iseng mencoba makan ala kadarnya di warteg seberang jalan rumah Anda. Mungkin, suatu saat Anda spontan ingin mencoba masak sendiri ala master chef di rumah. Terserah Anda pokoknya. Apapun petualangan yang mau Anda  eksekusi &#8211; lakukanlah dengan porsi yang tepat dan jangan berlebihan. Merasakan sensasi yang berbeda bukan berarti Anda harus nyemplung ke ranah-ranah yang mepet-mepet resiko ekstrim.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Ah, iseng nyoba narkoba …”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Gimana ya rasanya selingkuh …”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Nyobain minum baygon ah …”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Please, saya tidak bermaksud mendorong Anda melakukan hal-hal ngaco dan konyol seperti itu. <strong><em>B</em><em>e wise and be adventurous</em></strong> <strong><em>at the same time</em></strong>. Itulah barangkali prinsip tepatnya, <strong><em>“Bertualanglah dengan bijak”</em></strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, jangan sampai nasib Anda seperti si Presiden di atas yang ngakunya peduli dengan perkembangan negaranya tapi ternyata tidak tahu kalau Supermarket sudah bertahun-tahun menggunakan <em>barcode scanner</em>. Daripada cuma merendam diri dalam gelembung hidup Anda yang cuma itu-itu aja, segera pakai sandal jepit anda dan langkahkan kaki Anda untuk bertualang ke luar sana.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Berani?</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2011/10/20/life-bubble/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Horcrux</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2011/10/20/horcrux/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2011/10/20/horcrux/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Oct 2011 18:56:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[movie splash]]></category>
		<category><![CDATA[Horcrux]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=540</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat masa-masa kegelapan dunia perbioskopan kita?
Waktu itu selama berbulan-bulan, jaringan bioskop kita tiba-tiba mogok memutar film-film hollywood. Konon, urusan gono-gini perpajakannya lagi mandek di pemerintahan. Sehingga buat sementara kita harus cukup puas nonton film-film signature Indo dengan aktor beken kuntilanak, pocong, genderowo dan saudara-saudaranya.
Tapi itu tidak berlangsung lama. Akhirnya, masa rehat film-film hollywood berakhir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Masih ingat masa-masa kegelapan dunia perbioskopan kita?</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu selama berbulan-bulan, jaringan bioskop kita tiba-tiba mogok memutar film-film hollywood. Konon, urusan gono-gini perpajakannya lagi mandek di pemerintahan. Sehingga buat sementara kita harus cukup puas nonton film-film signature Indo dengan aktor beken kuntilanak, pocong, genderowo dan saudara-saudaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi itu tidak berlangsung lama. Akhirnya, masa rehat film-film hollywood berakhir juga. Para penggila film-film bule bersorak-sorak lagi begitu tahu poster-poster film box office kembali dipantek dipapan depan bioskop kita. Dan sebagai menu pembukanya, tidak tanggung-tanggung, jaringan teater Indonesia memilih film yang menggelegar di dunia : Harry Potter episode Pamungkas.<span id="more-540"></span></p>
<h3 style="text-align: justify;">Horcrux oh horcrux</h3>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/horcruxbig.jpg" alt="" width="225" height="333" />Sayapun memang sudah geregetan sejak lama menunggu kapan film Harry Potter tuntas. Selama bertahun-tahun saya rasanya diseret-seret menyaksikan Voldemort yang alot banget tidak bisa ditaklukan siapapun. Bahkan sesepuh Hogwarts yang super sakti saja &#8211; Dumbledore, sampai harus mengorbankan nyawanya demi membantu Harry Potter membasmi si penyihir maksiat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenapa Voldemort susah dijinakkan? Dengan brilliannya, J.K Rowling sang penulis kisah asli Harry Potter menciptakan istilah HORCRUX, yakni semacam jimat yang jumlahnya lebih dari satu dan dipakai oleh Voldemort untuk “menitipkan” jiwanya di situ. Rupa-rupanya sejak episode-episode awal film Harry Potter, horcrux ini sudah muncul dan menjadi dalang di balik segala keruwetan yang dialami Harry Potter. Karena itulah, Harry Potter bersama dengan suporter-suporternya berusaha melacak keberadaan horcrux-horcrux ini. Dengan memusnahkan horcrux ini satu persatu maka serpihan jiwa Voldemortpun jadi ikut sirna dan membuat kekuatan Voldemort makin menyusut. Dalam serinya yang terakhir ini, Harry Potter berusaha mati-matian untuk menghancurkan horcrux terakhir Voldemort yang tidak lain ternyata adalah ular peliharaan si penyhir jahat itu. <em>So, that’s it</em> ….. saat ular itu sukses ditebas, maka Harry Potterpun akhirnya bisa memenangkan duel dengan Voldemort. Dan sesuai pakem cerita anak-anak seantero dunia, maka filmnyapun berakhir <em>happily ever after</em>.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Horcrux, the reality of our life</h3>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright" src="/images/Voldemort.jpg" alt="" width="225" height="323" />Saya acungkan dua jempol saya tinggi-tinggi buat ide J.K Rowling soal horcrux ini. Tanpa kita sadari, balutan cerita Harry Potter di seputar dunia sihir ini sesungguhnya adalah sindiran besar J.K Rowling buat kita semua. Di jaman edan yang serba “materialistik” sekarang ini, rupanya-rupanya kita semua akan digoda habis-habisan untuk menciptakan horcrux-horcrux kita sendiri. Pendek kita, kita adalah voldemort-voldemort sungguhan di dunia nyata ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau tidak percaya, lihat saja bagaimana seorang remaja yang uring-uringan dan bad mood selama berminggu-minggu begitu kehilangan BB-nya. Ada juga seorang bapak yang jadi kasar seharian pada anak dan istrinya begitu tahu mobilnya lecet. Yang rada ekstrim juga ada, saat seorang ibu mencoba bunuh diri saat mengetahui rumahnya habis terbakar. Jadi, bukan hal aneh lagi kalau sekarang ini kita melihat bagaimana kekuatan mental spiritual seseorang bisa surut begitu benda kesayangannya hancur. Seolah kita semua sudah menitipkan serpihan jiwa kita pada benda-benda kesayangan kita. Hmmm …. Apa bedanya dengan horcrux-nya voldemort?</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau Anda ogah dengan istilah horcrux yang kesannya <em>childish</em> dan tidak intelek, silakan Anda mengintip buku klasik <em><strong>7 Habits of Highly Effective People</strong></em> yang ditulis Stephen Covey sang maestro motivator dunia. Di situ jelas-jelas Covey mengatakan bahwa manusia secara salah kaprah seringkali memusatkan kebahagiaan hidupnya pada hal-hal eksternal secara berlebihan. Bahkan agak sedikit ekstrim, Covey mengatakan kalau pusat hidup Anda ada pada pasangan Andapun sudah termasuk salah kaprah. Jika Anda dengan jiwa romantis yang menggebu-gebu mengatakan pada pasangan Anda,<em>”Kaulah hidupku”</em>, maka artinya kalau pasangan Anda lenyap….. berarti Anda tidak hidup lagi??</p>
<p style="text-align: justify;">Waspadailah horcrux-hocrus yang Anda ciptakan. Hati-hatilah saat Anda mulai memusatkan kebahagiaan Anda pada karir Anda, pada tumpukan deposito dan saham-saham Anda, pada orang-orang di sekitar Anda, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Stephen Covey tidak bermaksud untuk membuat kita jadi makhluk egois yang memusatkan kebahagiaan pada diri sendiri. Tapi justru dengan menyadari horcrux-horcrux yang kita miliki, kita jadi punya kekuatan untuk tetap kokoh manakala horcrux-horcrux kita hilang atau hancur. Mood kita boleh saja sementara terganggu waktu benda-benda dan orang-orang yang kita sayangi hilang dari kehidupan kita. Tapi kejadian itu tidak akan melemahkan jiwa kita selamanya. Saat kekuatan internal kita terbangun, maka dengan mudah kita akan bangkit lagi dari segala keterpurukan yang kita alami. Dengan tegas kita jadi bisa berkata pada diri sendiri, <em>“Saya memang terpukul dengan kehilangan ini. Tapi life must go on &#8230;.. saatnya saya harus bangkit dan mensyukuri hikmah dari kejadian ini.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">So, Hp Anda boleh hilang, Ipad Anda boleh rusak, Pacar Anda boleh tahu-tahu kabur dengan cowok lain, mobil Anda ringsek dan sebagainya …. tapi berhubung mereka bukanlah horcrux-horcrux Anda, maka tidak ada alasan bagi Anda unuk jadi lemas selamanya, bukan?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Thank you Voldemort for the lesson ….</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2011/10/20/horcrux/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Too Much Psychology Will Kill You?</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2010/12/24/too-much-psychology-will-kill-you/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2010/12/24/too-much-psychology-will-kill-you/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Dec 2010 11:30:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[mind shop]]></category>
		<category><![CDATA[Too Much Psychology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=534</guid>
		<description><![CDATA[Saat menggelar workshop kecerdasan emosi di penghujung tahun 2010 ini, seorang peserta mendekati Saya di tengah-tengah Coffee Break. Kalimat pertama yang terpental dari mulutnya membuat saya bergidik, “Pak Sandy, Saya kesal dengan buku-buku Psikologi!” Kontan saja saya tersentak.
Si Bapak tadi melanjutkan, “Semenjak istri saya suka sekali membaca-baca buku psikologi, anak saya jadinya diperlakukan bagai berlian. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saat menggelar workshop kecerdasan emosi di penghujung tahun 2010 ini, seorang peserta mendekati Saya di tengah-tengah Coffee Break. Kalimat pertama yang terpental dari mulutnya membuat saya bergidik, <em>“Pak Sandy, Saya kesal dengan buku-buku Psikologi!”</em> Kontan saja saya tersentak.</p>
<p style="text-align: justify;">Si Bapak tadi melanjutkan, <em>“Semenjak istri saya suka sekali membaca-baca buku psikologi, anak saya jadinya diperlakukan bagai berlian. Ini dan itu dijaga baik-baik. Sampai-sampai mertua sayapun iku-ikutan. Saya khawatir nantinya anak saya jadi tidak kebal ketika menghadapi situasi yang sulit. Padahal setahu saya, orang-orang sukses entah itu motivator atau pebisnis, rata-rata justru masa kecilnya susah!”<span id="more-534"></span></em></p>
<h3 style="text-align: justify;">Psikologi Kebablasan</h3>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/Vinci.jpg" alt="" width="325" height="377" />Nah, kalau direnungkan sejenak, apa yang dikeluhkan si Bapak tadi sebetulnya sangat masuk akal. Sejak toko-toko buku diserbu oleh ratusan buku yang mengatasnamakan Psikologi, banyak sekali orang yang jatuh cinta dan kesengsem untuk menjadi Psikolog dadakan. Dengan modal istilah-istilah Psikologi yang keren-keren, orang-orang ini mulai menebar pesona dengan gaya-gaya nasihat ala psikolog. Dengan sekuat tenaga, mereka mengerahkan ilmu psikologi ini untuk kebaikan hidup mereka, entah itu dalam kesuksesan berkarir, berpacaran, kehidupan suami istri, sampai soal merawat anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Masalahnya, karena pemahaman fundamental yang kurang solid dan ala kadarnya, makna Psikologi jadi melenceng. Awam mulai percaya kalau Psikologi adalah ilmu KEBAHAGIAAN.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan dimulailah parade kelirumologi dalam wacana Psikologi Awam. Dunia Psikologi jadi diterjemahkan sebagai kumpulan resep-resep manjur untuk membuat hidup orang bahagia. Maka bermekaranlah buku-buku, seminar ataupun artikel-artikel dengan tema-tema seperti “Kiat-Kiat Membahagiakan Pasangan Anda”, “Membina Keluarga Bahagia”, “Menciptakan Anak-Anak yang Bahagia”,  dan sebagainya. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja awam banyak yang kepleset mengartikan judul-judul itu terlalu harafiah. Contoh paling gampang, ketika ada seorang ayah yang memarahi anaknya dengan keras, maka dengan bertameng istilah psikologi &#8211; si ibu membela anaknya dengan komentar bak seorang psikolog kelas wahid,<em>”Kamu gak boleh gitu! Nanti alam bawah sadar anak kita tercemar, tahu!” </em>Inilah sampel sederhana dari gejala psikologi kebablasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pantas saja si Bapak tadi sampai mengatakan kalau anaknya diperlakukan bagai berlian oleh istrinya yang tidak boleh tergores sedikitpun. Jadilah muncul istilah <strong>“Good Cop, Bad Cop” </strong>di keluarganya. Si Bapak tadi otomatis jadi dilabel “BAD COP” karena keseringan membuat anaknya “susah”.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Basic Ingredient</h3>
<p style="text-align: justify;">Psikologi bukanlah ilmu KEBAHAGIAAN. Ilmu ini lahir karena dorongan besar manusia untuk memahami spesiesnya sendiri dengan lebih komprehensif. Kalau boleh sedikit nakal, maka saya berani mengatakan kalau ilmu Psikologi tumbuh dari obsesi manusia untuk mengumpulkan data-data dalam rangka membuat buku besar manual tentang proses kerja perilaku manusia. Dan sebagaimana ilmu-ilmu lainnya di dunia ini, maka nasib ilmu Psikologipun sama saja, yakni : tidak pernah tuntas.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun begitu, ilmu ini sudah mengendus sejak lama kalau makna kebahagiaan itu kompleks dan banyak faktornya. Orang yang ketika dewasa menjadi figur yang matang secara emosional dan spiritual tidak melulu harus mengalami masa kecil yang indah. Tantangan dan pergolakan &#8230; bahkan trauma masa kecil bisa juga mencetak pribadi-pribadi yang unggul.  Masih ingatkah Anda dengan kisah luar biasa <em>DAVE PELZER</em> dari buku biografi fenomenal <em>“A child called it”</em> yang mengisahkan masa kecil Dave yang kelam namun akhirnya bisa mendorong Dave untuk menjadi tokoh inspirasional terkenal di dunia? Atau mungkin kisah haru masa kecil <em>OPRAH WINFREY </em>yang menjadi bibit kesuksesannya di kala dewasa? Tampaknya, analogi membesarkan anak sama dengan membuat pedang tajam bisa jadi mengandung kebenaran juga. Sebilah pedang baru bisa tajam ketika melewati proses pemanasan dan pukulan bertubi-tubi. Artinya, orangtua juga harus punya skill “memanaskan” dan “memukul” anak dengan tantangan dan kesusahan dalam kadar yang cukup.</p>
<p style="text-align: justify;">Pepatah lain mengatakan, “Beda tanaman boleh jadi butuh ekologi dan pupuk yang berbeda-beda, tapi kalau tak ada oksigen – matilah semuanya”. Anak-anak pun demikian, butuh pendekatan yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lain. Tapi jangan tinggalkan oksigen utamanya : Cinta Orangtua. Inilah bumbu dasarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Intinya, Psikologi bukan dimaksudkan untuk membuat orangtua menyenangkan anaknya secara ekstrim, tapi juga tidak menyarankan orangtua untuk keras secara ekstrim juga. Semuanya harus berada dalam takaran yang imbang sesuai dengan kepribadian anak-anak kita. Dan jangan sekali-kali berlindung di balik jargon-jargon Psikologi untuk membenarkan tindakan Anda yang salah. Ayo kita kembalikan ilmu dan buku-buku Psikologi ke takhtanya aslinya sebagai ilmu untuk memahami manusia secara utuh. Karena itu, setiap kali Anda memboyong buku-buku Psikologi Populer ke rumah Anda, ingat saja rumus <strong>3D</strong> nya : <strong>DIBACA </strong>isinya secara komprehensif, <strong>DIBANDINGKAN </strong>dengan buku-buku lainnya, dan <strong>DIDISKUSIKAN</strong> sebelum Anda terlanjur percaya mutlak dengan isinya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Selamat ber-Psikologi Ria &#8230;.</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2010/12/24/too-much-psychology-will-kill-you/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Heboh!</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2010/06/10/523/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2010/06/10/523/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 19:42:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[everyday life]]></category>
		<category><![CDATA[Peter Porn]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=523</guid>
		<description><![CDATA[Gatal rasanya kalau saya tidak ikutan nimbrung meramaikan bursa komentar film box office bulan ini : The Ariel Peter Porn, yang sedang heboh-hebohnya sekarang ini. Kebetulan sekali saya dengan tim di HR Excellency sedang getol-getolnya mempersiapkan pagelaran pelatihan kecerdasan emosional untuk orangtua dan remaja di awal bulan depan ini. Jadinya klop sekali kalau momentum meledaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/skulbig.jpg" alt="" width="269" height="253" />Gatal rasanya kalau saya tidak ikutan nimbrung meramaikan bursa komentar film box office bulan ini : <strong>The Ariel Peter Porn</strong>, yang sedang heboh-hebohnya sekarang ini. Kebetulan sekali saya dengan tim di HR Excellency sedang getol-getolnya mempersiapkan pagelaran pelatihan kecerdasan emosional untuk orangtua dan remaja di awal bulan depan ini. Jadinya klop sekali kalau momentum meledaknya berita heboh video adegan syur ini dijadikan <em>appetizer</em> untuk menyadarkan kita akan pentingnya “membangunkan” kesadaran EQ remaja, sekaligus para orangtuanya juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Kayaknya, dari mulai pojokan warung tegal sampai sudut-sudut kantor mentereng, semuanya ribut mengomentari video “maknyus” itu. Kontan saja, film ajaib yang durasinya cuma beberapa menit itu mencelat jadi komoditi panas minggu ini. Sampai-sampai ada yang nekad membongkar celengan demi mendapatkan koleksi lengkap videonya. Acara-acara infotainment sampai talkshow bergengsi pun berbondong-bondong meliput berita ini dan beradu jam tayang. Pokoknya, dijamin meriah, seru dan menegangkan. Untuk sejenak orang-orangpun rela melupakan urusan isu KPK dan FIFA demi <em>hot news</em> yang satu ini.<span id="more-523"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tapi lihatlah baik-baik apa yang menjadi tren “opini dan reaksi” orang-orang terhadap peristiwa ini. Gravitasi mental yang terbentuk membuat orang-orang punya pendapat kolektif yang mirip-mirip. Selain mengutuk aktor, aktris dan kaki tangannya, masyarakat juga kompak melakukan gerakan penggerebekan demi memblokade beredarnya video ini. Yah tentu saja sasarannya adalah sarang dan markas besar tempat nongkrong remaja : <strong>SEKOLAH ! </strong>(Sejauh ini saya belum dapat berita ada penggerebekan dilakukan oleh boss ke karyawan-karyawannya. Bisa jadi perlakuannya sama dengan film-film PG-13nya Amerika mungkin, alias di  atas 17 thn  bebas beli tiket nonton <img src='http://www.maxsandy.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ). Dan siapapun yang kepergok punya filenya di dalam HP atau laptop, pasti langsung diseret ke meja hijau sekolah, dicap bandel – preman – asusila atau apapun julukannya. Serta merta orangtua yang dikabari kalau anaknya masuk “bui” sekolah langsung migren dan meriang. Dan bisa ditebak, mereka segera memberlakukan siaga merah, melarang anak-anaknya men-download, mengintip, ataupun sekedar membayangkan seperti apa wujud filmnya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Parents, let’s wake up first before you can wake up your children</h3>
<p style="text-align: justify;">Sadarkah kita kalau di abad digital ini kita harusnya berhenti menganggap remeh anak-anak kita? Apapun yang kita lakukan untuk menghentikan arus informasi kepada anak-anak kita justru akan meningkatkan kecepatannya! Ini persamaan yang aneh memang, tapi apa boleh buat, itulah kenyataan pahit yang harus kita terima. Begitu anak-anak kita sudah dihantui rasa ingin tahu dan penasaran terhadap sebuah informasi, maka percuma saja kita memeras keringat dan darah membendung informasi itu.  Satu-satunya cara yang Anda bisa lakukan untuk mengisolasi anak Anda dari informasi adalah mengurung anak Anda di dalam kamar tanpa satupun alat komunikasi selama bertahun-tahun. Yah itupun kalau Anda cukup tega dan bersedia dipanggil Kak Seto sewaktu-waktu. Tapi begitu Anda melepas anak Anda di dunia bebas bersama  teman-temannya, maka seberapapun hebatnya Anda melarang anak Anda, buah-buah hati Anda akan menemukan “jalan”nya sendiri untuk mendapatkan informasi. Saya jadi teringat ucapan <strong>Malcolm</strong>, Sang Profesor di bidang disiplin ilmu Chaos dalam film Jurrasic Park yang mengatakan <strong><em>“Life finds a way”</em></strong> saat ia menegaskan kalau Dinosaurus akan menemukan caranya untuk survive dan berkembang biak walaupun manusia berusaha untuk mengendalikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yah, anak-anak dan remaja kita adalah “dinosaurus” kecil, yang kekuatannya tidak boleh kita remehkan. Mereka selalu menemukan jalan untuk mendapatkan informasi yang mereka mau, entah diijinkan atau tidak oleh orangtuanya. Hormon pubertas dan rasa penasaran adalah dua panah pasopati yang tidak bisa dibendung kesaktiannya hanya sekedar dengan larangan dan penggerebekan.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah saatnya paradigma<strong> “Melarang dan Mengawasi” </strong>digantikan dengan paradigma <strong>“Mendampingi dan Memahami”</strong>. Sudah waktunya kita para orangtua menyisihkan seragam algojo dan sipir penjaranya, dan mengenakan busana baru sebagai “sahabat” anak-anak mereka. Alih-alih berkata, <em>“Jangan coba-coba kamu mendownload video itu ya!!”</em> mungkin kita bisa melakukan pendekatan yang lebih holistik, mengajak anak kita tukar pikiran, <em>“Nak, siapa tahu kamu sudah terlanjur pernah nonton video itu sama teman-temanmu, apa pendapat kamu? Yuk kita ngobrol. Papa pingin tahu komentar kamu …… “.</em> Bayangkan, obrolan seperti itu bisa dijadikan moment bagus buat orangtua menyuntikan edukasi seks, siraman rohani, dan tentu saja sekalian merapatkan tali kasih antara anak dan handaitolannya. Plus, anak kitapun jadi tumbuh rasa percaya dirinya karena merasa sudah diperlakukan seperti anak yang sudah matang.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu kita mengijinkan jari-jari anak kita menyentuh Hp, Blackberry, laptop, internet, dan remote control maka mereka akan melacak apapun informasi yang mereka mau. Dan jangan disangka, mereka bisa sangat smart di bidang IT dibanding kita orangtuanya. Karena itulah, <em><strong>Stop being Stopper, Start being Starter</strong></em> …. Marilah jadi orangtua yang hobinya bukan bilang “STOP!” … karena Anda tidak pernah bisa sungguh-sungguh menyetop. Dan mulailah sering mengatakan <em>“Ayo nak, kita START membicarakan macam-macam yang kamu alami dan rasakan…”</em> Malah, jika Anda beruntung, dengan menjadi STARTER, justru Anda punya kesaktian untuk men-STOP secara jitu apapun yang Anda anggap buruk bagi masa depan anak Anda. Aneh, bukan?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ya itulah dunia PARENTING, dunia yang aneh bin ajaib dan menarik.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2010/06/10/523/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Main tanah, siapa takut!</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2010/05/25/main-tanah-siapa-takut/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2010/05/25/main-tanah-siapa-takut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 09:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Brainclips]]></category>
		<category><![CDATA[Main tanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=513</guid>
		<description><![CDATA[Kabar gembira untuk orangtua yang masih hobby mengijinkan anak-anaknya bermain di luar dan kontak langsung dengan alam. Baru-baru ini dalam simposium American Society of Microbiolgy, muncul wacana menarik yang dituturkan oleh pakar mikrobiology Dorothy Matthews dan Susan Jenks. Menurut penelitian yang mereka lakukan, ada fakta menarik tentang satu jenis bakteri yang sering tak sengaja dihirup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/dirt.jpg" alt="" width="250" height="204" />Kabar gembira untuk orangtua yang masih hobby mengijinkan anak-anaknya bermain di luar dan kontak langsung dengan alam. Baru-baru ini dalam simposium <strong>American Society of Microbiolgy</strong>, muncul wacana menarik yang dituturkan oleh pakar mikrobiology <em>Dorothy Matthews</em> dan <em>Susan Jenks.</em> Menurut penelitian yang mereka lakukan, ada fakta menarik tentang satu jenis bakteri yang sering tak sengaja dihirup oleh anak-anak saat bermain di alam bebas. Nama bakterinya adalah <strong><em>mycobacterium vaccae</em></strong> yang biasanya bercokol di tanah. <span id="more-513"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dari penelitian mereka, ada bukti kalau bakteri ini mempengaruhi kemampuan anak untuk belajar, karena bakteri ini bisa merangsang munculnya hormon serotonin dan bersifat antidepressant, sehingga bisa sekaligus mengurangi kecemasan. Ketika bakteri ini diujicobakan pada tikus eksperimen, efeknya adalah tikus-tikus jadi lebih cepat bisa menemukan jalan di labirin yang rumit, dan juga terlihat lebih tenang.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, mulai sekarang, tidak ada salahnya anda menjadwalkan waktu khusus supaya anak Anda bisa bermain di alam bebas. Atau minimal Anda sisakan space kosong di rumah untuk dijadikan taman mungil. <strong><em>L</em><em>et’s GO GREEN and HAPPY!</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2010/05/25/main-tanah-siapa-takut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Happy like Shrek!</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2010/05/25/happy-like-shrek/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2010/05/25/happy-like-shrek/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 08:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[movie splash]]></category>
		<category><![CDATA[Happy Shrek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=508</guid>
		<description><![CDATA[Berapa kali Anda mendengar orang-orang curhat kayak gini; “Coba seandainya saja hidupku gak seperti ini, aku pasti merasa bisa lebih bahagia”. Atau jangan-jangan Anda sendiri yang sering dalam hati berkeluh, ”Kenapa ya hidupku cuma begini-begini aja”. Kalau memang begitu, gak ada salahnya kalau Anda meluangkan waktu untuk ngantri nonton film Shrek terbaru yang sekarang ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/shrek2.jpg" alt="" width="250" height="371" />Berapa kali Anda mendengar orang-orang curhat kayak gini; <em>“Coba seandainya saja hidupku gak seperti ini, aku pasti merasa bisa lebih bahagia</em>”. Atau jangan-jangan Anda sendiri yang sering dalam hati berkeluh, <em>”Kenapa ya hidupku cuma begini-begini aja”</em>. Kalau memang begitu, gak ada salahnya kalau Anda meluangkan waktu untuk ngantri nonton film Shrek terbaru yang sekarang ini sedang diputar di bioskop. Apalagi kalau Anda termasuk fans berat tokoh monster gempal yang satu ini, dan mengikuti seluruh jilid filmnya, dijamin Anda akan lebih bisa memahami alur kisahnya dan lebih tercubit dengan semprotan inspirasinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sendiri tidak menyangka kalau film Shrek kali ini punya muatan filosofis yang lebih dalam ketimbang jilid-jilid sebelumnya. Hebatnya, film ini berhasil membungkus sebuah nasihat sederhana dengan tuturan dongeng yang bagus sehingga nasihat sederhana itu bisa menampar kita dengan telak.<span id="more-508"></span></p>
<h3 style="text-align: justify;">The Story in brief</h3>
<p style="text-align: justify;">Kisahnya, Shrek si monster baik hati bertelinga lucu ini sudah menutup masa-masa petualangan liarnya dengan menikahi Fiona, putri raja negeri Far Far A Way. Setelah berbuntut tiga orang anak yang lucu-lucu, Shrek mulai terhisap dalam rutinitas kehidupan rumah tangga yang begitu-begitu saja. Tidak ada lagi perjalanan penuh tantangan dan pertarungan seru melawan musuh-musuh yang aneh. Paling banter, tiap hari tantangannya cuma membetulkan genteng atau selang toilet yang mampet. Hari-hari bebasnyapun berganti dengan tanggungjawab harian mengurusi anak dan meladeni tetangga.</p>
<p style="text-align: justify;">Saking bosannya, Shrek mulai merasa tidak bahagia lagi. Sampai suatu ketika ia dipergoki penyihir culas Rumpelstiltskin, yang selalu mencari mangsa orang-orang yang sedang bermasalah. Rumpelstiltskin ini mengiming-imingi Shrek untuk bisa menikmati lagi masa kebebasannya asalkan Shrek bersedia menyerahkan satu hari pada masa lalunya untuk dimiliki penyihir itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka transaksipun terjadi. Shrekpun masuk ke kehidupan yang dipilihnya, dimana dia bisa bebas melakukan apapun. Awalnya Shrek memang bergelimang rasa bahagia luar biasa, karena tak seorangpun bisa menuntutnya untuk melakukan rutinitas apapun. Tapi konsekuensinya, dalam kehidupan barunya ini, baik Fiona istrinya, Donkey sahabatnya, Pinokio dan semua sahabat-sahabatnya tidak mengenal Shrek sama sekali. Sadarlah Shrek, bahwa hanya untuk mencecapi kebahagiaan semunya itu, ia harus kehilangan orang-orang yang disayanginya. Sampai suatu saat, di dasar kesedihannya ia berkata, <strong><em>“I don’t realize it, untill I lost it”</em></strong> . Maka dengan segenap tenaga dan hatinya, Shrek berusaha untuk bisa menarik kembali permintaannya, dan membatalkan transaksi sihirnya itu.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Open your eyes for this moment’s happiness</h3>
<p style="text-align: justify;">Waktu Anda kuliah, anda membathin <em>“Saya belum bahagia kalau belum lulus jadi sarjana”</em>. Begitu Anda jadi sarjana, bathin Anda bergumam <em>“Saya belum bahagia kalau belum bisa dapat diterima kerja”</em>. Begitu diterima kerja, lain lagi keluhan bathin Anda, “<em>Saya belum bahagia kalau gajinya cuma segini-segini aja”</em>. Dan berderet-deret lagi syarat kebahagiaan Anda. Lha kalau begitu terus, kapan Anda akan sungguh-sungguh merasa komplit dan utuh untuk menikmati hidup Anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah paradigma para pengejar kebahagiaan, yang menganggap bahagia itu harus dikejar dan dicapai. Selama belum tercapai, jadinya Anda merasa belum berhak merasa bahagia. Dan kalaupun Anda berhasil mencapai target Anda, paling-paling Anda cuma merasa bahagia sebentar, lalu berlanjut lagi dengan set up target berikutnya, dan mengosongkan kantong kebahagiaan Anda lagi. Maka kebahagiaan Anda bisa dihitung dengan jari donk seumur hidup Anda. Boleh-boleh saja sih Anda menjadi pengikut setia para motivator yang gemar berteriak, <em>“Jangan cepat puas! Kejar targetmu terus!”</em>. Tapi, Saya lebih senang memodifikasi nasihat itu menjadi : <strong><em>“Pasang targetmu, dan bahagialah setiap saat selama masa pengejaranmu!”</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/happy.jpg" alt="" width="250" height="157" />Kalau Anda mau merasa bahagia setiap hari, ubahlah sedikit status Anda menjadi <strong>“Perasa kebahagiaan”</strong>, dan bukan lagi sebagai<strong> “Pengejar Kebahagiaan”</strong>.  Karena itulah arahkan sorot mata hati Anda kepada detik dan momen sekarang ini, dan temukanlah sejuta alasan kenapa Anda pantas merasakan kebahagiaan. Jadikanlah sesuatu yang kesannya biasa-biasa  saja dan yang tidak patut disyukuri &#8211; menjadi suatu berkat dan anugerah besar yang bisa Anda rasakan kelimpahannya di saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Alhamdulilah, enaknya bisa merasakan nikmat nasi putih dan ikan asin ini. Coba kalau lagi sariawan, makanan seenak apapun ya bakalan perih di bibir”.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Hmmm, jari tanganku masih sepuluh! Coba kalau hilang satu saja gara-gara kecelakaan. Pasti hidupku rasanya kayak di neraka! Syukur masih lengkap ya”.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Wah, air mandinya segerrr banget. Tadi aku baca artikel ada orang yang alergi karena air, kesentuh air sedikit aja langsung badannya iritasi. Terima Kasih Tuhan masih memberi saya kulit normal begini”.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Jangan menunggu sesuatu direnggut dari Anda, dan baru Anda sadar betapa berharganya sesuatu itu dalam hidup Anda. Hargai sesuatu itu sekarang, dan cerapi kebahagiaannya. Jangan bisanya cuma memarahi anak Anda – tapi begitu anak Anda diambil oleh Tuhan, Anda malah menangis sejadi-jadinya menyesali kehilangannya. Kalau begitu sih gak beda jauh dengan sikap anak kecil, yang ketika punya mainan malah dicuekin dan dibiarkan tergeletak. Tapi begitu mainannya itu diambil oleh orang lain malah berteriak-teriak histeris sejadi-jadinya. Makanya, apapun karunia yang ada dalam kehidupan Anda sekecil apapun tampaknya, berbahagialah sebesar-besarnya!</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Happiness is here and now, not IF.</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2010/05/25/happy-like-shrek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Innovate like Shrek!</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2010/05/25/innovate-like-shrek/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2010/05/25/innovate-like-shrek/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 07:51:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[movie splash]]></category>
		<category><![CDATA[Innovating Shrek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=504</guid>
		<description><![CDATA[Penonton Indonesia dibikin tergelak-gelak lagi oleh lakon buto ijo yang satu ini, SHREK dan kawan-kawannya, di besutan film seri ke empatnya, Shrek the Final Chapter. Muncul tepat di ambang musim ujian sekolah, tampaknya Shrek bisa dijadikan cemilan ringan yang bisa membuat anak-anak kita rada terhibur sebelum mereka masuk arena pembantaian ujian di bulan Mei ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/shrek1.jpg" alt="" width="300" height="225" />Penonton Indonesia dibikin tergelak-gelak lagi oleh lakon buto ijo yang satu ini, SHREK dan kawan-kawannya, di besutan film seri ke empatnya, Shrek the Final Chapter. Muncul tepat di ambang musim ujian sekolah, tampaknya Shrek bisa dijadikan cemilan ringan yang bisa membuat anak-anak kita rada terhibur sebelum mereka masuk arena pembantaian ujian di bulan Mei ini. Para pembesar di rumah produksi Dreamworks rupanya tidak mau kalah, dan mempersenjatai film Shrek ke empat ini dengan tampilan 3D yang memang sudah digandrungi jutaan penonton bioskop. Belakangan ini memang muncul imej, kalau sebuah film sampai dibalut dengan teknologi 3D – pastilah itu film jawara andalan. Ya memang jelas sekali film Shrek pantas dibuat dengan kemewahan tampilan 3D, karena jasa Shrek sudah begitu besarnya buat para boss di pabrikan film Dreamworks. Sejarah pernah mencatat, ketika film Shrek jilid pertama merengsek masuk pasaran bursa film animasi CGI dunia, orang-orang begitu kesengsemnya dengan Shrek sampai-sampai suhu film animasi dunia macam Pixar dan Disneypun harus legowo mengakui posisi Shrek di papan rating box office. Koq bisa? Apa resepnya?<span id="more-504"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sederhana saja : pemutarbalikkan pakem!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sejak awal ide cerita Shrek digagas oleh penulis William Steig, memang tujuan mulianya cuma satu yaitu menawarkan kepada para audience sebuah kisah dongeng yang lebih posmo, unik, dan unforgetable. Dengan lihainya  ide cerita film Shrek ini menantang budaya dongeng ala Walt Disney dan H.C Anderson yang biasanya dicicipi orang-orang. Kalau di cerita-cerita dongeng klasik, selalu Pangeran Tampan, Putri cantik dan Ibu Perilah yang punya takhta pesona tertinggi sebagai lakon jagoannya &#8211; sementara naga penyembur api atau monster penunggu hutan kerap dapat bagian peran jahat. Nah, di alur cerita Shrek, kita diajak untuk melihat kemungkinan lain, “Bagaimana seandainya Monster Hutan itu dijadikan lakon utama, sementara Pangeran Tampanlah yang jadi biang keladi kekacauan karena tingkahnya yang sok ganteng dan gila kekuasaan?”</p>
<p style="text-align: justify;">Dan bim sa la bim, Film Shrek mengguncang bioskop sejagat. Dan orang-orang tiba-tiba jadi jatuh cinta dengan sosok “tidak ganteng, tidak rapi, tidak harum, tidak intelek” dari si SHREK, sang monster ogre berkulit hijau.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Jaman sudah berubah, bung!</h3>
<p style="text-align: justify;">Masih rada hangat dalam ingatan kita, ketika dunia menyorot serunya pemilihan presiden Amerika, dan Obama mencuat jadi orang nomor satu di negeri adi daya itu. Untuk pertama kalinya Amerika menoreh sejarah seorang kulit hitam bisa naik takhta jadi Presiden, dan jelas-jelas itu adalah fenomena nyeleneh di luar “pakem” tradisi panjang budaya Amerika dimana bule kulit putihlah yang biasanya lebih dilirik mayoritas untuk didaulat jadi Presiden. Lha wong biasanya, orang-orang negro di sana selalu diasosiasikan dengan kasta tersingkir dan dianggap cuma jago nyanyi dan nge-rap doank. Naga-naganya, dunia ini sudah terjangkit virus perubahan radikal, dimana orang-orang sudah saking “bosan”nya dengan pakem-pakem standard yang ada, dan mulai mencari-cari variasi yang menyegarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Indonesia juga tidak terkecuali. Begitu jenuhnya kita melihat acara sinetron, berita, talkshow atau infotainment yang bertaburan cowok-cowok macho dan cewek-cewek mulus. Dan ketika seorang “nobody” bernama Tukul masuk panggung pentas televisi lewat acara Empat Matanya, kontan acara itu jadi primadona dan menembus rating yang tinggi. Bayangkan saja kalau Obama atau Tukul memutuskan untuk maju ke depan mata publik 10 atau 20 tahun yang lalu, apa mungkin penerimaan orang akan sama ya? Who knows?</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali ke soal film, kita juga pernah terperangah 15 tahun yang lalu, saat film Jurrasic  Park dirilis. Orang-orang takjub dengan keajaiban teknologi CGI yang bisa mewujudkan apapun efek yang diinginkan skenario film. Efek kaku penampilan dinosaurus yang biasanya dikerjakan dengan animatronik, kostum karet, atau stop motion sekarang digantikan dengan animasi digital yang begitu realistisnya sampai-sampai penonton geleng-geleng kepala saking terpukaunya melihat dinosaurus yang begitu hidup di film Jurrasic Park hasil godokan sineas kesohor Steven Spielberg.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, di tahun-tahun belakangan ini, orang tidak lagi terpana melihat kecanggihan olahan teknologi CGI, alias sudah mulai terbiasa. Coba perhatikan saja, dalam setahun bisa puluhan film diramu dengan efek digital canggih, sehingga tidak lagi menjadi sesuatu yang luar biasa. Justru begitu ada sineas yang nekad menantang pakem budaya efek digital, filmnya jadi mudah dilirik orang dan menarik atensi publik. Contoh gampangnya adalah film Supranatural, yang modalnya cuma handycam,  memakai setting kamar tidur sepanjang film, dan pemainnyapun antah berantah bukan aktor populer – eh, malah bisa menembus angka box office lumayan tinggi.</p>
<h3 style="text-align: justify;">It’s time to make things different</h3>
<p style="text-align: justify;">Jamannya sudah pas untuk mencoba resep-resep dan kiat-kiat baru dalam segala segi kehidupan kita. Yang jadi soal cuma masalah keberanian dan kemauan kita saja. Audiencenya sudah siap dan menanti-nanti Anda untuk berani tampil beda, kalau perlu sedikit keluar jalur pakem biasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di rumah ataupun di kantor, sah-sah saja bila Anda mau mencoba-coba gaya dan akifitas baru yang bisa menyenggol kebiasaan  lama yang sudah jadi tradisi di situ. Anak, pasangan, bawahan, rekan kerja, konsumen ataupun murid/mahasiswa Anda butuh juga kejutan-kejutan di luar budaya dan rutinitas yang Ada. Mereka bisa jadi selama ini sudah jenuh dengan gaya serta tampilan Anda yang itu-itu aja, dan menunggu-nunggu kapan waktunya Anda bisa membuat suasana jadi lebih segar. Kalau pemimpin yang ja’im, guru galak, atau orangtua kaku sih sudah  banyak bergentayangan dimana-mana. Sekaranglah saatnya Anda &#8230;. berubah! Dan sekali Anda merombak imej Anda dan melangkah sedikit saja keluar dari zona nyaman Anda, serta berani mengambil resiko ….. mungkin hasilnya bisa mengejutkan Anda sendiri. Mumpung ini adalah jaman dimana orang ganteng dan cantik belum tentu jadi pilihan, jaman dimana IQ dan titel sarjana belum tentu jadi jaminan, jaman dimana produk mahal belum tentu menjamin mutu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Ini jamannya inovasi. Berani bergabung?</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2010/05/25/innovate-like-shrek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Avatar</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/12/24/avatar/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/12/24/avatar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 02:08:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[movie splash]]></category>
		<category><![CDATA[Avatar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=495</guid>
		<description><![CDATA[Apa jadinya kalau sutradara kelas kakap punya dua obsesi dalam waktu bersamaan: pelestarian lingkungan dan pelestarian film heboh? Jawabannya adalah : film menggemparkan AVATAR, yang bulan Desember ini sedang santer-santernya bikin bioskop antri. Film ini sempat bikin awam rada linglung karena banyak yang tadinya berpikir film ini diangkat dari serial kartun “avatar” yang banyak digandrungi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/avatar1.jpg" alt="" width="225" height="288" />Apa jadinya kalau sutradara kelas kakap punya dua obsesi dalam waktu bersamaan: pelestarian lingkungan dan pelestarian film heboh? Jawabannya adalah : film menggemparkan AVATAR, yang bulan Desember ini sedang santer-santernya bikin bioskop antri. Film ini sempat bikin awam rada linglung karena banyak yang tadinya berpikir film ini diangkat dari serial kartun “avatar” yang banyak digandrungi anak-anak Indonesia. Nyatanya Avatar yang satu ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan film kartun itu, tapi cuma judulnya saja yang kebetulan mirip.</p>
<p style="text-align: justify;">Avatar memang dinobatkan menjadi film yang paling ditunggu-tunggu tahun 2009 ini, karena dianggap sebagai film yang paling ambisius dan digarap super serius. Bayangkan saja, bujet yang musti dikuras demi mewujudkan film ini mencapai 400 juta dollar – konon dianggap film paling mahal tercatat dalam sejarah hingga tahun ini. Kalau bukan James Cameron yang jadi dalang film ini, mungkin tidak ada satupun rumah produksi Hollywod yang iklas patungan menggodok film ini. Ya, siapa sih yang tidak kenal James Cameron? Dialah dedengkot yang berada di balik film-film pengeruk duit macam Terminator, Aliens, True Lies, The Abyss dan Titanic. Dan setelah absen lama dari panggung film hollywod cukup lama, akhirnya Sang Maestro kembali lagi bikin gemuruh lewat film AVATAR-nya itu.<span id="more-495"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tapi kelihatannya, pertaruhan 20<sup>th</sup> Century Fox mencukongi film ini tidak bakal sia-sia. Di Minggu awal pemutaraannya saja, pundi-pundi emas penghasilannya saja sudah meraih angka 700 juta dollaran. Ditambah lagi dengan adanya rumor kalau film ini bakal sukses dilirik masuk dalam nominasi Oscar tahun depan. So pasti, nama James Cameron bakal semakin sakti saja di panggung persilatan film dunia</p>
<h3 style="text-align: justify;">It’s Cameron’s Personal Passion</h3>
<p style="text-align: justify;">Sejak sukses dengan film The Abyss dan Titanic, tampaknya James Cameron mendapatkan wangsit baru untuk jadi pecinta lingkungan sejati. Buktinya, ia tiba-tiba lengser dari hiruk pikuk film action dan picisan Hollywood, kemudian menekuni hobby barunya menggarap film-film berbau dokumenter lingkungan. Dewi Bumi rupanya benar-benar sudah merasuki jiwa Cameron, sampai-sampai sekembalinya ke ajang film komersilpun ia tidak mau melepaskan panggilan nuraninya untuk menghembuskan pesan-pesan moral kelestarian lingkungan.</p>
<p style="text-align: justify;">Filmnya sendiri berkisah di seputar sepak terjang seorang kopral bernama <strong>Jake Sully</strong>, yang kakinya cacat dan ditawari untuk membantu proses diplomasi dengan komunitas alien penghuni planet Pandora. Tujuan diplomasinyaadalah supaya suku native primitif ini bersedia untuk direlokasi, karena tanah tempat mereka tinggal akan ditambang untuk mendapatkan sumber energi <strong>unobtanium</strong> yang sangat dibutuhkan untuk melangsungkan kehidupan di bumi yang kisahnya tengah mengalami krisis energi akibat ulah manusia yang terlampau serakah menggerogoti kelestarian alam di bumi.</p>
<p style="text-align: justify;">Berhubung udara planet sangat berbahaya bagi manusia, maka tim ilmuwan telah merekayasa unit-unit biologis yang mirip alien itu dan bisa ditunggangi oleh kesadaran manusia “pengendaranya”  &#8211; yang diberi julukan avatar. Caranya adalah, orang-orang yang telah terpilih dan sudah disinkronkan gelombang otak dan sarafnya akan didownload kesadarannya ke dalam avatarnya selama orangnya berada dalam tabung tidur. Nah, Jake Sully bersama dengan beberapa gelintir ilmuwan itulah yang ditugaskan mengendarai tubuh avatar ini supaya bisa melakukan riset alam sekaligus mempelajari budaya suku native di planet Pandora tersebut – yang ujudnya sangat bongsor, berkulit kebiruan, memiliki ekor dan mata besar seperti kucing.</p>
<p style="text-align: justify;">Alkisah, Avatar Jake Sully kemudian diterima oleh suku native itu, bahkan bisa menjalin kasih dengan <strong>Neytiri</strong> – gadis primitif planet Pandora. Dan saking lamanya Jake Sully menyelami filosofi dan budaya suku Pandora yang sangat menjunjung tinggi keseimbangan alam dan energi planetnya – malah membuat Jake berempati dan membela habis-habisan komunitas Pandora dalam menghadapi keserakahan kaum kapitalis dan militer bumi yang punya niat mengacak-ngacak keseimbangan ekologi planet Pandora. Syukurnya, Jake dibantu juga oleh teman-teman buminya yang memiliki visi yang sama. Plot filmnya senada dengan film “Last Samurai”nya Tom Cruise beberapa tahun silam.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Go Green Message</h3>
<p style="text-align: justify;">Maka resmilah film Avatar ini sebagai film iklan layanan masyarakat termahal di jagad ini, mengusung pesan moral yang berusaha menyadarkan kita kalau bumi dan alam seisinya ini sesungguhnya merupakan energy network yang memiliki jiwanya sendiri dan punya kemampuan untuk “memberontak dan membalas” jika manusia kelewat lupa diri membabat kelestarian alamnya demi menggerakkan roda industri dan memuaskan dahaga kaum industrialis.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/avatar2.jpg" alt="" width="225" height="321" />Tapi terlebih lagi, Seandainya saya punya 10 jempol, maka akan saya acungkan semuanya buat James Cameron yang menumpahkan segala energi dan kesabarannya demi merealisasikan panggilan hidupnya dalam film avatar ini. Sejak tahun 1994, sebetulnya ia sudah gregetan pingin membuat film avatar ini. Namun berhubung kala itu teknologi cinematography kita masih pas-pasan, maka Cameron bersedia menunggu 13 tahun sampai perangkat dan software CGI serta teknik film 3 Dimensi Hollywood sudah benar-benar matang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedalam itulah Passion seorang James Cameron. Ia sadar kalau dirinya bukan politikus ataupun pecinta lingkungan yang mahir mengumpulkan massa dan berdemo dimana-mana. Ia juga maklum dirinya bukanlah reporter atau jurnalis yang katam menulis buku dan artikel-artikel ilmiah. Tapi itu tak menghentikannya untuk bisa menyentuh dan mengingatkan kita semua akan pentingnya nilai keseimbangan alam. Lewat talentanya merangkai dongeng, ia berjuang dengan caranya yang khas menggagas film-film yang mudah dicerna dan bisa menginspirasi kita semua.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana dengan Anda? Dimana talenta Anda? Sudahkah Anda mencari titik temu antara panggilan hidup, passion dan talenta Anda  sehingga bisa menyuguhkan kontribusi buat orang-orang di sekeliling Anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Apapun bakat Anda, selalu ada 1001 macam cara (bahkan lebih) agar Anda bisa meringankan beban hidup orang lain, memberikan inspirasi, dan memperjuangkan nilai-nilai luhur semesta. Ully sigar melantunkan lagu-lagu kecintaan alamnya, GM Sudharta mencoretkan pensilnya membuat karikatur-karikatur kemasyarakatan, Guruh Soekarno Putra mengerahkan penari-penarinya menginspirasi kita, Gus Dur dengan politik ceplas-ceplosnya, Butet dengan monolog-monolog sindirannya, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pilihlah cara Anda sendiri, jadilah diri sendiri, gaungkanlah ke-khas-an Anda untuk menyentuh dan membuat dunia menjadi rumah kita yang lebih indah. Hey … minimal jika Anda sulit menemukan dimana talenta Anda, cukup arahkan mata Anda ke bawah, cari sepotong sampah … dan buang pada tempatnya. Itu sudah lebih dari cukup bisa menginspirasi orang banyak.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Songsong 2010 dengan talenta Anda yang lebih bersinar. Selamat Tahun Baru.</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/12/24/avatar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

