<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>www.maxsandy.com &#187; Cicak Buaya</title>
	<atom:link href="http://www.maxsandy.com/tag/cicak-buaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.maxsandy.com</link>
	<description>Max Sandy Official Website</description>
	<lastBuildDate>Sat, 29 Oct 2011 03:30:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Cicak vs Buaya, The Power of Analogy</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/11/18/cicak-vs-buaya-the-power-of-analogy/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/11/18/cicak-vs-buaya-the-power-of-analogy/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 12:22:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[mind shop]]></category>
		<category><![CDATA[Cicak Buaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[Aduh, Bangsa kita ini sungguh unik dan ceria. Selain kaya dengan harta budaya dan cagar alamnya, negara kitapun semarak dengan kehebohan-kehebohan yang mengundang senyum takjub kita. Tidak cuma berita balada artis kawin cerai saja yang mengisi hari-hari sepi kita, tapi para ningrat-ningrat politik kitapun tidak mau kalah saing masuk berita. Sampai-sampai beberapa bulan terakhir ini, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/cicak2.jpeg" alt="" width="225" height="176" />Aduh, Bangsa kita ini sungguh unik dan ceria. Selain kaya dengan harta budaya dan cagar alamnya, negara kitapun semarak dengan kehebohan-kehebohan yang mengundang senyum takjub kita. Tidak cuma berita balada artis kawin cerai saja yang mengisi hari-hari sepi kita, tapi para ningrat-ningrat politik kitapun tidak mau kalah saing masuk berita. <span id="more-443"></span>Sampai-sampai beberapa bulan terakhir ini, headline koran dan hot news tv lagi hot-hotnya ketagihan menyiarkan berita adu jotosnya kubu POLRI dan KPK, dengan tag linenya yang lagi hit “Cicak vs Buaya”. Itulah kenapa, saking berita-beritanya mengundang perhatian dan rasa penasaran, maka tokoh-tokoh elite kita sudah memenuhi syarat untuk menyandang gelar “entertainer”. Jadinya, saya seringkali mengatakan kalau panggung politik Indonesia sudah bersifat <em>“Politainment”</em>, alias serius tapi sekaligus menghibur.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, berhubung saya tidak mau latah membahas soal serba-serbi politiknya, saya lebih tertarik membahas kesaktian tag line “Cicak vs Buaya” yang konon menjadi api yang menyulut sumbu perang saudara di tubuh ikon-ikon institusi hukum negara kita. Jutaan masyarakat Indonesia geleng-geleng kepala, <em>“Wah kok bisa ya cuman gara-gara istilah gitu, orang jadi nekad saling menghunuskan pedang perang!”</em> Namun, di kalangan para suhu NLP dan  psikolinguistik, fenomena ini adalah demontrasi dari kekuatan ANALOGI yang luar biasa. Yang tidak banyak diketahui awam adalah, selain punya kekuatan destruktif, analogi juga punya kekuatan pendorong luar biasa yang bisa dijadikan amunisi sukses kita.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Creating Powerful Analogy</h3>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika seorang entepreneur yang sukses gemilang ditanya oleh seseorang,<em> “Wah bapak hebat sekali bisa mengembangkan bisnis sebesar ini. Padahal setahu saya, Bapak dulu sempat gagal beberapa kali dan nyaris bangkrut. Apa sih resepnya Pak?”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sang businessman tersenyum-senyum kecil sambil menjawab, <em>“Oh, sederhana sih. Sejak muda saya selalu percaya kalau hidup ini bagaikan belajar main sepeda. Setiap kita jatuh, kita jadi belajar sesuatu dan membuat kita lebih jago menggenjot sepeda kita. Tapi kalau Kita takut resiko jatuh, maka seumur hidup bahkan kita tidak akan punya nyali naik sepeda!”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Bayangkan, hanya dengan berpegang pada analogi sederhana<em> “Life is like riding a bicycle”,</em> maka seseorang bisa punya obor semangat untuk menerjang segala cobaan yang menjegal hidupnya. Padahal, analogi atau gampangnya disebut perumpamaan, biasanya tidak lebih dari satu atau dua potong kalimat saja. Namun, hawa saktinya bisa jadi sumber inspirasi dan energi yang mampu mendongrak spirit hidup kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan cuma itu saja, dengan analogipun kita bisa menularkan insight-insight kita dengan lebih mudah ke orang-orang di sekeliling kita. Alih-alih menggunakan teori-teori atau uraian panjang lebar, kita cukup meramu analogi yang simpel.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Berbesar hatilah. Biasanya pelangi selalu muncul setelah hujan deras.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Kamu itu seperti Kepiting. Walau di luar kelihatan keras, tapinya isinya lembut.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Mengasuh anak itu harus sabar. Sama seperti ulat dalam kepompong, semakin dipaksa keluar justru sayapnya semakin lumpuh.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Pilihannya tidak terbatas – Anda bisa merangkai analogi untuk menggambarkan segala situasi apapun. Dengan analogi, orang tidak lagi perlu rumit-rumit mencerna maksud komunikasi kita, dan dampak psikologisnyapun lebih tajam ketimbang kita menggunakan bahasa-bahasa ala kadarnya. Bahkan, sejarah mencatat, dari mulai pemimpin negara sampai nabi besarpun ada yang kerap memakai analogi untuk menyampaikan pesan-pesannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, kalau celetukan “cicak vs buaya” saja bisa menyulut energi perang dan nafsu saling hantam, maka Andapun bisa – sengaja tidak sengaja -menelorkan celetukan analogi negatif yang malah menggemboskan daya juang dan semangat hidup.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“percumalah, bagaikan mengeringkan air laut usahamu itu!”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sulit mengajarkan anjing tua trik-trik yag baru, jadi kamu cuekin aja dia”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“hatiku udah kayak vas cina yang udah remuk. Gak akan kumaafkan dia!”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Analogi itu betul-betul sakti mandraguna bukan? Sekali keluar dari mulut Anda, maka seluruh aliran energi Anda akan mengikuti suhu analogi itu, entah dia bersuhu hangat atau dingin. Kalau analoginya dingin, andapun jadi ikutan dingin, dan sekujur otot Anda jadi berat sekali rasanya untuk melakukan hal-hal positif. Tapi kalau analoginya hangat dan menghibur, kontan Anda jadi kesetrum energi positif dan lebih gampang melakukan hal-hal hebat dalam hidup Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesimpulannya sederhana saja, selalu ciptakan analogi positif untuk menciptakan atmosfer positif dalam hidup Anda. Jangan gampang tergoda untuk melontarkan analogi yang negatif. Dan selalulah jadi orang yang berkelimpahan, membagikan analogi-analogi mujarab untuk menyehatkan orang-orang di sekitar Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tutup dengan analogi kecil, <em>“Analogi itu seperti cabe rawit. Satu gigitan saja bisa bikin gorengan hidup jadi nikmat.”</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/11/18/cicak-vs-buaya-the-power-of-analogy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

