<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>www.maxsandy.com &#187; PEMILU</title>
	<atom:link href="http://www.maxsandy.com/tag/pemilu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.maxsandy.com</link>
	<description>Max Sandy Official Website</description>
	<lastBuildDate>Sat, 29 Oct 2011 03:30:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pesta PEMILU, pesta KEMASAN</title>
		<link>http://www.maxsandy.com/2009/04/10/pesta-pemilu-pesta-kemasan/</link>
		<comments>http://www.maxsandy.com/2009/04/10/pesta-pemilu-pesta-kemasan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2009 14:24:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Max Sandy</dc:creator>
				<category><![CDATA[everyday life]]></category>
		<category><![CDATA[PEMILU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.maxsandy.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[
Masih hangat dalam ingatan kita saat sebagian dari kita ada yang harus rela antri di hari libur. Bukan ngantri bensin, elpiji atau sembako. Melainkan antri pemilu, bareng-bareng dengan orang-orang lainnya yang kebetulan sadar akan hak dan kesempatan mereka ikut menentukan navigasi politik di negara kita tercinta ini.
Saya tidak mau ketinggalan juga. Maka dengan semangat &#8216;45, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="/images/logo-pemilu.jpg" alt="" width="167" height="223" />Masih hangat dalam ingatan kita saat sebagian dari kita ada yang harus rela antri di hari libur. Bukan ngantri bensin, elpiji atau sembako. Melainkan antri pemilu, bareng-bareng dengan orang-orang lainnya yang kebetulan sadar akan hak dan kesempatan mereka ikut menentukan navigasi politik di negara kita tercinta ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tidak mau ketinggalan juga. Maka dengan semangat &#8216;45, hari kamis itu saya berjalan kaki dengan sendal karet empuk tercinta menuju tempat kerumunan TPS di kompleks rumah. Dan akhirnya, leburlah saya bersama ibu-ibu dan bapak-bapak yang lain menyerahkan surat pendaftaran ke petugas di situ. Berikutnya sambil menunggu giliran, sayapun ikut-ikutan nonton mengamati contoh lembaran-lembaran surat suara dan petunjuk pengisiannya di papan besar dekat situ.<span id="more-44"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright" src="/images/pemilu.jpg" alt="" width="300" height="225" />Tahu-tahu saya terhenyak melihat satu lembar surat suara caleg-caleg yang tidak ada nama partainya. Ternyata raut wajah saya juga ditiru ibu-ibu yang kebetulan ada di samping saya. <em>&#8220;Lho, yang ini kita harus nyontreng nama, ga bisa nyontreng partainya&#8221;</em> begitu komentar satu ibu di sebelah saya. Dan benar saja, untuk lembaran itu, kita tidak punya pilihan lain selain harus memilih salah satu nama, kecuali kalau memang punya niatan golput. Padahal, sejak awal-awal saya sudah mempersiapkan skenario untuk nyontreng nama partai di semua lembaran surat suara. Jelas, ini di luar bayangan saya. Belum habis saya putar-putar sel kelabu di kepala saya, tiba-tiba satu ibu nyeletuk ,<em>&#8220;Pilih yang cewek aja. Tuh yang ini mukanya kelihatan adil&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Saya tertawa dalam hati. Lucu juga niatan ibu ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi yang lebih lucu lagi, akhirnya sayapun melakukan strategi yang sama! : memilih-milih wajah mana yang lebih berkenan. Otak dan intuisi saya lantas musti saling berdebat, memilah-milah wajah caleg berdasarkan kriteria-kriteria <em>&#8220;bisa dipercaya&#8221;, &#8220;bukan tampang koruptor&#8221;, &#8220;tidak berkesan kriminal&#8221;,</em> dan sebagainya. Alhasil, di penghujung acara kontes itu, terpilihlah wajah caleg yang menurut penilaian saya &#8220;berjiwa muda, idealis pragmatis, netral, dan pejuang&#8221;. Ah, saat itu juga saya merasa sudah menyaingi mama Lauren. Berhubung saya tidak tahu datanya, tidak kenal faktanya, apalagi akrab dengan caleg-caleg itu, maka pilihan saya dan mungkin juga sebagian besar ibu-ibu dan bapak-bapak lainnya adalah &#8220;memilih dari wajahnya&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright" src="/images/pemilub.jpg" alt="" width="250" height="333" />Pulang dari TPS, saya jadi berpikir-pikir. Betapa kita tidak bisa menghindari event dimana kita secara naluriah akan memilih berdasarkan &#8220;kemasannya&#8221;. Walau telinga kita tidak asing dengan petuah bijak <em>&#8220;Don&#8217;t judge the book by it&#8217;s cover&#8221;,</em> tapi kenyataannya tidak selalu demikian. Kemasan akan selalu menjadi faktor tersendiri yang tidak boleh kita anggap remeh. Lihat saja orang-orang di supermarket yang dalam keadaan bingung memilih produk mana yang akan digaet masuk keranjang belanja. Ketika data dan pengalaman tidak tersedia, maka barangkali satu jalan yang bisa ditempuh adalah memilih berdasarkan kemasannya. Mana yang warnanya berkesan sehat dan bonafid? Mana yang kemasannya lebih lucu dan bisa menyenangkan anak-anak? Dan seterusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan Amerika dan Indonesia saja pernah menjadi saksi bagaimana rakyatnya saat memilih presiden masih terpengaruh kemasan wajah presidennya. Dari mulai presiden Kennedy, Ronal Reagan, sampai SBY. Survey menyebutkan banyak ibu-ibu di Indonesia memilih SBY karena &#8220;jatuh cinta&#8221; dengan kharisma wajah sang Presiden.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah. Kalau begitu, pesannya sederhana : Olah kemasan sebaik Anda mengolah isinya. Entah Anda seorang guru, pendeta, sales, eksekutif, caleg, bahkan &#8230;. pengemis. Pernahkah Anda menyaksikan film investigasi dokumenter tentang adanya organisasi peminjaman bayi khusus buat pengemis-pengemis di Jakarta? Tujuannya kan tidak lain untuk menciptakan packaging yang bagus, yang akan membuat pengemis lebih memelas hingga orang rela merogoh recehan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau pengemis saja sudah memikirkan packagingnya, maka kitapun harusnya lebih seksama memanage kemasan dan tampilan luar kita. Jangan sampai kemasan yang Anda buat justru berlawanan dengan goal Anda, misalnya mau berkesan trendy malah membuat kesan &#8220;matre&#8221;, mau berkesan &#8220;profesional&#8221; malah jadi berkesan &#8220;amatiran&#8221;. Karena itu, selain niat dan usaha Anda, menciptakan kemasan juga butuh feedback agar ketika naik &#8220;panggung&#8221; tidak terjadi kesalahan yang akan merusak imej kita. Maka tipsnya adalah :</p>
<blockquote>
<ul class="unIndentedList" style="text-align: justify;">
<li><strong>Secara pribadi</strong>, olah penampilan kita lebih baik. Dari mulai busana, model rambut, riasan wajah, aksesoris dan sebagainya. Tujuannya bukan sekedar supaya terlihat glamour, tapi agar benar-benar pas dengan imej yang mau kita pancarkan.</li>
<li><strong>Secara institusional</strong>, tatalah tampilannya. Baik eksterior interior gedung, stationery, seragam karyawan, display produk, kemasan barang dan sebagainya. Sekali lagi, sesuaikan dengan imej yang mau dimunculkan sesuai visi misi organisasi.</li>
<li><strong>Dapatkan feedback</strong>. Tidak ada salahnya kita minta feedback terlebih dulu sebelum semua tampilan yang kita buat dirilis ke publik. Waspadai missmatch antara tampilan dengan imej ideal yang direncanakan.</li>
</ul>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Istilah saya &#8220;kemasan memang bukan segala-galanya, tapi kemasan yang salah di waktu yang salah akan menentukan segala-galanya&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Anda pernah mengalaminya?</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.maxsandy.com/2009/04/10/pesta-pemilu-pesta-kemasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

