Take critics with love
Dalam artikel sebelumnya, saya mengusung tema seputar memberikan kritik. Kritik yang dikemas dengan baik, plus disajikan dengan bumbu yang tepat akan terasa gurih di telinga penerimanya. Sebaliknya, kritik yang diberikan sembarangan – asal tembak, akan terasa menyakitkan, malah terasa menyayat harga diri.
Tapi, sadarkah Anda, ada juga orang-orang yang ketika dikritik dengan pedas, malah tetap bisa tersenyum. Bukan cuma itu, orang-orang itu dengan jitunya bisa mengolah kritikan tajam menjadi “pembelajaran’. Dari situ, mereka bisa beradaptasi dengan lincah dan mengembangkan kinerjanya berdasarkan kritik tajam tersebut. Merekalah yang saya sebut sebagai “TOP Critics Receiver”- penerima kritik yang TOP.
Kontras bedanya dengan “Poor Critics Receiver”, yakni orang-orang yang anti-kritik pedas. Tipe orang ini maunya cuma mendengar kritikan yang manis dan santun. Begitu menangkap kritikan tajam, kompor emosinya langsung menyala. Dan ujung-ujungnya protes keras tidak terima, atau bahkan menyiapkan pisau mental untuk balas dendam. Read more

